
.
.
.
Pak Sis memutuskan untuk tinggal sementara di tempat tinggal putri, sebuah rumah yang terbilang mewah untuk ukuran mahasiswa, ia mengontrak rumah tersebut dengan metode pembayaran per tahun. rencananya nanti sore mereka akan bertolak ke kabupaten B.
"Pumpung masih disini, ayah mau mampir kerumah Den David. Kemaren pak Edy berpesan jika kita sudah di kota S, kita disuruh menengok anaknya" pak sis berucap kepada anak dan istrinya.
"Iya, lagipula gak enak sama pak Edy. Kalau pas nggak acara begini mana sempat kita pergi pergi lagi" ucap istrinya menimpali.
"Sebaiknya ayah telepon dulu, kak David apa kak Leo ada dirumah enggak, nanti udah berangkat ke kantor" ucap putri memberikan ide.
Namun sepertinya memang rejekinya pak Sis, selepas menghubungi David yang mengatakan bahwa dirinya ada dirumah, ia bersama istrinya dan putri langsung menuju rumah besar David.
Bermodal shareloc yang dikirim oleh David tadi, mereka bertiga akhirnya sampai di rumah besar dengan dominasi kaca besar pada bangunannya. Benar benar orang kaya.
Mereka menuju rumah David menggunakan taksi, lantaran putri tidak di ijinkan untuk membawa mobil sendiri kesana.
"Maaf pak nyari siapa?" tanya satpam yang berjaga di depan rumah.
"Perkenalkan pak, saya Wasis kami dari kabupaten B, mau bertemu Den David" ucapnya ramah menerangkan.
"Oh dari perkebunan bapak? oh mari mari silahkan" ucap satpam tersebut yang paham dengan daerah tempat pak Edy melebarkan sayap usahanya.
"Jang Ujang, ada tamunya Aden bawa masuk" ucap satpam yang melihat mang Ujang baru saja mencuci mobil majikannya.
Dengan tergopoh-gopoh dia menyambut ketiga tamu yang belum pernah dia temui" saya Ujang pak, mari" ucapnya paham dengan pinta pak satpam tadi.
"Silahkan duduk pak, saya panggilkan Den David dulu, monggo pinarak ( silahkan).
Pak sis dan istrinya begitu juga putri begitu takjub dengan pemandangan yang disuguhkan, lampu gantung kristal yang mewah, furniture yang pastinya menelan harga yang fantastis, dilihat dari desain dan bentuknya serta lantai marmer licin juga ukuran luas rumah yang begitu awesome.
"Ya ampun yah, pak Edy bener bener kaya raya ya. Tapi kenapa beliau masih mau susah susah jadi petani" ucap putri ceplas ceplos.
"Hus, jaga mulutmu put. Beliau memang orang yang luar biasa, lihat di kampung kita karena beliau bisa menyerap tenaga kerja masyarakat lokal" ucap bundanya.
"Wah pak Sis, sampai juga di sini ya. Apa kabar?" ucap David yang datang seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Alhamdulilah Den, saya baik Den David bagaimana kabarnya" jawab pak Sis seraya membalas uluran tangan David.
Mereka bersalam secara bergantian, bahkan putri memasang senyum terbaiknya.
"Kak David kok seperti sakit?" tanya putri yang melihat David beberapa kali meringis nyeri tiap berpindah posisi duduk.
__ADS_1
"Oh ini, ia jahitannya belum kering" ucapnya biasa.
"Loh Den David habis kenapa? habis sakit apa" tanya Bu Santi penasaran.
"Oh ini Bu, beberapa waktu yang lalu Jessika sempat dalam bahaya karena saya, kami sempat mendapat kesulitan waktu menyelamatkan. Saya kena tembak" tuturnya menjelaskan.
"Astagfirullahhaladzim" ucap pak Sis dan Bu Santi bersamaan, namun Putri diam dengan beribu pertanyaan.
Jessika?
Menyelamatkan?
Tertembak?
Kenapa ia tidak tahu bila Jessika berada di kota S?
"Loh Jessika ada di sini? terus kok bisa sama den David?" tanya Bu Santi makin penasaran.
"Ia Bu, saya awalnya juga tidak tahu, dia bekerja di cafe milik sahabat Leo, panjang ceritanya. Intinya dia dalam masalah karena mantan pacar saya. Dia sudah salah paham" tuturnya sambil menjelaskan beberapa detail, saat pak Sis kurang paham.
Pak sis dan Bu Santi cukup terkejut, ia kasihan kepada Jessika yang berkali kali terkena musibah.
"Saya sangat kasihan pak, dia anak baik" ucap David menerawang.
"Benar, apalagi beberapa hari yang lalu mbok yah sakit Den, tapi Soleh bilang gak boleh ngasih tahu Jessika" ucapnya dengan muka prihatin.
"Sakit pak? terus gimana?" tanya David yang membuat Putri tak suka, kenapa jika berurusan dengan Jessika David menjadi sigap.
Pak sis kemudian juga menerangkan, jika selepas Jessika keluar dari kerjaan Arin dan Eka kewalahan, meski Victor kadang membantu. Apalagi saat musim hujan kemaren banyak pekerja yang sakit dan hasil panen rusak.
Mereka melangsungkan obrolan dengan penuh minat, sesekali David berkelakar yang membuat mereka semua tertawa bahagia.
"Titip papa ya pak, saya belum bisa berkunjung. Mungkin agak lama" ucapnya seraya menerawang tentang masalahnya dengan Leo, yang mungkin akan membuat kendala disana sini.
"Tentu Den, mas Victor juga selalu siaga di samping tuan Edy" ucapnya meyakinkan.
"Maaf den saya mau ke kamar kecil dimana ya" tanya Bu Santi yang tiba tiba merasa mulas.
"Bik bik Asih" panggil David kepada ART nya itu.
"Saya Den" jawab bik asih sopan.
"Tolong antar Bu Santi mau ke toilet"
"Oh nggeh Den, mari Bu" ucap bik asih penuh kesopanan.
__ADS_1
"Maaf ya buk merepotkan" ucap Bu Santi pada bik Asih.
Detik itu juga pak Sis mendapatkan panggilan dari salah satu mandornya" Den saya angkat telepon dulu sebentar" ucap pak sis pamit.
Menyisakan Putri dan David di ruangan itu, membuat keheningan terjadi disana.
"Kak Leo dimana? apa dia dikantor?" ucap putri menjadikan ruangan itu tak lagi sunyi.
"Dia baru saja pergi, ada apa?" tanya David.
"Oh tidak aku semalam bertemu dengannya di club, bersama mas Tomy aku menunggu jadwal kapan aku bisa masuk magang" terangnya, yang membuat David terkejut.
Di club'?
David keheranan, pasalnya adiknya itu nyaris tidak pernah ia ketahui meminum banyu setan itu.
"Kapan dimana? dan kenapa kau juga ada disana" tanyanya penuh selidik.
"Semalam kan aku udah bilang tadi, dia sama asistennya yang kaku itu, siapa namanya lupa aku terus aku disana ya karena jalan jalan aja. Tapi jangan bilang ke papa ya kak" ucapnya yang murung pada kalimat akhirnya.
"Aman" David menjawab secepatnya.
"Duh maaf Den tadi si Bakri nelpon, itu yang gantiin Eko. Dia bilang kalau harga cabai turun, pusing anak anak" ucap Pak Sis sambil mendudukkan tubuhnya di sofa empuk itu.
"Pak Eko?" astag David bahkan tidak pernah memikirkan jika karyawan papanya masih tidak di ketemukan sampai saat ini.
"Oh iya pak, pak Eko gimana kabarnya. Saya sampai lupa tidak memonitor" ucap David seperti mendapat sebuah reminder.
Putri yang mendengar percakapan itupun hanya diam, ia mencoba tidak memunculkan gelagat aneh yang membuat mereka curiga.
Ia seperti mendapat sengatan listrik tiap ada yang membicarakan kasus kapan hari, yang dengan sadarnya dialah otak dari segala kejahatan itu.
"Sampai sekarang belum ketemu Den, kami bahkan sudah lapor polisi. Namun nihil, tapi dari pihak kita sudah kasih bantuan ke istri sama anaknya, karena tidak jelas hilangnya Eko itu karena apa, pas kejadian Jessika beberapa bulan yang lalu.
Putri masih saja diam, menutupi segala keresahan yang saat ini masih membuat dirinya aman.
Mereka berlanjut hingga siang, bahkan mereka sempat di jamu oleh David di rumahnya. Pak sis juga sempat menitipkan putri pada David, juga berkenaan dengan magangnya putri di perusahaan Leo dan David.
Selepas keluarga pak Sis telah pergi, ia masih sibuk dengan ucapan putri tadi yang menerangkan jika Leo mabuk bersama Tomy.
Jika itu benar, berarti perkiraannya benar jika Leo marah dan cemburu kepadanya, astaga itu benar benar bukan permulaan yang baik apabila ia nekat meneruskan keinginannya untuk bersama Jessika.
Ia tidak ingin membuat Leo hancur, tidak ia harus bisa mengambil keputusan segera. Dia harus mengakhiri semua ini, mampu tidak mampu, bisa tidak bisa ia harus melupakan Jessika dan berharap Leo bisa bahagia.
Dia harus melakukannya
__ADS_1