Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 160. Dipercaya Kembali Menerima Anugerah Terindah


__ADS_3

.


.


.


Malam harinya benar, Kevin datang membawa temannya seorang dokter kandungan. Insting Pak Edy rupanya tajam juga. Ia bahkan terlihat tak sabar menanti hasil.


David, Kevin, Pak Edy, Tomy terlihat meninggi diluar. Sementara Jessika tengah berada di kamarnya untuk test.


"Bersikaplah santai sedikit!" Kevin menggerutu karena melihat David yang bolak-balik, membuat dirinya pusing.


"CK, mana bisa aku santai. Aku tengah menanti kabar besar!" tak mau kalah, sementara Tomy hanya memutar bola matanya malas, dan pak Edy hanya menggelengkan kepalanya.


"Tom, aku tidak mau bila sampai istriku tengah mengandung malah memintamu untuk mengantarkan kemana-mana!!" David nampak serius berucap.


Tomy terhenyak, memangnya dia yang mau, itu istri anda yang meminta tuan David.


Saat mereka tengah berdebat, pintu mereka sudah terbuka. Menampilkan Jessika yang berwajah datar.


"Bagaiman?" tentu saja David menjadi yang paling antusias diantara yang lain.


Pak Edy, Kevin dan Tomy turut berdiri, menanti penjelasan dokter wanita itu.


"Dengar Ayah, setelah ini kau tidak boleh seenaknya kepada Bunda!" ucap Jessika menyerahkan tespect dengan dua garis berwarna merah yang masih samar.


Mata David sudah berkaca-kaca, ia meraih benda itu," apa aku akan segera menjadi ayah ?"


Mata Jessika sudah tergenang oleh cairan bening itu, ia tak menyangka Tuhan memberinya berkah yang luar biasa usai mengalami badai hidup.


David memeluk istrinya, membuat semua yang disana tersenyum bahagia. David bahkan mengeluarkan air matanya, ia menghujani istrinya dengan ciuman.


"Terimakasih sayang, terimakasih?"


"Nyonya tengah mengandung Tuan, tapi saya sarankan untuk datang ke tempat kami besok. Untuk melakukan USG!"


"Tom, kau atur semuanya besok!" ucap David tanpa menoleh kepada Tomy.


Tomy yang turut bahagia langsung saja menjawab, " Baik Tuan!"


Dalam hatinya berkata," Anakmu maunya di cetak ke pulau L dulu rupanya Tuan!" Tomy terkikik geli.


***


"Aku seneng banget, akhirnya kamu mau jadi mommy?" Eka memeluk erat sahabatnya itu.

__ADS_1


"Aku mau di panggil bunda aja, enggak mau mommy?" ucap Jessika.


"Kenapa, kau kan sudah jadi Bu Bos. Mommy kan keren, lagipula kau akan sudah jadi orang kaya!"


"Nama tidaklah penting, tapi peran nyata yang penting!" ucap Jessika tersenyum senang.


"Baiklah, yang jelas aku akan jadi aunty yang cantik dan baik untuk dia" ucap Eka mengelus perut datar Jessika.


"Apa kau tidak merasakan ingin sesuatu?" Eka selalu saja menjadi kepo.


"Tidak, hanya saja aku tidak suka dengan aroma mas David. Dan lebih senang jika di bantu Tomy?"


"Apa?, kenapa begitu!" Eka manyun, mendengar bila Tomy malah menjadi sasaran Jessika dalam hal perngidaman.


Jessika terkekeh," tenang, aku tidak akan mengambil Tomy mu!, tapi entah mengapa anakku sama dengan ayahnya. Masih dalam perut, sudah bisa merepotkan Tomy!"


"Apa Bu Bos, aku iri denganmu. Kapan aku bisa seperti kamu!" Eka memeluk sahabatnya itu.


"Kita besok berangkat jam berapa?" tanya Jessika.


Ya besok mereka akan menghadapi resepsi pernikahan Arin di hotel, sebentar lagi Arin akan menjadi ibu Persit. Dan akan mengikuti kemanapun suaminya di pindah tugaskan.


"Pagi lah, lawong acaranya pagi!"


"Duh Bu bos, gak nyangka ya kamu sekarang jadi bos aku, terus Arin dan bahagia sama Rendra, jadi istri tentara. Kayaknya aku aja deh yang punya nasib paling Hamsyooong!" ucap Eka.


"Kalian kurang gercep!"


Dari teman mereka ngobrol, terdengar sayup-sayup suara David dan Tomy yang berjalan ke arah mereka. Tengah mengobrol sesuatu yang penting, tak seperti mereka yang ngobos tidak jelas.


"Ayo kita pergi sekarang!" ucap David.


"Kemana?" Jessika mengernyit.


"Kamu lupa besok kan resepsi teman kamu, kita ke butik!" ucap David.


"Mas, baju kita Lo banyak. Kenapa musti beli yang baru!" bukannya pelit, namun Jessika merasa selalu saja suaminya itu terlalu royal.


Tomy masih diam, begitu juga Eka. Kalau sudah David bertitah, hanya Jessika lah yang berani menyela.


" Tidak, itu acara sahabat istriku. Kita harus tampil all out untuk besok!" mau tidak mau sikap diktator David membuat ketiganya kalah.


Mereka berempat melesat menuju butik terkenal di kota itu. Ya, tentu saja butik milik ini Jason. Pria yang membuat Tomy cemburu. Nita hati menolak, namun apalah daya jika tuan David sudah bersabda, maka itulah yang terjadi.


Tomy dan Eka berada di kursi depan, sementara Jessika bersama David di belakang.

__ADS_1


"Sayang, ganti parfummu, aku mual" Jessika menutup hidungnya.


David terlihat mencium ketiaknya secara bergantian, tak ada yang aneh. Bahkan biasanya istrinya sangat senang dengan aroma itu.


"Ini kan yang biasanya!" jawab David bingung.


"Ganti!!" ucap Jessika.


Menyadari ada bibitnya di rahim istrinya, David memilih mengalah. " Tom nanti kita mampir ke toko parfum!"


"Baik tuan!"


Eka hanya terkikik geli, ia masih ingat bet saat dulu David memarahi Jessika karena menumpahkan es di jaket mahalnya, dan sekarang lihatlah!, semesta memang kadang mengajak kita bermain-main.


Nasib baik tidak ada Jason di tempat itu, usai mendapat baju yang di inginkan mereka melesat menuju kota untuk mencari parfum.


"Yang ini?" David sudah menyodorkan puluhan aroma parfum kepada Jessika, namun tak ada satupun aroma yang membuat istrinya itu senang.


Tomy dan Eka masih setia menjadi penonton yang menahan tawa, karena Jessika terlihat seperti mengerjai seorang David.


"Astag Tom, aku sudah pusing. Coba kau Carikan saja istriku wangi mana yang dia mau, wangi manapun akan aku pakai asal dia senang!" David benar-benar menyerah, tak biasanya ia membeli parfum sendiri begini.


"Bagaimana dengan yang ini nona?" Tomy menyerahkan aroma maskulin pria, tentu saja jenis yang ia suka.


"Mana coba!!" David terlebih dulu ingin mengetahui aroma itu.


Tomy menyodorkan botol itu kepada David, " wangi apa ini!, tidak?" ucap David.


"Coba kau semprot ke tubuhmu!" pinta Jessika, saat Tomy masih menunggu persetujuan David.


"Sayang!" David menolak menggunakan parfum itu, jelas bukan seleranya.


Tomy menyemprotkan aroma itu ke tubuhnya, Jessika membuka lebar hidungnya untuk menghirup wangi yang membuatnya tenang sekaligus senang.


"Ambil yang itu saja Tom!"


"Apa?, oh ayolah!!" David menolak.


"Ya sudah kalau tidak mau, tidak usah!" Jessika merajuk. Membuat Eka sekali lagi terkikik geli.


"Kau pasti ingin balas dendam ya Jes, membalas perbuatannya di masa dulu!" ucap Eka dalam hati.


"CK, baiklah. Tom bayar dan segera kembali!" David menyusul istrinya yang merajuk, apakah ngidam adalah semacam ajang untuk membalas para suami?, yang benar saja!.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2