Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 69. Kebohongan untuk Kebaikan


__ADS_3

.


.


.


Vera dan Bryan sudah di ijinkan masuk oleh perawat, setelah Jessika selesai mendapatkan penanganan dan transfusi darah.


Sementara Bu Maya harus segera kembali ke cafe, karena ia harus mengontrol segala sesuatunya.


Terlihat wanita yang tertidur dengan wajah pucat diatas ranjang rumah sakit, dengan selang infus yang terpasang di tangan kirinya.


"Jess,,,ini gue" ucap Vera saat mendekat ke arah Jessika yang terbaring lemah di ranjang itu, cairan kristal bening seketika lolos dari matanya, ia begitu kasihan dengan nasib teman baiknya itu.


Bryan juga terlihat sangat prihatin dengan kondisi pegawainya itu, apalagi ia tahu jika dia berada di kota ini dengan tujuan mengadu nasib.


Vera saat itu sudah membawa tas milik Jessika yang ada di loker tempat kerjanya, Bu Maya sudah mengambilnya sesaat sebelum mereka menuju rumah sakit tadi, dan memberikannya kepada Vera.


"🎶aku milikmu malam ini, kan memelukmu sampai pagi......" lagu itu terdengar berbunyi dari handphone milik Jessika.


Ya benar, lagu romantis milik Pongky Barata itu ,sengaja Jessika atur sebagai nada dering panggilan di handphone miliknya.


Vera segera mencari benda pipih itu di dalam tas milik Jessika, setelah menemukannya ia membulatkan matanya karena nama Lek Soleh yang muncul di layar handphone Jessika.


"Kayaknya ini keluarganya bos, aduh harus jawab apa ini" tanya Vera bingung.


"Sebaiknya kamu dengar dulu, jangan di beritahu jika kondisi Jessika tengah tidak baik saat ini, kamu alasan apa lah dulu" ucap Bryan memberikan ide untuk berbohong demi kebaikan.


Vera hanya mengangguk paham, kemudian ia menggeser tombol hijau pada benda pipih itu.


"Hallo Assalamualaikum" suara lek Soleh terdengar dari dalam ponsel itu.


"Wa walaikumsalam" ucap Vera sedikit kaku.


"Loh nduk, kok bukan suaranya Jessika ini" ucap lek Soleh kembali.


"Emmm iya paklek, ini saya Vera temannya" jawab vera.


"Oalah iya, nduk dimana Jessika ini pak leknya lagi dirumahnya mbok yah, beliau dari tadi maksa suruh telpon terus, katanya perasaannya tidak enak terus dari semalam. teleponnya kasih ke dia nduk, ini Mak weknya mau bicara" ucap lek Soleh panjang.


Deg


Vera mematung disana, ia bingung harus bagaimana ternyata ikatan batin nenek dan cucunya itu sangat kuat. Tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya tentang keadaan Jessika saat ini.

__ADS_1


"Emmm pak lek Jessika sedang di suruh bosnya barusan, ini hp nya di titipin ke saya kebetulan" ucap Vera berbohong.


"Oalah ya wes, nanti kamu sampaikan ke dia ya kalau makanya kepingin bicara gitu, tapi dia sehat sehat saja kan nduk" tanya lek Soleh kembali.


"Oh iya lek dia baik baik saja kok, setiap hari sama saya" ucap Vera berbohong ,agar keluarga Jessika di kampung tidak cemas.


"Ya wes kalau gitu, tak matikan dulu ya nduk nanti tak telepon lagi. Assalamualaikum" pamit lek Soleh hendak mematikan sambungan teleponnya.


"Walaikumsalam" jawab Vera, dan kemudian sambungan telepon itu pun terputus.


"Astaga bos, sepertinya neneknya Jessika punya ikatan batin yang kuat sama cucunya ini. Aku jadi merasa berdosa bos udah bohong sama mereka" jawab Vera tertunduk sedih.


"Kita bohong buat kebaikan juga Ver, nanti kalau Jessika udah siuman kamu kasih tau aja" jawab Bryan.


****


Menjelang petang David dan Adrian terlihat baru akan melangkahkan kakinya untuk pulang, " Langsung pulang atau kemana bos" tanya Adrian.


"Aku ingin mandi Adrian, kita ke apartemenku saja dulu" ucap David.


Mereka menjalankan kuda besi mewah milik David itu, menuju apartemennya. Ya benar, apartemen yang pernah digunakan Sherly untuk tinggal sebelum sebuah tabir gelap tersingkap, beberapa bulan yang lalu.


David sengaja ingin beristirahat disana, ia masih sedikit merasa tidak enak hati saat berhadapan dengan Leo.


Bukan tanpa alasan, ia ingin membuang jauh jauh masa lalu yang sungguh tidak ingin ia ingat lagi itu.


David menenggelamkan dirinya di bathtub berisi air hangat, ia memejamkan matanya menikmati aroma relaksasi dari aromaterapi yang sudah ia tuangkan dalam bak besarnya itu.


Dalam kegiatannya itu, tiba tiba ia teringat kembali dengan wajah Leo yang panik saat menggendong Jessika , saat akan dibawa menuju rumah sakit tadi pagi.


Kegalauan lagi lagi menyelimuti pikirannya.


"Aku bisa gila jika terus terusan seperti ini" ucap David.


Setelah lebih dari setengah jam ia berendam, ia kemudian menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya.


Saat ia akan keluar hendak menuju ruang tamu, ia sudah mendapati Adrian yang baru saja masuk.


"Kau sudah selesai bos" tanya Adrian.


"Hem" jawab David singkat.


"CK kau ini, selalu saja jika suasana hatimu sedang tak baik, kau selalu menjawab ham hem ham hem" Adrian menggerutu dengan menyebikkan mulutnya.

__ADS_1


"Apa yang kau bawa Adrian" tanya David.


"Tentu saja makan malam untukmu, kau harus banyak berterimakasih kepadaku. Aku sudah menjadi seperti ibumu. Sekarang makanlah, setelah ini baru kita akan berangkat ke rumah sakit"


David memikirkan ucapan assistennya itu, memang benar selama ini Adrian lah Yang selalu setia berada di sisi David.


Mereka makan bersama setelah Adrian menata beberapa makanan itu diatas meja makan.


Setelahnya, mereka menuju rumah sakit tempat dimana Jessika dirawat.


Jessika tidak mau di pindahkan ke ruangan yang lebih bagus, alasannya tentulah finansial.


Ia saja baru menerima gaji yang belum sebanyak Vera.


Sesampainya di ruangan dimana Jessika dirawat, ia melihat Vera tengah menyuapi Jessika yang sudah sadar tengah berbaring lemah.


Bryan sudah pulang terlebih dahulu, ia memberikan ijin bagi Vera untuk tidak masuk kerja terlebih dahulu.


Hal itu ia putuskan karena Vera lah yang Jessika miliki di kota ini, apalagi semua itu terjadi di area cafe milik Bryan.


"Tuan David, anda disini" tanya Vera sopan.


"Hemm, kenapa kalian di ruangan ini" ucap David yang melihat ruangan ini sangat sempit dan tidak nyaman untuknya.


Jessika yang masih sangat lemah itu, hanya diam tanpa mau menjawab. Ia sudah tidak mau mendebat David, ia merasa sangat lemah saat ini.


"Emm tuan mohon maaf, kebetulan anda disini emmmmm apakah anda keberatan jika saya titip Jessika sebentar. Saya mau pulang ke kost untuk mengambil beberapa baju saya dan Jessika, saya tadi pagi lupa" ucap Vera mengalihkan pembicaraan, namun dengan segenap keberanian ia meminta tolong pada David.


"Pergilah, dan Adrian tolong kau antar dia" titah David.


"Emm tidak usah tuan, saya tadi membawa motor" tolak Vera secara halus.


"Aku tidak suka di bantah" jawab David dingin.


Seketika Vera merinding, ia hanya menganggukan kepalanya tanda setuju.


"Jes, aku pergi sebentar ya. aku tidak akan lama" pamit Vera yang dibalas anggukan oleh Jessika.


Nyeri dan sakit di perutnya masih ia rasakan, jahitan dan lukanya yang belum kering itu juga menambah sebab ia tidak bisa banyak bergerak dan hanya bisa menurut untuk saat ini.


Adrian dan Vera lantas pergi meninggalkan Jessika dan David di ruangan itu berdua.


Tinggalkan jejak dengan beri like and comment 🙏

__ADS_1


__ADS_2