
.
.
.
Jack tentu saja merasa malu. Ia pria yang menjunjung tinggi harga diri. Ogah direndahkan.
" Mulutmu!" Jack meremas bibir Victor, membuat kesemua yang disana tergelak. Apalagi Bella, wanita itu bahkan sampai menangis karena melihat Jack dan Victor bertengkar.
" Kalian ini apa selalu saja seperti itu?" Bella memang jarang melihat Jack dan Victor, tapi dari cerita suaminya abdi dalem rumah mertuanya itu memang unik.
" Kalau sudah saya permisi Bu!" Gendis merasa dia harus bekerja. Tidak layak juga untuk bergabung di obrolan para petinggi keluarga itu. Apalagi, ia tak tahan karena merasa di perhatikan terus menerus oleh Jack.
" Ya sudah semuanya ayo sarapan dulu?" Tutur Jessika kepada semua orang disana.
Leo terlihat ngobrol bersama David di sofa ruang tengah, sementara Pak Edy asik bermain dengan Claire dan Deo yang di temani mbak pengasuh Claire yang turut ikut kesana.
Pria tua itu merasa kembali bersemangat, jika bersama cucunya.
" Sini Opa minta balonnya!" Pak Edy nampak tak lelah bermain dengan cucunya yang baru bisa berjalan itu. Ya, Claire kini sudah bisa berjalan meski dengan langkah pelan.
" Papa jangan capek- capek, ayo kita sarapan dulu!" Jessika selalu mengingatkan mertuanya itu, usia yang kian senja membuatnya harus cerewet agar pak Edy awet sehat.
" Iya...tenang saja, papa seneng banget soalnya kalau anak cucu papa lagi ngumpul begini!" Pak Edy jujur akan hal ini.
Ucapan Pak Edy barusan, tak pelak membuat Jessika dan Bella tersenyum.
" Lin, Claire kamu suapin di sini aja ya. Habis itu kami makan!" ucap Bella kepada babby sitternya.
" Baik Bu!"
Keluarga Darmawan beserta para anak buahnya duduk dalam satu meja besar itu. Tentu saja Pak Edy yang duduk di singgasana utama. David yang berada di sisi kanan berhadapan dengan Jessika, lalu Leo yang berhadapan dengan Bella, Jack dan Victor yang saling berhadapan, terkahir Dion dan Laras sebagai anggota baru disana.
" Kita makan dulu, nanti baru kita ngobrol!" titah Pak Edy kepada semua manusia disana.
Dan benar, semua anggota itu makan dalam senyap, hening dan teratur. Pak Edy merasa bahagia sekali, di hari tuanya itu ia bisa melihat anak cucunya yang sehat tak kekurangan satu apapun.
" Jadi begini Dion , Laras!" ucap David memulai pembicaraan serius. Membuat kesemua yang disana turut memasang wajah serius.
" Sekolah ini konsepnya belajar dan bermain. Anak-anak disini sangat berbeda karakteristiknya dengan anak di kota. Ya, mekanismenya kalian sendiri lah yang tentukan!"
" Poin yang penting, bagaimana agar orang tua itu terus mau menyekolahkan anak mereka hingga jenjang tinggi!"
" Dan pondasi awal kita mulai dari TK dulu. Tugas kalian gak cuma ngajar, tapi cari pendekatan buat tahu persolan apa sih yang terjadi di lapangan. Keluhan mereka mungkin, siapa tahu Darmawan Group bisa batu!"
__ADS_1
Terang David pajang lebar. Dion dan Laras masih tekun menyimak penuturan dari sang Bos besar di desa itu.
" Kalian kalau disini juga berarti adalah keluarga saya juga. Jaga integritas dan nama baik Darmawan Group!"
" Baik Bos!" ucap keduanya kompak.
.
.
Rumah sepi, hanya ada Pak Edy bersama mbak pengasuh Claire serta Jessika dan Deo. Bermain diatas permadani lembut.
Bella bersama Leo dan Jack pergi ke Gudang Utama. Sementara David , Victor bersama Dion dan Laras menuju TK Tunas Rimba.
Antusias warga terasa disana, ada sekitar 25. Angka yang cukup baik sebagai langkah awal anak yang mendaftarkan diri. Tomy sudah membereskan birokrasi rumit terkait sertifikasi bangunan, izin, serta hal lainnya yang menyangkut sekolah tersebut.
Berikutnya, urusan akreditasi dan *****-bengeknya, David masih memercayakan semua hal itu kepada Tomy.
Anak-anak yang mendaftar itu tergolong dari keluarga menengah kebawah. Jarak antara RT itu untuk menuju TK yang biasanya digunakan sekolah terbilang jauh. Membuat David membangun TK itu persis di sebelah balai dusun desa Purwo itu.
Mayoritas orang tua wali yang bekerja sebagai buruh sawah, beberapa ada yang bekerja di lahan pak Edy dan sebagian lagi sebagai penyadap Pinus itu, membuat sekolah tak menjadi prioritas utama.
Kebanyakan mereka punya banyak ternak, sapi, kambing, kerbau namun tak mementingkan birokrasi pendidikan sejak dini.
" Hallo anak-anak!" kali ini Laras yang membuka suara, usai serangkaian seremonial dan pemotongan pita pertama dilakukan secara simbolis oleh David.
Victor menjadi bagian dokumentasi saat itu. Dibawah gempuran matahari di cakrawala, Victor tetap semangat dengan tawa riang anak-anak itu.
" Haloooo!" Mereka kompak menjawab, tapi beberapa ada yang malu , menangis bahkan diam saja. Sangat terlihat bila mereka tak mendapat perhatian dari orang tuanya yang mungkin sibuk bekerja di hutan.
" Oke Bu guru mau kenalan dulu nih sama semuaaa yang ada disini?" Wanita tegas bernama Laras itu nampak mahir sekali. Wanita pemegang sabuk hitam karate itu, nampak bermetamorfosa menjadi wanita lembut.
Darmawan Group memang tak pernah salah dalam merekrut anak buah.
" Saya Bu Laras...nanti akan bantu kalian semua buat belajar, dan yang ini.." tunjuk Laras kepada Dion.
" Namanya Pak Dion!" Beliau nanti yang bakal ajarin anak-anak semua buat gambar, terus olahraga dan satu lagi Pak Dion ini jago banget mekukis loh..!" Laras berbicara apa adanya.
David sekilas turut tersenyum. Ia ingin mengabadikan hal ini untuk di laporkan kepada istrinya.
Dari ke dua puluh lima anak, rupanya ada satu anak yang datang terlambat. Bersamaan dengan itu seorang wanita muda terengah-engah saat mengejar bocah gesit itu.
" Bian!!" tunggu Bunda!!" Anjana berteriak dengan suara kelelahan. Anaknya itu nampaknya berapi-api tanpa memperdulikan dirinya.
" Bu guluuuu....Bian mau cekolah!!!!" Bocah gembul yang memakai sepatu putih dengan mengenakan kaos dan ransel merah bergambar karakter superhero itu nampak berlari kencang. Melesat menuju kerumunan bocah seusianya yang sudah berbaris rapih.
__ADS_1
Membuat kesemua yang disana menatap ke sumber suara. Bahkan para ibu- ibu lain turut melayangkan pandangan kepada Anjana.
Laras tersenyum, ia senang dengan bocah penuh semangat itu. Disaat yang lain masi malu- malu, ia merasa anak itu bisa menjadi magnet untuk yang lain.
" Hallo boy nama kamu siapa?" Laras menyongsong kedatangan Bian.
" Saya Bian Bu gulu. Bian tinggal Bunda dicana, coalnya lama. Teman-teman Bian udah dicini cemuanya!" Bocah cadel itu rupanya menangis karena rombongan ibu-ibu sudah berduyun-duyun berangkat sejak pukul tujuh kurang tadi.
Dengan nafas tersengal, Anjana mengatur nafasnya di depan banyak orang itu. " Maaf Bu, saya terlambat!" ucap Anjana dengan suara tersengal.
Laras tersenyum, " Bang Vic..kasih minum ibu ini dulu!" Ia meneriaki Victor yang sibuk dengan kameranya. Laras meminta Victor karena pria itu berada di jarak yang paling dekat dengan kardus berisikan botol minuman yang sengaja David bawa untuk dibagikan.
Pria itu tak mengetahui bila ada wanita yang nyaris semaput karena mengejar anaknya.
" Ambilkan air itu Vic!" ucap David mengulang permintaan Laras.
Menyadari tatapan mengintimidasi dari David, Victor langsung memasukkan ponselnya ke dalam sakunya.
" Ini!" Victor masih tak nyambung, ia menyerahkan sebotol minuman manis itu kepada Dion. Victor pikir Laras yang minta minum.
" Itu Bang!" Ucap Dion menunjuk ke arah Anjana yang kembang kempis. Membuat pria itu terpaksa berjalan menuju seorang wanita yang tengah berdiri sambil mengucek matanya karena kelilipan debu.
" Ini minumnya!" Victor dengan gugup menyerahkan sebotol air itu kepada Bunda Bian. Mata Victor membulat, wanita hitam manis itu membuat dada Victor berdesir.
Wanita itu manis sekali batin Victor.
" Terimakasih!" Anjana langsung meneguk sebotol air pemberian Victor itu hingga tandas. Walau hanya berjalan dan berlari sejauh lima ratus meter, Anjana nyaris saja pingsan karena tak biasa berlari.
" Ehem..Bang, bisa balik ke belakang dulu saya mau lanjut briefing anak-anak!" Laras berdehem karena merasa Victor tak kunjung pergi. Pria itu malah mematung menatap Anjana yang asik meneguk minuman itu.
.
.
.
.
.
.
Visual Victor
__ADS_1