Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 94. Maafkan Aku Wek!


__ADS_3

.


.


.


Sore itu adrian dan Tomy memutuskan untuk nongkrong di Caffe milik Bryan, karena David seperti biasa selepas dari kantor ia memutuskan untuk langsung pulang.


Vera yang akan bertukar sift dengan rekannya terlihat sudah bersiap untuk pulang.


"Woy, Ver" teriak Adrian sambil melambaikan tangan yang melihat Vera melintas di jalur khusus karyawan.


Membuat semua yang disana menoleh ke arahnya.


"Ada apa" tanya Adrian yang seperti tanpa dosa saat Tomy menatap dirinya dengan kesal karena tindakan bar barnya.


"Ini cafe bukan lapangan" ketus Tomy.


"Salah gue dimana coba" ucap Adrian masih mengelak.


Adrian masih bisa melihatnya, karena dinding penyekat disana terbuat dari kaca tembus pandang.


Vera yang melihat Adrian melambaikan tangan kepadanya, kemudian membalikkan dirinya untuk kembali masuk ke cafe.


Kemudian ia mendatangi meja Adrian yang ternyata ia berada bersama Tomy disana.


"Hay" sapa Adrian saat Vera menghampiri mereka berdua


"Kalian disini? apa kabar" ucap Vera yang mendudukkan dirinya ke kursi di depan Adrian.


"Ia baru pulang dari kantor, kok sendiri" tanya Adrian.


Sementara Tomy masih sibuk memilih makanan, dengan seoang pelayan yang menungguinya sembari menatap Vera penuh selidik, kenapa bisa mengenal dua orang tampan ini.


"Jessika balik ke desa" ucapnya memberitahu.


"Yang satu samain aja mbak" ucap Tomy pada pelayanan, kemudian menatap Vera karena tertarik dengan ucapannya baru saja.


"Loh kenapa? udah berhenti dia" tanya Adrian.


"Bukan, neneknya sakit dirawat di rumah sakit, belum tahu sakit apa. Keburu nangis dia terus tadi aku antar ke terminal" ucapnya kasihan.


"Kena musibah terus anak itu" ucapnya turut prihatin.


"Apa dia sudah sampai?" Tomy lebih tertarik untuk menanyakan apakah Jessika sudah tiba dengan selamat.


"Harusnya sih udah, estimasi datang jam 3 an sore tadi. Tapi dia belum kasih kabar" ucapnya memberitahu.


Tomy terlihat membuka ponslenya dan mengetik sebuah pesan, sementara Adrian dan Vera masih saling berbincang.


"Nona jessika pulang, neneknya sakit tolong kabari aku kalau ada sesuatu"


Pesan Tomy yang ia kirim kepada Jack dan Victor.


"Aku pulang dulu ya, kemaleman nanti" pamit Vera.


"Aku antar ya" Adrian menjawab.


"Gak usah, motorku gimana. Duluan ya" Vera pamit dan membuat Adrian merasa sunyi.


"Biasa aja bibir" sahut Tomy yang melihat Adrian memanyunkan bibirnya.


"Ye, ganggu orang aja. Lu sih gak pernah merasakan jatuh cinta" cibirnya membuat Tomy memutar bola matanya malas.


Jatuh cinta? ia malah teringat akan sosok Eka yang ceriwis dan bar bar.


Dia apa kabar?


****


Desa P


Lek Soleh sengaja membawa Jessika pulang terlebih dahulu lantaran ia tahu pasti keponakannya itu sangat lelah, rencananya sehabis magrib nanti ia akan mengantar Jessika ke Rumah Sakit.


"Iki kuncine nduk, bar magrib tak parani rene. Ojo lali nggowo salinan pisan" ( ini kuncinya nak, selepas magrib nanti aku jemput keiji. Jangan lupa bawa baju ganti sekalian).


"Iyo lek, Makwek Nang kono Ambi sopo?" (Iya lek, Makwek disana sama siapa?)


"Onok perawat, Ojo kuatir" ( ada perawat jangan kuatir)


Sejurus kemudian, lek Soleh pamit untuk pulang terlebih dahulu.


Saat memasuki rumah dengan konsep rumah lawas itu, hatinya merasa ada kelegaan. Beberapa bulan ia tinggalkan, tak merubah apapun disana.


Kursi yang sudah memerlukan rehab, lemari usang, foto dirinya bersama sang nenek yang menghiasi dinding dengan cat yang mengelupas disana sini.


Sunyi, sepi seorang diri.


Sesaat setelah melipat mukena yang telah ia gunakan untuk beribadah, Jessika pergi menuju dapur.


Neneknya memang orang yang rajin, meski tergolong rumah sederhana ( cenderung jelek) namun tempat itu rapi.

__ADS_1


Tidak ada barang barang yang berserakan disana sini, semua benda berada pada tempatnya.


Ia lapar, tidak ada makanan disana, tentu saja.


Ia berinisiatif merebus mie instan yang ada, mengambil panci kecil, memasukkan air dan menunggu air mendidih.


Seraya menunggu ia membuka ponselnya


Vera


5 panggilan tak terjawab


4 pesan


+6281732123456


1 pesan


Ia kemudian menaruh ponselnya kembali di meja usang di dapurnya, karena terinterupsi dengan air yang mendidih.


Ia kemudian memasukkan mie ke dalam panci itu, dan kemudian melanjutkan kegiatannya membuka pesan.


Vera


"Sampai jam berapa?"


"Kok gak ngabari sih"


"Hallooooo"


"Gimana nenekmu?"


Empat pesan dari Vera membuat dirinya tersenyum, temannya itu bahkan benar benar mengkhawatirkan dirinya.


Detik itu juga ia membalas pesan Vera, ia memang tak sempat membuka ponselnya tadi.


Ya tentu saja, setelah ia sampai dan menunaikan shalat ashar dia tertidur karena rasa lelah.


"Maaf ver aku nyampek jam tigaan tadi, habis ini mau ke RS"


"Tadi sama lek Soleh di bawa pulang dulu"


"Kata lek Soleh, sudah lebih baik makanya aku disuruh pulang dulu"


Ia membalas pesan dan kemudian meletakkan benda pipih itu kembali, karena mie dalam rebusan air itu sudah meluber, tanda sudah matang ( cenderung kematangan karena teksturnya sudah membesar) akibat dia tinggal berbalas ria dengan Vera.


Sambil memakan mie yang membesar itu, ia membuka kembali satu pesan.


+6281732123456


Jessika mengernyitkan dahinya, nomer siapakah ini batinnya.


Ia sudah membuang nomer lamanya berbarengan saat ia membeli handphone baru tempo hari, fix ingin move on dari David dan Leo.


Ia memilih untuk tak membalas atau menanggapi nomer tersebut, ia lebih tertarik untuk segera menyelesaikan makannya kemudian menata beberapa baju, tak lupa sling bag andalan yang sudah terisi handphone, dan dompet, juga amplop berisi uang dari Vera.


Ia memandangi amplop coklat itu, karena lek Soleh belum menjemput dirinya dia berinisiatif membuka amplop itu.


satu, dua, tiga batinnya menghitung lembaran merah itu.


10 lembar merah pemberian Vera sukses membuat dia terkejut, mengapa temannya itu sangat baik sekali padanya.


"CK Vera ini banyak sekali" ia bermonolog di kamarnya.


Ia kemudian mengirim chat pada Vera.


"Ver, ini terlalu banyak"


"Apanya?"


"Uang dari kamu"


"Itu buat mbok Yah, gak seberapa Jes. Biaya RS itu banyak"


Ia terdiam, tentu saja kata kata Vera ini benar, apalagi mereka adalah warga yang tak memiliki jaminan sosial terkait kesehatan.


"Terimakasih banyak Ver 🙏"


Ia membalas pesan kepada Vera, dan detik itu juga terdengar suara motor dari depan.


Sudah pasti itu adalah si bujang lapuk, pamannya yang bar bar. Yeah!


"Assalamualaikum"


"Walaikumsalam"


"Nduk sudah siap?" ucapnya sambil mendudukkan dirinya ke kursi ruang tamu.


"Sudah lek bentar ya, pakek jaket dulu dingin"


"Apa itu" ucap lek Soleh menunjuk tas besar.

__ADS_1


"Baju ganti, punyaku sama Makwek" jawabnya sambil berjalan kerah lek Soleh.


"Gak kebesaran?" ucap lek Soleh yang melihat Jessika membawa tas seperti orang akan minggat saja.


Jessika juga melihat tasnya itu sangat besar, terlalu kontras bila dibawa.


"Ya udah lek bentar aku ganti" ia mengganti menggunakan tas jinjing yang berukuran lebih kecil.


"La yo ngono, mosok nang rumah sakit ae koyok wong arepe minggat"( nah begitu, masa mau kerumah sakit udah kayak orang mau minggat aja).


Lek Soleh tertawa sambil berbicara.


"Ayo lek" ajaknya saat dirinya sudah siap, mereka keluar dan Jessika mengunci rumah sederhana itu.


Menaiki motor matic sejuta umat, tak lupa ia mengenakan helm yang diberikan lek Soleh.


Membelah jalanan yang dingin, melewati cafe cafe dan pertokoan di kota kecil itu. Bahkan ia juga melewati cafe yang pernah ia kunjungi bersama Leo , Tomy dan Eka.


Mengingat hal yang ingin ia lupakan, Leo tentu saja maksudnya.


Tunggu dulu, Eka. Astaga ia bahkan lupa memberikan kedua sahabatnya bila ia pulang kampung.


Ia berjanji akan memberitahu mereka setelah sampai di RS nanti.


Rumah sakit Al-Huda


Tulisan besar yang terbuat dari partisi berlampu itu, tepat berada depan di depan bangunan denan dominasi cat warna hijau.


Setelah menerima struk parkir lek soleh mengarahkan motornya ke parkiran khusus sepeda motor.


Padat dan penuh kendaraan, pertanda bahwa dirumah sakit ini banyak pasien yang di rawat.


Jessika hanya mengikuti langkah lek Soleh tanpa pembicaraan, ia menyusuri koridor rumah sakit itu di belakang lek Soleh.


Terlihat petugas yang berpakaian putih keluar masuk ruangan silih berganti, ada juga beberapa sanak saudara dari pasien yang menunggu di teras, di lantai, mereka menggelar karpet bahkan ada yang tertidur disana.


Mungkin lelah karena menunggui anggota keluarganya yang tengah sakit.


Ia masih harus naik ke lantai atas, dengan tulisan GEDUNG PANCASILA. Terlihat kamar kamar yang sudah terisi pasien, ada yang sudah tua ada juga yang terlihat seusia dirinya.


Sampai ia tiba sebuah ruangan yang berisikan Makweknya, dan sebelah lagi seorang wanita seuisia dirinya.Terlihat dari tirai yang terbuka ia tengah mangaduh kesakitan, dan dikipasi oleh seorang wanita. Mungkin ibunya.


Ia membuka tirai besar yang menjadi penyekat ruangan disana.


Mata Jessika menangkap sosok yang ia rindukan, sosok yang memberinya kasih sayang tertidur dengan selang infus yang tertancap di punggung tangan kirinya.


"Assalamualaikum Wek" ucapnya bergetar begitu melihat neneknya pucat diatas kasur rumah sakit seorang diri.


Ia melihat banyak yang orang yang sakit , mulai dari depan hingga tempat ia berada saat ini. Namun mereka semua ada yang menemani atau menunggui.


Sementara neneknya hanya seorang diri, hatinya sakit kenapa lek Soleh malah mengajaknya pulang bukan langsung kemari.


"Taruh tasmu disitu nduk, aku tak kesana sebentar" ucap lek Soleh kemudian pamit.


Ia tak menjawab, masih kesal dalam pemikirannya sendiri.


"Wek" ucapnya kembali sambil mendudukkan dirinya di kursi plastik kotak milik rumah sakit itu.


Mbok yah yang merasa mendapat sentuhan itu mulai membuka matanya, " Jessika? ini benar?.


Ucapnya karena terkejut, ia sebelumnya sudah melarang lek Soleh untuk memberitahu Jessika.


Ia kemudian berusaha bangkit dari ranjangnya, dan dibantu oleh Jessika.


"Kamu kok pulang, siapa yang ngasih tau kamu nduk" ucapnya menggenggam tangan cucunya yang terasa dingin.


Jessika tak menjawab, ia malah memeluk tubuh kurus neneknya dengan posesif.


"Maafin Jessika Wek, jarang kasih kabar" ucapnya sambil terisak dan tak melepas pelukannya.


"Wes wes "( sudah sudah).


Jessika menyusut sudut matanya yang berair menggunakan punggung tangannya, ia kemudian mendudukkan dirinya kembali ke kursi plastik.


Sembari menggenggam tangan keriput neneknya, ia bertanya" kok bisa masuk RS kenapa Wek, Mak wek telat makan? atau habis makan apa?" ia mencecar neneknya itu dengan banyak pertanyaan.


"Kamu apa kabar, kerjoane lancar nduk?" namun neneknya justru balik mengajukan pertanyaan kepada dirinya.


"Aku baik, Mak wek gimana sih aku tanya juga" ucapnya memanyunkan bibirnya karena tak segera mendapatkan jawaban.


"Mak wek juga gak tau, tiba tiba kata dokter tensinya tinggi. Kata lek mu pas dia kerumah udah nemuin nenek pingsan, nenek waktu itu mau marut kelapa nduk. Tapi belum ambil parutnya nenek pusing banget, terus pas sadar nenek sudah ada disini" terangnya masih belum bisa memuaskan hati Jessika.


"Astagfirullah, maafin Jessika Wek. Sudah ninggalin Mak wek sendirian disini" ucapnya tertunduk lesu.


Mereka lantas ngobrol seperti biasa, menceritakan pekerjaan Jessika dan saling melepas kerinduan.


Bahkan kehadiran Jessika membuat mbok yah menjadi ceria, mereka juga saling tertawa saat Jessika menceritakan Vera temannya yang bar bar, dan juga pengalamannya naik mobil yang selalu saja mabuk.


Sampai suara seseorang menginterupsi percakapan mereka.


"Jessika!!!!!!'

__ADS_1


__ADS_2