Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 185. What wrong with you?


__ADS_3

.


.


.


Jika ada kata-kata 'manusia tidak tahu malu', agaknya kata ini pantas di sandang oleh Jack. Oh andai kata di kamar itu terdapat CCTV, pasti sudah bisa di jadikan bukti konkret, wajah bodoh Jack yang ngelindur.


" Matamu!!" Gendis melempar tangan Jack dengan kasar. Niat hati kasihan karena pria itu rupanya memang demam, tapi malah hatinya kembali dibuat sebal oleh Jack karena mulut combe pria itu.


" Terus kenapa kamu disini?" Jack beringsut duduk di sandaran ranjangnya.


" Tau lah...harusnya aku gak mencemaskan manusia sepertimu!" Gendis beranjak dan langsung pergi kembali ke tumpukan baju Jack yang sudah selesai ia lipat.


Jack tertegun sejenak, ia merasa meraih tangan mamanya. Ia bermimpi bertemu kembali dengan mamanya yang kini entah dimana.


Ia sangat merasa benar-benar tidak sehat siang itu.


Mungkinkah aku mengigau?


Tapi, apa dia kemari untuk melihatku?


Batin Jack seraya menatap Gendis dari kejauhan. Gendis yang masih menekuni tumpukan baju itu terlihat berengut dan kesal. Ia menata dengan telaten pakaian Jack. Menumpuknya rapih dan menggolongkan sesuai jenisnya.


Tanpa sadar Jack terus memandang kelincahan dan kepiawaian Gendis dalam bekerja. Perempuan cengkre ( Judas) itu sangat cekatan dalam melakukan pekerjaannya.


" Aku sudah selesai, sekarang bukakan pintu. Aku mau menggosok pakaianmu yang kusut ini!" dengan wajah berengut, Gendis menunjukkan kemeja yang kusut karena tertarik dengan tidak pelannya.


" Kakiku pegal, kau bisa memijit kan?" Jack memang merasa sekujur tubuhnya nyeri. Ia benar-benar tak enak badan usai beberapa hari di kirim ke luar kota oleh David.


" Apa? kau bisa memanggil tukang pijat. Aku dibayar untuk mengurusi pakaian, bukan untuk memijatmu!" ketus Gendis menautkan kedua alisnya.


Entah mengapa perempuan itu merasa ia hanya di kerjai saja. Jack bahkan terlihat tak memiliki raut yang bisa di tebak. Dan dia juga tidak marah sekalipun Gendis berucap tak sopan kepadanya.


" Aku sakit, aku akan berikan upah lain. Kakiku pegal!" ucap Jack lesu.


" Kau bisa mengerjakan itu nanti. Pakaian itu juga tidak buru-buru aku pakai. Kau ini gemar sekali membangkang ya!!!. Atau mau ku adukan?" sudah sakit masih bisa menyeringai licik.


Ucapan penuh kandungan kata intimidasi itu, sukses membuat Gendis kalah telak. Kalau sudah berurusan dengan Jessika dan suaminya, ia tak bisa berbuat banyak.


" CK, ya sudah cepat!" Dengan mendecak kesal dan penuh rasa tidak ikhlas, Gendis mencampakkan tumpukan baju ke meja yang berada di sampingnya. Membuat senyum penuh kemenangan tersungging di wajah Jack.


" Kau cari apa?" Jack menanyai Gendis yang celingak-celinguk mencari minyak gosok.

__ADS_1


" Minyak gosok atau sebangsanya, ada punya gak?" Masih dengan wajah penuh keterpaksaan, Gendis berucap tanpa menoleh kepada Jack.


" Oh, sebentar!" Jack bangkit dari ranjangnya dan mendekat ke meja tempat dimana terletak berbagai perkakas dan barang untuk menunjang penampilannya.


Jack menarik sebuah laci, membuat Gendis tersingkir karena Jack langsung menggeser tubuh perempuan itu secara paksa.


" CK, aduh!!!" Gendis mengaduh saat Jack membuatnya terhuyung ke samping.


" Minggir makanya!!" sahut Jack.


Sabar sabar, jdi babu begini amat!


Gendis yang tak bisa bersabar kini hanya bisa mengembangkan cuping hidungnya, guna menghalau laju emosi yang kian menyesakkan dadanya.


" Nih..!" Jack menyerahkan cream pereda nyeri dengan kemasan mirip pasta gigi.


Pria itu langsung menelungkup diatas kasurnya. " Kaki aja, jangan ngarep bisa mijit yang lain!" ucap Jack seraya meraih banyak dan meletakkannya di bawah dadanya yang kini tengkurap.


Gendis membulatkan matanya, mengapa ucapan pria itu seoalah-olah malah dirinya yang mengemis untuk memijat.


" Karepmu Cok! ( terserah mu Cok!)" Gendis mengumpat dengan suara lirih.


" Ngomong apa kamu?" ucap Jack menoleh.


Dengan gerakan memukul udara, Gendis amat geram dengan sikap diktaktor Jack yang sok kesultanan itu. Tapi bagaimanapun juga, Jack adalah bagian dari keluarga Jessika. Itu artinya, ia juga masuk dalam jajaran majikan yang patut ia layani.


" Pelan- pelan aja!"


" Awas lu ya!"


Jancok orang ini?!! belum apa-apa udah nyerocos terus!!!!


Mulut Gendis memang diam, tapi tidak dengan hatinya. Ia mengumpat kesal dalam sanubarinya.


Gendis memutar tutup krim balsam itu lalu mengeluarkan isinya sepanjang tiga senti. Mengoleskannya kepada betis Jack yang terlihat banyak di tumbuhi bulu halus. Membuatnya merasakan desiran aneh saat itu.


Dengan senyum licik, Gendis berniat memberikan pelajaran kepada pria bermulut combe itu.


Gendis mengoleskan banyak sekali krim itu, hingga kulit Jack kini mirip seperti orang yang tengah luluran.


Jack diam merasakan pijatan Gendis tanpa berpikir macam-macam. Ia menang sedang sakit dan tubuhnya remuk.


" Pijatanmu lumayan juga!" dia belum tahu, bila perempuan itu akan membuatnya berang setelah ini.

__ADS_1


Gendis hanya mencibir seraya terus memijat betis dengan bulu banyak itu. Namun selang beberapa saat...." Hey!!! kau sengaja mau membuat kulitku terkelupas. Kau pasti ngasih krim ini terlalu banyak!!! pria itu mulai merasakan reaksi tak nyaman.


" Aduh!!!!" Jack keranjingan dibuat Gendis. Pria itu kini bak kebakaran jenggot, karena merasakan betisnya panas dan perih. Membuat Gendis tergelak.


" Beraninya kau menertawakanku!!!"


" Kau ini cerewet sekali. Kalau mau sembuh dosisnya harus di tambah. Sudah sini cepat!" sergah Gendis kepada Jack yang rewel. Sebenarnya bukan rewel, tapi ia benar-benar kepanasan.


Jack menahan panas yang berlebihan itu, lalu dengan meringis menikmati pijatan yang di berikan Gendis di telapak kakinya. Dengan kekuatan penuh Gendis menekan jari kelingking Jack lalu menariknya.


" Aaaaaaaaaa!!!" Jerit Jack lagi.


" Sudah sudah!! bukannya makin baikan malah remuk iya!!!!" Jack beringsut bangun. Alih-alih mendapat pijatan lembut, Jack malah dibuat menderita oleh perempuan itu.


Gendis hanya diam. Ini memang niatnya. Niat mengerjai.


" Ya sudah!" ucap Gendis mencebik pasrah.


" Membuatku susah saja!" Ucap Jack yang kini terlihat membuka kaosnya karena gerah. Membuat Gendis mendelik. Pria itu sungguh keren karena tato di tubuhnya, yang kini membuat Gendis terperangah.


Kenapa dia bisa se keren ini


Air liur Gendis, nyaris saja menetes saat itu juga. Jack membuat Gendis terpesona dengan tato yang dimiliki pria itu.




Bersamaan dengan hal itu, Gendis terperanjat saat ia melihat berbagai sayatan di tubuh pria itu. Seketika membuat dia merasa bersalah.


Pria di depannya itu benar-benar sakit. Tapi ia malah mengerjainya habis-habisan.


Namun yang membuat Gendis lebih terkejut adalah, mengapa banyak sekali luka bertebaran di tubuh pria mengesalkan itu.


Kenapa dengan pria itu?


Gendis kini mendekati Jack dan mulai meraba berbagai luka itu, membuat Jack mengernyitkan dahinya seraya memandang wajah Gendis yang kini sibuk memindai lukanya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2