Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 159. Sikap Aneh


__ADS_3

.


.


.


Mobil sejuta umat itu berhenti di rumah utama keluarga Darmawan di desa itu. Mereka bahkan tidak memikirkan nasib Tomy, mungkin pria datar itu sudah menjadi sayur rebus di tengah lautan kemacetan.


David tidak percaya bila istrinya itu merajuk,


karena perbuatannya yang mencium istrinya secara mendadak. Dari dalam terlihat Pak Edy yang keluar menyambut kedatangan anak dan menantunya. Di ikuti oleh Bik Darmi yang mengekor di belakangnya.


"Wah menantu papa sudah datang!" ucap Pak Edy.


"Tapi, inikan bukan mobil kalian?" Pak Edy mobil yang jelas itu bukanlah milik keluarga mereka.


"Dimana Tomy?"


"Tau, ilang kali!" David masih saja tidak terima.


Jessika menyenggol tubuh suaminya, selalu saja bila sudah merajuk kepada Tomy, akan berlangsung lama.


Jessika tersenyum mendengar ucapan mertuanya," papa apa kabar?" Jessika berlari dan mencium tangan mertuanya. Sementara David terlihat mengeluarkan barang-barang dari dalam taksi.


Pak Edy membulatkan mata, mereka tidak terlihat seperti baru pulang liburan,tapi mau pindah rumah. Terbukti dari banyaknya barang bawaan.


"Kalian yakin dari pulang liburan?, enggak dari merampok?"


***


Semua kardus yang berisi cinderamata sudah ludes di bagikan kepada semua kerabat, dan juga saudara, serta teman Jessika. Bahkan Jessika memberikan oleh-oleh itu kepada semua karyawan David. Membuat mereka semua senang, dengan kebaikan istri bosnya itu.


Sedari siang Jessika masih terlelap, mungkin karena penat. Sementara David yang tak bisa tidur, sore itu memilih untuk keluar. Dan disana rupanya sudah ada Tomy yang baru tiba, tengah mendapat siraman kalbu dari Pak Edy.


"Ya sudah, sana kamu masuk!" sayup-sayup terdengar suara papanya yang memarahi Tomy bak anak kecil, Ia sempat melihat wajah kusut Tomy.


"Cih dasar, setelah ini giliran ku untuk menghukum mu?" batin David.


Saat Tomy hendak masuk ke dalam, ia sudah melihat David yang berdiri dengan wajah yang lebih datar darinya, tengah melipat kedua tangannya. Terlihat menakutkan.


"Bos!" ucap Tomy terkejut.


"Ikut aku!!"


.


.


"Hahahaha 🤣!!!" David malah terkikik geli demi mendengar kejujuran Tomy. Ya, jujur lebih baik. Meski malu, namun jelas itu bisa menyelamatkan diri Tomy dari masalah.


"Jadi anak Tuan Zakaria masih benar menyukaimu?" tanya David yang masih duduk di samping Tomy, seraya masih tersenyum.


"Saya tidak tahu bos, tapi malam itu Eka merajuk dan kabur!"


"Gara-gara melihat saya di peluk wanita itu!!"


"Hahahahaha!" tawa David makin menggema tempat itu, mereka tengah duduk di kursi ruang belakang, yang menampilkan hamparan luas tanaman hias.


"Sudah aku bilang, cinta itu deritanya tiada akhir!" ucap David, sepertinya ia mengutip kata-kata bijak itu dari salah satu tokoh film legendaris, yang menceritakan kisah perjalanan ke barat, untuk mengambil kitab suci bersama seroang biksu.

__ADS_1


"Jangan membuat orang lain berharap, dan cepat ambil langkah untuk menghalalkan anak orang Tom. Aku memaafknamu!" David menepuk pundak Tomy, lalu melenggang kedalam.


.


.


Dua Minggu berselang, semenjak dari pulang liburan Jessika sakit-sakitan. Dan malas untuk melakukan apapun.


"Tom istriku sakit!"


"Tom dia ingin menemuimu, kau pelet dia ya?"


"Tom istriku tiba-tiba tak mau aku dekati!"


Tomy masih saja menjadi yang paling repot, apalahi jika berurusan dengan Jessika, membuat David menjadi bodoh. Dan istri bosnya itu, mendadak rewel. Dan lebih parahnya, selalu dia yang diminta Jessika untuk kesana-kemari.


Ya, mereka telah memutuskan untuk tinggal di rumah utama, sementara rumah baru David dan Jessika sengaja di kontrakan. Dan untuk rumah mbok Yah, mereka meminta si Slamet untuk tinggal disana. Jessika meminta Slamet untuk mengurus rumah itu, dan siangnya ia bisa kembali bekerja dengan Lek Soleh.


Seperti pagi ini, Jessika merasa pusing dan tak enak badan. Sudah seminggu terakhir ia merasa sakit. Tak bernafsu makan, juga mendadak tak senang dengan David.


"Sayang, kita ke dokter ya?" David masih berusaha merayu.


Jessika menggeleng lemah, sungguh ia malas untuk pergi kemana-mana. Lebih malas lagi, saat melihat suaminya.


"Sudah kubilang jangan kemari!!" Jessika menatap suaminya itu dengan mata berkaca-kaca, dan saat Pak Edy datang tiba tiba,


"David, kau apakan menantuku?" Pak Edy berucap begitu, lantaran melihat Jessika yang sudah mau menangis.


Pak Edy berniat melihat menantunya, karena sedari kemaren tak terlihat keluar. Berbekal info dari Bik Darmi, Pak Edy lantas menuju kamar anaknya itu.


Ia mengira bila menantunya itu tengah bertengkar kecil dengan David, orang tua selalu saja menerka-nerka.


"Aku apakan bagaimana?, dia sakit tapi tidak mau aku sentuh!" David kesal dengan tuduhan papanya.


Tentu saja membuat David membulatkan matanya, dia yang sedari tadi gencar menawarkan diri untuk mengajaknya periksa, ini malah dianya meminta Tomy.


"Tidak!, kau harus pergi denganku!!" David berbicara agak keras.


Jessika kini menangis, menenggelamkan dirinya ke kasur kembali. Pak Edy yang melihatnya itu mejadi kasihan. Ia kemudian menuju luar, dan saat kembali ia menggandeng Tomy untuk di bawa ke kamar itu.


"Antar nona kemana dia mau!" titah pak Edy.


"Apa?" David benar-benar tak setuju.Cenderung tidak rela.


Sementara Tomy masih menelan ludahnya dengan sangat susah. " Nona kenapa kau membuatku dalam masalah lagi!" ucap Tomy dalam hati.


.


.


Demi apapun David sudah mengumpat dalam hatinya, karena dia membiarkan istrinya itu pergi berdua dengan assisten datarnya itu.


"Papa!!" protes David kepada pak Edy.


"Dengar David, apa kau sudah gencar menanam benih saat kalian liburan?"


Pertanyaan macam apa itu, David terlonjak begitu mendengar pertanyaan yang membuatnya malu, ditengah hatinya yang masih di rundung kekesalan.


"Kenapa papa bertanya begitu?"

__ADS_1


"Jawab saja!"


Mereka berdua masih diam.


"Tentu saja pa, untuk apa aku jauh jauh liburan kalau disana hanya tidur dan buang air di kamar mahal itu" sungut David.


"Jika demikian, bisa jadi itu bawaan bayi. Dulu ibumu waktu hamil kamu, juga sering sakit-sakitan. Dan dia juga tidak mau dekat dengan papa."


"Apa?" mata David membulat.


Kalau tidak mau dekat, lalu bagaimana nasib teripang yang tersembunyi di balik celananya?.


Pak Edy mengangguk," suruh rekan Kevin yang wanita untuk kemari. Kita test nanti malam!"


"Semoga ini benar kabar baik, dan jika itu benar kau harus melakukan apapun untuk calon cucuku!!" ucap pak Edy.


***


"Kita kemana nona?" Tomy benar-benar takut.


Mood jessika benar-benar mendadak menjadi baik saat ini, aneh bukan. Tadi dirumah ia merasa dirinya begitu tidak sehat.


"Jalan aja dulu Tom!"


Mereka sudah berjalan ke arah yang tidak jelas, bahkan mereka sudah berada di daerah selatan yang agak jauh. Begitu melihat papan nama sebuah makanan, Jessika menekan ludahnya berkali-kali. Merasa ingin mencicipi


"Stop Tom!!"


Tomy bahkan menginjak pedal rem nya dengan mendadak, membuat Jessika terhuyung.


"Aku ingin itu!" tunjuk Jessika ke kedai kecil, yang menjual sebuah makanan.


...Rujak Kelang...


Adalah sebuah rujak buah yang di serut halus, dengan siraman kuah pindang dari petis. Asam, gurk, manis dan tentu saja segar.


Tomy bahkan tidak di ijinkan untuk menunggu di mobil, tapi begitu melihat Jessika yang hendak menangis membuat dirinya mau tidak mau untuk menurut.


"Emmmmm!"


"Emmmmm!"


Jessika masih ber am em am em saat makanan itu meluncur ke dalam mulutnya. Membuat Tomy menatap tidak percaya dengan perubahan sikap yang cepat itu.


"Cobalah Tom, ini enak!"


" Terimakasih nona,saya masih kenyang!" Tomy tak menyangka, ia diajak keluar hanya untuk menemani istri bosnya itu makan rujak.


"Minta bibi itu untuk membungkusnya!" titah Jessika.


"Apa?, Anda bahkan sudah menghabiskan tiga porsi nona!"


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2