
.
.
.
Morning sickness nampak dialami oleh Jessika, tapi tidak setiap hari. Ia berniat akan ke klinik kandungan milik teman Kevin besok, hari ini adalah hari bahagia untuk sahabat tercintanya, Arin.
"Udah siap?" David sudah rapi dengan setelan jas yang fit di badan kekarnya, terlihat mengenakan tuxedo berwarna navy lengkap dengan dasi kupu-kupu.
Ia mendatangi istrinya yang tengah bersolek, nampaknya ia kini sudah lebih pandai, dan tak perlu lagi mengundang jasa make up artist guna membuat tampilannya lebih kinclong.
Sementara Jessika mengenakan pakaian yang senada dengan suaminya, dress yang menampilkan sedikit bahu yang terbuka. Menampilkan bahu yang seputih susu.
"Sayang, kau cantik sekali. Aku merasa seperti kitalah yang akan jadi pengantin!" David mencium bahu putih istrinya tanpa jeda.
"Sayang berheni!, aku geli" Jessika bergeliat, rasa yang di buat David bisa membuat dia lupa nanti.
David terkekeh," nanti malam aku akan membuatmu tidak bisa berjalan lagi."
Plak
Jessika memukul lengan David," mesum terooss, gak ingat istrinya lagi bunting!"
David malah mengeratkan pelukannya, hidupnya benar-benar sempurna karena kehadiran Jessika. Ia amat bersyukur atas semua yang dikaruniakan Allah kepadanya.
"David, papa tunggu di depan!" suara ketukan dari Pak Edy membuat mereka harus bersiap untuk segera menyusul.
.
.
Tomy sudah terlihat tampan dengan balutan jas warna hitam, ia sengaja memilih warna reguler agar tak ribet.
"Tom, jangan lupa jemput Eka!" Jessika sudah duduk di kursi belakang mobilnya, tangannya bergelayut manja di lengan kekar suaminya.
Pak Edy memilih bersama Pak Eko yang berada di mobil satunya, menuju hotel tempat dimana gelaran resepsi akan diselenggarakan.
Rupanya Eka sudah menunggu, mungkin lipstik nya sudah kering. Ia sudah duduk di kursi depan rumahnya. Sungguh kekuatan alam, ia dan Tomy mengenakan baju dengan warna sama.
"Wih Tom, lihat kalian berdua sengaja couple ya?" goda Jessika dengan senyum menggoda.
Jangan memulai nona!
Tomy hanya berbicara dalam hati, namun ia melihat Eka yang tengah berjalan ke arah mereka dengan seksama. Terlihat cantik dan elegan. Tak terlihat seperti wanita pecicilan yang biasa ia lihat waktu di Gudang Utama.
" Wah yang couplean!" seloroh Jessika di belakang.
David hanya diam, tak mau menyela kebahagiaan istrinya yang memiliki hobi baru menggoda sahabatnya itu.
Eka juga kaget, pasalnya saat memilih ia sudah jatuh cinta dengan gaun yang pertama kali ia lihat, ya gaun yang dia pakai saat ini.
"Ah kebetulan aja Bu Bos, atau dia mungkin yang ikut-ikutan!" Eka memasang sabuk pengamannya, seraya menyindir Tomy yang diam.
__ADS_1
Tomy menghela nafasnya," kita jalan sekarang!"
.
.
Mereka sudah sampai di hotel, terlihat banyak sekali kendaraan yang terparkir. Mungkin dari keluarga mempelai pria yang juga sudah berdatangan. Jessika masih setia bergelayut di lengan David. Sementara Tomy dan Eka berjalan beriringan.
"Wih, edan tenan Bu Bos. Tentarane ganteng-ganteng tenan!" Eka malah mengagumi beberapa rekan Rendra yang hadir disana, memakai baju perwira untuk upacara pedang pora.
Tomy melirik Eka yang terkagum- kagum melihat para abdi negara yang berwajah tegas.
" Jangan norak!" Tomy mencibir Eka.
Eka menatap Tomy kesal," cemburu?"
Tomy malah meninggalkan Eka yang meledeknya, membuat wanita itu makin kesal." Gak ada lembut- lembutnya jadi pria. ihhhh!"
Tomy
Mereka memasuki ballroom yang luas, menjelaskan jika suami Arin merupakan orang dengan keadaan yang terbilang berada.
Saat sampai di dalam, Tomy bertemu dengan Clarissa. " Tomy, kamu disini?" Clarissa terlihat senang saat melihat Tomy.
"Iya, mempelai wanitanya mantan pegawai di tempatku!" jawab Tomy biasa.
"Rendra adalah teman sekelas ku dulu sewaktu SMA!" Clarissa menerangkan.
Tomy hanya manggut-manggut.
Eka
"Gemblung tenan!!, ninggal aku cuman buat bertemu wanita itu!!"
Eka berjalan mendekati dua manusia beda jenis itu, berniat membuat kekacauan.
"Minggir ngobrol jangan di jalan, no cari kursi?!" Eka menabrak dua orang yang sedang berbicara itu. Membuat Clarissa terhuyung!"
"Astaga!!" ucap Clarissa menahankan keseimbangannya.
"Kau tidak apa-apa?" Tomy tentu saja terkejut, sejurus kemudian ia menatap Eka.
Eka malah menjulurkan lidahnya kepada mereka berdua, kemudian dengan dada panas melesat mencari keberadaan Jessika.
"Siapa wanita itu?, tidak sopan sekali!" Clarissa mendengus kesal.
***
Rendra adalah salah satu prajurit dari Matra Angkatan laut, garis hidupnya didedikasikan untuk mengabdi kepada negara. Cinta mereka yang dirajut dalam indahnya upacara pedang pora membuat semua disana baper, tak terkecuali Eka.
"Duhhh, beruntung banget si Arin. Aku iri deh?" bisiknya saat berdiri di samping gelaran karpet, yang tengah terisi oleh para prajurit gagah yang akan mengikuti upacara.
Tomy nampak jauh dari Eka, nampaknya ia tahu bila wanita ceriwis itu lagi-lagi merajuk karena kehadiran Clarissa.
Arin dan Rendra sudah siap untuk melalui gapura yang terbentuk dari hunusan pedang yang di pegang oleh rekan-rekan seangkatan Rendra ataupun adik angkatannya.
Upacara itu sebagai langkah pengiring seorang prajurit dalam melepas masa lajang mereka, simbol solidaritas dan rasa persaudaraan para prajurit dan simbol menerima pasangan dari prajurit sebagai kekuarga besar Matra mereka.
__ADS_1
Semua saling mengangkat ponsel mereka, tak mau ketinggalan untuk mengabadikan moment apik ini.
Jessika tersenyum sepanjang mengikuti acara itu, ia bahagia akhirnya sahabatnya juga menemukan separuh jiwanya. Tinggal sahabat cerewet di sampingnya ini.
***
Mereka kini tengah memberikan ucapan kepada Rendra dan Arin. Jessika dan David ada di urutan pertama setelah para orang tua terlebih dulu.
"Selamat atas pernikahan kalian, semoga bahagia selalu!" ucap David kepada kedua mempelai.
"Terimakasih Tuan, sudah datang kemari" Arin begitu merasa terhormat karena David mau datang ke pesta mereka.
"Terimakasih Tuan, adalah kehormatan anda bisa berada di pesta sederhana kami!" ucap Rendra mengangguk sopan.
"Selamat ya sayangku, aku bahagia banget" Jessika memeluk erat sahabatnya itu, mereka saling menitikan air mata. Tak menyangka bila gadis desa seperti mereka bisa bernasib baik seperti saat ini. Menemukan kebahagiaan.
Kini giliran Eka, Tomy dan dibelakang mereka ada Clarissa menyusul.
"Aaa sayangku. Selamat enak- enak ya. Kalau bisa live streaming ya. Biar aku tahu hihihi!!" sudah pasti Eka paling gila dan heboh.
Pletak
Tomy menjitak kepala wanita itu, terlalu frontal. " CK, kau ini kenapa sih!" Eka mendengus kesal.
"Cepat, antrian di belakang panjang!"
.
.
Eka dan Tomy berpisah meja dari Jessika dan David, mereka tengah menyantap jamuan makan.
Rupanya Clarissa mengekor di belakang Tomy dengan tak tahu malunya, ia masih belum tahu kedekatan keduanya. Ya karena Tomy memang selalu bersikap B aja.
Tomy duduk bersama kedua wanita di samping kanan dan kirinya, berada di meja bundar hendak menikmati sajian lezat dari hotel itu.
"Sepertinya aku pernah melihatmu!" ucap Clarissa tak suka pada Eka.
"Benarkah?, aku memang cantik jadi wajar kalau kau melihatku dimana-mana. Wanita cantik memang selalu ada dimana- mana!"ketus Eka.
Tomy mulai merasakan aura tegang. Tak nyaman. Namun ia masih fokus dengan piring dan sendoknya.
"Cantik tapi , tapi kau sungguh tidak sopan!"
"Setidaknya aku lebih sopan dari kamu. Dan lebih tau diri!"
"Apa maksudmu?" ucap Clarissa.
"Biar ku kasih tahu apa itu kesopanan!"
Tomy mulai memasang kesiagaan, jelas ia tak bisa menganggap remeh suara Eka yang sudah naik lima oktaf.
"Orang yang sopan tidak akan memeluk pacar orang sembarangan!"
"Apa maksudmu?" Clarissa tak mengerti ucapan Eka.
"Dia pacar ku, dan kita akan segera menikah. Iya kan sayang!" Eka bergelayut manja di lengan Tomy, tersenyum penuh paksa seraya mencubit perut Tomy.
Tomy mendelik, dan mendadak tersendak makanan demi mendengar ucapan Eka.
__ADS_1