Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 139. Pencarian Tomy part 2


__ADS_3

.


.


.


Malam itu mereka mulai bergerak, lengkap dengan persenjataan. Mereka yakin bila Tomy sengaja diculik untuk memancing mereka datang.


David sempat menceritakan kejadian pasca mereka menghadiri pertemuan dengan Robert, salah satu koleganya.


...Flashback...


Pertemuan hari itu terbilang lancar, terbukti dari tepatnya jam pertemuan itu berakhir.


Namun tanpa di nyana, Robert mengajak mereka untuk minum.


"Ayolah, sedikit rasa pusing bisa membuat kita panjang umur"! seloroh Robert, yang mengajak David menuju bar.


Terang saja David tak bisa menolak ajakan rekan kerjanya itu, demi kelancaran bisnis pastinya.


Toh selama ini dia sudah lama tidak minum, sedikit saja tidak masalah bukan.


Detik berganti ke menit, begitu seterusnya. Tak terasa malam kian larut.


David melupakan, bahwa tidak mungkin orang yang berhadapan dengan alkohol, akan hanya mencicipi. Jelas tegukan demi tegukan minuman itu, membuatnya untuk terus menenggaknya hingga tandas .


Terlalu banyak minum membuat kepalanya berat.


Tanpa mereka ketahui, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka sedari awal mereka melakukan pertemuan.


David terlihat mulai kehilangan kesadarannya, membuat Tomy mengambil inisiatif untuk segera mengajak pulang bos-nya.


Pukul 23.02


Tomy mengendarai mobil berwarna hitam, milik David.


"Langsung pulang aja Tom!"


"Baik Tuan"


Sejurus kemudian David tertidur di dalam mobil, kepalanya terasa berat karena efek minuman keras.


Namun saat mobil mereka melintasi jalanan yang sepi, mereka di hadang dengan kelompok orang berpakaian serba hitam.


Jumlah mereka banyak, jelas Tomy kalah telak.


Tiga orang langsung mendatangi David yang berada di kursi belakang, sementara tiga orang lagi menyeret paksa Tomy, untuk keluar dari depan kemudi.


"Hey!!, siapa kalian!!" Tomy berusaha melawan, saat dirinya di tarik paksa keluar.


"Apa yang kalian lakukan. Lepaskan Tuan David!!" Tomy melihat salah satu, dari tiga orang tadi menyuntikkan sesuatu ke tubuh David.


"Diam!!" hardik salah seorang, yang sepertinya pimpinan mereka.


"Bough" Pria bertubuh tinggi tegap terlihat memukul tengkuk Tomy, membuat asisten datar itu langsung tak sadarkan diri.


Sementara ketiga orang tadi membawa Tomy pergi, dengan berlawanan arah.


"Bawa dia pulang kerumahnya!!" ucap ketua pria misterius itu, kepada tiga orang yang bersama David.


Kemudian membawa David untuk kembali kerumah.


David yang merasa kepalanya berat, terbangunnya karena mendengar suara seseorang yang berteriak.


Ia bahkan sempat mengira bila dirinya masih berada di dalam mimpi.


Ia terkejut saat melihat istrinya berteriak di ambang pintu, lebih terkejut lagi ia menatap pembantunya yang tengah tertidur di sampingnya tanpa sehelai benang.


Begitu juga dengan dirinya.


...Flashback Off...


"Berarti mereka sudah mengikutmu sedari awal kalian berangkat!" ucap Leo, yang berjalan di samping David


Ya, mereka kini tengah berjalan sambil menunggu komando dari Pak Edy melalui sambungan Earpiece yang telah terpasang di masing-masing daun telinganya mereka.

__ADS_1


"Apa kau tidak berfikir jika Robert yang melakukan ini?"


"Tidak Leo, Robert adalah pria baik baik" ucap David di sela sela langkah mereka.


"Malam itu, dia mengajakku minum hanya karena persahabatan kami"


"Posisi Tomy bergeser ke arah barat, kalian bisa mengepungnya dari arah Selatan, dan Utara"


Pak Edy menjelaskan, lantaran sinyal yang terpantau di radar, kini bergerak ke arah Barat.


.


.


Sementara team Vera dan Jack tengah berjalan melintasi jalan dengan bau amis, menggunakan penerangan yang minim.


"Harusnya aku membawa jeruk tadi kesini" Jack menggerutu, ia tak tahan dengan bau yang begitu menyengat.


"Apa kau sudah gila?, kita ini sedang dalam misi. Bisa-bisanya kau malah membahas jeruk!" Vera tak mengerti jalan pikiran rekaannya itu.


"Tempat ini, mirip dengan tempat pembuangan"


"Wueek" Jack menampilkan wajah yang huek, sambil bergidik jijik.


"Tapi aku gak nyangka, kita bisa dalam misi seperti ini lagi" ucap Vera senang.


"Kau ini perempuan atau apa, senang sekali dengan kegiatan mencekam seperti ini"


"Kau lihat aku ini apa memangnya ,hm?" Vera berkacak pinggang, membusungkan dadanya ke arah Jack, kesal karena cibiran Jack.


Benar-benar bar bar.


"Jangan seperti itu, bisa bisa aku di cincang sama pacarmu yang posesif itu!" tentu saja Jack bergidik ngeri, melihat ukuran dua benda kenyal milih Vera tengah membusung ke arahnya, yang bisa saja membuat semua pria gelap mata.


"Kucing tidak akan menolak bila di beri ikan asin" ucap Jack dengan suara pelan, seraya memalingkan wajahnya.


Namun Vera masih bisa mendengar selorohan Jack.


"Apa katamu!!" Vera tengah bersiap untuk memukul Jack.


Jack berdalih, tentu saja ia tidak mau jika harus terkena masalah karena menggangu kekasih dari atasannya itu.


Bagaimanapun juga ,Adrian masih berada di atasnya, birokrasi pekerja bersama Darmawan Group memang begitu.


Sayup sayup terdengar deburan ombak, bisa di pastikan bahwa mereka kini sudah dekat dengan pantai.


Pantai itu adalah kawasan yang jauh dari penduduk, mereka benar-benar tak menyangka bila Tomy bisa berada di tempat seperti ini.


"Ver, sebaiknya kita kesana" Jack menunjuk ke arah barat, mengalihkan pembicaraan ke arah yang lebih serius.


.


.


Tomy


Ia masih menahan nyeri di kakinya, terlalu cepat berlari dan sepertinya tanpa sengaja kakinya terkena benda tajam.


Darah segar mengalir di betisnya, celananya pun koyak.


"Breng sek!!" ia memaki, mengumpat. Benar- benar tak bisa berfikir. Ia bahkan mengira bila itu bukan dirinya, lantaran tak biasanya seorang Tomy sang asisten dingin kehabisan akal.


Pikirannya masih melayang, mengingat tubuh David yang tengah di suntik oleh pria asing kemarin.


Dan dirinya yang tiba-tiba bangun, dan sudah berada di dalam dekapan orang orang asing itu.


Juga perlakuan tak manusiawi, yang di lakukan mereka terhadap dirinya.


"Siapa sebenarnya mereka" ia berbicara, seraya mengelap darah yang terus menetes.


Ia melepaskan kemejanya, yang sudah lengket dengan peluh.


Menyisakan kaos berwarna hitam, menampilkan otot-ototnya yang liat.


Tomy merobeknya, serta membalutkan kemeja sobek itu pada luka di betisnya.

__ADS_1


Berharap darah itu segera berhenti mengalir.


Kepalanya kini pusing, dengan meringis kesakitan ia mencoba berdiri.


Namun, sayup sayup terdengar suara orang mendekat.


"Sial!!" Tomy merasa bila orang asing tadi berhasil mengikuti dirinya.


Ia melihat sebuah balok kayu, yang berada di depannya.


Mengambil benda itu, untuk kemudian bersiap di balik pintu usang itu.


Terdengar suara langkah yang mengendap-endap, kian dekat. Bahkan terdengar suara laki laki dan perempuan yang saling berbicara.


"Pasti itu Mayang dan lelaki sialan tadi!" batinnya berbicara.


Pintu itu terlihat mulai terbuka, dan kemudian...


"Bought!!!"


.


.


Jack


Ia dengan langkah pelan, berusaha mengecek sebuah bangunan tua dengan kusen yang sudah miring.


Pintu lapuk, dan tidak ada penerangan sama sekali. Jelas menandakan bila bangunan itu, telah lama tak terjamah manusia.


Hanya cahaya bulan, yang menerangi gubuk usang yang sudah lekang di makan usia.


"Vera, sebelah sini!" ia berbisik, sembari menggerakkan tangganya.


Vera sudah bersiap, Jack juga sudah bersiap dengan pistol di tangannya.


Vera memberikan isyarat kepada Jack, untuk membuka pintu rapuh itu.


Dan saat di buka...


"Bought!!"


"Arrghhh!!!" Ucap Jack, yang tak siap menerima serangan mendadak.


.


.


"Bos!" Jack membelalakkan matanya, saat akan membidikkan senjatanya ke arah Tomy, yang masih ingin memukul dirinya, untuk kedua kakinya.


"Tomy!!" Vera mengarahkan senter itu, ke wajah Tomy yang sudah tidak memiliki rona itu.


"Jack!, turunkan senjatmu!!" ucap Vera, yang melihat Jack masih mengantungkan senjatanya ke arah Tomy.


Terlihat sudut bibirnya yang berdarah, dan sudah mengering.


Sejurus kemudian.


Bruuukk


Tomy ambruk, jelas saja sudah lebih dari 24 jam tidak mendapat asupan apapun, di tambah luka yang ia tahan, juga perlakuan tak manusiawi selama dirinya id sekap. Jelas membuat dirinya tumbang.


"Bos!!" Jack menopang tubuh berat bos-nya itu.


Vera juga terlihat panik, sejurus kemudian ia langsung menghubungi rekan rekannya.


"Kami sudah menemukan Tomy, berada dia sebelah barat. Di gubuk tua!" Vera menekan Earpiece di telinganya, memberikan info kepada rekannya yang lain, untuk segera memberikan pertolongan.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2