
.
.
.
Di sebuah kamar didalam rumah sederhana dengan cahaya lampu temaram, seorang wanita tengah duduk dengan memeluk kakinya di lantai yang terbuat dari semen itu.
Ia tidak bisa memejamkan matanya, Ia tahu dia telah bersalah telah membuat sudut bibir anak dari mandornya itu sobek.
Tapi yang dia sesalkan kenapa tidak ada yang mau percaya kepadanya bahwa sebenarnya Putri lah yang sengaja membuatnya celaka terlebih dahulu, apa karena lawannya tadi adalah anak dari orang penting di tempat dia bekerja?, apa karena dia hanya pegawai biasa?.
Apalagi dia juga teringat dengan perkataan pak Sis yang menyuruhnya untuk tidak masuk bekerja terlebih dahulu.
Dalam hatinya berfikir, akan lebih baik kalau sekalian saja dia keluar. Bahkan tadi David dan Leo pun juga terkesan menyudutkan Jessika, karena tindakannya yang kasar.
Mereka semua tidak tahu kalau Putri memang sudah tidak menyukai Jessika sejak sekolah dulu.
Tanpa ijin darinya cairan bening dari mata indahnya itupun lolos mengalir membanjiri pipinya, "Ayah ibu ...." ia menyebut kedua orang tuanya yang sudah tiada itu dalam tangisnya.
Mbok yah yang hendak ke kamar mandi tanpa sengaja mendengar suara isakan tangis dari dalam kamar Jessika yang masih bisa di dengarnya, karena pintu yang sedikit terbuka.
"Nduk...." ucap mbok yah yang datang lalu mensejajarkan tubuhnya di samping cucunya itu, sejak tiba dirumah tadi Jessika tidak berbicara apapun pada mbok yah.
Mbok yah memeluk tubuh cucunya itu penuh kasih sayang, mengelus pucuk kepala Jessika. Tangisnya pun menjadi semakin pecah, tatkala mbok yah mengeratkan pelukannya.
"Nduk awakdewe kudu sabar, Gusti Maringi pitedah biso lewat susah biso lewat bungah"
(Nak kita harus sabar, Tuhan memberi petunjuk itu bisa melalui kesusahan bisa melalui kebahagiaan).
Mbok yah memberikan nasehat pada cucunya itu, sebagai orang tua yang sudah banyak makan asam garam kehidupan tentu ia sangat memahami kondisi Jessika saat ini.
"Sungguh Wek, Putri yang memulai dulu" ucap Jessika sambil menghapus air mata di pipinya.
"Mak wek percaya sama kamu, tapi kamu juga harus menyadari jika kejahatan itu tidaklah baik jika harus di balas dengan kejahatan juga"
"Jika kamu membalas dia dengan bentuk kejahatan juga, lalu apa bedanya kamu dengan dia. Kita ini wong susah, lebih baik kita ngalah insyaallah Tuhan yang akan memberi kita keberuntungan"
"Dan jika memang kamu gak salah, Tuhan gak akan kekurangan cara buat menunjukkan kebenaran itu, sudah lebih baik kamu shalat agar hatimu lebih tenang nduk"
Mbok yah menasehati dan memberikan petuahnya cukup lama, sebenarnya mbok yah juga tidak sampai hati melihat cucu satu satunya itu bersedih.
Tapi ia tahu sebagai orang yang kurang berada adalah lebih baik kalau mengalah.
Jessika pun menurut dan mengambil air wudhu nya untuk kemudian melaksanakan shalat.
Dan benar saja, hatinya kini lebih tenang setelah menunaikan shalat. Akhirnya karena lelah dan sudah lama menangis ia pun tertidur.
****
Sinar horizon sudah mendominasi langit di timur, pertanda hari baru telah dimulai.
Riuh kendaraan, geliat para pedagang menawarkan barang dagangannya, para pembeli sibuk menawar. Roda -roda perekonomian tengah berputar di pasar itu.
Karena hari ini Jessika belum di perbolehkan untuk masuk bekerja, ia akhirnya ikut mbok yah ke pasar untuk berdagang cenil.
__ADS_1
Makanan yang terbuat dari singkong, ketan, yang di bentuk sedemikian rupa serta di beri siraman gula merah dan parutan kelapa itu adalah jajanan yang biasa mbok yah jual di pasar.
"Mbah cenilnya 6 tapi gulanya dipisah nggeh Mbah" ucap salah satu pembeli yang tengah antri di lapak milik mbok yah.
Hari itu mbok yah memilih untuk tidak ikut membersihkan sisa sisa acara di rumah besar pak Edy, ia lebih memilih mengajak sang cucu ke pasar agar ia tidak terus terusan bersedih.
"Ini Bulik 6 bungkus ya" ucap Jessika sambil menyodorkan pesanan si pembeli.
"Sing dodol cenil kari ayu, lek carane ngene iso iso cenil e di tebas ambi golongane arek lancing lancing ganteng hehehe"
(yang jualan cantik banget, kalau begini caranya bisa bisa cenil nya di borong sama para pemuda tampan hehhee")
Salah satu ibu ibu yang tengah antri juga ikut menimpali, Jessika tidak malu melakukan pekerjaan apapun. Baginya ia lebih malu kalau jadi pengangguran.
*****
Sementara itu di tempat lain,
Pak Edy, David, Leo, Adrian dan juga Tomy tengah menikmati sarapan mereka.
tidak ada yang bersuara sama sekali, hening dan hanya terdengar suara sendok dan piring yang berbunyi.
"Sebaiknya anda segera meminta maaf pada nona Jessika tuan" ucap Tomy pada Leo dan David.
Sontak mereka menoleh pada Tomy yang terlihat lebih dulu menyelesaikan sarapannya.
"Apa maksudmu Tom" tanya David.
Tomy sudah memberitahu Adrian untuk tidak memberitahu David maupun Leo terlebih dahulu, itu bertujuan agar Tomy saja yang memberitahu berikut dengan bukti otentik yang ada.
Terlihat rahang David mengeras dan terpancar aura kemarahan di wajahnya.
"Ada apa bang?" Leo yang melihat ekspresi David menjadi makin penasaran, kemudian dengan segera ia menyahut hp milik assisten nya itu.
"Dari kau dapat semua ini tom" tanya David pada Tomy.
"Semalam saya bersama pak Umar mengecek monitor CCTV yang ada di samping pohon tempat dimana meja kita semalam berada, maaf tuan saya tidak memberi anda terlebih dahulu, saya hanya takut jika kecurigaan saya salah nanti malah akan menambah persoalan" jawab Tomy dengan wajah datarnya.
"Astaga mengapa papa juga sampai tidak ingat kalau rumah ini ada cctv" jawab pak Edy merasa bersalah setelah ia juga melihat video yang ada di ponsel Tomy.
Leo mengusap wajahnya kasar, ia begitu bodoh sampai tidak berfikir ke arah sana sebelum berbicara kurang enak pada Jessika.
Bukan tanpa alasan Leo sampai tidak memikirkan mengenai CCTV, saat itu Leo masih terbakar cemburu melihat Jessika dan David yang terlihat bersama, ia tidak bisa berfikir jernih.
"Sebaiknya kau segera mencarinya dan meminta maaf kepadanya bos" ucap Adrian.
David dan Leo berdiri bersamaan, Adrian dan Tomy menjadi saling pandang, ada apa dengan dua bosnya itu.
"Tunggu, papa ikut" ucap pak Edy pada kedua putranya.
Kali ini mereka membawa mobil, Leo mengemudi sementara David duduk di sampingnya dan pak Edy berada di kursi belakang.
Leo hanya bisa merutuki kesalahannya, begitu juga David ia teringat dengan perkataan Jessika semalam:
__ADS_1
"Saya mohon maaf apabila saya telah merusak acara malam ini, tapi saya tidak bersalah dan kebenaran suatu saat akan terungkap, saya permisi"
Tuhan begitu baik pada Jessika, sehingga tanpa memakan waktu yang lama kebenaran bisa terungkapkan.
Setibanya mereka di rumah Jessika ,mereka melihat rumah sederhana itu dalam keadaan tertutup. David kemudian turun dan diikuti oleh adik beserta sang papa.
"Permisi,,, Assalamualaikum" Leo mengetuk pintu rumah Jessika.
Ini adalah kali pertama David datang kerumah Jessika, David merasa kasihan sekaligus bersalah saat melihat keadaan rumah Jessika yang sangat sederhana itu. Ia kembali teringat saat dirinya menghinanya diwaktu gelaran pasar malam dulu, dan tadi malam di juga meninggikan suaranya pada Jessika.
"Assalamualaikum mbok, apa ada orang" pak Edy juga mencoba mengetuk pintunya.
"Mau cari siapa pak?" tanya seseorang pada ketiga orang itu.
"Eh ini pak saya mau mencari mbok yah sama Jessika, tapi kelihatannya mereka tidak ada dirumah" jawab pak Edy sopan.
"Lo biasanya Jessika kerja di sawahnya pak Edy pak terus kalau mbok yah jualan cenil ke pasar" jawab orang itu.
Pak Edy dan kedua anaknya merasa bersalah, tidak mungkin Jessika bekerja karena pihak merekalah yang melarangnya untuk tidak bekerja terlebih dahulu.
"Maaf pak kalau jualan di pasar mana ya" tanya David.
"Di pasar S pak, tapi biasanya jam segini sudah mau pulang" jawab orang itu kembali.
"Ngomong ngomong bapak ini siapa ya" tanya orang itu karena melihat penampilan mereka yang tak biasa, mereka seperti orang berada terlihat dari pakaian yang mereka kenakan.
"Kenalkan pak saya pak Edy, dan mereka ini adalah putra saya" jawab pak Edy
"Loh jadi bapak ini yang punya Lahan cabe Berhektar-hektar itu pak, la kenapa malah cari Jessika disini? pasti dia ada di sawahnya bapak" jawab orang itu Kembali.
Leo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia bingung harus bagaimana.
"maaf pak bapak ini siapa ya, sepertinya bapak juga kemari mau ada perlu sama Jessika juga? tanya Leo
"Oh saya pak lek nya Jessika, saya Soleh pak, mas. Saya kebetulan mau ngambil ayam jago punya mbok yah, katanya mau dia jual. Kemaren beliau sudah bilang sama saya" jawab lek Soleh pada mereka.
Akhirnya dengan menyesal pak Edy menceritakan niat dan maksud mereka datang kesana, karena lek Soleh adalah masih keluarganya Jessika maka pak Edy rasa tidak masalah apabila lek Soleh mengetahui persoalan itu.
"Jadi begitu pak, sungguh kami menyesal dan kami berniat menebus kesalahan kami" jawab pak Edy dengan tulus.
"Astagfirullah pak, keponakan saya itu anak yang baik, dia memang senang melawan kau dia yang dizolimi lebih dulu, kalau tidak ya tidak akan pak. Kami ini orang kecil, orang susah mana berani kami berbuat seperti itu jika tidak ada sebab" jawab lek Soleh yang tambah membuat mereka merasa bersalah.
Akhirnya lek Soleh menceritakan sedikit tentang kisah Jessika, David dan Leo yang mengetahui ternyata Jessika adalah yatim-piatu sungguh benar benar merasa bersalah.
Tentang kisahnya juga yang selalu bekerja untuk melunasi hutang ayahnya yang digunakan untuk biaya rumah sakit sewaktu ibunya dirawat dulu.
"Baru aja kemaren pak dia melunasi hutangnya, dia itu orang yang mau menerima keadaan, gak pernah gengsi mau kerja apapun, maaf pak saya jadi banyak bicara begini. saya sangat sedih kalau tahu keponakan saya di perlakukan seperti itu" ucapnya dengan mata berkaca dan sesekali mengelap sudut matanya yang berair.
.
.
.
.
__ADS_1
Tinggalkan jejak dengan beri like and comment, biar author makin semangat berkarya 🤗.