
.
.
.
Leo masih berusaha menemui Bella,namun lagi lagi nihil.
"Dokter Bella sedang off tuan"
"Maaf tuan dokter Bella sedang ada jadwal tidak bisa di ganggu"
"Dokter Bella sudah pulang tuan"
Dan masih banyak lagi perkataan lainnya yang membuat Leo lagi lagi gagal menemui Bella.
Bella sengaja menghindari Leo, membuatnya seolah putus asa, benar benar payah!
"Halo Tom gimana? kapan putri mulai pemotretan, kalau bisa cepetan kejar deadline ya. Produk itu harus segera di launching bulan ini juga" titahnya kepada Tomy melalui sambungan telepon.
"Baik bos" seperti Tomy tidak memilik kata lain untuk memuaskan perkataan bosnya itu.
Leo membelokkan kendaraan miliknya ke sebuah mall, sudah lama dia tidak mengunjungi pusat perbelanjaan terbesar di kota itu.
"CK membosankan sekali" gerutunya karena mungkin pilihannya untuk datang ke mall bukanlah hal yang tepat, alih alih ingin membuang keruwetan pikiran untuk sementara, ia justru malah merasa bosan.
Ia akhirnya memilih menuju food court yang berada di lantai dasar, tanpa dinyana ia bertemu dengan Vera dan Jessika yang juga terlihat tengah menikmati santap sore.
Mereka berdua tidak menyadari kehadiran Leo disana, sampai akhirnya Vera melihat Leo duduk di meja yang berada persis di belakang mereka. Namun Jessika tidak mengetahui, lantaran posisi duduknya membelakangi Leo.
"Kenapa kamu Ver?" tanya Jessika yang melihat Vera membulatkan mata, sembari menghentikan suapannya.
"Itu" ucapnya dengan menunjuk arah belakang, dengan suara pelan dan alis yang saling bertaut.
"Apa" Jessika masih belum mengerti, sejurus kemudian ia menoleh dan
Deg
Pria yang ingin ia hindari justru kini berada di depannya, ingatannya akan perbuatan kasar Leo seketika menghilangkan selera makannya.
Ia merasa susah untuk menelan salivanya sendiri" buruan yuk Ver, keburu malam" ucapnya dengan cepat menyelesaikan suapan demi suapan.
Ia tahu makanan disana tidaklah murah, jadi ia tak menyisakan sedikit pun makanan di piringnya. Bersih licin dan tandas.
Ia juga menyadari, tidak setiap hari ia menyantap makanan seperti itu, Vera yang masih belum tahu tentang kejadian yang menimpa Jessika kapan haru itu tentu saja bersikap biasa saja.
"Kita sapa dulu yuk" ucap Vera.
"Gak usah, ayo cepetan" Jessika mulai panik, bagaimana caranya membuat Vera mengerti, mustahil bagi dirinya untuk menceritakan hal kurang ajar itu.
"Loh kenapa" tanyanya bingung.
Namun terlambat, Leo yang melihat Vera berdiri kemudian menghampiri mereka berdua.
"Kalian disini" ucap Leo biasa saja, seperti tanpa dosa. Benar benar pria tidak tahu malu, begitu pikir Jessika.
"Tuan Leo, anda sendiri? iya kami sudah selesai " Vera meladeni ucapan Leo.
"Aku duluan Ver" ucap Jessika yang dengan wajah marah, dan lantas keluar tanpa menyapa Leo.
"Aku ingin bicara sebentar dengan dia" pamit Leo kemudian mengejar Jessika.
Vera hanya mengangguk dan bingung, apa yang sebenarnya terjadi?
"Jes tunggu dulu"
"Jessika aku ingin bicara sebentar"
"Jessika berhenti" ucapnya kemudian menarik tangan wanita itu dengan kasar.
"Lepas!!!" ia menarik tangannya, hingga tangan Leo terlepas dari tautannya.
"Please dengerin aku dulu, aku mau minta maaf" ucapnya dengan nafas memburu.
"Aku tahu aku sudah salah, tolong jangan seperti ini" ucapnya dengan nada tulus, bahkan matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
"Bisa bisanya mas Leo minta maaf setelah melakukan hal seperti itu, mas Leo pikir aku wanita macam apa? tega ya mas sampean begitu ke saya" ucap Jessika makin meradang.
Ia juga malu sendiri bila ingat kejadian sialan tempo hari itu.
"Aku emosi, aku gak bisa lihat kamu sama bang David dekat, aku gak terima Jes" ucapnya membuat orang yang berlalu lalang disana, menatap mereka dengan wajah mengernyit.
"Ada apa sih"
"Gak jelas"
"Lagi syuting apa ya"
"Eh berantem tu"
Suara suara sumbang menjadi backsound pertemuan mereka berdua.
"Udah lah mas, aku malu. Lebih baik mas Leo jangan temui aku lagi, anggap kita gak pernah kenal dan aku sudah memaafkan mu" ucap Jessika kemudian berlalu tanpa permisi.
Membuat Leo menghela nafas putus asa, ia juga melihat Jessika yang membawa paperbag bertuliskan sebuah nama counter ponsel yang ada di mall itu.
"Untuk apa dia beli ponsel lagi" batinnya.
"Tuan maaf ya kami duluan, ucap Vera yang canggung karena sedari tadi rupanya ia mendengar percakapan antara Leo dan Jessika.
"Ok, hati hati" ucapnya pasrah.
Leo masih menatap nanar punggung Jessika yang kemudian menghilang setelah ia berjalan.
Tanpa ia sadari Bella melihat kejadian yang melibatkan Leo dan Jessika di lantai dasar mall itu.
Lagi lagi rasa nyeri hinggap di relung hati Bella, ia memutuskan untuk pulang saat itu juga, melalui pintu samping dengan harapan ia tidak akan bertemu Leo.
Ia berjalan menuju mobil yang ia parkirkan di deretan mobil Leo, hanya berjarak 4 mobil dari tempat mobilnya.
Namun sepertinya Tuhan menginginkan agar persoalan mereka segera clear.
Leo juga memilih untuk pulang, ia sudah tidak berminat lagi untuk sekedar menikmati makanan disana.
Ia melangkahkan kakinya diatas lantai mengkilat itu dengan wajah kusut, saat hendak membuka handle pintu mobil ia melihat sosok wanita yang selama ini ia cari tengah kerepotan membawa barang belanjaan.
Bella terlonjak kaget, bagaimana bisa Leo ada di sampingnya saat ini. Ia menjadi gugup, padahal biasanya dia yang bertingkah berani kepada Leo.
"Apa yang kau lakukan Leo" tanya Bella yang masih dalam mode terkejutnya.
"Kau sulit sekali kucari Bel, kenapa kau menghindariku?" tanyanya sambil memasang sabuk pengaman.
Bella yang sedari siang belum sempat makan itupun merasa lemas, apalagi kehamilannya memasuki trimester pertama,di tambah ia masih merasa kaget dengan kehadiran Leo yang beberapa hari ini sengaja ia hindari.
Namun tiba tiba ia merasa pandangannya kabur, detik itu juga ia tiba tiba pingsan dengan posisi berada di depan kemudi.
"Bel" ucapnya menggoyangkan pundak, menepuk pipinya namun semua usahanya sia sia.
"Bel kau jangan bercanda" masih menepuk pipinya.
"Astaga Bella"
Wanita cantik yang diketahui sering mengejarnya itu fix ia pastikan tengah pingsan saat ini.
Dengan kepanikan yang melanda ia berinisiatif memindahkan tubuh Bella ke samping, sementara dengan susah payah setelah ia berhasil memindahkan wanita cantik itu, ia mengambil alih kemudi dan membawanya ke rumah sakit.
Rumah sakit Bhakti Husada
Sarah yang mengetahui Leo dengan paniknya mendorong brankar yang terisi oleh Bella dengan keadaan tak sadarkan diri, langsung berinisiatif mengambil alih tindakan medisnya.
Apalagi ia satu satunya orang yang tahu tentang keadaan sebenarnya.
"Ada apa ini" tanya Sarah.
"Dia pingsan, tolong segera periksa" ucap Leo panik.
Dia meletakkan stetoskop ke dada Bella, melakukan tindakan medis seperti seharusnya.
"Bagaimana kondisinya" tanya Leo setelah dokter Sarah keluar.
"Kau tahu jika ibu hamil tidak boleh stres dan kelelahan!" ucap Sarah pada Leo ketika dia sudah yang tak bisa lagi menutupi keadaan yang sebenarnya.
__ADS_1
Sarah merasa jengah dengan Leo, apa dia lakukan hingga membuat Bella pingsan. Begitu pikirnya.
"Apa maksudmu? hamil?" Leo masih bingung, siapa yang hamil, oh astaga!!!
"Sebaiknya kau tanyakan sendiri pada Bella jika dia sadar nanti, aku permisi dulu" ucap Sarah kemudian meninggalkan Leo dalam keadaan bingung dan penuh pertanyaan.
Leo kemudian masuk dan menatap wajah pucat Bella yang masih belum sadar.
"Hamil? apakah Bella , malam itu...." pikirannya menguap seketika tatkala mendapati Bella yang mulai sadar.
Bella bingung karena kini ia sadar jika ia tengah berada di rumah sakit, bau khas obat obatan dan jarum infus yang tertancap di tangan kirinya membuat dia menyadari jika dirinya tidak sedang baik baik saja.
Ia juga melihat Leo berdiri di samping ranjangnya,"Leo kenapa aku bisa ada di sini" ia ingat terakhir kali ia bersama Leo di dalam mobilnya sewaktu masih di pelataran mall.
"Tenanglah dulu"ucap Leo menenangkan.
Bella membuang pandangannya ke arah lain, hatinya masih diliputi kekecewaan yang mendalam pada Leo.
"Tolong jawab pertanyaanku Bel" Leo duduk dan menggenggam tangan Bella.
Bella sejurus kemudian menoleh pada Leo, memandangi wajah tampan yang masih ia kagumi, wajah yang sama saat malam ia merenggut kesucian dirinya.
"Malam itu aku mabuk, dan Tomy berkata jika kau yang membawaku ke hotel. Dan paginya kau sudah tidak ada, maksudtku apa malam itu aku menyakitimu?" Leo kesulitan menemukan kata kata yang pas, jujur ia bingung harus bertanya dengan kalimat bagaimana.
Bella tidak menjawab, lidahnya kelu hanya cairan bening yang lolos begitu saja tanpa seijinnya.
Ia masih berfikir jika Leo tidak mengingat hal apapun malam itu kecuali Jessika, jadi jika dia bercerita apakah Leo akan percaya?
"Apakah kau akan percaya jika aku mengatakan yang sebenarnya" tanya Bella sendu.
"Aku tidak tahu Bel, malam itu aku merasa Jessika ada di hotel bersamaku dan kami me...." ucapnya menggantung karena terpotong oleh Bella.
"Apa yang keluar dari mulutmu itulah jawabannya" ucap Bella kecewa kemudian membuang mukanya kembali ke arah lain.
"Apa maksudmu Bel, aku benar benar tidak mengerti" ucap Leo.
"Tadi kau bilang Tomy mengatakan jika aku yang membawamu ke hotel, namun yang ada di pikiranmu kau bersama Jessika ya sudah, apa yang ada di pikiranmu itulah jawabnya Leo"
"Jadi, benar kau yang ada bersamaku Bel? Leo menangkap raut kecewa dan kemarahan dari wajah Bella, namun mengapa ingatannya malam itu hanya ada Jessika. Ia merasa ia melakukannya dengan Jessika, bukan dengan Bella.
" Apa di hatimu sama sekali tidak ada tempat untukku Leo, hingga saat sesuatu yang paling berharga dariku sudah kau renggut pun dalam pikiranmu hanya ada Jessika dan Jessika!!!" pertahanannya jebol sudah, ia sudah tidak bisa memendam rasa kecewa, namun ia lega sudah mengatakan hal seperti itu.
Leo yang melihat Bella mulia berteriak langsung memeluk tubuh wanita itu, tangisnya makin pecah tatkala Leo memeluk dirinya.
"Aku hamil anakmu Leo, aku hamil" ucapnya dengan suara bergetar dan air mata yang masih deras.
Leo membulatkan matanya, ia juga tak menyangka kecelakaan malam itu yang entah mengapa gairahnya bisa meningkat tajam seolah menginginkan pelampiasan malam itu juga.
Bagaimana bisa ia melakukannya hanya sekali, namun bisa menjadi seperti saat ini.
Leo menghembuskan nafasnya, ia belum bis berpikir kali ini.
Kegalauan dirinya malam itu, membuat dirinya tenggelam dalam buaian alkohol, namun mengapa ia bisa merasakan gairah yang membuncah, ia bukanlah pria Cemen yang hanya karena mabuk, langsung bisa mendapat reaksi seperti itu.
Ada yang tidak beres, begitu batinnya.
"Aku minta maaf Bella, aku minta maaf. Aku telah menyakitimu malam itu" ucapnya penuh penyesalan.
Andai ia tidak terbawa emosi, andai ia bisa bersikap lebih dewasa untuk tidak secemburu itu pada Jessika.
Ia tidak akan mengalami hal seperti ini, ia bahkan bingung ia tidak memiliki rasa pada Bella.
Namun sebagai lelaki sejati, ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya itu.
"Berapa usianya" tanya Leo setelah melepas pelukan.
"Sarah bilang, sudah satu bulan" jawabnya lesu.
"Kenapa kau tidak memberitahuku langsung Bel" tanya Leo menatap Bella.
"Karena malam itu kau mengucapkan hal yang menyakitiku Leo, hatiku merasa sakit. Lebih baik aku menghindarimu" ucapnya masih dengan air mata yang menetes.
"Bagaimana bisa dalam pikiranmu ada Jessika, padahal kau baru saja melakukan hal itu bersamaku. Hati wanita mana yang tidak sakit Leo" isaknya makin menjadi.
Leo mengacak rambutnya frustasi, ia merasa bersalah telah menyakiti Bella, namun ia masih mengharap bisa bersama Jessika.
__ADS_1
"Maafkan aku bel"