Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 146. Badai Pasti Berlalu


__ADS_3

.


.


.


Hari ini adalah hari kedua pasca meninggalkan Mbok Yah. Bila di desa, akan ada gelaran acara tahlilan hingga peringatan 7 hari. Praktis dirumah itu, masih terlihat geliat beberapa tetangga yang sibuk ini itu.


Eka turut membantu disana, Jessika mempercayakan urusan dapur kepada istri Pak Eko. Guna mengurus urusan konsumsi, bagi para jamaah yang akan hadir saat tahlilan nanti.


Langkah Jessika terhenti ,saat mendengar Lek Soleh tengah melakukan panggilan telepon dengan seseorang di dalam kamarnya. Nampaknya penting.


"Alhamdulilah" sayup sayup terdengar ucapan Lek Soleh.


Jessika yang penasaran, akhirnya masuk ke dalam kamar, tempat dimana Lek Soleh masih melangsungkan panggilan dengan seseorang.


"Apa?" lek Soleh nampak terkejut. Masih setia dengan ponsel yang menempel di telinganya.


"..........."


"Ya sudah, nanti di sambung lagi" Lek Soleh mengakhiri panggilan telepon, begitu melihat keponakannya masuk ke kamarnya.


"..........."


"Walaikumsalam"


Tut


Lek Soleh mematikan sambungan teleponnya, kemudian menatap kepada keponakannya yang menghampirinya.


"Siapa Lek?" tanya Jessika pelan.


Lek Soleh mengembuskan napasnya.


"Mas Tomy sudah ketemu, dia terluka" ucap Lek Soleh, Jessika masih menunggu penjelasan selanjutnya dari bibir pamannya itu.


"Dan, penyebab semua ini adalah..." ucapan Lek Soleh menggantung, ia sendiri sebenarnya masih belum percaya dengan berita yang di sampaikan oleh David barusan.


"Siapa Lek!" ucap Jessika tak sabar.


"Pak Sis!" jawab Lek Soleh.


Jessika membelalakkan matanya, seolah tak percaya.


"Dan, apa yang kau lihat tempo hari adalah bagian rencana mereka!" jawab lek Soleh, seraya menatap mata Jessika serius. Bisa jadi, ini adalah kali pertamanya Lek Soleh kehilangan sikap jenakanya.


"Wanita bernama Mayang adalah salah satu dari mereka!"


Apakah itu artinya, suaminya tak benar benar melakukan hal tak senonoh ,seperti yang ia lihat tempo hari?.


Namun, buktinya apa?.


***


"David!, kau pulanglah!" ucap Pak Edy yang menemui anaknya itu. Nampak selesai melakukan panggilan telepon.


"Aku..." David tertunduk lesu.

__ADS_1


"Kalau kau masih ragu istrimu tak mempercayaimu, kau bisa bawa wanita itu untuk berbicara!"


Entahlah, David masih belum yakin bila istrinya akan percaya. Apalagi, Pak Sis masih belum sadar. Praktis tak bisa dimintai pertanggungjawaban.


"Bos!" Tomy terlihat sudah bisa berjalan meski agak pincang. Membuat David dan Pak Edy menoleh.


"Bagaimana Tom?" Pak Edy menatap assiten putranya itu dengan raut khawatir.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, hanya beberapa jahitan saja!"


"Baguslah, kalian bisa pulang sekarang. Aku biar di temani Jack dan Victor disini, bila Sis sudah sadar akan aku minta untuk di rujuk ke RS yang lebih dekat" pinta Pak Edy.


.


.


Sesuai titah Pak Edy, David dan Tomy pulang jelang pukul 10.00. Sementara Leo, Vera dan Adrian, pulang menggunakan mobil lain bersama Mayang yang dikawal ketat oleh anak buah David.


Tomy duduk di sebelah David yang tengah mengemudi, tak bisa berbuat banyak lantaran kakinya masih sakit. Dia juga manusia biasa, yang rupanya bisa mengalami sakit.


"Bos!" ucap Tomy, mencoba memecah keheningan.


"Hem"


"Apa bis memikirkan sesuatu?"


David menghela nafasnya, ia sebenarnya takut bila Jessika masih marah dan tak mempercayai dirinya.


"Entahlah Tom, bagiamana jika wanita sialan itu tidak mau mengakui kesalahannya" ucap David membicarakan Mayang.


.


.


Jessika menangis di kamar almarhumah neneknya, jika benar suaminya hanya difitnah sungguh ia merasa lega. Jujur, ia sangat rindu aroma tubuh suaminya yang selalu bisa menenangkan dirinya.


Ia menatap foto neneknya yang berada di nakas tempat tidurnya, teringat kembali ucapan neneknya sebelum beliau meninggalkan Jessika untuk selama-lamanya.


Bojomu wong nduwe, godane mesti okeh. Awakmu kudu kuat, kudu pinter nggowo awak ( suamimu orang berada, pasti banyak godaannya, kamu harus kuat, harus pandai membawa diri)


Ia memeluk foto berukuran 8R bergambar almarhumah neneknya yang tersenyum itu. Lagi lagi cairan bening lolos, harusnya ia tak langsung marah, harusnya ia mendengar penjelasan dulu.


Tapi dia hanya manusia biasa, yang tak pernah luput dari rasa amarah. Apalagi kejadian tempo hari, benar benar mengoyak kepercayaan dan rasa cintanya terhadap suaminya.


Namun belum selesai dia menangis, pintu kamar di ketuk oleh Lek Soleh.


"Nduk, David datang!"


***


Eka


Ia sudah tak malu lagi menunjukkan perasaannya, ia yang kebetulan tengah selesai dari membuang kardus bekas ke tempat pembuangan di depan rumah nenek Jessika itu, langsung menubruk Tomy yang terlihat turun dari mobil.


Brukk


Tomy sampai terhuyung, karena Eka menubruknya dengan gerakan cepat. Tentu saja Tomy yang tak siap, ditambah kakinya yang masih nyeri membuat dirinya hampir terjerembab.

__ADS_1


"Hey, kau ini!!" Tomy benar-benar kaget.


"Kau ini jahat sekali, kemana saja sih!!" Eka menangis dengan posisi masih memeluk Tomy posesif.


Tomy diam dan bingung, namun ia juga senang dengan perlakuan Eka kepadanya. Apa itu artinya, Eka sebenarnya juga memiliki perasaan yang sama?.


"Ih!!, kau pasti pura pura diculik kan?" Eka melepas pelukannya dengan cepat, merajuk seolah tidak terima.


"Hey, kau tidak lihat badanku begini, kau pikir aku mendramatisir keadaan?" Tomy lekas mendebat wanita bar bar di depannya.


Plak


Eka memandang kaki Tomy yang masih basah jahitannya, membuat pria itu berteriak.


"Aaarrrghhhh!!!, jahitanku!!!!"


Mata Eka seketika membulat


.


.


David


Ia menggelengkan kepalanya demi melihat interaksi Eka dan Tomy yang selalu heboh. Ia meninggalkan dua manusia beda jenis kel amin itu, di depan mobil.


Ia ragu untuk masuk, karena rombongan Leo yang membawa serta Mayang masih belum sampai. Entah lewat mana mereka, mengapa bisa selemot ini.


Ia memutuskan untuk mendudukkan tubuhnya barang sejenak, di kursi depan rumah nenek Jessika. Sembari menunggu Tom and Jerry menyelesaikan pertengkarannya.


"David!" suara seorang laki-laki yang memanggilnya. Rupanya itu suara Lek Soleh.


"Lek!" David berdiri.


"Syukurlah kamu tidak apa-apa!" Lek Soleh menarik tubuh kekar David, spontan memeluknya. Mungkin karena buncahan rasa bahagia atas keselamatan keponakannya itu.


David merasa terharu dengan perlakuan Lek Soleh, Pamannya itu jelas mengkhawatirkan dirinya. Namun ada yang kurang, harusnya istrinya yang menyambut dirinya.


"Alhamdulilah Lek" jawab David seraya melepas pelukannya.


Lek Soleh menyusut matanya yang berair, tak bisa menafikkan perasaan terharu. Bagaimanapun juga, David adalah anggota keluarganya.


"Dimana Pak Edy dan yang lain?"


"Papa masih ada di RS" David menceritakan kronologis secara tidak tanggung-tanggung.


"Kalau Leo masih on the way" jawab David.


Membuat mereka sama sama hening, sepersekian detik kemudian,


"Mas!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2