
.
.
.
Leo pergi dengan dada bergemuruh, ucapan Mayang baru saja seolah membuat kekhawatiran di hatinya membuncah. Jack dan Victor dengan langkah cepat mengikuti Leo dari belakang. Disusul oleh sejumlah anak buah mereka.
Sementara Adrian, Tomy dan Vera masih berada di dekat mobil. Menjaga Mayang dan yang lainnya.
"Tembak saja siapa yang menghalangi kita!!" titah Leo, dengan langkah tegasnya. "Siap bos!" jawab mereka sigap.
Mereka berjalan menuju pantai, sayup-sayup deburan ombak kini terdengar. Menandakan jika mereka kini harus mencari keberadaan David dan Pak Edy.
"Berhenti!" Leo menaikkan tangan kanannya, memberi aba aba untuk mengentikan langkah mereka.
"Menunduk!" ucap Leo memberi perintah, seraya ia berjongkok karena rupanya ia melihat Pak Edy bersama Leo yang tengah di ikat oleh anak buah pria tinggi itu.Jack dan Victor mengikuti perintah bos-nya itu, begitupun dengan anak buah mereka.
"Siapa pria itu?" Leo berbicara sendiri, dari radius sekitar 200 meter, dari keberadaan papa dan kakaknya. Ia mengamati hal itu di antara semak-semak dan rumput pantai.
Membuat Jack, Victor serta anak buah mereka turut memanjangkan lehernya, untuk melihat siapa sosok yang tengah berhadapan dengan David dan Pak Edy.
Tempat yang minim penerangan, juga jarak yang lumayan jauh, membuat Leo tak bisa melihat dengan jelas siapa sosok pria yang mengintimidasi kedua keluarganya itu.
Mereka laksana singa, yang tengah mengendap-endap. Menunggu mangsanya untuk diterkam.
"Kita serang saja sekarang bos!" ucap Victor yang tak sabar.
"Jangan, sepertinya ia sedang membicarakan sesuatu"
"Kita biarkan dulu"
.
.
David kaget bukan kepalang. Ia tak percaya bila yang berbuat jahat kepada dirinya, adalah mantan orang kepercayaan papanya.
"Apa kau sekarang sudah tahu, hm??"
"Apa dua bola matamu sudah bisa melihat jelas siapa aku?"
"Jelas???" Pak Sis berteriak dengan keras di depan wajah David, meluapkan emosi. Tak ada lagi kesopanan yang keluar dari bibir pria setengah abad itu.
Pak Edy hanya menggelengkan kepalanya, menghembuskan nafasnya, sebisa mungkin mensugesti dirinya, untuk tetap tenang.
"Kenapa anda begitu tega?" ucap David lirih, seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Hahahaha" terdengar tawa yang mengerikan dari Pak Sis.
"Tega?"
__ADS_1
"Kalian yang tega!!" kali ini Pak Sis berteriak menatap tajam ke arah mereka berdua, secara bergantian.
"Kau mau tahu?" ucap Pak Sis dengan suara menggebu.
"Baik!"
"Kesalahan kalian sangat fatal"
...Flashback On...
Pak Sis memutuskan untuk keluar dari perkebunan cabai milik Pak Edy, lantaran ia begitu malu dan tak enak hati.
Apalagi, anak sulungnya tengah menjalani hukuman. Namun karena kebaikan hati Jessika dan keluarga Darmawan, Putri bisa terbebas dalam waktu yang lebih cepat.
Perutnya pun kian membesar, seiring dengan bertambahnya usia kandungannya.
Pak Sis pindah ke kota S, dengan bekerja di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang tour and travel.
Mereka mengontrak rumah sederhana, dari sisa tabungannya sewaktu bekerja kepada Pak
Tak masalah bekerja seadanya, yang penting masih bisa melanjutkan kehidupan. Memulai semua dari nol. Ia juga menyadari, telah salah dalam mendidik Putri. Terlalu menuruti semua keinginan, membuat anak sulungnya itu memiliki sifat yang tidak baik.
Ia sadar, kadang orang yang terbiasa hidup apa adanya, justru lebih bisa menghargai orang lain.
Hari itu berjalan seperti biasanya, namun ia tak mengira jika petaka itu hadir secara bersamaan.
Putri yang mengalami depresi, sering menyakiti dirinya sendiri. Kekalahan, kehamilan di luar nikah, menjadi narapidana di usia belia, juga stigma buruk yang melekat dalam dirinya, membuat jiwanya terguncang.
"Ya halo Bun" ucap Pak Sis, yang menerima panggilan telepon dari istrinya.
"Putri yah.... Putri!!" Istri Pak Sis hanya menangis, tak kuat untuk melanjutkan pembicaraan.
Singkat cerita ia kemudian ijin untuk pulang, tangis dalam telepon jelas menandakan bila keadaan dirumah sedang tidak baik baik saja.
"Yah, Putri yah.." Ia menangis sesegukan.
Membuat Pak Sis mau tak mau harus segera melesat, untuk menuju ke kontrakannya.
Namun terlambat, saat ia tiba dirumah ia sudah mendapati Putri dalam keadaan tak bernyawa, karena menenggak racun. Diiringi oleh tangisan istrinya ,yang berada tepat di samping anaknya.
Lutut Pak Sis saat itu seolah tiada bertulang, sekujur badannya mendadak lemas. Ia bahkan bertekuk lutut, demi melihat keadaan yang sama sekali tidak ia harapkan kedatangannya.
Belum juga selesai ia menelan pil pahit yang tersaji di hadapannya, seseorang tengah datang tergopoh-gopoh kepada keluarga mereka.
"Mas..mas!!" panggil salah satu orang tetangganya. Membuat dirinya langsung menoleh dengan gerakan cepat.
"Anak bapak mengalami kecelakaan Pak!" tukas seorang tetangganya, yang datang tergopoh-gopoh.
"Dan dia tidak tertolong"
Duaaaarrrr
__ADS_1
Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Apalagi yang tersisa kali ini. Ia kehilangan dua sekaligus darah dagingnya, bahkan calon cucunya.
Duka yang mendalam itu membuat pertahanan jiwa istri Pak Sis porak poranda, ia mengalami penekanan mental yang luar biasa.
Depresi, nyaris gila lebih tepatnya. Ia sering berbicara sendiri, kadang menangis dan tertawa sendiri. Membuat hati Pak Sis nyeri tak terperi.
Ia lantas berhasil mencari tahu sebab musabab Putri bunuh diri, dari pencariannya ia menemukan fakta bila saat Putri berusaha menemui bapak kandung dari orok yang di kandung oleh anak sulungnya itu, Putri mendapati ayah bayinya tengah bersama wanita lain.
Ia hancur, kotor dan tentu saja tak memiliki alasan untuk hidup. Hidupnya sudah terlalu tak berarti.
Dengan bermodalkan uang sisa yang ada, ia menyewa orang untuk mencari tahu kemana anaknya pergi sebelum meninggal dunia.
Atas dasar itulah, Pak Sis menemui Alex, setelah ia tahu bila Pria itulah yang membuat anaknya menjadi seperti itu, hingga akhirnya meregang nyawa. Memberikan pelajaran yang tak akan pernah di lupakan lelaki itu untuk selamanya.
"Karena aku ingin membalas keluarga Darmawan!" ucap Alex dengan berteriak, saat dirinya dihajar habis habisan oleh Pak Edy. Jangan di tanya seberapa kekuatan seorang Ayah yang ingin membela Putrinya.
Dan entah dengan cara apa, Pak Sis bisa menguasai segala usaha Alex. Bahkan geng yang sudah dibentuk, kini bisa dikuasai Pak Sis dengan mudah.
Membuat Alex bangkrut, dan menjadi gembel tak berguna.
Memang, kekuatan dendam rupanya membuat Pak Sis gelap mata. Ia berniat untuk membalas dendam kepada David. Karena dia berfikir semua ini terjadi, karena keluarga Darmawan.
Andai David tidak bermasalah dengan Alex, tentu anaknya tidak akan menjadi alat bagi pria itu untuk balas dendam. Begitu pikirnya.
Tujuannya kini hanya satu, membuat keluarga David hancur. Ia ingin apa yang keluarganya rasakan, turut dirasakan oleh keluarga Pak Edy.
Hatinya sudah gelap, tertentu awan dendam. Pikirnya juga kotor, karena tak mampu menerima takdir sebagai suatu kenyataan hidup.
...Flashback Off...
.
.
.
.
.
Hay semua, Mommy minta maaf baru bisa up. Lantaran keluarga Mommy lagi punya hajatan.
Insyaallah nanti malam Up lagi.
Untuk yang pingin tahu visual cerita "The love story'of Single Parents" udah aq post di Reels Instagram Mommy.
Fitriaermilayessi
Jangan lupa follow ya
big hug from me 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1