Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 133. Badai yang datang tak kenal kasihan


__ADS_3

.


.


.


Jessika


Ia tak sampai hati untuk terus berada di kamar itu, menyaksikan kejadian diluar nalar yang sungguh tak pernah ia harapkan.


Ia berlari sekencang mungkin, menuju jalanan.


Kakinya lemas seketika, kekuatannya memudar dalam waktu sepersekian detik.


"Apa yang kamu lakukan mas!!" ia beringsut ke jalan, meratapi kejadian tak senonoh di depannya.


Air matanya sudah mengalir deras, menganak sungai tak terbendung.


Hatinya nyeri tak terperi , batinnya sesak. Ia bahkan tak mampu untuk sekedar menatap mereka berdua.


"Ya Allah"


"Astagfirullahhaladzim" ia memukul dadanya sendiri berkali-kali, berharap bisa mengurangi sesak di dadanya.


Jalanan sepi itu, menjadi saksi betapa dirinya yang merasa dikhianati, betapa dirinya disakiti terlalu dalam.


Pantas saja semalaman suaminya tak menghubungi dirinya.


Pantas saja suaminya tak mau menginap dirumah neneknya.


Pikiran-pikiran jelek kini lebih mendominasi otaknya, tak bisa berfikir jernih lagi.


Hatinya begitu sakit, ia merasa selama ini tak pernah ada persoalan.


Tak pernah ada gelagat mencurigakan dari suaminya itu, namun mengapa tiba tiba tak ada angin tak ada hujan, dirinya terkena sambaran petir seperti saat ini.


Belum sempat ia selesai menangis, ia di kejutkan dengan kedatang Slamet.


"Mbak, mbak Jessika!"


Jessika menoleh ke sumber suara, yang tergopoh-gopoh menghampirinya.


"Mbak ngapain disini?"


Jessika berusaha menyusut air matanya dengan gerakan cepat, tak mau orang lain tahu.


Namun terlambat, Slamet rupanya sudah mengetahui bila dirinya tengah dalam keadaan tak baik baik saja.


"Ada apa Met?, kok kamu balik?" ia bahkan masih bisa bertanya dengan nada normal.


"Mbok Yah"


"Mbok Yah"


"Mbok Yah kenapa Met?" hardik Jessika, karena tak sabar dengan ucapan bocah itu.


"Mbok Yah , Mbok Yah gak umur mbak"


Duaaaarrrr


Seketika kakinya lemas, pandangannya kabur.


Tak tahu lagi, apa yang akan terjadi.


.


.


Slamet


Ia buru buru menepikan motor maticnya, karena raungan ponsel yang menggelepar. Sungguh tak mau menunggu.


Ia masih belum sampai setengah perjalanan malah.


Deringan membabi-buta itu, rupanya berasal dari lek Soleh.


"Ya Lek, dos pundi? ( Ya Lek, gimana?)"

__ADS_1


"Met, Mbok Yah Ninggal Met"


"Tulung, gawanen Jessika mbalik mrene Met" ( Tolong bawa Jessika kembali Met).


Ia bahkan mendadak kaku, "Innalillahi wainnailaihi roji'un" hanya kalimat itu yang spontan terucap.


Mau tidak mau ia harus kembali menuju kediaman Jessika, namun saat melintasi jalan kurang lebih 100 meter dari tempatnya menjawab panggilan telepon, ia melihat Jessika yang bersimpuh.


Ia bahkan tak sempat berbasa-basi, untuk sekedar menanyakan ada apa gerangan, mengapa Jessika bisa berada di tempat itu.


"Mbak ngapain disini?" akhirnya ia bertanya, ia juga panik melihat Jessika yang menangis.


"Ada apa Met?, kok kamu balik?" Ia malah sempat tertegun, mengapa Jessika malah balik bertanya kepadanya.


Mbok Yah"


"Mbok Yah"


Lidahnya mendadak kelu, saat akan mengucapkan kabar penting.


Mbok Yah kenapa Met?" Ia sampai terperanjat, karena ia di bentak oleh Jessika.


"Mbok Yah , Mbok Yah gak umur mbak" akhirnya ia tak bisa memilih kalimat lain yang lebih bisa ramah terdengar di telingaku Jessika, maklum ia adalah bocah yang belum bisa mengatur emosinya.


Slamet ebih terkejut, saat melihat Jessika pingsan.


"Apa yang harus aku lakukan"


Ia berteriak meminta tolong ke warga sekitar yang lewat, sialnya disana masih sangat sepi.


Karena hari itu memanglah masih pagi, sekitar pukul 05.25


Namun beruntung ada sebuah mobil angkot yang lewat.


"Ada apa ini?" tanya seorang supir, yang melihat Slamet berteriak.


"Pak, tolong antarkan kami ke RT 05, desa P pak!!"


.


.


David


"Tuan, anda telah mengambil harya saya yang paling berharga" Mayang menjawab dengan suara terisak.


Duarrrrr


David mematung, benarkah jika dia telah meniduri wanita itu.


Tapi sungguh, ia tak ingat apapun.


Ia tak bisa berfikir jernih.


"Tidak mungkin, tidak mungkin!!" David mengacak rambutnya frustasi.


Sementara pembantunya itu, masih setia dengan Isak tangisnya.


Emosinya bergemuruh, apalagi ia melihat wajah kekecewaan Jessika.


Benar, ia harus segera mengejar istrinya.


Persetan dengan wanita itu, menjelaskan kepada Jessika itu yang utama.


Ia menyambar jaket di gantungan kamarnya, kemudian meraih kunci mobil di nakas.


"Dengar!!, kita belum selesai!!!"


"Kau harus jelaskan semuanya ini nanti!!


tunjuk David kepada perempuan itu.


Braaaaaak!!


Ia membanting pintu itu, sama persis dengan yang di lakukan istrinya.


Hanya saja, kekuatannya kini lebih besar.

__ADS_1


Mayang tersenyum licik, begitu David menghilang dari pandangannya.


.


.


Mayang


Ia tersenyum puas, seraya memandang dirinya di pantulan cermin yang berada di kamar David.


"Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik" ia berucap pada dirinya sendiri.


Sejurus kemudian ia menelpon seseorang.


"Aku sudah selesai, jemput aku sekarang!" ucapnya tersenyum licik.


Ia kini telah mengganti pakaiannya, dengan celana ketat, baju serba hitam.


Benar benar tampilan yang tidak seperti biasanya.


Siapa sebenarnya wanita itu.


Beberapa menit kemudian, datang sebuah mobil sport yang menjemput dirinya.


"Ini sangat menyenangkan" ucapnya kepada seorang di balik kemudi itu, yang masih mengenakan sebuah topeng.


Mereka melesat, meninggalkan kediaman David.


.


.


Tomy


"Byuuuuur!!!!" Dinginnya air sumur itu kini mengenai dirinya.


Ia terbangun, dengan keadaan tak menguntungkan.


Ia bahkan terbatuk-batuk, lantaran air itu tanpa sengaja memasuki rongga hidungnya.


Kedua tangannya terikat borgol, begitupun kedua kakinya.


Ia mengibaskan kepalanya, mengurangi volume air yang bersarang di rambutnya.


Ia masih menatap datar, ketiga pria di depannya.


Wajah asing, yang belum pernah ia jumpai.


"Hahahhaah" tawa penuh ironi terdengar dari ketiga pria berbaju hitam di depannya.


"Siapa kalian?" tanya Tomy dengan wajah datar.


"Kau tak perlu tau siapa kami, yang jelas kami tahu siapa kamu" salah satu orang itu mencengkeram rahangnya.


"Hahaha hahaha!!!" sejurus kemudian, melempar kasar cengkramannya.


Mereka masih gencar tertawa.


"Sebaiknya kalian jangan bermain main!"


"Bought!!" satu bogem mentah melayang ke wajah Tomy, menciptakan luka di sudut-sudut bibirnya.


Tomy menahan sakit yang luar biasa.


"Dengar!!, kau harus masih hidup sampai bosmu datang kemari seorang diri!!


Tomy merasa, jika mereka pasti adalah anak buah dari salah satu musuh David.


Tapi ia merasa, ia sudah tak memiliki musuh.


Ia kini harus mencari cara, agar bisa kabur dari sekapan para manusia laknat itu.


"Jadi jaga sikapmu, agar kami tak sampai membunuhmu saat ini karena sikap sok mu!!" ucap salah satu pria yang lebih tinggi.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2