Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 179. Bertemu Lagi


__ADS_3

.


.


.


Gendis merasa dadanya bergemuruh bahkan ketika ia dan Sono sudah berada di jalan. Apa menjadi orang miskin selalu akan seperti ini hingga riwayatnya tamat. Ia bahkan tak puas hanya menonjok Jack dengan satu pukulan saja.


" Oalah Ndis, kamu ini gimana. Nanti kalau mereka gak terima gimana?" Sono ketakutan. Pria itu merasa tak tenang.


" Aku gak takut Son! Orang miskin kayak kita, cuma punya harga diri yang tersisa. Gak ada lagi!"


" Kalau harga diri masih mau mereka renggut juga. Abis kita Son!"


Gendis tancap gas dengan wajah berengut. Entahlah apa yang akan terjadi setelah ini. Ia begitu membenci pria dengan gaya bicara culas itu. Gendis bahkan tak sempat mengetahui siapa nama pria itu. Namun buku-buku tangannya, sudah menghadiahi wajah pria itu dengan bogem mentah.


.


.


" Aku berangkat dulu sayang. Kalau jadi lusa aku sama Tomy mau keluar kota. Ngurus ijin dari kementrian itu susah banget ternyata!" ucap David yang berada di singgasana meja makan itu.


Jack dan Victor yang berada di kursi paling ujung hanya diam menikmati sajian mereka.


Ya, setiap hari Jack, Victor, David, Jessika dan pak Edy makan dalam satu meja. Semua itu atas perintah pak Edy. Pria tua itu senang jika meja makan terisi banyak orang. Beliau juga sudah menganggap Jack dan Victor sebagai bagian dari keluarganya.


" Memangnya kamu gak bisa pakai pengacara aja Vid?" sahut pak Edy.


" Kelamaan Pa. Aku pingin cepet-cepet PT kita jadi. Biar Deo nanti bisa ambil alih kalau dia udah dewasa nanti!" tukas David usai meneguk segelas susu buatan istrinya.


Jessika selalu memperhatikan asupan nutrisi suaminya itu.

__ADS_1


David dan Jessika sudah merencanakan masa depan Deo sedemikian rupa. Jessika memiliki impian, bila usahanya bisa sedikit menekan angka kemiskinan di Kabupaten B itu


Salah satunya dengan jalan membuka lowongan pekerjaan baru di bidang pelayanan jasa penumpang pesawat udara itu, dengan harapan akan banyak menyaring tenaga kerja lokal dari seluruh pelosok kabupaten B.


Jessika yang pernah merasakan hidup dari bawah itu, nampaknya kini lebih bisa menghargai orang lain. Ia yakin, satu kebaikan yang di tanam, akan merambah ke kebaikan yang lain.


" Kalau kamu ngajak Tomy terus. Kapan Eka hamilnya!" ucap pak Edy polos. Membuat Jack tersedak.


" Kamu kenapa Jack, pelan aja dong!" Jessika kini lebih perhatian ke semua anggota keluarganya. Termasuk dua anak buah kepercayaan suaminya itu.


Jack dan Victor sebenarnya berusia hampir sepadan dengan Jessika. Namun, karena Jessika adalah istri bos-nya. Tentu mereka harus memanggil dengan sebutan yang sudah di tentukan.


" Enggak Bu, ini terlalu enak makanya saya kecepatan makannya!" bohong Jack. Ia sebenarnya terkejut karena pak Edy berbicara gak absurd di meja makan.


David hanya mencibir.


" Oh iya Vic, referensi kamu kemarin ada yang saya tolak. Mereka dari kota lain. Kalau ada yang asli warga sini, kamu langsung ganti aja deh. Biar Kabupaten kita makin sejahtera!" ucap Jessika.


" Oh, baik Bu. Saya bisa open recruitmen lagi. Untuk posisi supir sama back office!" sahut Victor.


Jika di gambarkan, perkebunan cabai milik pak Edy itu luasnya nyaris menyentuh angka ratusan hektar. Terbagi dalam beberapa lokasi.


Kebanyakan dari areal persawahan yang di keringkan. Sementara Gudang utama, adalah bangunan besar yang mirip seperti kantor pada bagian depannya. Di bagian belakang, terdapat lahan yang luas untuk proses sortir komoditi, penimbangan, pembungkus, serta pelabelan.


Dalam kurun waktu hampir dua tahun saja, karyawan mereka sudah mencapai ribuan orang. Meliputi mandor, petani, pekerja di gudang, bagian frontline, pekerja di pabrik sambal yang baru beroperasi, hingga supir pengiriman.


Bisa di bayangkan, hampir dari warga di sana menggantungkan asa kepada Darmawan Group. Sementara Leo sudah tenang bersama Bella di kota dengan perusahaan manufaktur yang kian maju dengan pesatnya.


Namun, sudah menjadi kebiasaan. Bila mereka yang kaya, masih terus gencar melebarkan sayap di industri usaha lain. Seperti usaha Ground Handling yang kini tengah mereka perjuangkan.


" Kami sudah selesai. Kami pergi dulu ke petak lima Bos!" pamit Jack kepada David.

__ADS_1


" Hemm...Jangan lupa siang balik, jangan sampai Istriku susah-susah menyiapkan masakan tapi kalian gak pulang!" David selalu saja memperingati dia pria yang berbeda lima tahun darinya itu untuk taat aturan.


" Siap bos!"


...***...


Begitu tiba di petak lima yang jaraknya paling jauh dari Gudang, Jack dan Victor mulai bekerja. Victor yang lebih dulu mengerti sistem pekerjaan di bidang pertanian itu lebih mudah dalam menjalankan tugasnya. Sementara Jack, ia lebih ke tugas Operasional kantor.


Mereka berdua selalu memastikan bila bibit yang di tanam harus sesuai jadwal. Masa panen, perawatan tanaman dengan penyemprotan rutin, bahkan hingga pemetikan, harus mereka kontrol secara berkala. Meski seringnya, itu akan menjadi tugas para mandor. Namun, setidaknya mereka juga harus melakukan sidak.


" Gue gak kebayang bakal hidup sejahtera di desa seperti ini Vic!" ucap Jack seraya berkacak pinggang, menikmati hembusan angin di persawahan yang menerpanya.


" Mending di desa. Tapi hidup kita jelas. Dari pada dulu!" kilasan ingatan mereka kembali saat 12 tahun yang lalu.


Dimana Tomy menemukan mereka saat ketakutan, usai aksi sweeping kepolisian bagi para bocah yang terlibat tawuran massal.


" Pak Edy, bos David dan Bu Jessika udah kayak orang tua kita ya. Ya, meski Bu Jessika sebenarnya lebih pantas jadi kakak kita!" Jack terkikik.


" Jaga mulut elo. Tiba-tiba ada bos bisa mampus kita!" sahut Victor.


Dan dari tempatnya berdiri, siang itu ia melihat wanita yang tak asing, tengah berjibaku dengan rumput dan sabitnya.


" Loh, itu kan wanita yang tadi. Kayaknya emang jodoh sama elo deh Jack!!" ucap Victor tergelak.


Kasihan juga lihat dia kerja kerasa seperti itu


Batin Jack seraya menyipitkan matanya, memastikan bila itu adalah Gendis.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2