
.
.
.
"Mas!" ucap Jessika sendu.
David menoleh ke sumber suara, menampilkan sosok istrinya yang ia rindukan, tapi ia tak yakin bila ingin merengkuh tubuh istrinya itu.
Lek Soleh hanya mematung, tak tahu harus berbuat apa. Lagipula, ia sendiri belum berpengalaman dibidang asrama. Namun yang ia tangkap, asmara tak secengeng yang dia kira.
"Sayang!" mata David berkaca-kaca, ia tidak tahu harus berucap apa.
Brukk
Tanpa David sangka, Jessika memeluk suaminya, David pun mengeratkan pelukannya. Pelukan yang sangat ia rindukan, aroma tubuh yang selalu saja membuat dia gila.
"Maafkan aku!" ucap David dengan posisi masih memeluk tubuh padat istrinya, menghirup aroma rambut istrinya yang selalu saja memabukkan.
Tubuh Jessika bergetar hebat, ia menumpahkan kesedihannya. Meski ia sendiri belum yakin, apakah benar bila suaminya itu adalah korban fitnah.
Lek Soleh bakan terlihat menyusut sudut matanya yang berair, ia bak menonton film telenovela.
"Cie cie yang sudah baikan!!" selorohan Eka yang datang bersama Tomy, dengan posisi memapah pria datar itu yang berjalan pincang. Padahal ia sendiri masih pincang.
Membuat keduanya melepaskan pelukannya, Jessika mengusap pipinya yang basah.
"Kau baik-baik saja Tom?" tanya Jessika dengan suara parau, melihat keadaan Tomy yang kusut. Entah kapan terakhir ia mengganti bajunya.
"Seperti yang anda lihat Nona" jawab Tomy tersenyum.
"Seperti yang anda lihat?" cibir Eka.
"Yang kita lihat kamu kucel, kusut, bau, dan jelek!!!" tambah Eka mencibir.
Pletak
Tomy menjitak jidat Eka yang bar bar, membuat Lek Soleh memutar bola matanya malas. Sungguh ia menjadi kambing congek disana.
"Saya kedalam dulu, mau nyiapin makan siang buat kalian semua!" Lek Soleh lebih baik undur diri, dari pada menjadi obat nyamuk disana.
****
David saat ini tengah berada di kamar bersama Jessika, ia baru saja membersihkan tubuhnya dengan mandi. Sejurus kemudian ia telah keluar dari kamar mandi.
Jessika terlihat menyiapkan baju untuk suaminya, mereka belum membahas sama sekali tentang persoalan mereka. Berniat akan membicarakan hal itu setelah ini. Mengingat bila Mayang juga telah sampai dirumah itu.
David hanya mengenakan handuk, yang terlilit di pinggangnya. Menampilkan dada bidangnya juga perut sixpack nya yang liat.
David memeluk Jessika yang tengah sibuk memilihkan baju untuknya dari belakang, " Apa istriku ini masih marah?" David menghujani ceruk leher Jessika dengan ciuman, membuat tubuh wanita itu bak tersengat aliran listrik.
Merinding tidak karuan.
__ADS_1
Jessika membalikkan tubuhnya, ia menatap wajah tampan suaminya dengan sisa air yang masih menetes di ujung rambut suaminya itu. Ia menyusuri wajah rupawan David, rahang kokoh alis tebal, sepasang mata elang, ia juga mengusap lembut bibir David, kemudahan meraba dada bidang suaminya yang liat.
"Aku tidak tahu, apa aku masih bisa marah apa tidak" Jessika menatap wajah David penuh semburat cinta,mereka diam selama beberapa detik, kemudian meraba rahang kokoh suaminya itu.
Hingga akhirnya David yang tak tahan memandang bibir ranum istrinya itu, menjadi terbuai. Jessika yang mengetahui apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu, memejamkan matanya.
Bibir tipisnya kini tengah menempel sempurna dengan bibir suaminya, menciumnya dalam. Mengeksplorasi dengan lihai, sama sama saling melepas kerinduan, ciuman itu berlangsung lama dan dalam. Makin lama makin menuntun, membuat mereka terbuai.
Sejurus kemudian,
Tok tok tok
"Bang, aku tunggu diluar!!" suara Leo terdengar, menginterupsi kegiatan penuh cinta mereka berdua, membuat ciuman mereka terlepas secara paksa.
Membuat pipi Jessika merah menahan malu, David bahkan mengumpat dalam hatinya. "Sialan kau Leo!"
"Kita lanjutkan nanti, kita bereskan dulu masalah kita, hm!" ucap David menangkup wajah Jessika, kemudian sekilas mengecup bibir ranum istrinya itu.
Ia kemudian menyambar kaos yang sudah disiapkan istrinya itu, sejurus kemudian ia bergegas menuju ruang tamu.
.
.
Tomy juga sudah terlihat segar setelah mandi, ia kini berada di kamar terbuka bersama Eka, Adrian dan Vera.
"Kami tunggu diluar!" ucap Adrian yang mengajak Vera untuk menuju ruang tamu.
"Baiklah!" jawab Tomy singkat.
"Kau ini bisa pelan pelan tidak!!" Tomy menggerutu, pasalnya Eka mengobati lukanya agak kasar menurutnya.
"CK, kau ini tidak tahanan sekali sih!" seperti biasa, Eka selalu tak mau kalah.
"Lagian kamu sih, pakai acara nendang segala. Jahitanku jadi rusak kan!" Tomy kesal, karena saat baru sampai tadi, Eka tanpa sengaja menendang kakinya dan persis mengenai luka jahitannya.
Tunggu dulu, rupanya kini sudah mulai ada kemajuan. Pria datar itu sudah lebih banyak berbicara. Yeay!!!!
"Iya iya, aku minta maaf!"
Tomy memperhatikan wajah Eka yang terlihat serius mengoleskan gel ke luka Tom," kalau diam begini cantik!" ia membatin.
"Aku tu khawatir tahu sama kamu!" ucap Eka masih dengan terfokus pada luka Tomy.
Tomy tak menjawab, malah menyebikkan bibirnya. Seolah mewakili kata, " masa sih?, gak percaya!".
"Andai aku jadi bela diri kayak Vera, kamu udah aku susulin tau!" ucapnya seraya menempelkan kain kasa ke luka Tomy.
"Kamu bisa kok bantuin kita meski gak bisa bela diri" ucap Tomy dengan senyum licik.
"Caranya?" ucap Eka yang kini sibuk menempel plaster.
"Kamu teriak aja, gendang telinga mereka pasti pada pecah kalau dengar suara kamu. Selesai deh!!" ucap Tomy!!
__ADS_1
"Ihhh, selalu aja meledek!!" Eka tak sengaja memukul kaki Tomy kembali.
"Arrrrggghhh!!!!, kakiku" ritnih Tomy yang kesakitan.
Eka membelalakkan matanya, lagi lagi luka itu terkena pukulan.
****
David, Jessika, Leo, Lek Soleh, Adrian, Vera lima anak buah David, dan juga Mayang tengah berada di ruangan tengah rumah itu. Sementara Tomy nampaknya masih alpha, lantaran luka di kakinya lagi lagi terkoyak. Tentu saja Eka penyebabnya.
Masih diam, Mayang membuat pandangannya ke sembarang arah, menghindari tatapan mengintimidasi dari semua yang ada disana.
"Sekarang katakan!!!" ucap Leo, meminta Mayang untuk segera mengakui.
"Apa yang harus di jelaskan, anda sudah tahu kan!!" Mayang benar-benar tidak kooperatif.
"Hey, sopanlah sedikit!" Vera ikut geram dengan sikap Mayang.
"Breng sek!!!" Leo hendak melayangkan tamparan. Ia tak suka dengan sikap Mayang.
"Jangan!!!" Jessika menghentikan aksi Leo.
Membuat Mayang menatap tak suka.
Jessika menjadi iba, ia ingat betul saat kali pertama dirinya berjumpa dengan Mayang. Hatinya dengan tulus ingin membantu wanita muda itu.
David masih duduk dengan menyilangkan kedua tangannya ke dadanya, sementara Vera dan Adrian berdiri tak jauh dari Mayang yang duduk di lantai. Benar benar posisi yang menyedihkan.
Jessika tersenyum," Aku wanita, dan kau juga seorangpun wanita!"
"Aku yakin, sekeras apapun sikap, pasti masih ada sisi seorang ibu di hati setiap wanita. Sisi yang lemah lembut". ucap Jessika, membuat semua yang disana takjub dengan kelembutan Jessika. Apalagi David, ia merasa istrinya itu makin hari makin membuatnya jatuh cinta.
"Tolong jawab, apa alasanmu masuk kedalam kehidupan kami?" tanya Jessika.
Mayang masih tak berani menatap Jessika.
"Cepat jawab!!!" kali ini Leo berteriak karena tak tahan.
"Saya hanya menjalankan tugas, bekerja dan mendapatkan uang. Sudah, hanya itu alasan saya!"
"Dan, malam itu saya tidak benar benar tidur dengan suami anda!"
"Semua ini atas perintah Bos!"
Pengakuan Mayang itu sudah direkam oleh Adrian, membuat Jessika lega sekaligus tenang. Itu artinya David benar benar menjaga cinta mereka.
"Bawa dia ke kantor polisi!!!" titah David kepada lima anak buahnya, semua yang bersalah harus mendapatkan bagiannya bukan?, termasuk Mayang.
"Siap bos!"
.
.
__ADS_1
.
.