Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 107. Awal kehancuran musuh


__ADS_3

.


.


.


"kebohongan hanyalah ketenangan untuk sesaat, apabila tidak segera di selesaikan akan menjadi kegelisahan seumur hidup."


Jack dan Victor nampak berhenti di sebuah pengisian bahan bakar mini, di sebuah toko yang lumayan besar di desa P.


Toko itu juga menyediakan kopi dan aneka gorengan, persis yang dijual warung bek Narti. Hanya saja tempat disitu lebih futuristik.


Mereka tak langsung cabut dari tempat itu setelah tujuan mereka tuntas, namun sengaja nongkrong untuk memesan kopi hitam dan menghisap tembakau terbaik, hilangkan penat.


"Sialan tu wanita, kalau dia gak mau transfer juga kita ngadu aja ke pak Edy"


Mereka berdua mendengar kasak kusuk perbincangan yang tidak terlalu menarik perhatiannya.


Namun saat telinga mereka menangkap pembicara yang menyebutkan orang yang mereka kenal, mereka langsung memasang pendengaran mereka siaga.


"Jangan pak Edy, kita beritahu saja Jessika biar dia yang lapor polisi"


"Go blo k banget lu, sama aja kita nyerahin diri CK" seroang pria botak terlihat memukul rekannya yang berambut gondrong itu, pertanda tak setuju dengan ide yang ia cetuskan.


Mata Jack dan Victor saling menatap, seolah saling mengetahui jika tanpa susah susah mereka berhasil menemukan titik terang kasus Jessika.


Tanpa buang waktu mereka langsung menghubungi Tomy, menyusun mitigasi.


Tomy


Sore itu juga Tomy datang ke desa, ia sudah ijin juga kepada Leo. Langkah pertama kini ia harus berkunjung kepada istri pak Eko, yang selama 6 bulan lebih ini hilang. Entah masih hidup, atau sudah tiada.


"Saya ikhlas mas kalau suami saya sudah tidak ada" wanita berusia 45 an tahun itu menyusut air matanya, ia memangku anak keduanya yang masih balita.


"Saya juga sangat berterimakasih, setiap bulan pak Edy selalu memberikan kami bantuan"


Pak Edy selalu memberikan bantuan berupa uang dan sembako, karena sampai sekarang mandornya itu masih hilang secara misterius.


Tomy masih diam sambil setia mendengarkan keluh kesah istri pak Eko, ia merasa iba.


"Buk terakhirnya sebelum pak Eko menghilang, apa beliau berkata sesuatu?


Istri pak Eko menggeleng pelan," saya cuma di pamiti kalau dia akan lembur, banyak kiriman cargo cabe nanti malam, dia bilang begitu saja"


"Sampai akhirnya saya dengar kalau Jessika terlibat kasus pencurian, dan suami saya hilang setelah itu"


"Polisi sudah mencarinya, tapi hingga sekarang juga belum ketemu"


"Saya malah prihatin sama Jessika, dia anak baik masa' tega nyolong. Sampai harus keluar dari pekerjaannya"


Tomy mendengar dengan saksama, memang benar Jessika di keluarkan karena pak Edy harus bertindak adil saat itu.


kebetulan CCTV yang terpasang tidak memiliki perekam suara, jadi mereka hanya bisa melihat secara visual.


"Kita ke gudang!" Tomy mengajak serta Jack dan Victor, ia harus segera membereskan semua yang masih mengganjal pikirannya.


Meskipun David dan Leo tengah sibuk, dan cenderung melimpahkan semua ini kepada dirinya, namun ia juga tak pernah absen untuk memberikan laporan.


Meskipun Jessika sudah menjalin hubungan baik kembali dengan keluarga pak Edy, namun instingnya sebagai dirinya sendiri tidak bisa terbantahkan, bahwa ada hal terselubung yang musti di singkap.


Aneh, janggal, entah kata apa lagi yang bisa mewakili kejadian beberapa bulan yang lalu.


Polisi yang datang juga tak bisa berbuat banyak setelahnya ternyata, melihat tangis istri pak Eko ia menjadi geram sendiri.


Belum terlambat, jika memang pak Eko sudah tiada ia harus menemukan bekasnya. Harus.


Saat ini gudang tengah sepi, hanya terlihat beberapa karyawan yang tengah sibuk di layar monitor.


Ada yang membuat laporan, ada yang memproses membuat semacam dokumen dan perijinan, ada yang tengah berkoordinasi dengan pihak karantina, karena cabai itu rencananya akan di terbangkan ke Indonesia timur.


Mau tidak mau harus melalui tahapan birokrasi.


Saat turun mereka bertiga berpencar, mengelilingi tiap sudut gudang itu. Jack dan Victor menuju samping gudang, dimana terdapat beberapa tumpukan kayu sisa.


Sementara dia berkeliling ke belakang, terdapat sebuah rak besar yang di tempati beberapa kardus yang rusak dan tak terpakai. Menggunung dan tak terurus.


"CK berantakan sekaki disini" ia berseloroh sendiri.


Ia membuka pintu belakang, pintunya tidak di kunci. Memang itu adalah pintu penghubung jika para karyawan akan meletakkan barang barang tak berguna.


"Tak dikunci?" Tomy benar benar heran, bisa bisanya aspek safety and security ( keamanan dan keselamatan) di abaikan.


Bila ada yang berkeinginan untuk berbuat jahat bagaimana, ia tak habis pikir.


Namun tanpa di nyana, ia kembali bertemu dengan wanita ceriwis dan bar bar yang beberapa kali bersemayam di otaknya.


"aaaaaaaaaa" Eka terkejut saat melihat Tomy masuk, sementara ia baru saja dari toilet dan tengah mengancingkan serta membetulkan celananya.


Letak toilet dan pintu keluar memnag sangat dekat, salahnya juga membetulkan celana bukannya di dalam malah diluar.

__ADS_1


Tomy tak kalah terkejut, mendapati wanita yang berteriak kepadanya," diam" ia membekap mulut Eka yang seperti corong masjid itu.


"Emmememmm" Eka menggoyangkan tubuhnya, dan memukuli tangan kekar Tomy yang menutup mulutnya.


"Diam, atau semua akan salah paham dengan kita"


Eka akhirnya diam dengan napas yang memburu.


"Kamu kenapa teriak teriak" Tomy kesal bukan main.


"Kamu yang ngapain, kayak maling tau nggak, lagian ngapain disini coba" Eka makin kesal.


"CK, gak berubah kamu itu. Ngapain benerin celana diluar"


Eka membelalakkan matanya, ia malu Tomy yang melihat dia menarik resleting celananya saat diluar, benar benar tak lazim.


"Kamu sengaja ngintip ya, ihhh" ia malah memukul lengan Tomy yang liat itu.


"Hee cewek gila, gak nafsu aku sama kamu" Tomy berucap sambil mengibas bekas tangan Eka yang baru saja memukulinya.


Padahal entah mengapa ia ingin tertawa melihat reaksi Eka yang lucu baginya.


"Lampu kamar mandi mati, aku takut" ucapnya masih dengan muka kesal.


"Udah ah ,gak jelas " Eka berucap langsung berlalu dari hadapannya, ia sudah sangat malu.


Eka


Ia kaget, melihat Tomy yang muncul tiba tiba. Apalagi ia masih membetulkan resleting yang belum terkunci.


Lampu kamar mandi yang mati dan belum ada pembetulan itu menjadi sebab musabab dirinya ketakutan, dan memilih untuk membetulkan celananya di luar.


Apalagi ini sore hari, membuat efek horor untuknya.


"Bisa bisanya dia begitu ke aku" ia memberengut, sambil berbicara sendiri.


"Tapi sepertinya sudah lama aku tidak bertemu orang itu" ia membatin dalam hatinya.


*******


"Bos, kita nemuin ini" Jack menunjukkan sepatu boots yang mirip dengan safety shoes yang telah penuh dengan tanah, dan hanya bagian kirinya saja.


"Bisa jadi ini milik pak Eko" Victor menambahi.


"Kenapa polisi tidak menemukan benda ini, Dimana kau menemukannya?" Tomy kini bertanya.


"Tertimbun sampah, tertutup tanah dan daun bambu. Aku tadi tersandung benda ini, begitu kuambil ternyata sepatu" Jack menerangkan.


Belum selesai mereka berbicara, mereka terganggu dengan bunyi ponsel Tomy yang berdering.


"Ya bos"


"Baik"


"Baik"


"Sudah"


"Baik"


Ia menutup telepon dari Leo.


"Kita kembali ke rumah dulu, dan besok kalian datangi orang yang kalian curigai itu" titah Tomy kepada Jack dan Victor.


"Baik bos"


****


Disebuah rumah bilik bambu, nampak pria tua bersama istrinya sedang berbicara.


Dan kemudian terlihat keluar, seorang pria dengan luka yang terpahat di sekujur tubuhku yang sebagian sudah mengering.


Rambutnya yang memanjang, namun kulitnya yang menjadi lebih cerah lantaran jarang terkena paparan matahari, juga tubuhnya yang menjadi lebih kurus.


Pertanda ia sedang tidak baik baik saja.


"Le, sarapan dulu" ucap wanita tua yang tengah memarut kelapa, untuk taburan singkong rebus yang ia masak pagi ini.


"Mbok masak kangkung, sama ikan wader dari bapak mancing kemaren sore"


Pria itu merasa sungkan, sudah sekitar 6 bulan ini dia berada di rumah sederhana milik pak tua bersama istrinya itu.


"Ya mbok" jawabnya kikuk.


Makan, minum, tidur hanya itu aktivitas yang bisa dilakukan pria itu selama 6 bulan terakhir, ia tidak bisa bekerja karena sekujur tubuhnya penuh luka, juga tangan yang patah karena mungkin menghantam sesuatu yang keras.


Hanya pasrah dan menurut kepada dua orang yang sudah mengurusnya selama 6 bulan ini.


"habis ini pak mantri mau kemari" terang wanita tua itu.

__ADS_1


"Mbok terimakasih sudah merawat saya"


*****


Tomy mau tidak mau harus menginap dirumah pak Edy, rumah itu kini lebih mirip seperti rumah dinas saja, lantaran siapapun yang berkunjung ke desa pasti Leo atau David menyuruh untuk menginap disana.


"Titip papa"


"Tolong jaga papa"


Begitulah kata kata yang selalu keluar dari bibir David dan Leo, menitipkan orang tua satu satunya pada orang orang kepercayaan mereka.


"Tuan bisa saya minta foto pak Eko" Tomy berbicara selepas acara makan malam.


"Untuk apa Tom"


Tomy kemudian menjelaskan secara rinci rencana dirinya dan kedua bosnya tampannya itu.


Mengenai pak Eko yang menghilang secara misterius.


"Saya percaya padamu Tom" pak Edy menatap Tomy penuh harap setelah mengirimkan foto karyawannya yang hilang itu.


Jack


Ia kembali datang ke tempat pengisian bahan bakar bercat putih itu, tempat yang sama dimana ia secara tak sengaja mendengar pembicaraan yang bisa saja menjadi cikal bakal titik terang keberadaan pak Eko.


Ia yakin mereka berdua akan nongkrong lagi di tempat ini, melihat dari penampilannya yang seperti preman, sudah dipastikan jika manusia seperti mereka akan lebih senang nongkrong dari pada bekerja.


Namun ia melihat tempat ngopi disana masih sepi, ia lalu memesan kopi hitam tanpa gula kepada pemilik toko.


"Sama pisang goreng buk" tambahnya, ia lalu mengetik sebuah pesan kepada Victor.


Selang 14 menitan, muncul dua laki laki yang kedatangannya sudah ia tunggu. Lelaki botak dan lelaki gondrong yang disinyalir adalah dalang dari kasus yang menimpa usaha pak Edy.


Dan benar saja setelah ia menyeruput secangkir kopi dan mengunyah pisang goreng lezat, ia mulai memasang pendengarannya sambil berpura- pura sibuk dengan ponselnya.


"Baru dikirim 5 juta ini, gimana?" ucap seorang yang botak memulai pembicaraan.


"Breng sek!!!!, mau main main dia. Tapi biarin aja besok kalau duit ini habis, kita tinggal minta ke dia.Kalau gak mau, kita ancam saja dia hahahaha"


Mereka tertawa bahagia, seolah tiada beban.


Jack merasa malas harus berurusan dengan sampah macam mereka.


Tapi tunggu dulu, siapa yang mereka ancam?


Dan siapa yang mereka peras.


"Permisi, apa kalian pernah melihat orang ini" Jack berakting seolah seperti orang yang tengah kehilangan keluarganya.


Ia mulai melancarkan aksinya, dengan mendatangi dua manusia sial an itu sebagai langkah awal.


Mereka berdua membulatkan matanya, saat melihat foto orang yang pernah ia eksekusi beberapa bulan yang lalu.


"Ada urusan apa lu ama dia, gua gak kenal" jawab pria yang botak itu bohong.


Jack menahan napasnya, ini di desa ia harus bisa lebih humanis.


"Saya bisa berikan 50 juta jika tahu informasi seputar orang ini" Jack mencoba memancing mereka berdua.


Mereka berdua saling menoleh, uang sebanyak itu ia bisa kaya mendadak. Bisa saja ia memberikan informasi palsu, demi uang.


Dan melihat Jack yang berpenampilan rapi, mereka yakin jika pria yang menawarinya itu bukan kaleng kaleng.


Mereka berfikir licik, tanpa tau siapa yang mereka hadapi saat ini.


"Oke, gua ada info"


Mereka berdua lalu mengikuti Jack, lalu masuk ke dalam mobil hitam.


"Kalian masuk di belakang, kita ngobrol di tempatku" Jack menyeringai.


Ia lalu mengetik sebuah pesan kepada Victor.


Ternyata mudah sekali menjebak cecunguk kampung macam mereka.


Dan saat mereka berdua masuk dan duduk di kursi belakang, sejurus kemudian muncul Tomy dan Victor yang membawa sepucuk senjata api, mengancam mereka berdua untuk diam.


Tomy membuka pintu kanan, dan Victor pintu kiri. Praktis membuat pergerakan dua preman itu terkunci.


"Diam dan semua akan baik baik saja" ucap


Tomy dengan tatapan dingin, membuat dua orang tersebut ciut nyali.


"Breng sek" ucap seorang pria botak yang merasa dirinya di tipu oleh Jack.


"Maaf kawan" Jack menyeringai dan tersenyum penuh kemenangan.


Mobil itu melesat cepat, menuju sebuah tempat yang sudah di siapkan oleh mereka guna aksi mitigasi pengungkapan kasus pak Eko.

__ADS_1


__ADS_2