
.
.
.
"Bila kita ikhlas Tuhan bakal memberi, Dialah yang paling mengerti apa yang kita perlukan"
( Diambil dari lirik lagu Ebiet G Ade. Ikhlas)
Pak Edy tengah duduk berhadapan dengan Pak Sis yang terus saja menunduk. Kehilangan semangat hidup. Keadaannya pun benar benar ironis. Penuh luka luar dalam.
Tak ada yang tersisa dalam hidupnya, selain dirinya sendiri dan baju Yang menempel di tubuhnya.
"Ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Pak Edy menatap datar Pak Sis.
Hening beberapa detik.
"Kenapa anda menolongku?" terdengar suara parau Pak Sis, mungkin dirinya kurang sehat.
Mereka sama-sama terdiam, saling menatap.
"Kenapa masih membiarkan aku hidup, setelah apa yang aku perbuat kepada keluarga anda!" Pak Sis menatap ke arah Pak Edy, berbicara sebagai sesama lelaki dewasa.
Pak Edy belum berniat menjawab, masih terdiam dengan posisi duduk, melipat kedua tangannya yang berada di atas meja, dan matanya juga menatap wajah Pak Sis yang terlihat sendu. Kacau balau.
"Karena aku merasa engkau telah salah jalan Sis!"
"Aku mengenalmu lebih dari siapapun!"
Pak Sis terdiam, matanya kini memanas. Ia tahu bila perbuatannya telah keliru, namun apalagi yang bisa ia lakukan?. Nasi sudah menjadi bubur. Hidupnya tak memiliki arti sama sekali.
Ia menyadari, bila keluarga Pak Edy memanglah terdiri atas orang-orang yang baik. Tapi, sungguh ia tak kuasa menghalau bisikan setan dalam hatinya.
Kedua anaknya mati sia-sia di usia muda, istrinya mengalami depresi. Ia begitu emosi ketika melihat Alex malah bersenang- senang dengan wanita lain. Pria yang menjadi ayah biologis dari bayi yang di kandung putri itu, nyaris saja mati karena amukan Pak Sis.
Pikiran menjadi gelap, otaknya sudah tidak bisa berfikir jernih saat itu. Dan hatinya dipenuhi oleh kebencian. Pikirannya dangkal, membuatnya menjadi berfikir bila sumber persoalan dari semua ini adalah keberadaan David.
"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, semuanya hancur!!" Pak terlihat menangis, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya, kesedihannya. Ia terlihat begitu rapuh.
Pak Edy menatap iba mantan orang kepercayaannya itu, ia turut menyesali kebodohan pria di depannya itu. Yang tidak mau menggunakan logika.
Ada dua hal penting yang bisa kita jadikan pegangan, yang pertama adalah jangan berkata apapun disaat kita emosi. Yang kedua, jangan pernah berjanji saat hatimu diliputi rasa senang. Karena kedua-duanya sama sama menyebabkan penyesalan.
"Tolong cari istriku dan bawa dia ke panti sosial!" ucap Pak Sis degan wajah yang berderai air mata.
"Sebelum aku membusuk di dalam penjara!"
.
__ADS_1
.
.
10 Hari berlalu, David memutuskan untuk mengajak istrinya pergi berlibur. Quality time benar-benar mereka butuhkan. Pilihannya adalah Pulau L.
"Ih aku iri sama kamu Bu Bos!" ucap Eka yang selalu saja bar-bar. Ya, mereka kini tengah berada di bandara Kabupaten B. Mengantar pasangan juragan mereka.
Jessika tersenyum, " makanya, cepetan nikah!!" bisik Jessika.
Sementara Tomy hanya datar, as usually.
"Aku titip Cargo dan lain-lain. Gaji anak anak jangan sampai telat!" ucap David kepada Tomy.
"Siap bos!" Tomy membungkuk hormat.
Selamat pagi kepada para pelanggan Blue Airlines, dengan nomer penerbangan BA 101 Tujuan..
Anda di persilahkan untuk memasuki pesawat udara, melalui pintu nomer satu. Terimakasih.
Terdengar suara announcement yang menggelar ke seluruh penjuru airport, menandakan David dan Jessika harus segera boarding.
"Kami pergi dulu ya" Jessika berpamitan, berpelukan dengan sahabatnya itu.
Mereka melambaikan tangan, David dan Jessika menghilangkan di balik pintu kaca itu. Membuat Eka memanyunkan bibirnya.
"Kapan aku bisa naik pesawat!" apa yang ada dalam hatinya, justru keluar dan menjadi ucapannya.
***
David dan istrinya sempat transit terlebih dahulu di bandara kota S, lantaran harus change Aircraft atau ganti pesawat yang lebih kecil.
Setelah menempuh kurang lebih satu jam perjalanan udara, mereka tiba di bandara Internasional kota L. Menjadi istri seorang David, sedikit banyak mengubah dirinya untuk menjadi wanita yang tidak terlalu norak. Alias sudah tidak gampang mabok kendaraan.
Definisi dari OKB, alias Orang Kaya Baru.
Mereka susah membooking hotel di kawasan Pantai Serngenge. Sebuah kawasan yang free dari berbagai kendaraan bermotor. Sejuk dan nyaman.
( credit foto from Facebook)
Dari Bandara mereka memerlukan waktu satu setengah jam, untuk menuju hotel yang berhadapan langsung dengan Pantai Serngenge.
Jessika terpukau dengan keindahan Pantai yang tersaji selama mereka berada di perjalanan tadi, dan tak mengira view dari hotel dimana mereka menginap adalah hamparan lautan yang menyejukkan mata.
Ini adalah first-time Jessika, berlibur. Tentu saja, selama 22 Tahun bernapas sebagai makhluk hidup, liburan adalah hal yang tak pernah ia lakukan.
:
__ADS_1
( Visual view kamar David dan Jessika dari belakang)
"Apa kamu senang sayang, hm?" tanya David yang memeluk istrinya dari belakang. Seperti biasanya, ia mengulangi istrinya dengan ciuman. Membuat tubuh istrinya meremang.
Jessika masih betah melihat hamparan laut yang tak bertepi, ia memejamkan matanya menikmati semilir angin yang menerobos masuk. Angin dari surga, yang membuatnya dirinya nyaman.
"Terimakasih sayang!" Jessika berbalik dan memeluk tubuh suaminya bahagia.
David melepas pelukannya, sejurus kemudian ia meraih dagu runcing istrinya. Kemudian dengan posesif mengecup bibir tipis istrinya itu Dengan penuh Cinta. Mereka berciuman dengan background lautan lepas yang tiada bertepi.
.
.
" Kita mau kemana?" tanya Eka yang melihat Tomy tengah membelokkan mobil yang meraka tumpangi, ke arah yang bukan jalan menuju pulang.
"Kita harus merayakan hari kemerdekaan kita bukan!" jawab Tomy datar.
"Kemerdekaan??"
"Bersantai sejenak, selama bos tidak ada!" jawab Tomy membelokkan mobilnya ke sebuah restoran.
"Aku tidak lapar!" ucap Eka menolak.
Tomy tak menjawab, ia menarik tuas hand rem. Melepaskan sabuk pengaman miliknya, dan sejurus kemudian ia mencondongkan tubuhnya ke ara Eka, sangat dekat. Bahkan hanya berjarak beberapa centimeter.
Mata Eka membulat, jantungnya berdetak kencang. " M- mau apa kau!!" ia bernegatif thinking, demi melihat sikap Tomy.
Dan, klekkk
Rupanya Tomy melepaskan sabuk pengaman milik Eka, tak mau untuk dibantah barang sejenak. Mereka terdiam.
1 detik
2 detik
3 detik
Sama-sama menatap.
"Turunlah, aku tidak akan memintamu untuk membayar!!" ucap Tomy datar, kemudian keluar dan menutup pintu mobil itu.
Eka malu, terus terang saja ia tak biasa makan di tempat mehong seperti saat ini. Kalau dia terlihat norak bagaimana?.
Tunggu dulu, bukankah dia selama ini cuek dan cenderung bar-bar. Tapi kenapa sekarang dia ja'im saat bersama Tomy. What the ****!!!
.
__ADS_1
.
.