
.
.
.
" Pak aku berangkat. Bapak kalau gak ngapa-ngapain tolong jemurin selimut yang udah aku cuci itu di ember!"
" Gak ada ganti lagi!" ucap Gendis berkata jujur, bila ia memang hanya memiliki satu selimut dengan warna yang sudah pudar
Meski tak pernah bertindak sebagaimana fungsi seorang bapak. Namun Gendis masih tetap berlaku sopan. Ya, meski kadang kerap adu mulut juga.
" Kamu jadi kerja di tempat Tuan Edy?" tanya Yudi.
" Kalau bapak mau kerja aku gak akan kerja disana. Aku dirumah aja jadi babu buat bapak!" ucap Gendis seraya menjejalkan beberapa baju untuk ganti nanti sore.
Membuat Yudi tertegun.
" Berangkat sama siapa?"
" Numpang Sono, sama siapa lagi. Kebetulan dia mau nyervis kulkas. Sekalian saja aku numpang!"
Yudi terdiam. Memandangi anaknya yang berwajah pasi. " Hati-hati. Jaga kelakuan disana. Jangan bikin hidup kamu sendiri runyam!"
" Banyak belajar kata-kata sopan kamu. Biasakan berterimakasih atas bantuan orang disana sekecil apapun. Orang kaya biasanya begitu!"
Mata dan hidung Gendis mendadak panas. Ia belum pernah berbicara sebanyak ini kepada Yudi. Apalagi bapaknya itu jelas baru saja memberikan petuah yang entah kapan terakhir kalinya ia pernah mendapatkan.
" Lauknya kalau sisa jangan lupa di simpan di kranjen ( tempat seperti almari dari anyaman bambu untuk menyimpan lauk). Biar gak di makan semut!"
" Kalau gak lembur aku pulang habis isya'!"
" Hemmm!" Yudi mengantar kepergian anaknya di mulut pintu kayu usang rumahnya. Walau hanya berjarak tak kurang dari empat meter dari rumahnya. Tapi entah mengapa Yudi merasa iba untuk pertama kalinya terhadap anaknya itu.
.
.
Motor lawas kini sudah berhasil menghantarkan Gendis. Meski ia mendapat umpatan dari Sono, lantaran gendis selalu ugal-ugalan saat mengemudi. Maklum, dia gak punya motor. Jadi aji mumpung. Mumpung ada yang di pinjam.
" Pulang mu sama siapa?" tanya Sono yang pagi itu sudah sangat rapih dengan celana gombrong dan kaos mencolok kesayangannya.
" Gampang nanti. Suwun ( makasih) Yo Son. Nanti kalau aku udah gajian, kita jalan makan soto babat di cak mimin. Oke!" Gendis menepuk pundak Sono.
" Lah, gayamu. Kerjo ae durung wes gaya ( kerja aja belum udah gaya)"
Gendis mengiringi kepergian temannya itu dengan tatapan. Kini ia harus menguatkan diri. Awalnya ia benar-benar ingin menghindari Jack. Ia tahu bila pria itu juga tinggal di kediaman Jessika. Tapi pekerjaan kali ini lebih penting. Toh ia hanya babu, kerjaannya di belakang. Bukan di depan kan. Jadi, ia pasti akan jarang bahkan bisa jadi tak akan ketemu.
.
.
__ADS_1
Gendis
" Loh mbak. Cari siapa?" seorang pria tampan yang juga pernah ia temui namun mulutnya masih sopan itu terperanjat saat melihat dirinya.
" Emmm...saya ..!"
" Gendis kamu sudah sampai?" Jessika yang menggendong Deo rupanya sudah menunggu kedatangannya.
" Vic, bukakan gerbangnya. Bawa Gendis masuk!" Membuat Gendis tak lagi berniat menyahuti pertanyaan Victor.
Dengan sigap pria bermata sipit itu menggeser gerbang. Ototnya terlihat mengetat saat lengannya mendorong kuat tralis besi itu.
Gendis celingak-celinguk. Mudah- mudahan dia gak ketemu pria itu.
" Terimakasih!" ia ingat dan mengimplementasikan ucapan bapaknya.
Victor tersenyum ramah. Sementara hati Gendis sebenarnya muak jika harus berbasa-basi dengan orang baru. Kecuali Bu Jessika. Itu adalah idolanya.
.
.
" Kamu libur hari Minggu aja. Pagi jam tujuh sudah harus disini ya. Pulangnya juga jam 7 malam. Kalau ada lebih jam kerja nanti saya kasih lembur.
" Kamu sih disuruh nginep disini aja gak mau!"
Jessika yang menggoyang Deo dalam gendongannya itu terlihat memberikan penjelasan seputar peraturan jam kerja.
Gendis merasa kasihan bila bapaknya gak ada yang mengurus. Meski tiada berguna, tapi Yudi tetaplah Bapaknya.
" Iya ga papa!"
" Untuk sementara kamu gantikan tugas Ani. Dia baru keluar seminggu yang lalu. Kamu bagian ngurus pakaian kotor, nyetrika semua baju penghuni rumah ini. Sama kalau udah longgar boleh bantu Bik Darmi. Dia paling senior disini!" Jessika dengan ramah menjelaskan tugas dan fungsi Gendis.
...***...
Hari berganti hari, tanpa terasa sudah seminggu berlalu. Dan selama itu pula kekhawatirannya tak terbukti. Pria yang paling dihindari rupanya tak berada disana dan tak terlihat menampakkan batang hidungnya.
Gendis semakin menikmati pekerjaannya. Ia kerasan meski harus bolak-balik dan meminta Sono untuk antar jemput. Ia berjanji bakal memberi upah untuk dedikasi temannya itu. Semacam ongkos yang di utang dulu.
Ia hanya sesekali melihat Victor makan bersama keluarga majikannya. Semua orang disana elegan saat makan. Tak seperti dirinya yang pecicilan saat menikmati lauk yang lezat.
" Jack kapan balik Mas!"
Gendis yang menata minum untuk majikannya itu menguping dalam balutan kesibukan. Apa yang di maksud Jessika adalah pria itu.
Jadi namanya Jack?
" Belum tahu, Leo minta dia buat wira- wiri ke beberapa kota buat kasih training dan pembekalan calon karyawan baru Darmawan Group!" sahut David.
Leo? siapa lagi itu.
__ADS_1
Lamunan gendis meguar ke udara, tatkala Jessika mengajaknya berbicara.
"Gendis, habis ini temani saya ke belakang ya. Saya ada bunga baru. Nanti kamu bantu saya nanem ya!" Jessika terlihat sumringah. Ia yang sedari perawan dulu hobi menanam bunga, kini terus melanjutkan kegemarannya itu.
" Enggeh Bu!" ucapnya sejurus kemudian pergi menuju dapur.
Victor masih makan dalam diam, begitu juga pak Edy.
" Yang gantiin Ani?" tanya David usai melihat Gendis pergi.
" Iya mas, dia juga yang pernah kasih balik jam Jack. waktu habis acara tiga bulanan Deo!" tukas Jessika.
" Bukannya yang kemaren nyari Jack?"
" Iya...dia gesit banget Lo mas kalau kerja. Bim Darmi sama Yu Sal aja suka banget sama dia!"
David manggut-manggut. Ia memang membiarkan istrinya itu mengambil keputusan penuh untuk beberapa pekerja disana.
" Vic kita ke dinas pendidikan setelah ini. Buat ngurus yang kemaren " tukas David.
" Kalau ada peningkatan, jangan lupa kasih bonus ke karyawan. Kalau bisa kasih reward ke pegawai yang rajin datang ontime!" imbuh pak Edy.
Sedari awal pak Edy memang selalu gencar baik kepada siapapun. Ia adalah bukti nyata dari sabda orang-orang suci yang menenangkanbahwa ' memberi itu, terangkan hati.'
" Beres Pa!"
.
.
Dua hari berselang. Di hari Rabu ini, Jessika pergi bersama David untuk acara pembukaan sekolah kanak-kanak yang di dirikan oleh Darmawan Group di desa itu. Membuat warga disana ta perlu jauh-jauh lagi untuk menyekolahkan anak mereka.
Bersama Pak Edy, mereka berempat bersama Deo melesat menuju TK Tunas Rimba. Rimba yang berarti hutan, sangat relevan dengan nama sekolah yang berada di kaki gunung Gaung itu.
" Ndis, aku ke pasar dulu sama Yu Sal. Mau belanja soalnya anaknya Tuan Edy yang kedua besok mau balik!" pamit Bik Darmi.
" Oh iya Mak!"
Gendis Akhirnya seorang diri disana. Dirumah sebesar itu gendis bisa merasa senang. Makanan enak setiap hari, para pembantu disana juga ramah kepadanya semenjak pertama kali ia bergabung.
" Ia kini juga lihai dengan tombol indikator di mesin cuci itu. Ia senang dengan pekerjaannya. Tak berat menurutnya. Bahkan ia merasa ini lebih mudah dari mengarit.
" Orang kaya memang beda. Bajunya aja gak ada yang jelek. Kayak baru semua. Gak kayak aku, pakai baju bagus kalau pas mau ke acara kawinan doang. Bajunya itu itu lagi!" Gendis terkekeh geli.
Namun saat ia hendak menjemur beberapa potong baju yang sudah kering dari mesin pengeringan, seorang pria jangkung menabrak dirinya. Membuat ia dan pria itu sama sama terpental.
" Kamu lagi!!! ucap pria itu dengan tatapan tak percaya.
.
.
__ADS_1
.