Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 121. Lamaran coy!!


__ADS_3

.


.


.


Pasal satu, Bos tak pernah salah.


Jika Bos salah, kembali ke pasal satu.


Doktrin nyeleneh inilah yang membuat Tomy dan Eka mau tidak mau harus memisahkan diri dari pasangan yang tengah mabuk kepayang oleh cinta itu.


"Mau kemana sih, jalan terus. Capek tau" Eka menggerutu karena Tomy berjalan dengan tak henti tanpa menoleh sedikitpun kebelakang.


"Kenapa kau mengikuti ku?" Tomy berkata dengan menoleh sekilas, lalu melanjutkan langkahnya lagi.


"CK, jadi dari tadi kamu gak berniat mengajakku ke suatu tempat?"


"Untuk apa aku mengajakmu"


"CK, heh manusia kulkas. Bilang dong dari tadi, sekarang pasar malamnya sudah lewat jauh, terus aku gimana donk. Gelap tahu mau kesana" Eka emosi dan nyaris menangis, ia lelah bejalan jauh.


Namun tak disangka Tomy malah mengabaikannya.


"Jahat banget kamu, udah lah" ia lalu berbalik dan pergi dengan kesal.


Menggerutu sepanjang jalan, dengan rasa takut dan was was ia lalu berjalan melewati tempat gelap tadi.


Tomy ingin menjauh memang dari sana, agar bosnya bisa mendapatkan tempat tanpa interupsi dari mereka.


"CK, dasar wanita" mau tidak mau Tomy menyusul Eka.


Selain kasihan, entah mengapa ada dorongan lain untuk mengejar wanita cantik yang bar bar itu.


"Enak saja ngajak orang pergi, tapi main main ninggal aja. Ihhhhhh" Eka terus mnegegrutu dan mengomel.


Melupakan kekesalannya.


Sementara Tomy yang kini sudah berada di belakang Eka, hanya tersenyum senyum sendiri.


Karena kurang waspada akibat terlalu kesal dan emosi, Eka justru tersandung dan,


Kleeek


"Auuuuuuuuuu" pekiknya menahan sakit, karena sepertinya kakinya keseleo.


Tomy yang melihat Eka beringsut ke tanah segera berlalu kecil, nampaknya ia terlihat panik.


"Kau tidak apa-apa?" Tomy berucap sambil berjongkok, menyamakan posisinya dengan Eka.


"Tidak apa-apa bagaimana, kakiku keseleo ini. Aduh, sakit banget" rengek Eka yang merasa ligamennya sobek.


"Biar ku bantu" Tomy mengulurkan tangannya.


"Tidak usah, aku bisa sendiri" Eka menepis tangan Tomy karena masih kesal dan merajuk.


Namun saat hendak berusaha berdiri, serta meringis karen menahan sakit dan perih di engkel kakinya, ia justru ambruk.


Dan hap, Tomy dengan sigap menahan tubuh sintal Eka, tubuh mereka begitu dekat. Bahkan Tomy bisa merasakan degup jantung Eka yang tak karuan.


"Kok ganteng ya kalau dilihat dari dekat begini" Eka membatin selama beberapa detik, dan saat kesadarannya kembali, ia juga kembali pada mode merajuk.


"Biar ku bantu" ucap Tomy yang langsung mengangkat tubuh Eka ala bridal style, menuju mobil.


Eka hanya diam, menurut.


Kakinya benar benar tak bisa di gerakkan, ia menatap lekat wajah Tomy yang kini penuh dengan peluh itu, masih nampak datar namun jelas garis garis ketampanan yang terpahat nyata itu, kini tengah ia kagumi.


Apalagi aroma parfum yang ia pakai, makin membuat hidung Eka seperti terkena aroma terapi.


"Tidak usah memandangiku terus, kau bisa gila nanti" Tomy berucap dengan pandangan lurus ke depan.


"CK, kau itu. Bisa tidak sih mulutmu itu bicara yang lembut sedikit" Eka memanyunkan bibirnya, wajah dengan ucapan mulut Tomy benar benar bertolak belakang.


Tomy mendudukkan Eka di kursi mobil," apa masih sakit?"


"Tentu saja, kau tidak lihat ini kakiku mulai bengkak"


Tomy hanya diam masih dengan mode datarnya," biar ku lihat "


"Auuuuwwwww, kau ini mau mematahkan kakiku ya" ucap Eka yang kesakitan karena Tomy memegang kakinya terlalu keras.


"Sakit tahu" Eka kini benar benar menangis, sangat sakit perih, nyeri dan juga ngilu. Lengkap yang dia rasakan.


Tomy teringat sesuatu, membuatnya untuk membuka bagasi belakang, sejurus kemudian dia kembali ke tempat Eka berada, dan dia terlihat membuka sebuah kotak.


Ya, itu adalah kotak milik Bella. Berisi perlengkapan medis, untuk pertolongan pertama.


Ia mengaduk aduk isi kotak itu, sampai akhirnya dia menemukan benda yang dia cari.


"Coba sini, tahanlah sedikit" ia mengoleskan gel pereda nyeri merk ternama itu.


Terasa dingin lalu kemudian menjadi hangat cenderung panas.


Eka memperhatikan Tomy yang telaten merawatnya menjadi sedikit mengubah penilaiannya terhadap Tomy.


Dia laki laki yang solutif, ya meski menyebalkan.


"Besok kau harus di periksa Dokter, tidak bisa dibiarkan"


"Aku akan menelpon Bos dulu"


.


.


.


Selang beberapa menit Jessika datang dengan wajah cemas, di susul David berada di belakangnya.


"Apa yang terjadi?"


"Tadi kalian kemana sih"


"Kok bisa sampai begini Ka?"

__ADS_1


Eka memutar bola matanya," Kan pacarmu itu yang nyuruh kita" ucapnya dalam hati


"Tadi aku pergi ke stand di sebelah sana, gak taunya manusia kulkas ini ikut" jawab Eka yang ogah mencari alasan ribet.


Tomy yang di sebut manusia kulkas itu, memberi tatapan yang tidak bisa di artikan.


Sementara David hanya terkikik geli," sepertinya mereka berdua cocok" ia membatin.


******


Pagi ini Bella sudah di ijinkan pulang, Leo terlihat memasukkan beberapa perlengkapan yang akan mereka bawa pulang.


Tomy sudah siaga menjemput bosnya itu, ia membawa beberapa tas berisi perlengkapan dan baju kotor milik Bella.


Mereka langsung pulang kerumah, begitu sampai mereka langsung di sambut oleh Pak Edy dan juga David.


Leo terlihat membukakan pintu mobilnya, dan meraih tangan Bella.


Menuntunnya masuk.


"Bella, maafkan papa tidak sempat mengunjungimu nak"


"Papa masih harus sibuk bolak balik ke kantor polisi"


"Tidak apa apa pa, Leo menjagaku dengan baik" Bella tersenyum.


"Ayo kamu ajak masuk dulu, bawa dia istirahat" Ucap Pak Edy kepada Leo.


"Bik, tolong buatkan sarapan dan bawa ke kamar Bella" titah Pak Edy kepada bik Darmi.


"Nggeh tuan".


Pak Edy turut mengikuti Bella ke kamarnya, ia duduk di sofa dekat ranjang Bella.


"Maafkan Bella pa, cucu papa..." Bella tak melanjutkan ucapannya karena keburu menangis, ia masih belum bisa menerima kenyataan.


Pak Edy menghampiri Bella, memberikan pelukan seorang ayah kepada anaknya.


"Sudah, kita tidak ikut memiliki. Anak adalah titipan, papa yakin ini yang terbaik. Rencana Allah tidak pernah buruk"


Bella makin terisak, sementara Leo juga tak tahan melihat kesedihan yang tersaji di depannya.


Ia terlihat menyusut sudut matanya yang berair.


"Sekarang kamu banyak istirahat, ikhlaskan. Nanti kamu bisa program lagi setelah ini, semoga Allah segera memberikan penggantian untuk kalian"


Bella mengangguk dengan wajah basah dan hidung yang memerah.


"Papa tinggal dulu, ada relasi yang berkunjung ke kebun"


Kini hanya ada Leo dan Bella.


Bella selalu berfikir jika mungkin pernikahannya tidak akan bertahan, ia tahu jika Leo belum menerima dia sepenuhnya.


Perhatian yang di berikan tak lebih dari perhatian kepada janin yang ada di rahimnya.


Dan kini saat hal itu sudah hilang?, apakah masih sama?


****


Sementara David masih berada di desa, ia juga sudah mengganti tupoksi kedua assisten pribadinya.


Adrian kini berkolerasi langsung dengan Leo, sementara Tomy dengan dirinya.


Semacam pertukaran assisten.


Adrian tidak berkenan di suruh ke desa, lantaran ia tengah gencar mendekati Vera.


Alhasil, lagi lagi si Tomy yang harus stay di desa.


Malam ini David akan berkunjung kerumah Jessika, ia berniat melamar Jessika malam ini juga.


Pak Edy juga terlihat antusias, segala macam keperluan sudah disiapkan.


Ia meminta bantuan bik Darmi dan suaminya untuk mengurus keperluan yang menyangkut persiapan menuju rumah Jessika.


Leo sudah mengirimkan permohonan maaf kepada kakaknya, ia bertolak ke luar kota karena menghadiri pertemuan penting.


Sedangkan Bella sudah kembali ke aktivitas normalnya, kebetulan pula ia terjadwal untuk operasi pasien.


Praktis hanya David dan papanya, serta Tomy juga bik Darmi bersama suaminya tentu saja yang akan ikut menyaksikan proses lamaran dirinya.


Jessika menolak untuk menggunakan acara besar, ia ingin acara yang sederhana.


Yang penting berjalan lancar, dan khidmat.


Sementara keluarga Pak Sis jarang terlihat sejak kejadian itu, David sendiri juga tidak jadi memecat beliau, lantaran menuruti permintaan Jessika.


Tapi tak apa, mereka masih memberikan waktu bagi keluarga Pak Sis.


.


.


David terlihat rapi dan juga siap dengan cincinnya. Ya meski beberapa hari yang lalu dia sudah menyematkan cincin kepada Jessika.


Namun malam ini, ia telah mempersiapkan kembali cincin dengan bentuk dan rupa yang lebih indah.


Tentu saja lebih mahal pula.


"Sudah siap bik" tanya pak Edy kepada bik Darmi.


"Sampun tuan, sudah siap semuanya"


David bersama papanya ada di mobil satu, sementara Tomy bersama buk Darmi dan suaminya berada di mobil 2.


Membawa serta berpuluh puluh bingkisan dan hantaran untuk lamaran.


Sementara di rumah sederhana milik Jessika, terlihat sudah ada persiapan sederhana.


Tentu saja atas kesepakatan mereka berdua, dan kedua belah pihak.


Jessika mengenakan kebaya dengan bawahan yang senada dengan baju milik David.


Terlihat Lek Soleh yang sudah rapi menggunakan peci hitam plus baju batik, baju terbaik yang dia miliki.

__ADS_1


Begitu juga dengan mbok yah, wanita tua itu nampak lebih cantik dengan menggunakan kerudung dan make up tipis, hasil dari lukisan Eka dan Arin.


Yap, dua sahabat Jessika itu so pasti sudah standby disana.


Menjadi panitia dan tim sukses ,sudah barang tentu telah mereka lakukan.


"Ayo ayo sini" ajak Eka kepada mbok Yah.


Terlihat beberapa tetangga dan pak RT yang turut berada di sana, lantaran Jessika tak begitu memiliki banyak kerabat.


Tak berselang lama rombongan David sudah datang, membuat semuanya ikut riweh, ribut tak karuan.


Jessika masih belum selesai berdandan, Eka sengaja menyewa MUA yang lagi viral di Instagram, yang menjadi MUA nomer satu di kabupaten itu.


Ongkos tak jadi masalah, mengingat calon manten ya adalah bakal juragan mereka.


Rumah itu dihias dengan sedemikian rupa, tak mewah sih. Namun ya bolehlah.


Kursi usang itu juga terlihat sudah di keluarkan, berganti dengan gelaran karpet tebal yang lembut.


Agar memudahkan para tamu, mengingat ruang tamu disana tidaklah luas.


Pak Eko juga hadir ikut rombongan keluarga pak Edy, mereka semua memasuki rumah itu.


Duduk bersila, setelah saling berjabat tangan dengan para penerima tamu.


Seserahan dan juga berbagai bingkisan juga telah berpindah tangan kepada keluarga Jessika.


Menikmati aneka suguhan kue basah dan kering yang terhidang rapi, lezat dan penuh cita rasa.


David menjadi sedikit gugup, ini adalah kali pertamanya langkah serius ia tempuh.


Kebahagiaan sudah pasti ia rasakan saat ini.


Beberapa detik kemudian, Jessika muncul dari arah kamarnya.


Ia begitu cantik, anggun serta menawan.


Membuat David melongo, makin tak tahan ingin merengkuh tubuh itu.


Bahkan Arin dan Eka turut gemas dengan dandanan Jessika, mereka mengacungkan dua jempolnya ke arah Jessika yang tersipu malu.


Baju yang ia kenakan pas dan terlihat cocok, ia masih bisa duduk bersimpuh dengan baju itu.


Sudah di set sebelumnya, oleh penjahit. Memudahkan dirinya untuk duduk dan berdiri di karpet.


David kini duduk di sebelah Jessika, getaran rasa ini sungguh memabukkan.


Jessika pun sama, ia bahkan grogi. Teramat grogi.


Pak Edy sendiri yang akan melamar Jessika menjadi menantunya.


Pertama Tama beliau memberikan sambutan, sebagai rentetan yang biasa di haturkan.


"Maksud dan tujuan saya datang kesini ingin meminta izin kepada bapak/ibu untuk melamar putri bapak dan menjadikan dia sebagai istri dari anak sulung saya, David Syailendra Darmawan. Semoga niat biak ini mendapat restu dari Allah SWT"


Kemudian keluarga Jessika yang di wakili oleh lek Soleh, segera membalas kalimat pak Edy baru saja,


"Dengan mengucap syukur Alhamdulillah kami menghaturkan selamat datang di kediaman kami, kediaman Mbok Kamsiyah. Selanjutnya, berhubung sudah ada kecocokan antara putri kami Jessika Maheswari dan David Syailendra Darmawan. Maka kami selaku orang tua dan keluarga besar MENERIMA sepenuhnya lamaran dari David Syailendra Darmawan"


"Alhamdulilah" ucap semua yang disana, mereka juga membaca doa syukur.


Selanjutnya mereka saling menyematkan cincin di jari manis secara bergantian, Eka yang paling heboh. Meski kakinya masih sedikit nyeri pasca keseleo beberapa hari yang lalu, namun ia masih bisa menjalankan tugasnya dengan baik


Memotret setiap moment berharga itu," kasih lihat sini donk jarinya" ucapnya mengatur.


" 1 2 , oke" ucapnya puas karena hasil jepretannya bagus.


Mereka lanjut membahas tentang rencana selanjutnya dengan lebih santai, David tidak sedang main main. Ia ingin segera menghalalkan Jessika.


Sampai akhirnya mereka semua menyepakati sebuah tanggal, yang kebetulan dalam perhitungan Jawa tanggal itu merupakan tanggal baik untuk melangsungkan pernikahan.


David yang tidak mengerti hitung menghitung weton atau apa hanya bisa memasrahkan segala sesuatunya kepada papanya.


Yang penting semua bisa lancar.


Tanggal 08-08-20xx menjadi tanggal yang di tetapkan untuk pernikahan mereka, itu berarti dua minggu dari sekarang.


Setelah acara hitung menghitung berakhir, mereka bersama sama menyantap hidangan lezat hasil masakan mbok yah, penuh cita rasa tinggi.


Semua orang terlihat tertawa bahagia, saling bercengkrama.


Namun tiba tiba David berkata kepada papanya," Pa apa gak bisa cepetan lagi, dua Minggu lama amat.


Membuat pak Edy menggelengkan kepalanya," Sabar, sambil suruh adik kecilmu itu latihan puasa"


Membuat David menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bagaimana bisa papanya tahu yang ada di fikirannya.


.


.


.


.


.


Hay para readers terkasih, terimakasih selalu setia dengan mommy Eng.


Mommy juga tengah membuat karya baru, masih dengan tema romansa.


"The Love story' of singgle parents"


**Menceritakan kisah Andhira ( Janda Indra, berpisah karena pengkhianatan) dan Abimanyu ( Pria mapan di usia matang namun memiliki serumit rumitnya kisah cinta)


Banyak konflik dan intrik dalam perjalanan mengisi kekosongan cinta mereka**.


Yang kepo yuk cuss ke karya kedua mommy



Terimakasih sudah setia di NCJ, semoga para readers sehat selalu ya.


Salam

__ADS_1


Mommy EngπŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2