
.
.
.
Pak Sis masih dengan intonasi meluap-luap dalam membeberkan kenyataan pahit yang ia alami. Menjadi dasar titik baliknya ,menjadi orang yang bersifat durjana seperti saat ini.
"Kalian semua, harus merasakan sakit yang saya rasakan!!" Pak Sis berteriak, seraya menitikan air mata. Ia benar-benar tak bisa menahan luapan emosi, sekaligus beban berat yang ia pendam.
"Kita bisa bicarakan baik baik Sis!" Pak Edy menatap iba kepada Pak Sis, yang tengah berada dalam kondisi kacau. Menatap mantan kaki tangannya itu, dengan posisi masih di pegang anak buah Pak Sis. Berupaya bernegosiasi, untuk menyelesaikan segala sesuatunya dengan kepala dingin.
Apalagi Pak Sis bukanlah orang lain, bagaimanapun juga ia pernah menjadi orang terdekat di Darmawan Group.
David menggertakan giginya, menahan emosi. Ia merasa Pak Sis benar-benar egois dalam hal ini, ia tak menyangka tekanan hidup akan merubah sifat seseorang begitu buruk.
"Tidak!!, kalian tidak akan pernah tahu rasanya kehilangan!!, bahkan dua orang sekaligus!!" teriak Pak Sis, makin menggebu.
"Anda begitu egois!!" David menatap tajam Pak Sis, yang masih berada jauh dari dirinya. Ia tak bisa menahan dirinya, untuk tidak berucap.
"Egois?"
"Katakan aku apa kamu yang egois!!
"Tuan David Darmawan!!!" Pak Sis datang menghampiri David, ia berteriak persis di depan wajah David ,yang masih di pegang kuat oleh dua anak buah Pak Sis. Saling memberikan tatapan permusuhan.
David mengeraskan rahangnya seraya menatap tajam Pak Sis, benar-benar tak bisa lagi menahan emosinya. " Saat saya ingin memecat anda karena ulah anak anda itu, Jessika lah yang memohon kepada saya untuk tidak memecat anda!"
"Dia juga yang memohon, agar tidak terlalu mempermasalahkan semua ini!!"
"Padahal saat itu, saya sudah muak melihat muka anda!"
"Apalagi saya tahu, bila anak anda juga memfitnah saya yang menjadi ayah dari bayi yang dia kandung!!" nafas David memburu, ia benar-benar meluapkan kekesalannya.
"Tapi apa balasan anda?"
"Anda malah sengaja menyakiti hatinya, dengan membuat saya seolah-olah tidur dengan wanita sial an itu!!" David berbicara juga dengan berteriak, ia teringat dengan air mata istrinya. Apalagi saat ini, jelas istrinya masih dalam keadaan berdua.
Pak Sis terhenyak, ia tak mengerti bila Jessika masih sempat berbuat baik kepadanya. Namun lagi lagi, emosi dan dendam benar-benar membuatnya lupa akan segalanya.
"Itu bukan urusanku!!" kilahnya.
"Yang jelas, kalian harus merasakan semua yang aku rasakan!"
"Kehancuran, kehilangan, kesedihan" Pak Sis masih menatap tajam, tatapan penuh permusuhan.
"Selamat tinggal Tuan Edy Darmawan!" Ia mengarahkan senjatanya ke arah dua tawanannya.
Dor dor dor
.
__ADS_1
.
Leo
Ia tak begitu jelas mendengar, apa yang dibicarakan oleh seseorang yang tengah berada di depan dua orang keluarganya itu.
Jarak yang jauh benar-benar tak menguntungkan dirinya, ia bahkan berkali-kali mengumpat. Lantaran ia sama sekali tak mendengar ucapan pria itu.
"Sialan!, apa yang sebenarnya mereka bicarakan!".
Kelihatannya pria di depan papanya itu, tengah meluapkan kekesalannya.
Namun bola matanya membulat seketika, tatkala ia melihat senjata yang di todongkan ke arah Papanya.
Ia bersiap dengan senjatanya, mengarahkan tepat ke sasaran. Dan sepersekian detik kemudian,
Dor dor dor
Telinganya hampir saja tuli, lantaran kerasnya suara senjata yang berbunyi seperti genderang tepat di depan telinganya.
Jantungnya bahkan berdetak lebih cepat, ia menoleh ke belakang. Rupanya menampilkan Jack yang tersenyum.
"Hehe maaf bos, saya kelepasan!" Jack nyengir kepada Leo, rupanya dialah yang melesatkan peluru ke arah musuh, membuat semua yang disana bergantian menembak ke arah Leo dkk.
"Sialan!!"
.
.
Kesempatan itupun tak disia-siakan oleh pak Edy, sekuat tenaga, dia sisa usianya itu ia berusaha melawan.
Rupanya, Pak Sis terkena tembakan di lengan kanannya."Arrrrggghhh" ia berteriak kesakitan" tembakan dari Jack benar benar melesat sempurna. Mengenai target.
Bought
Bought
Bought
David menghajar empat orang anak buah Pak Sis, membuat mereka semua harus mengakui kekalahan. Dari mulai patah tulang, hingga tak sadarkan diri karena pingsan. Jangan ditanya kekuatan seorang David, kekuatan kemarahan dan kekesalan yang memuncak.
Detik itu juga rombongan Leo datang laksana ayam yang menemukan induknya.
Riuh dan ricuh.
"Astaga!!" Demi apapun, Leo terperanjat. Melihat sosok lelaki yang mulai bangkit, seraya meraih senjatanya yang terjatuh diatas pasir putih itu.
"Apa yang terjadi?" Leo benar-benar bingung. Apakah dia tidak salah melihat?, mengapa pak Sis yang menjadi otak dari segala kejahatan ini.
"Papa, Bang David?"
__ADS_1
"Kalian tidak apa-apa?" Leo tentu saja panik setengah mati.
Pak Edy dan David hanya mengangguk, seolah mewakili jawaban "Aku baik-baik saja."
"Baguslah, kalian semua sudah ada disini!!" Pak Sis tersenyum licik, namun ia juga mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Seluruh anak buahnya berhasil di lumpuhkan oleh David dan rekan-rekannya.
"Breng sek!!!" batin Pak Sis. Jelas bukanlah suatu keadaan yang menguntungkan, untuk dirinya.
"Aku jadi bisa lebih gampang untuk membunuh kalian semua!!" ia masih berusia mensugesti dirinya, untuk terus maju.
"Hahahaha!"
"Hahahaha!"
Jack dan Victor tengah pasang badan, berusaha melindungi seluruh bos mereka dengan menyiapkan senjata api yang mereka bawa, bersiap untuk membidik.
"Hahahaha!"
"Hahahaha!"
Lama kelamaan, suara tawa penuh ironi itu, berubah menjadi senyuman getir.
1 detik
2 detik
3 detik
Masih sama, Jack dan Victor juga masih bersiap seraya membawa gerakan Pak Sis yang tidak menentu.
Namun di detik berikutnya, tawa ironisnya berubah menjadi sebuah tangisan. Tangisan yang benar benar membuat semua yang di depannya saling menatap, penuh tanda tanya.
" Kalian sudah berhasil menghancurkan hidupku!!!"
"Jika ada yang jahat disini bukanlah aku!!" Pak Sis berteriak, dengan menahan sakit di lengannya. Ia bahkan berjalan mondar-mandir bak orang tak waras.
"Tapi kalian!!" Pak Sis tersenyum kecut, mulai mengangkat senjata. Jack dan Victor pun juga bersiap, sementara Pak Edy berada di bawah perlindungan Leo.
David melirik dua anak buahnya, kemudian ia seolah bisa membaca apa yang akan dilakukan Pak Sis selanjutnya. Ia meraih sepucuk senjata yang tersimpan di belakang bajunya dengan hati-hati.
" Selamat tinggal para penjahat!!!" Pak Sis mulai menarik pelatuk pistolnya.
Dan sejurus kemudian...
Dor dor dor
.
.
.
__ADS_1
.
.