
.
.
.
"Nona Bella" ucap Jessika saat melihat Bella membuka pintu.
Dengan gerakan cepat, detik itu juga Leo menarik tangannya yang baru saja memegang tangan Jessika.
Bella mengernyitkan dahinya, apakah Leo baru saja memegang tangan Jessika? begitu pikir Bella yang melihat Leo gelagapan.
"Selamat pagi Jes, aku akan memeriksa mu dulu" Ucap Bella tersenyum.
" Apa kau masih pusing?" tanya Bella sambil menempelkan stetoskop ke dada Jessika.
"Sudah tidak dokter Bella, perut saya saja masih nyeri. Membuat saya masih sulit berjalan sendiri" ucap Jessika.
"Luka jahitannya belum kering, jadi wajar. Minum terus obatmu ya dan makan yang rutin agar kondisimu segera membaik"
"Leo maaf aku harus memeriksa luka Jessika dulu, bisakah kau meninggalkanku bersamanya" Ucap Bella.
"Oh baiklah, aku akan keluar dulu" jawab Leo.
Bella mulai membuka kain yang menutupi luka di perut Jessika, setelah ia membuka baju yang dikenakan Jessika.
Dengan telaten dan pelan ia mulai membersihkan luka itu , ia mengobati dan melakukan tugasnya dengan rapi.
"Sebaiknya jangan terlalu banyak bergerak dulu, dan jangan sampai terkena air terlebih dulu" ucap Bella dengan raut wajah yang sedikit berbeda.
Jessika menyadari jika Bella sepertinya sudah salah paham dengan dirinya, ia pasti melihat tangannya yang di genggam oleh Leo.
Ia membalut kembali luka itu dengan kasa, dan merapikan kembali baju yang sudah ia lepas tadi.
"Nona, apakah anda baik baik saja" tanya Jessika yang tahu jika sikap Bella tidak seperti kemaren.
"Baik baik saja apa maksudmu Jes?" tanya Bella sambil merapikan beberapa peralatan yang selesai ia gunakan.
"Apa anda melihat mas Leo memegang tangan saya?" tanya Jessika berterus terang, dan pernyataannya itu sukses membuat Bella menghentikan kegiatannya.
"Katakan padaku ada hubungan apa kau dengannya?" tanya Bella yang sudah terbakar api cemburu, bagaimana tidak ia menyadari jika Leo sepertinya mempunyai hubungan dengan Jessika. Jika tidak kenapa Leo sampai pagi pagi mengunjunginya, bahkan ia melihat Leo memegangi tangan Jessika.
Jessika tersenyum menatap Bella yang sudah Terlihat aura marahnya," nona Bella, percayalah saya tidak memilik hubungan apapun dengan mas Leo" ucap Jessika, kemudian ia menceritakan asal muasal ia bisa kenal dan bertemu dengan Leo.
Tentang kebaikan Leo kepada dirinya yang tidak pernah ia salah artikan, ia berkata jujur pada Bella.
Bella melihat Jessika yang berkata dengan diam, ia melihat sebuah kejujuran di mata Jessika.
__ADS_1
Wanita ini sungguh wanita yang sangat baik, jika wanita lain pasti sudah tidak akan menyia-nyiakan kesempatan jika dekat dengan Leo.
"Maafkan aku Jes, sudah berburuk sangka kepadamu. Kau tahu, aku menyukai Leo sejak kami kuliah dulu, tapi kau tahu leo selalu menganggap ku temannya" ucap Bella sendu.
Jessika meraih tangan Bella menggunakan tangan kanannya, "Nona Bella seorang dokter, nona orang yang cantik luar dalam. Insyaallah mas Leo akan melihat semuanya nanti" ucap Jessika memberikan semangat kepada Bella.
"Terimakasih Jes, maukah kau berteman denganku" ucap Bella.
Jessika mengangguk bahagia, Bella kemudian memeluk Jessika senang.
"Ceklekkk" Vera membuka pintu, ia langsung saja masuk karena ia sudah di beritahu Leo yang diluar jika Jessika tengah di periksa oleh Bella.
"Pagi dokter" ucap Vera.
"Selamat pagi, saya baru saja selesai memeriksa Jessika. Untuk sementara usahakan lukanya jangan sampai terkena air terlebih dahulu" ucap Bella memberitahu teman baik jessika, yang sudah bertindak seperti seorang ibu buat wanita muda itu.
"Baik dokter, terimakasih banyak" jawab Vera.
"Saya permisi dulu" ucap Bella pamit.
Saat menutup pintu ia masih melihat Leo yang duduk di kursi panjang rumah sakit itu.
"Bagaimana keadaannya" ucap Leo yang langsung bangkit dari duduknya, saat melihat Bella sudah keluar.
"Dia lebih baik saat ini, sepertinya kau sangat mencemaskannya" ucap Bella menatap Leo.
"Aku aku...." ucap Leo gagap.
Leo bingung harus menjawab apa, lidahnya kelu seketika. "aku hanya...."
"Apa kurangnya aku Leo, kenapa kamu tidak pernah melihat rasa cintaku selama ini" ucap Bella yang marah sambil menitikan air mata, dan berjalan dengan emosi sambil menyenggol pundak Leo, hingga membuat tubuh Leo terhuyung.
Tomy yang sudah kembali dari pengasingannya itu ,menatap heran Bella yang mengusap air matanya saat berpapasan dengan Tomy.
Tomy menoleh kepada wanita itu, ada apalagi dengan bosnya itu.
"Bos, apa semua terkendali" tanya Tomy mengernyitkan dahinya.
"Entahlah Tom" ucap Leo lesu.
*****
Mbok Yah berhari hari merasakan hal yang tidak enak dalam benaknya, di tambah Jessika yang belum memberinya kabar, menambah kegundahan hatinya.
Memang benar, jika darah lebih kental dari pada air. Ungkapan itu seolah mewakili situasi yang benar terjadi. Meski Jessika belum mengabari beliau, namun instingnya sudah peka terlebih dahulu.
"Pie Leh wes ngabari durung bocahe"( Gimana Leh sudah kasih kabar belum anaknya) mbok yah bertanya pada lek Soleh yang masih terfokus pada benda persegi panjang di tangannya itu.
__ADS_1
"Durung Lo mbok, opo jajal tak telpon maneh Yo"( belum mbok, apa coba aku telpon lagi ya)
Lek Soleh mencoba men-dial nomer keponakannya itu.
"Hallo Assalamualaikum" terdengar suara yang memang di tunggu oleh lek Soleh.
"Walaikumsalam, nduk wingi di enteni kok gak nelpon. Wingi kancamu sing tak ngangkat"( Walaikumsalam, nak kemaren kok tidak nelpon, kemaren temanmu yang ngangkat)
Lek Soleh protes pada keponakannya, Jessika sudah diberitahu Vera ketika kemaren ia masih belum sadarkan diri. Pamannya menghubungi dirinya, Vera terpaksa berbohong agar tidak menimbulkan keresahan pada keluarganya di kampung.
Jessika benar benar lupa akan hal itu, lagi lagi ia menambah daftar dosa kebohongan dirinya demi membuat keadaan normal.
"Astaga, maaf Yo lek Jessika lupa kemaren. Soalnya lembur" bohongnya kembali
Lek Soleh tidak mempermasalahkan tentang itu, ia kemudian memberikan benda pipih itu pada satu satunya orang yang merawat keponakannya itu.
"Assalamualaikum nduk" mbok yah mencoba melepas kerinduan, lewat sambungan telepon.
"Walaikumsalam Wek, Wek gimana kabare ? maaf kemaren Jessika sangat repot" bohongnya.
"Mak wek sehat nduk, nduk kamu sehat sehat ae to? dari kemaren lusa hati makwek berdebar terus" tanya mbok yah memastikan kebenaran dari perasaannya itu
"Mungkin makwek kangen sama Jessika, maaf ya wek gaji bulan ini belum bisa Jessika kirim dulu. Sebagian buat bantu bayar kost, insyaallah bulan depan" ucap Jessika.
"Oalah nduk, bukan itu yang mau Mak wek tanyakan. Mak wek cuma khawatir aja kamu ada apa apa disana, kamu jaga diri Yo nduk shalate ojo lali" ucap mbok yah panjang, ia sangat khawatir pada cucunya itu.
Mereka berdua melebur kerinduan melalui sambungan telepon agak lama, sampai akhirnya Jessika terpaksa menutup telponnya karena terlihat Bryan mengunjunginya.
Leo juga tampak ada bersama bosnya itu dan juga assisten dinginnya.
"Bagaimana keadaanmu?" Bryan bertanya sesaat setelah ia memasuki ruangan ber cat hijau pastel itu.
"Alhamdulilah bos, seperti yang bos lihat" ucapnya tersenyum.
Leo pamit untuk undur diri terlebih dahulu, hari ini ia akan ada rapat bersama para direksi di Darmawan Group.
Jessika mengiyakan niat Leo untuk beranjak dari tempatnya dirawat itu, menyisakan bos dan teman setianya di ruangan dengan bau khas medis itu.
"Apa kau punya hubungan dengan tuan David? wow sepertinya dia sangat peduli kepadamu" tanya Bryan yang bukan tanpa alasan ia harus menanyakannya.
Pertama, ia ingat bila dirinya pernah diminta oleh David untuk meninggalkan dirinya bersama Jessika.
Kedua, ia mendengar jika perpindahan ruangan inap yang Jessika saat ini, gunakan juga atas perintah David.
Jessika menghela nafasnya dalam, semua orang pasti jika berfikir sama seperti bosnya.
Andai mereka semua tahu jika dirinya bahkan Sudah mendapat sebuah cincin berlian, juga sebuah ciuman haram dari David, entah vonis apa yang akan mereka jatuhkan pada Jessika.
__ADS_1
"Sungguh bos, saya juga tidak tahu kenapa beliau begitu kepada saya. Jika boleh memilih saya lebih baik tidak berurusan dengan orang seperti tuan David" penuh dengan kejujuran kata demi kata yang ia ucapkan.
Vera juga menatap lekat temannya itu, sepertinya tun David lebih dari sekedar kasihan pada temannya itu