
.
.
.
Sesampainya dirumah Jessika segera mencari sang nenek, ia sudah gak sabar ingin memperlihatkan sertifikat rumah yang baru saja dia tebus.
"Assalamualaikum wek, Mak wek dimana? aku sudah pulang ini", ucap Jessika seraya melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah dan mencari keberadaan neneknya itu.
"Walaikumsalam, alhamdulilah kamu sudah pulang?" jawab mbok yah yang tengah mencuci piring kotor di dapur sederhana milik mereka.
"Lihat wek alhamdulilah, akhirnya barang ini sudah kembali bersama kita setelah sekian lama" ucap Jessika membalas sambil menunjukkan sertifikat rumah yang dia pegang.
"Alhamdulilah, ya sudah sana kamu singgahne dulu ( simpan dulu)", jawab mbok yah dengan senyum mengembang.
Mereka sangat bersyukur sudah bisa lepas dari Bu Lastri dan mereka juga berjanji tidak akan mengulangi untuk meminjam uang pada rentenir seperti Bu Lastri.
"Nduk kamu shalat dhuhur dulu sana, terus makan siang bareng Mak wek", mbok yah berkata pada Jessika.
Setelah selesai mandi dan juga shalat Jessika pergi menuju meja makan dengan keadaan lebih segar, sudah setengah hari dia berada diluar rumah.
Mereka akhirnya makan bersama, terlintas di fikiran mbok yah tentang kejadian setelah kepulangan Jessika dari pasar malam tadi malam. Ia melihat mata cucunya sembab seperti baru saja menangis, ia akan menanyakan hal itu setelah mereka makan, begitu fikirnya.
"Nduk Mak wek mau tanya, kamu tadi malam kenapa balik balik kok nangis?", tanya mbok yah setelah merekam selesai makan siang.
Akhirnya Jessika pun menceritakan kejadian semalam apa adanya, sebenarnya ia sudah tidak mempermasalahkan lagi, emosinya juga sudah reda dan dirinya tidak mau ambil pusing kejadian tadi malam .
__ADS_1
"Koyo opo rupane Den David kui nduk? mosok lambene kok koyok ngono? ( seperti apa den David itu nak, masa mulutnya seperti itu)"?", jawab mbok yah setelah mendengar penuturan sang cucu.
" Dia terlihat seperti Bathara Kalla (raksasa dengan wajah menakutkan), (seperti Bathara Kalla) ", ucap Jessika asal.
Padahal jika mbok yah tahu seperti apa wajah david, mbok yah pasti juga akan terpesona.
"Hahahaha hus nduk gak boleh ngatai orang begitu, dan gak boleh kesusu ( terburu buru) benci sama orang nanti kamu jatuh cinta sama dia baru tau", jawab mbok Yah.
"Idiih gak akan wek, lagipula orang kayak David itu gak kan dapat jodoh, lawong dia aja ke perempuan begitu sikapnya, mana ada wanita yang mau sama pria dingin dan cuek macam dia", jawab Jessika dengan nada sedikit kesal.
Mbok Yah hanya geleng-geleng kepala melihat cucunya yang kembali emosi itu karena membahas David.
" Udah ya wek, Jessika ngantuk mau tidur dulu",. pamit Jessika seraya menguap dan langsung masuk ke kamar sederhana miliknya namun rapi.
*************************
David : Halo, Lo dimana?
seseorang : ini bos lagi di kantor, ada apa bos?
David : gue baru sampai nanti Lo kesini habis dari kantor, gue capek mau istirahat dulu.
seseorang : oke bos, siap.
Tut
David menutup telepon sepihak, ia langsung naik ke lantai dua tempat kamar pribadinya berada.
__ADS_1
Hari telah berganti gelap, suara adzan magrib membuat para umat muslim untuk bersiap melaksanakan kewajibannya.
Di kediaman pak Edy yang di desa nampak pak sis yang baru saja datang dengan membawa beberapa berkas.
Akhirnya pak Edy, pak Sis dan juga Leo duduk bersama di ruang keluarga bergaya klasik dengan warna ruangan yang hangat.
"Tuan, lahan yang baru dibeli kemarin sudah di kerjakan para pekerja, besok rencananya akan ditanami. Bibitnya juga sudah ada, kita cari orang baru apa sebaiknya dari pekerja yang sudah ada ?", ucap pak Sis memberi penjelasan kepada Bos nya itu.
"Kalau bisa pakai aja yang ada, biar gak usah ngajari. Ambil saja anak anak yang masih muda itu, biar cepat kerjanya", jawab pak Edy memberi arahan kepada bawahannya itu.
"Baik pak, kalau begitu nanti biar saya atur" jawab pak Sis sopan.
Sebenarnya Pak Sis sudah tahu apa yang harus dia lakukan, hanya saja karena Pak Edy kali ini berada di desa jadi ia perlu merundingkan segala sesuatunya.
Lahan yang luas serta merawat tanaman yang usianya beda beda tentu juga memerlukan jumlah pekerja yang banyak pula.
Pak Sis cukup senang dengan kinerja para anak anak muda seperti Jessika dan kawan kawannya, mereka makin hari makin cekatan mengerjakan setiap pekerjaan, mulai dari menanam, memberi pupuk, menyortir Porong, sampai memetik cabai dan juga menjarumi karung setelah memanen.
" Kalau gitu besok pagi Leo iku pa, nanti kalau gak mundur beberapa hari lagi Leo mau balik ke kota S", ucap Leo kepada sang papa.
"Bagus kalau kamu mau, sekalian besok kamu kontrol anak anak", jawab sang papa.
*******************
"Bisa jadi benci adalah awal dari rasa cinta"
Like comment dan vote nya masih daku harapkan ya...
__ADS_1
biar lebih semangat melanjutkan kisahnya