
.
.
.
Seorang wanita dengan mata sayu dan sembab ,menatap nanar jendela kamar sederhananya. Pikirannya kosong dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Nduk makan dulu, ini Mak wek masak kesukaan kamu" ucap mbok yah membujuk.
"Aku masih belum lapar Wek, nanti aku ambil sendiri saja" ucap Jessika tanpa mengganti pandangannya.
Mbok yah sangat sedih, bagaimana tidak jam sudah menunjukkan pukul 13.07 namun cucunya belum mau makan apapun.
Mbok yah lantas duduk di samping cucunya," kamu tahu nduk, dulu ayahmu saat kecil pernah menangis, tapi ia bukan menangis karena minta jajan. Ia menangis saat melihat nasi yang tumpah bersama lauknya, dan lauk itu adalah lauk yang sama dengan yang kamu sukai. Karena dulu hidup Mak wek sangat sulit, dan kakek mu juga jarang mendapat uang.Sehingga kita semua harus terbiasa makan seadanya, oleh karena itu saat ayahmu melihat nasi yang tumpah bersama lauknya itu ia mengambil lagi lauknya dan mencucinya, karena ia tahu entah kapan lagi ia akan menjumpai lauk itu dalam piringnya".
Jessika seketika menangis, sesusah apapun hidupnya saat ini namun ia masih bisa hidup lebih baik dari ayahnya. Saat itu juga Jessika mengambil piring makanan yang sudah di bawakan oleh neneknya itu, dan memakannya sambil menangis sampai tidak bersisa nasi satu butir pun.
Mbok yah juga menangis di samping cucunya, ia tidak tahu mengapa cobaan cucunya begitu bertubi tubi. Ia berharap semoga ia diberikan panjang umur, agar ia bisa terus mendampingi cucunya itu.
Mbok yah percaya jika suatu hari nanti Jessika akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik, ia percaya bahwa saat mendung dan hujan pun matahari sebenarnya masih bersinar.
****
Hari berganti hari, dan semenjak kejadian itu Arin dan Eka melakukan pekerjaannya tanpa sosok Jessika di dekatnya. Mereka juga tidak seceria saat masih ada Jessika, mereka pun kini jarang berbicara pada David.
"Teman si maling masih ada disini ya, jangan jangan kalian maling juga" ucap putri pada Eka dan Arin yang tengah sibuk di gudang itu.
"Jaga mulutmu ya put" ucap Eka sambil menggebrak meja karena emosi, sampai sampai membuat semua pekerja menatap mereka.
__ADS_1
"Stop Eka, udah jangan di jawab apapun yang dikatakan anak itu" ucap Arin memperingati sahabatnya itu.
"Wow...para wanita kasar yang tidak tahu etika!" ucap Putri sambil berlalu.
Putri sering ikut kegiatan ayahnya selama dia masih libur kuliah, saat ini tentu dia sangat merasa diatas angin.
"Kak David, aku ikut ya mau sekalian beli sesuatu" ucap putri yang pada David saat hendak masuk ke dalam mobil.
"Masuklah" Jawab David sambil mengangguk.
Di dalam mobil mereka hanya diam, David sibuk dengan pikirannya juga dengan kemudinya dan Putri sibuk dengan lamunannya.
"Kalau di lihat kak David tampan juga, meski ia terlihat lebih garang dari kak Leo" ia bergumam dalam hati.
Namun saat di perjalanan karena David melamun ia hampir saja menabrak Jessika dan neneknya yang tengah membawa beberapa bungkus nasi untuk mereka jual.
Ciiiiiiiiittttt...
"Astagfirullahhaladzim" ucap mbok yah yang terkejut.
Seketika mereka berdua turun dari mobil, dan David kaget saat mendapati orang yang nyaris ia tabrak adalah Jessika.
"Mbok yah, anda tidak apa apa mbok" tanya David khawatir.
"Tidak apa apa den" ucap mbok yah sambil memunguti nasi yang jatuh tercecer.
"Apa kau tidak bisa menyetir dengan benar tuan, sampai dijalan desa seperti ini saja kau Gambir membuat kami celaka" ucap Jessika yang kesal karena dagangan mereka harus rusak seperti itu.
"Maaf, tadi aku ... " ucap David namun tidak bisa meneruskan kata katanya karena di sahut oleh putri.
__ADS_1
"Gak sopan banget kamu, udah salah nyolot. Kamu harusnya kalau nyebrang lihat lihat dulu" ucap putri malah balik menyalahkan.
Tentu saja Jessika tidak terima, ia bukan orang lemah yang hanya diam jika di tindas "apa maksudmu" ucap Jessika sambil mendorong tubuh putri.
"Hey hentikan" David tanpa sengaja membentak Jessika di depan mbok yah dan putri, yang tentu saja membuat Putri tersenyum.
David tanpa sengaja berbicara agak keras, karena sungguh ia tidak suka dengan keributan apalagi Jessika sudah pernah ia peringati untuk tidak berbuat hal seperti itu.
Jessika langsung kaget dengan nada bicara David yang sudah meninggi itu, " apa anda membentak saya hanya karena saya ingin membela diri saya tuan".
"Jessika, kamu itu perempuan tolong jangan berbuat anarkis" ucapnya memberi pengertian.
"Dasar maling, gak berpendidikan" ucap putri yang sukses membuat Jessika meradang.
"Brengsek kamu put, aku bukan maling" Jessika mengumpat sambil mendorong tubuh putri karena ia tidak terima dikatakan seorang maling, hingga ia terjerembap ke tanah.
Jessika hanya ingin membuat putri mengerti bahwa ia bukanlah wanita yang seenaknya bisa ditindas, meski keadaanya miskin.
"Jessika keterlaluan kamu" ucap David sembari mengangkat tangannya hendak memukul Jessika.
"Tuan mau memukul saya, silahkan pukul tuan" ucap Jessika yang tengah emosi.
"Dan ingat ini baik baik, saya bukan maling" ucapnya dengan penuh penekanan.
David lantas menurunkan kembali tangannya dan berteriak, menyalurkan emosi yang sudah di ubun ubun.
"Ayo Wek kita pergi, berurusan dengan orang kaya seperti mereka memang tidak ada benarnya untuk kita" ucap Jessika seraya menggandeng tangan neneknya pergi.
Entah mengapa Jessika amat benci saat melihat David membela putri, ada rasa tidak senang di hatinya, rasa sedih tapi apa ia dia cemburu.
__ADS_1
Kini dia menjadi benci kepada David, sungguh hidupnya kini sial. Setelah dikeluarkan dari pekerjaan, ia malah bersitegang dengan David karena membela putri.
David sebenarnya menyesal karena membentaknya tadi, tapi ia tidak mau sampai Jessika terlalu kalab ,sehingga itu akan membuat dia bermasalah dengan hukum nantinya, begitu pikir David.