
.
.
.
David membanting pintu mobil dengan kasar.
"Sial, makin lama makin gak bener aja itu pembantu" David benar benar tak habis pikir dengan sikap Mayang, apalagi istrinya tidak berada di rumah.
Ia bermanuver kasar, jelas pagi itu Mayang sukses membuat dirinya kesal.
Sejurus kemudian ia melesat menuju gudang, yang kini lebih mirip dengan pabrik.
Ia telah menyerahkan segala sesuatu yang berhubungan dengan birokrasi kemasyarakatan, kepada Tomy dan pak Eko.
Ia tahu bila akan ada mahasiswa yang akan berkunjung ke tempat usahanya.
.
.
Ia sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan istrinya, semalam saja tidak menghirup aroma tubuh Jessika yang memabukkan, sudah membuatnya susah tidur.
"Bagaimana Makwek?" David bertanya, sambil duduk di meja makan rumah mbok Yah sore itu.
Karena saat datang, neneknya itu tengah tidur.
Praktis membuatnya tak bisa untuk menanyakan kabar, secara langsung.
"Gula darahnya naik" ucap Jessika seraya mengangsurkan makanan yang baru saja ia masak.
Cah kangkung, dengan ayam goreng.
"Kata dokter, makannya harus di ganti beras merah"
Kemudian ia duduk segaris dengan suaminya.
"Maaf hanya ada ini mas" ucapnya tak enak hati, karena saat David tengah lapar ia hanya memasakkan makanan sederhana.
"Tak apa"
"Apapun makanannya, asalkan kamu yang masak, pasti lebih enak" ucap David mengerlingkan matanya.
"Gombal"
David terkekeh, demi mendapati reaksi Jessika.
David memakan makanan itu dengan cepat, dalam hitungan menit saja sepiring makan itu telah licin dan tandas, berpindah ke dalam perut David.
Jessika sampai terheran-heran.
"Kamu lapar banget?"
"Tadi pagi, aku tidak begitu selera makan!"
Kening Jessika mengernyit," kenapa?"
David menarik nafasnya," sayang bagaimana kalau kita cari pembantu baru"
Jessika makin mengernyitkan dahinya," memangnya Mayang melakukan kesalahan?"
"Mayang gak masak?"
"Bukan itu"
"Terus?" Jessika dengan saksama menanti David untuk menjawab.
"Kamu jangan tersinggung ya sayang, tapi sejak awal kamu ngajak anak itu kerumah, aku ngerasa gak nyaman aja"
__ADS_1
"Kurang pas aja" David tidak mau istrinya itu tersinggung, mengingat Mayang adalah pilihan Jessika.
...Flashback On...
Meskipun Jessika adalah menantu orang terkaya nomer satu di kota itu, namun sikap bersahaja yang terlanjur melekat dalam dirinya itu tetap ia pegang.
Ia sudah beberapa kali melihat wanita muda seusia dirinya, selalu mengamen dengan tampilan yang membuat hatinya trenyuh.
Ya, Jessika sering belanja keperluan dapurnya di pasar. Selain bisa bertemu dengan teman teman neneknya sewaktu berdagang dulu, ia merasa bisa lebih hemat.
Dengan terus memberi dagangan mereka, sedikit banyak bisa lah membuat sendi perekonomian di pasar itu, tetap bergeliat.
Padahal, uang David yang gak akan habis dimakan tujuh turunan itu, akan sangat mubazir bila tidak di belanjakan.
Ia menjadi ingat akan nasib dirinya yang juga sudah yatim piatu.
"Saya dari kota mbak"
"Gak ada pekerjaan lain, mau gimana lagi"
"Saya tidak punya keluarga"
Jawaban Mayang tersebut , terang saja membuat hati Jessika terketuk.
Ia mengintrogasi wanita itu, karena setiap kali Jessika ke pasar selalu melihat wanita itu duduk bersimpuh dengan makan sebungkus roti.
Ia menjadi tak tega, lalu datang untuk memberikan beberapa rupiah.
Namun tak dinyana, wanita itu justru mengajak Jessika ngobrol.
Sempat di tolak David, karena suaminya itu memberikan alasan jika Mayang tidak memiliki asal-usul yang jelas.
"Tapi dia kasihan mas, lagipula aku juga butuh teman. Bosan dirumah terus" jawab Jessika, yang mencoba bernegosiasi dengan suaminya.
Melihat wajah Jessika yang berubah sendu, tentu David tak sampai hati.
...Flashback Off...
"Dengar sayang, ada yang tidak beres" David menggenggam tangan Jessika, berusaha membuat istrinya itu percaya.
"Mas, wajar kalau kamu berfikir begitu, kamu kan gak pernah punya ART muda kayak dia"
"Mas, kita nolongin anak yatim piatu itu berkah pahala lo mas"
"Udah ya, sekarang aku lagi fokus buat kesembuhan Makwek. Masalah Mayang, biarkan saja dulu" sergah Jessika.
David lagi lagi tak bisa melawan kemauan istrinya, ia selalu saja kalah.
"Kamu nanti nginep sini kan?" tanya Jessika.
"Nanti Robert kesini, aku mau kasih tau kamu kalau aku ada pertemuan sama dia di Hotel X" David menjawab dengan nada sendu.
"Ya udah, maaf aku belum bisa pulang mas"
"Aku harap mas mau ngerti"
"Makwek hanya punya aku, dan..." ucapannya menggantung.
"Kemarilah!" ucap David meminta istrinya untuk duduk di pangkuannya.
Jessika menurut, ia kini duduk di pangku oleh sang suami.
"Aku tidak apa apa sayang, aku juga minta maaf selalu sibuk. Ku harap kamu juga mengerti, hm"
"Yang paling penting, biar nenek kamu sembuh dulu"
David mencium puncak kepala Jessika, membuat Jessika menyenderkan kepalanya ke dada bidang suaminya.
****
__ADS_1
"Astaga kenapa lagi ini" ibunda Eka terkejut, saat melihat anaknya berjalan tertatih ,dengan di bantu Tomy.
"Keseleo lagi buk" jawab Eka.
"Kamu Iki pie to Ka ( gimana to Ka), keseleo kok langganan"
Ibunda Eka menatap Tomy, pria yang pernah ia jumpai beberapa waktu silam.
Kini Eka tengah berada di kamarnya, berusaha menaikkan kakinya di bantu Tomy.
"Sebentar ya nak, ibu buatkan minum" ucap ibunda Eka, kepada Tomy.
Tomy hanya mengangguk, setelah Eka sudah berada di posisi terbaik, ia melipat kedua tangannya sambil menatap ke arah Eka.
Ia mengedarkan pandangannya ke kamar Eka, kamar ber cat pink dengan beberapa aksen karakter babi lucu ( monokorobo), terpampang jelas disana.
Tomy terkikik geli," gayanya tomboy dan bar bar, tak ku sangka" batinnya berbicara.
"Kau kenapa senyum-senyum sendiri?" Eka menaikan satu alisnya.
"Tidak ada" jawabnya datar.
Sejurus kemudian Tomy mendapatkan telepon.
Bos calling
"Cepat kembali, ikut aku menemui Robert!!"
Tut
Tomy bahkan belum mengucapakan sepatah katapun.
"Aku harus pergi" Tomy menatap wajah Eka.
Saat seperti ini, ada saja gangguan.
"Aku pamit, bilang pada ibumu" Tomy melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
"Tunggu!!!" ucap Eka.
Berhasil menahan langkah Tomy, ia membalikkan badannya.
"Terimakasih" ucap Eka tulus, tersenyum ramah.
Tomy yang melihat Eka tersenyum begitu tulus, sempat tertegun. It's really she???
Ia pun membalas tersenyum, untuk pertama kalinya.
Tunggu dulu, apa itu pertanda mereka berdamai?
Tom and Jerry sudah akur??, ahay!!!😁😁
.
.
.
Terimakasih para pembaca NCJ yang setia, Mommy sengaja hadirkan konflik terakhir sebelum novel ini tamat.
Buat team Tomy and Eka, kita kawal ya😁😁😁
Maaf bila Mommy jarang up, karena tengah sibuk di dunia nyata.
Semoga readers senantiasa diberikan kesehatan ya, agar bisa senantiasa memberi like and komen untuk mommy.
Big hug from me
Mommy Eng 🤗🤗🤗
__ADS_1