Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 88. Original Soundtrack


__ADS_3

.


.


.


Leo benar benar tidak bisa menahan emosinya tiap bertatap muka dengan David, benang kusut yang mereka bertiga ciptakan secara tak sengaja itu makin rumit.


Bahkan ia belum pernah membangun sekat sejauh ini dengan David, mendiang mamanya pasti akan sedih jika tahu dirinya sedang memiliki hubungan yang tidak baik bersama kakaknya.


Namun percikan api cemburu semakin menambah rasa egoisnya, dan membuat dirinya terjerat dalam masalah yang lebih rumit.


Bella.


****


Disebuah apartemen yang terbilang mewah, seorang wanita muda meringkuk sambil memeluk lututnya, ia merasa hancur, kotor, tak berharga, tak berdaya.


Sebuah hal yang paling berharga, yang ia jaga selama ini, hal yang ingin dia persembahan pada suaminya kelak hilang dalam semalam.


Leo telah merenggut mahkota berharga miliknya, namun hal yang membuat dirinya terluka adalah ucapan Leo selepas mencium kening basah miliknya, pasca perhelatan panas tadi malam.


"Terimakasih Jessika, aku mencintaimu"


ucapan Leo itu terus saja terngiang dalam pikirannya, membuat dirinya merasa tidak diakui, tidak dianggap.


"Arrrrrggghhhh" teriaknya frustasi sambil melempar ponselnya.


Hancur seperti susunan puzzle yang tak berharga.


"Kenapa kamu tidak pernah memikirkanku sama sekali Leo, kenapa!!!" ia berteriak histeris.


Bella sengaja tidak pulang sejak kejadian semalam, ia merasa bersalah kepada orangtuanya.


Bagaimana cara dia menghadapi hari esok, bahkan ia semakin kecewa tatkala sampai detik ini Leo tidak berniat untuk mencarinya.


****


Leo beberapa kali menghubungi ponsel Bella namun hanya terdengar suara kaku wanita," Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan"


"Si al!!!!!" ia bahkan mengumpat beberapa kali, ia mencari kerumahnya juga tidak mendapati Bella disana.


Apalagi perkataan mamanya Bella" Loh Bella belum pulang, mungkin ada di rumah sakit Leo. Biasa mungkin ada jadwal operasi pagi pagi sekali, jadi dia nggak pulang" terang mamanya Bella.


Ia semakin bersalah saat bertemu dengan mamanya Bella, akankah sikapnya masih sama bila ia tahu jika putrinya sudah ia renggut mahkotanya tadi malam.


Bahkan ia langsung tancap gas setelah mendapat informasi dari mamanya, namun lagi lagi ia mendapati jika Bella sejak semalam sudah meninggalkan rumah sakit.


"Dokter Bella sudah pulang sejak semalam tuan" ucap salah seorang perawat yang bertugas disana.

__ADS_1


"Kemana aku harus mencarimu Bel?" ucapnya putus asa.


****


Hari berganti dengan Minggu, dan Minggu berganti dengan bulan. Sudah sekitar satu bulan lebih ini kehidupan Jessika normal dan berjalan dengan baik.


Hari ini adalah hari Sabtu, seperti biasanya ia diagendakan untuk perform spesial satnight.


Sudah bisa ditebak pasti banyak kawula muda yang nongkrong disana. "Wah gila, full banget jam segini" ujar Vera seraya menyapu pandangan ke semua kursi yang terlihat full.


Entah mengapa Jessika merasa berharap sosok David hadir disana, ah pasti dia sudah gila mengharapakan hal seperti itu.


"Aku tertarik sama kamu" ucapan David hari itu makin hari membuat dirinya makin diliputi rasa bahagia, namun tak selaras dengan ucapannya, David justru menghilang bak di telan bumi.


"Singer prepare dulu, cek akustik kalian, udah ganti baju belom, udah make up belom?" Bu Maya sudah seperti seorang alarm baginya.


Membuat lamunannya akan David menguap dalam sekejap di udara.


"Aku prepare dulu Ver" tukasnya seraya menepuk pundak Vera pelan, dan pergi dari sisinya.


"Yok, go ahead!! ( lanjut)" jawabnya masih dengan sibuk dengan monitor di meja kasirnya.


"Selamat malam semuanya, welcome to Bryan's Caffe. Menemani malam minggu kalian saat ini, sebuah lagu spesial buat yang ada disini" ucapnya menghantarkan performance yanag akan ia suguhkan.


🎶"Apa kah kau peduli,jika ternyata ku jatuh hati...


Apakah kau mau tahu,jika kau jatuh hati padamu"🎶


Ia merasa itu juga adalah bagian dari perasaannya saat ini, fix lagu itu seperti Original Soundtrack dirinya saat ini.


🎶"Kali ini ku merasa cinta...


memaksa ku untuk bicara..."


( Ipang Lazuardi jatuh hati).


Semakin kompak dan ramai tepuk tangan dari pengunjung yang mulai baper saat dirinya menyanyikan reffrein dari lagu milik penyanyi dengan ciri khas rambut gimbal itu.


"Wih milih lagu itu, jatuh cintrong beneran dia iku kayaknya" kelakar Vera yang menyadari jika Adrian di sampingnya bersama Bryan.


"Ehem" deheman dari Adrian membuat Vera menoleh kesamping, tempat Adrian dan Bryan berdiri.


"Bos hehehe" ucapnya kikuk yang tak menyadari jika Bryan ada disana, namun ia juka kaget melihat sosok yang sekitar sebulan yang lalu turut andil bersamanya, dalam misi penyelamatan.


"Lo kirim lagi ke gue rekapan yang bulan lalu. kelamaan nunggu Bu Maya" ucapnya kemudian berlalu setelah pamit kepada Adrian.


"Bos galak?" ucap Adrian sambil ibu jarinya di acungkan ke belakang, menunjuk pada Bryan.


"No, sometimes baik sometimes dingin. Lagi galau kali" ucapnya sambil terkikik.

__ADS_1


"Gue aduin ni" ucap Adrian.


"Yeeee, kan lu dulu tadi tanya" entah mengapa ucapannya kali ini sudah tidak seformal saat sebulan yang lalu, padahal sudah lama juga ia tak bertemu dengan Adrian.


Mungkin karena ia bertemu di cafe tempatnya bekerja, menjadikan suasananya sedikit santai atau karena sudah sedikit mengenal Adrian.


Adrian hanya tersenyum simpul, kemudian mengarahkan ponsel yang ia pegang ke arah stand dimana Jessika masih dengan cerianya meneruskan performanya.


"Mau ngapain?" tanya Vera.


"Buat story', biar gak dikira gak hidup sama anak anak" ucapnya terkekeh.


Vera memandang Adrian dengan senyum, pria di depannya ini menjelma menjadi pria yang menyenangkan. Tidak seperti saat dirinya pertama bertemu, terkesan sungkan dan takut.


"Sendiri? biasanya sama bos kamu" ucapnya kembali menjadi kamu saat berbicara dengan Adrian.


"Si David? dia dirumahnya, belakangan ini dia selesai dari kantor langsung pulang" tukasnya.


"Ooohhh" Vera hanya ber oh panjang.


"Finish" ucap Adrian yang baru saja selesai mengunggah postingan berupa visual Jessika menyanyikan lagu itu, dengan ia lengkapi sebuah caption "Bryan Caffe tonight"


🎶"Kali ini ku merasa, cinta memaksaku untuk bicara...."


Suara Jessika masih terdengar mengalun, membuat siapa yang mendengarnya ikut bernyanyi.


"Aku minta nomer kamu boleh" ucap Adrian pada Vera.


****


David yang sejak sebulan terakhir ini hanya menghabiskan waktunya dalam ruang kerjanya dirumah, definisi dari workaholic .


Karena lumayan merasa bosan dia membuka ponselnya. Berselancar di media sosial yang ia punya.


"Membosankan" ucapnya saat melihat Instagram miliknya yang di penuhi oleh direct message dari wanita wanita cantik.


Kemudian ia beralih membuka aplikasi berwarna hijau, dengan icon gagang telepon.


"Tumben si Adrian buat story' malam malam begini" ucapnya sambil menyentuh story' yang di unggah oleh assistennya itu.


Seulas senyum terbit dari bibirnya, membuat hatinya berbunga bunga.


🎶"Kali ini ku merasa cinta memaksaku untuk bicara..." Terlihat Jessika yang masih setia dengan gitar akustiknya, menyanyikan lagu yang indah dan sepertinya membuat David merasakan hal aneh.


Namun dengan segera ia menutup ponselnya, ingatannya akan Leo kembali menguasai otaknya. Ia tahu bahkan sampai detik ini ia masih menyimpan rasa untuk Jessika.


Tapi pilihannya untuk menjauhinya, demi kerukunannya bersama Leo rupanya menjadi prioritas utamanya saat ini.


Meski pada kenyataannya, Leo bahkan sudah sebulan ini jarang pulang kerumah, bahkan ia juga jarang dan nyaris tidak pernah berbicara pada David.

__ADS_1


"Huft" David mengusap wajahnya, ia harus membuat semuanya normal. Leo ada di dekatnya, namun ia sudah seperti kehilangan adiknya itu.


__ADS_2