Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 86. Merelakannya??


__ADS_3

.


.


.


Semenjak kejadian kemaren siang, Jessika terlihat sering bengong. Membuat Vera mejadi tak tahan untuk tidak bertanya.


"Lu kenapa lagi sih, aura wajahmu mendung banget" ucapnya seraya memperhatikan wajah Jessika, yang juga tengah sarapan nasi goreng bersama dirinya.


"Gapapa Ver, mungkin sebentar lagi tamu bulanan ku datang. Jadi pinggangku linu Hehehhee" ia tak mungkin menceritakan hal seperti kemaren kepada Vera, itu akan membuatnya malu sekaligus akan menjadi masalah.


Vera tipikal orang yang berani, ia takut jika vera akan bertindak bar bar jika dia tahu bahwa dirinya telah disakiti oleh Leo.


Hari ini dia berharap menjalani pekerjaannya dengan normal, lancar dan juga makin menyenangkan.


Setelah ketidakhadiran Jessika pada malam Minggu kemaren, ia harus menggantinya hari ini dengan perform di Cafe Bryan sore nanti.


Karena request dari beberapa anak muda, yang sengaja booking tempat disana.


Di Hotel


Tubuh polos Leo terlihat bergerak, ia meregangkan otot-ototnya yang kaku. Kepalanya masih terasa pusing dan berat.


"Astaga apa yang terjadi" kejutnya setelah ia menyadari dirinya yang terbaring di ranjang tanpa sehelai benangpun.


Secepat kilat ia mengambil bajunya yang tercecer di lantai, kemudian ia mencari keberadaan ponselnya.


Ada banyak panggilan dan pesan disana, yang berasal dari Tomy dan David.


"Kau dimana? apa kau tidak pulang?


Pesan pertama yang ia buka adalah pesan yang bersalah dari saudara satu-satunya itu.


Kemudian tanpa ingin membalas ia membuka pesan satunya lagi.


"Tuan, anda dimana apa anda baik baik saja"


Pesan dari Tomy yang membuat dia makin bingung, ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang berusaha mengingat kembali kejadian kemaren.


Ia ingat terakhir kali saat ia pergi meninggalkan Jessika, karena berbuat hal tak pantas padanya.


Setelah itu ia berada di makam ibunya, dan berlanjut dirinya yang sengaja datang ke club X tadi malam.


Ia juga ingat jika dirinya meminta Tomy untuk menemuinya, sampai ingatnya agak samar samar ia merasa Jessika datang kepadanya, bahkan semalam ia ingat jika dirinya telah melakukan hal panas itu bersama Jessika.


"Whhuuur"


Suara selimut yang ia buka guna memastikan ingatannya, ia sangat terkejut begitu melihat bercak darah di sprei putih itu.


"Apa yang terjadi, dan ...." kepalanya mendadak sakit dan pusing mengingat kejadian semalam.


****


Tomy hampir semalaman tidak tidur, ia terjaga karena mencari keberadaan Leo. Saat bertemu dengan orang tua Putri, mereka tak langsung mengijinkan Tomy pergi.


Mereka mengajak makan malam bersama, padahal jam itu sudah terbilang lewat untuk ukuran makan malam.


Dengan terpaksa ia menurut, selain tidak enak dengan pak Sis. Ia tidak mau kalau sampai putri mengadu pada pak Edy. Damned!!!


Berbekal informasi dari karyawan di club', jika Leo telah di bawa pergi oleh seorang wanita yang ia yakini itu adalah Bella.


Ia terus mencari keberadaan bos-nya itu, namun sialnya Bella maupun Leo tak menjawab panggilan darinya.

__ADS_1


Ia tertidur dalam mobil yang sudah ia tepikan di pinggir jalan, saat menjelang dini hari kantuk yang menyerang dirinya sudah tak bisa ia tahan.


Bos calling


Getaran dan suara khas dering ponsel miliknya, sukses membuat Tomy sadar dari tidurnya.


"Ya bos Anda di ma...."ucapannya tergantung.


"Temui aku di Astor Hottel"


Dengan gusar dan penuh pikiran negatif ia melajukan mobilnya menuju hotel, tempat Leo kini berada.


"Astor Hottel??"


Mengapa di hotel?


Apa yang mereka lakukan?


Pertanyaan itu seolah melayang layang dipikiran Tomy, hal normal bukan jika ia berfikir seperti itu.


Kamar 21


"Apa ? jadi Bella yang membawaku kemari?" Leo panik dan bingung juga marah mendengar ucapan Tomy.


"Benar bos, semalam saat saya mengantar nona putri saya meminta nona Bella menemani anda, saya tidak punya pilihan anda terlihat kacau sekali tadi malam" jawabnya jujur yang entah mendapat keberanian dari mana Tomy mengatakannya.


Bhough


Bogem mentah itu mendarat di wajah tampan Tomy, " kenapa harus wanita bo doh??? kau bisa meminta orangmu, tidak harus wanita" teriaknya mencengkeram kerah Tomy.


Ia merasa tindakan assistennya kali ini tidak tepat, membuat dirinya dalam masalah.


Leo sudah emosi, kini ia tahu ia telah berhalusinasi mengenai Jessika yang hadir disana, namun kenyataannya ia telah mengambil sesuatu yang paling berharga dari diri Bella.


Pikirannya makin pusing, masalah dengan Jessika belum ia selesaikan, kini ia makin di pusingkan dengan kejadian ini.


"Aaarrrggghhh" Leo membanting lampu hias di nakas sebelah ranjang hotel itu, hingga menjadi puing puing tak berguna.


"Aku memang mabuk, tapi mengapa aku tidak bisa mengendalikan diriku untuk tidak melakukan hal itu Tom" Leo merasa ada kejanggalan.


Pikirannya kini di penuhi tentang bagaimana caranya meminta maaf pada Bella, ia yakin Bella pasti marah kepadanya, apalagi dialah yang merenggut kesucian dokter cantik itu.


"Aku harus menemui Bella Tom. Kau ganti semua kerugian ini, aku akan pergi dulu mana kunci mobilnya?" titah Leo yang langsung pergi dari tempat itu.


"Jangan lupa, ini harus menjadi rahasia kita berdua"


"Huft, aku lagi yang salah" ia menggerutu karena selain dia lelah karena kurang tidur, kini ia di tinggalkan Leo dan juga harus mengurus ganti rugi atas kekacauan yang di buat oleh Leo.


Ia melangkahkan kakinya, namun tanpa sengaja ia melirik kasur kusut yang ada di sebelahnya.


"Astaga, apakah mereka benar-benar melakukannya" ucap Tomy saat melihat sprei dengan noda merah yang masih terpampang disana.


*****


Diperjalanan ia mengurungkan niatnya menemui Bella, ia merasa tampilannya kali ini sangat tidak mendukung.


Belum lagi dia masih bingung dengan kata kata apa ia akan berkata kepada Bella, meskipun dengan tidak sadar tapi ia yakin jika itu adalah kali pertamanya bagi Bella, terbukti dari cairan merah yang tertinggal di sprei kamarnya.


Ia melanjukan mobilnya kerumah besarnya, saat masuk ia mendapati David yang terlihat seorang diri menyantap sarapan seorang diri.


"Kau dari mana saja Leo" ia menghentikan suapannya demi melihat adiknya yang baru saja datang.


"Bukan urusan Abang" Leo benar benar sudah tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya pada David.

__ADS_1


Ia lebih memilih menuju kamarnya, ingin membersihkan dirinya dari sisa sisa pergulatan panasnya bersama Bella.


"Ada apa anak itu" gerutu David yang merasa tidak biasanya Leo bersikap begitu terhadap dirinya.


"Bik, tolong bawakan Leo sarapan ke atas. Sepertinya dia tidak sarapan disini" pintanya pada ART itu.


"Baik Den, apa Den Leo sakit?" jawab bik Asih.


"Sepertinya, bibik antar saja" ucapnya kembali.


Bik asih membawa nasi goreng lezat lengkap dengan topping ayam, telur dan sosis yang lezat. Di tambah segelas jus yang segar.


Tok tok tok


"Den saya bibik" ucapnya dari balik pintu, berharap segera mendapatkan sahutan dari majikannya.


"Ia bik masuk aja" sahut Leo dari dalam kamar.


Saat masuk, bik Asih tengah mendapati sosok majikannya tengah berada diatas Tempat tidur, sambil memainkan ponsel.


"Maaf Den mau ngantar sarapan, Den David bilang Den Leo lagi sakit" ucapnya sopan.


Leo terdiam sementara, bahkan meskipun dia bersikap tak baik pun kepada kakaknya itu, dia masih saja peduli.


"Taruh saja di meja bik, aku masih mau mandi dulu" jawabnya masih dengan posisi di ranjang, sembari memainkan ponselnya.


"Bibik permisi dulu" ucap bik asih mengundurkan diri.


Selepas kepergian bik Asih Leo menuju kamar mandi, ia membiarkan kucuran air itu terus mengguyur dirinya.


Buncahan rasa bersalah kepada Jessika, dan di tambah penyesalan yang entah bagaimana caranya bisa ia ungkapan kepada Bella. Damned !!


Semua hal itu membuat otaknya menjadi panas, bagaimana bisa dalam kurun waktu kurang dari 24 jam ia bisa menciptakan rekor baru, menyakiti hati dua wanita sekaligus.


Kucuran air dingin itu masih bertahan, ia berharap bisa mengurangi rasa panas yang bersarang di otaknya, entah mengapa ia kini seperti membuat permusuhan antara dirinya dengan David.


Ingatannya saat Jessika berkali kali bersama David, membuat dirinya seakan tak rela. Namun tolakkan Jessika yang berkali kali itu, membuat sikap egoisnya tumbuh.


****


"Apa aku sudah membuat kesalahan?" David tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya, setelah dirinya mendapat jawaban yang tidak enak dari adiknya itu.


"Apa aku berkata Bang David berbuat salah kepadaku?" Leo menjawab sambil melahap suapan besar nasi goreng lezat buatan bik Asih.


David melipat tangannya dan memiringkan sedikit kepalanya, menatap Leo dengan lekat" oh ayolah Leo, kita bukan anak kecil lagi. Apa ini semua karena Jessika? kau sudah salah pa...." ucapnya terhenti karena Leo menjawab.


"Salah paham?? Berdua dengan Jessika saat tasyakuran papa, berduaan dengan Jessika saat ulang tahun Bella, dan mungkin ada beberapa hal yang tidak aku ketahui, dan kemaren Jessika berada di sini dengan posisi kalian!!" Leo bahkan memejamkan matanya karena tak sanggup mengingat kejadian kemaren.


"Katakan dimana letak kesalahpahaman ku?" kini Leo berdiri dengan keadaan yang sudah tersulut emosi, moodnya benar benar buruk.


"Leo!!" David masih mencoba menenangkan dirinya sendiri, adiknya benar benar cemburu kepadanya. Ya inilah kepastiannya.


"Lanjutkan, aku tidak akan menganggu kalian!!!" ucapnya seraya mendorong piring yang masih tersisa separuh dari porsinya, ia sudah kehilangan selera makannya saat David menemui dirinya.


Sejurus kemudian ia menyambar kunci mobil, dan melangkahkan kakinya keluar.


"Oke kalau ini mau mu, aku aku tidak akan melanjutkan semua ini Leo, aku tidak ingin hanya karena seorang wanita adikku satu satunya membangun dinding pemisah, kau bisa pegang perkataanku" ucap David dengan nafas memburu, berhasil membuat langkahnya terhenti.


Leo hanya menoleh sebentar, namun tidak menjawab. Ia keluar kemudian membanting pintunya kerasa.


Braaaaak!!!!


Bahkan tembok dikamar itu seakan runtuh, menyalurkan energi kemarahan dan kecemburuan Leo.

__ADS_1


David memejamkan matanya seraya menghembuskan nafasnya, ia sudah memutuskan untuk menjauhi Jessika agar Leo berhenti bersikap acuh kepadanya.


Suatu pilihan yang akan membuat dirinya sendiri jatuh kedalam kehampaan, kosong dan tak terarah.


__ADS_2