
.
.
.
Bella yang memang tengah dalam perjalanan pulang dari rumah sakit itu, tanpa keberatan mengiyakan permintaan Tomy.
Tomy terpaksa meminta bantuan Bella, karena tak mungkin ia menghubungi Adrian. Ia tak mau salah mengambil keputusan dengan melibatkan Adrian, orang kepercayaan David.
Instingnya mengatakan jika ini ada kaitannya dengan Jessika, dan juga David.
Terlihat banyak manusia beda usia yang keluar masuk tempat hiburan malam itu, ada yang sendiri ada yang bersama pasangannya bahkan mungkin selingkuhannya, entahlah.
Leo yang di tinggalkan dua orang tadi tidak menjawab perkataan saat Tomy berpamitan, ia sudah nyaris kehilangan kesadaran seperti Dejavu.
Ia juga mulai merasakan hawa panas yang menjalar keseluruhan tubuhnya, rasa gejolak yang ingin segera tersalurkan membuat rasa tak nyaman.
Tentu saja itu adalah reaksi dari minuman yang sudah terkontaminasi obat sialan itu.
Bela yang sudah memasuki tempat dengan lampu kelap kelip dan suara dentuman musik yang membuat kepalanya seolah ikut bergetar, mengedarkan pandangannya.
Ia menyapu ruangan disana dengan matanya, ia mendapati sosok yang ia cari tengah duduk lesu dengan banyak botol minuman di depannya.
"Aku sudah bersama Leo" ia mengirim pesan kepada Tomy agar Tomy tidak khawatir.
Flashback On.
"Halo Tom, ada apa" tanya Bella pada sambungan telepon yang baru saja ia terima.
"Nona bisa saya minta tolong kepada anda, tuan Leo sedang mabuk dia berada di club' X, jika tidak keberatan bisakah anda menemaninya dulu hingga saya kembali. Saya ada urusan sebentar saja" Tomy berbicara panjang dan membuat Bella tertawa, biasanya manusia ini hanya berbicara singkat.
"Tidak nona"
"Sudah nona"
"Baik nona"
Membuat Bella tertawa dalam hati, namun ia juga menangkap ada nada kekhawatiran pada suara Tomy.
"Mabuk?" ia berkata dalam hatinya.
"Baiklah aku sudah berada di jalan, aku akan segera kesana"
Flashback Off.
__ADS_1
"Leo" sapa Bella dengan menepuk punggung pria itu, ia terlihat menunduk.
"Le, apa kau baik baik saja. Sebaiknya kita pulang saja akan aku antar" Bella memandangi Leo dengan wajah dan mata yang sudah memerah dan mulutnya yang terus meracau tidak jelas.
Leo yang merasa tubuhnya mendapatkan sentuhan dari wanita, langsung mendongakkan wajahnya.
Ia sudah berhalusinasi, efek dari alkohol ditambah obat yang diberikan putri membuat dirinya makin gusar.
"Kau ada disini" suar Leo terdengar berat, namun masalahnya ia melihat wajah Jessika yang berada disana. Ia sudah benar benar berhalusinasi.
"Ia Leo, sebaiknya kita pulang saja. Kenapa bisa seperti ini" ucapnya seraya mengangkat tubuh kekar itu dengan berusaha memapahnya.
Leo makin tidak bisa mengendalikan rasa panas yang hampir menggila itu, dengan kesadaran yang masih tersisa ia mencoba menahan.
Ia berjalan keluar ,menurut pada Bella yang membawanya menuju kearah mobil. Langkahnya gontai, sempoyongan.
Bella juga terlihat kesulitan, akhirnya ia memutuskan meminta bantuan karyawan yang ada disana" mas bisa bantu saya memapah teman saya, mobil saya ada di depan" ucapnya.
Bella melajukan kendaraannya, Leo terlihat gelisah dan terus saja meracau" panas" kata itu terus saja mendominasi suara di dalam mobil yang kini di kemudikan oleh Bella.
Bella mengernyitkan dahinya, ada yang tidak beres pada pria disampingnya itu. Bella makin bingung saat melihat Leo mulai melepas kancing bajunya itu.
"Si al" Leo berusaha semampunya menetralisir rasa menggebu-gebu dari dirinya itu, namun semua menjadi sia sia. Efek obat itu sungguh memperdaya dirinya.
Bella makin kasihan melihat Leo yang seperti itu, ia kemudian berinisiatif membelokkan mobilnya ke hotel berbintang yang sudah terlihat berada di sisi kiri jalan.
Dengan susah payah ia membawa Leo yang keadaanya makin tidak karuan, bahkan petugas disana ikut membantunya.
Ia tidak memperdulikan pandangan negatif orang kepadanya, yang dia inginkan hanyalah segera bisa menolong Leo.
"Terimakasih banyak" ucapnya pada salah satu staff hotel yang tampak kikuk disana.
Bagaimana tidak seroang wanita cantik dengan waktu malam hari membawa seorang lelaki yang terlihat mabuk, telah check in di hotel tersebut.
Leo nampak berbaring di ranjang dengan sprei putih khas hotel berkelas, Bella dengan sigap mengisi bak besar dengan air dingin' di dalamnya, berharap itu bisa menolong Leo
Ia bukan tidak tahu apa yang terjadi pada Leo, namun ia mencoba membantu Leo dengan cara yang lebih rasional.
Leo sudah tidak kuat menahan gairah yang menguasai dirinya, tubuhnya makin panas menginginkan sesuatu untuk segera melampiaskan rasa dalam dirinya itu.
Bella mencoba menarik tubuh Leo untuk membawanya ke kamar mandi, namun Leo yang mendapat sentuhan itu justru merasa terpacu.
Bella yang lupa mengantisipasi akhirnya harus menanggung hal seperti ini, Leo merengkuh tubuh Bella dan menidurkannya dengan kasar di kasur pegas itu.
Leo mengungkung tubuh Bella membuat Bella terkejutnya bukan main, ia tahu jika dia salah. Harusnya ia meminta petugas laki-laki untuk membantunya.
__ADS_1
Membuat dirinya terancam akan kehilangan hal paling berharga dalam hidupnya.
Bella menjadi serba salah, disisi lain ia senang karena saat ini ia tengah bersama Leo, namun disisi lain ia tidak ingin melakukannya dengan cara seperti ini.
Tanpa menunggu lagi, Leo mencium bibir Bella, tak lupa Leo menjejaki dirinya membuat baju yang melekat di tubuh Bella menghambur ke lantai dengan berserakan.
Kasar dan terkesan menggebu-gebu, Bella yang ikut terbuai dengan sentuhan hampir kehilangan kesadarannya.
Sekuat tenaga ia mendorong tubuh Leo, "Leo stop jangan seperti ini" ia mencoba menjauh dari Leo.
Namun Leo yang tengah dikuasi obat si*l*n itu sudah tak bisa lagi menahan gelora panas itu, ia menarik paksa Bella membuatnya kembali pada posisi awal.
Kini bibir ranum itu ia sambar dengan lahapnya, tanpa ampun menjelajahi setiap inci bagian lainnya.
Leo merasa Dejavu, dalam pikirannya ia tengah menyalurkan hasratnya itu bersama Jessika. Emosi yang membuncah, pengaruh alkohol ditambah efek obat dari Putri membuatnya melakukan hal yang akan membuat dirinya dalam masalah.
Kamar itupun menjadi panas, AC dengan temperatur dingin itupun seolah tidak artinya disana. Terbukti dengan peluh kedua manusia itu makin mengucur.
Dengan beberapa hentakan ia berhasil menembus celah sempit itu, membuat Bella menitikan air matanya. Hal yang selama ini dijaganya, hilang sudah dalam sekejap.
Ia memang berharap melakukannya dengan Leo ,namun tentu dengan keadaan yang normal saat ia bisa menjadi pendampingnya kelak, Istri lebih tepatnya.
Dalam durasi yang lama mereka masih terlibat dalam penyatuan tak sengaja itu. Stamina seorang Leo Darmawan benar benar membuat Bella kewalahan.
Leo menyemburkan benihnya dengan banyak ke lahan milik Bella, membuatnya merasa lega sekaligus kelelahan.
Leo menjatuhkan tubuhnya di samping Bella, ia menarik tubuh polos itu kedalam dekapannya. Ia mencium kening berkeringat itu, " Terimakasih Jessika aku mencintaimu"
Cairan Kristal bening itu, lolos seketika dari mata Bella. Ia merasa hancur, kecewa dengan ucapan Leo baru saja.
Bagaimana bisa lelaki yang telah merenggut kesuciannya itu justru menyebut nama wanita lain, saat dirinya masih berada disana" bahkan saat seperti ini otakmu masih di penuhi dengan Jessika Leo".
Leo yang terlihat kelelahan karena selesai bercocok tanam itu, sudah lelap dalam sekejap.
Bella beringsut pergi dari dekapan Leo, ia berjalan sambil merasakan sakit di area sensitifnya. Ia juga melihat cairan berwarna merah yang sudah terserap kain sprei putih itu.
Ia mencoba memunguti pakaian miliknya ,yang sudah terhambur ke lantai dengan berserakan.
Sambil menghapus cairan bening yang terus mengalir tanpa seijinnya itu dengan punggung tangannya,ia berusaha mengenakan pakaiannya.
Sakit, hancur, kecewa entah kata apalagi yang bisa mewakili perasaan Bella saat ini. Pengorbanannya seolah menjadi sia sia, karena yang ada dalam pikiran Leo hanya Jessika, bukan dirinya.
Deringan ponselnya juga tak ia hiraukan, berkali kali Tomy menghubungi dirinya, memastikan jika Leo aman aman saja.
Tomy calling
__ADS_1
Bella membiarkan benda pipih itu berhenti bergetar, tak ada niat sedikitpun untuk menjawabnya.