Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 51. Pertolongan Selalu Tuhan Sediakan


__ADS_3

.


.


.


"Mbak mbak, sudah sampai terminal" ucap salah seorang petugas bus itu, membangunkan Jessika yang masih tertidur.


"Oh iya pak" jawab Jessika yang masih memulihkan kesadarannya.


Ia kemudian turun dan menunggu barang bawaannya di keluarkan dari bagasi barang, Jessika kembali mengecek ponselnya tapi sampai siang hari Vera masih belum bisa di hubungi


Ia bingung kini harus bagaimana, akhirnya ia menuju mushola yang berada di area terminal tersebut untuk melaksanakan shalat dhuhur.


Jessika meletakkan barang bawaannya di lantai dekat tempat ia akan shalat, selepas menunaikan kewajibannya itu ia meluruskan kakinya yang terasa pegal.Ia juga merasa lapar, tapi dia sangat bingung akan kemana setelah ini, nomer Vera juga masih belum bisa ia hubungi, apalagi dia belum pernah berpergian sejauh ini seorang diri pula.


Akhirnya dia memutuskan untuk makan di warung tenda pinggiran jalan di dekat terminal itu.


"Mbak ojek mbak, mbak becak mbak" riuh suara para pencari rejeki moda transportasi lain di area terminal itu, para pedagang asongan juga terdengar menawarkan barang.


"Buk Beli sotonya satu sama es teh ya" ucap Jessika pada pedagang itu.


"Ini mbak soto sama es nya" ucap pedagang itu menyajikan pesanan Jessika saat sudah siap.


Jessika lantas menyantap makanan itu, ia begitu lapar dan lelah. Ia tak menyangka untuk kali pertamanya ia berada di kota.


"Mau kemana mbak, kok sendirian" tanya ibu penjual soto.


"Em saya sebenarnya mau ke tempat teman saya buk, tapi nomer teman saya belum bisa di hubungi kemaren bilangnya di daerah NN"


"Masih jauh mbak dari sini, biasanya naik angkot biru itu dulu kalau jurusan daerah NN"

__ADS_1


Jessika makin bingung, ia juga tidak mempunyai kenalan selain Vera, apalagi ia juga tidak pernah keluar kota.


Setelah selesai membayar ia kemudian pergi, entah akan kemana kakinya akan membawanya, ia berjalan sambil membawa satu kardus dan satu tas berisi pakaian di tambah satu tas samping yang ia pakai.


"Ya Allah aku harus kemana ini" ia terus berjalan sampai berkilo kilo panjangnya, sampai merasa kelelahan dan beristirahat di sebuah kursi yang ada di depan sebuah minimarket.


Seorang pemuda tengah membuka pintu minimarket, ia terlihat akan keluar dari tempat itu setelah membeli beberapa kebutuhannya. Tapi matanya menangkap sosok wanita yang tengah duduk, dan ia seperti mengenalnya.


Tapi ia tidak yakin jika itu adalah adalah wanita yang dia kenal, bagaimana bisa ia berada di sini, begitu pikirnya.


Karena penasaran ia mendekati wanita yang tengah duduk di sebuah kursi itu, "Jessika" ucap pria itu.


"Mas Dhika" ucap Jessika yang kaget karena dihadapannya ada seseorang yang ia kenal, ya benar dia adalah Adhika.


Andhika Prakasa Satya, lelaki yang berusia sepadan dengan Jessika itu adalah pria yang berasal dari kampung dimana Jessika tinggal, ia berada di kota S karena sedang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi jurusan kedokteran.


Lelaki yang memiliki perasaan pada Jessika semenjak ia bersekolah dulu, "Kamu kenapa bisa disini, terus kamu sendiri?" tanyanya.


"Aku sendirian mas, tadinya aku mau ke tempat temanku tapi nomernya tidak bisa di hubungi sampai sekarang" ucapnya.


Jessika lantas menceritakan tentang alasan ia datang ke kota S, bahkan ia juga bercerita tentang kejadian yang menimpa dirinya di kampung, sehingga membuat dia kehilangan pekerjaannya.


"Astaga Jes, aku turut prihatin. Tapi kamu tenang aja, kebenaran itu gak akan pernah meninggalkan kita jika kita ini jujur dan emang gak berbuat, entah kapan waktunya semua akan terbongkar dengan cara apapun" ucap Andhika memberikan kekuatan buat Jessika.


"Terus sekarang kamu mau kemana ini" tanya Andhika kembali.


"Aku tidak tau mas, aku juga ga ada saudara disini" jawab Jessika.


Andhika merasa sangat kasihan dengan Jessika, kalau dia membawa Jessika ke kontrakannya takut terjadi masalah karena bukan muhrim, tapi ia tidak tega melihatnya berada di kota S tanpa tujuan begini.


"Begini saja kamu singgah di kontrakanku dulu aja ya , sambil nunggu teman kamu itu menghubungi kamu, kalau sampai sore ga ada kabar kamu tak carikan kost yang dekat dengan kontrakanku" ucap Andhika.

__ADS_1


Jessika langsung menyetujui saran Andhika, menurutnya itu akan lebih bagus dari pada ia bingung harus kemana.


*****


Hari itu Leo tidak berkunjung ke perusahaan, karena David sudah ada disana. Ia lebih memilih untuk ke restoran miliknya, usaha milik pak Darmawan terbilang banyak, namun ia membiasakan diri dengan hidup bersahaja.


"Selamat pagi tuan" ucap Tomy yang hari itu berada disana untuk memonitoring para karyawannya.


"Pagi Tom, apa ada masalah" tanya Leo.


"Tidak tuan semua dalam kendal" jawabnya datar.


"Tuan apa ada yang bisa saya bantu" tanya Tomy kembali yang seperti melihat ada sesuatu yang disimpan dalam hati tuannya itu.


"Jessika, entah mengapa gadis itu selalu ada di pikiranku tom. Kau tahu bahkan sekarang aku tidak bisa menghubunginya" ucap Leo yang duduk di meja ruangan pribadinya.


"Apa saya harus bertindak tuan, saya dengar nona Jessika terlibat kasus pencurian"


Leo menyodorkan ponsel yang menunjukkan sebuah video saat kejadian wanita yang memang seperti Jessika itu mengambil uang, dan hendak kabur.


Tomy hanya menontonnya dengan wajah datar, namun bisa ia simpulkan disana, ada sedikit kejanggalan.


Leo pun menceritakan kronologis kejadian itu berdasarkan cerita yang di sampaikan papanya, tentang hilangnya seorang mandor yang bernama pak Eko setelah kejadian itu.


"Bisa anda kirim video itu pada saya tuan" punya Tomy


Dan saat itu juga Leo melakukan apa yang di pinta Tomy, Leo juga tidak percaya dengan semua itu.


Mungkin saatnya bagi Tomy untuk beraksi, namun kali ini ia akan menjalankan misinya dengan rapi dan dengan bergerilya.


Tentu saja dengan bala bantuan team nya yang mumpuni, Tomy adalah pribadi yang bisa diandalkan dan juga lebih mengutamakan bekerja dari pada berbicara.

__ADS_1


__ADS_2