Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 119. Like an Angel ( Seperti seorang Malaikat)


__ADS_3

.


.


.


Mobil David terlihat memasuki bangunan yang pernah ia kunjungi sebelumnya.


Ketika mbok Yah dirawat tepatnya.


Jika dulu dia kesana masih belum mendapatkan sambutan hangat dari Jessika, lantaran benang kusut diantara mereka berdua belum terurai.


Namun berbeda dengan kali ini, ia datang dengan hati yang bahagia.


Sepanjang perjalanan menuju ruangan tempat Bella di rawat, ia tak melepaskan sedetikpun genggamannya kepada Jessika.


"Dimana ruangannya mas?" Jessika bertanya sambil tetap berjalan.


Bahkan pesona David jelas nampak disana, beberapa orang bahkan petugas dari kaum hawa itu, sampai menatap David tanpa jeda.


Jessika menolehkan pandangannya ke kanan, ke kiri, memperhatikan semua yang di sana sepertinya menatap ke arah pria yang menggandeng tangannya itu.


"Biasa aja, aku memang tampan" ucap David kepada Jessika yang sedari tadi sibuk menganalisa keadaan sekitar.


"CK, bisa gak sih gak usah sombong" Jessika berdecak kesal.


David selalu saja sok kecakapan.


David tersenyum melihat Jessika dengan bibirnya yang sudah memanyun, reaksi alami yang selalu membuat David bahagia sekaligus gemas.


"Aku jadi gak tenang deh jalan sama kamu mas" ia berucap sesaat setelah ia belok ke persimpangan lorong, menuju ruang VIP.


"Kenapa?" David bertanya dengan santai.


"Kamu buat orang orang jadi gak fokus ngerjain tugasnya, harusnya ngerjain sesuatu. Malah sibuk ngelihatin kamu"


"Resiko orang ganteng" bisiknya setengah membungkuk condong ke arah Jessika.


"Dasar!!" Jessika memukul lengan kekar David.


Membuat David tertawa terbahak-bahak.


...VIP Room...


Begitulah tulisan yang terpahat jelas di sebuah bangunan yang berada di lantai paling atas Rumah Sakit tersebut.


Begitu mereka masuk terlihat Leo dengan telaten menyuapi Bella.


David tersenyum melihat interaksi keduanya yang kian menghangat menurut pandangannya.


"Selamat pagi Bel" sapa david sesaat setelah menutup pintu bercat putih itu.


"Kak David, Jessika" ucap Bella yang senang melihat kedatangan Jessika.


"Maaf nona saya baru bisa menjenguk sekarang" ia kini berada di sisi ranjang tempat dimana Bella tengah duduk dan terlihat di suapi oleh Leo .


"Saya turut prihatin nona" ucap Jessika dengan penuh kesedihan yang tulus.


"Terimakasih Jes"ucapnya seraya meraih tangan Jessika, Bella tak mampu berucap lagi, ia seolah diingatkan dengan kejadian buruk yang menimpa dirinya.


Sementara Leo tengah sibuk membereskan sisa makanan yang baru saja dia suapkan kepada istrinya


David memberikan kesempatan Jessika untuk berdua dengan Bella di dalam, mungkin saja dengan memberikan ruang kepada sesama wanita itu, bisa sedikit meringankan beban adik iparnya itu.


"Aku akan mengobrol dengan bang David dulu, kamu di temani Jessika dulu ya" ucap David kepada Bella.


Dan dibalas anggukan oleh Bella, tanda menyetujui ucapan Leo.


.


.


.


"Aku akan memberhentikan pak Sis" ucap David yang kini tengah duduk di sebuah kursi panjang.


Mereka kini berada diluar, menikmati hamparan perkotaan dari lantai atas kamar tersebut.


"Kau yakin bang" Leo menatap David.


"Aku tak bisa mentolerir lagi Leo, aku menghormati dia, tapi maaf kejahatan anaknya sudah jelas membuat kita semua menjadi seperti ini"


"Kesalahpahaman, pencemaran nama baik, membahayakan nyawa orang lain, bahkan kau harus kehilangan calon anakmu"


Leo termenung mendengar penjelasan rentetan kejahatan yang di sebabkan oleh Putri.


"Tapi pak Sis tidak tahu menahu soal itu"


"Apa kita adil jika memberikan punishment seperti itu untuk pak Sis?"


"Entahlah Leo, aku merasa tidak ada yang lebih baik dari hal itu"


*****


Di dalam ruangan Jessika masih terlibat obrolan serius dengan Bella.


"Kau tahu sendiri Jes, aku dan Leo menikah karena kecelakaan"


"Dan sekarang, kau lihat sendiri keadaanku" Bella nampak sedih berkali lipat.


Setelah kehilangan janin dalam kandungannya, kini ia musti bertambah sedih karena ia tak yakin akan bisa melalui pernikahannya dengan baik baik setalah ini.


"Nona, saya mungkin belum pernah mengalami seperti yang anda alami"


"Tapi saya percaya, mas Leo sudah mencintai anda" Jessika mencoba membantu Bella, untuk tidak terlalu mencemaskan hal yang bisa berdampak kepada kesehatannya.


Bella menggerakkan kepalanya," Dia tidak mencintaiku Jes" Bella kini menitikan air matanya.


Membuat Jessika menggenggam tangan lembut dan halus milik Bella.

__ADS_1


"Mas Leo panik sekali sewaktu nona tak sadarkan diri, ia bahkan mengancam Putri"


"Mas David menceritakan semuanya kepada saya"


"Nona cinta itu kadang tidak di ucapkan, tapi kita bisa melihat dari tindakan nyata pasangan kita"


.


.


.


Setelah mereka menuntaskan kunjungannya ke tempat Bella, mereka harus pamit guna memenuhi panggilan dari polisi.


Bella masih harus menjalani perawatan satu hari, sesuai dengan SOP ( Standar Operasional Prosedur) yang telah berlaku.


"Nanti aku di tanya apa mas, aku takut banget" ucap Jessika yang menampakkan wajah khawatirnya.


"Takut? ngapain takut. Kamu jawab sejujurnya saja, kejujuran itu adalah langkah awal yang bisa membuat kepentingan kita lancar"


"Bisa bijak juga ya kamu mas" Jessika meledek David yang kini terlihat fokus dengan kemudinya.


"Baru tahu ya"


"CK, mulai deh" Jessika memutar bola matanya malas.


.


.


Kantor Polisi


Mereka ternyata bertemu pak Eko disana, sengaja datang juga untuk memenuhi panggilan Polisi.


"Den anda disini" sapa pak Eko tersenyum ramah.


"Iya pak, saya ngantar Jessika" David membalas senyuman pak Eko


Sementara Jessika sudah tegang, ini adalah pertama kalinya dia akan di interogasi oleh penegak hukum.


Setelah pak Eko yang lebih dulu memasuki ruangan bercat coklat itu, kini giliran Jessika.


Tangannya sudah berkeringat, jantungnya berdetak kian cepat.


David menunggu Jessika yang tengah di cecar dengan berbagai pertanyaan.


Dengan sabar dia menunggu.


Setelah lewat satu jam Jessika nampak membuka pintu tersebut, kemudian ia menghampiri David.


"Gimana lancar kan?"


Jessika mengangguk," polisinya ganteng banget mas"


David membulatkan matanya karena kesal.


"Udah waktunya, kita harus ke Balai Desa katanya" ucap Jessika menunjuk ke arah jam tangan warna rose gold yang ia kenakan.


David menghembuskan nafasnya, urusan Jessika kini lebih penting dari pada emosinya.


"Kamu gak boleh muji orang lain lagi" ia kesal dan mulai menyalakan mobilnya.


Jessika tertawa," kamu cemburu?"


"Jelas lah, aku akan selalu cemburu"


David sudah mengirim pesan kepada Tomy untuk mengirimkan foto dan nama polisi yang melakukan interogasi pagi ini kepada Jessika.


Pasti Tomy mengumpat kepada dirinya sendiri, lagi lagi David membuat dirinya repot untuk hal yang tidak penting penting amat.


"Mas" tanya Jessika


"Hem" jawab David.


"Mas"


"Hem"


"Bisa gak sih jangan ham hem ham Hem kalau di tanya" Jessika kesal dengan jawaban David.


Kini gantian David yang terkikik, ia selalu saja senang bila Jessika bereaksi kesal.


"Ada apa, jangan marah marah terus"


"Ya habis kamu" ia masih merajuk


"Iya iya, ada apa coba bilang hem"


"Mas, tolong jangan di pecat Pak Sis mas"


David seketika menoleh ke arah Jessika, yang sudah memasang wajah kasihan.


"Aku tahu Putri salah, dan wajar kalau pak Sis langsung datang kerumah kamu dan marah marah sampai mukul kamu"


"Dia syok pasti dengar anaknya hamil, dia juga gak tahu kan kalau anaknya bohong soal kamu yang menghamilinya"


David masih tak menjawab, masih sibuk kepada setir bundarnya.


"Kalau gak ada pak Sis, aku gak akan bisa kerja disana dulu mas"


"Beliau orang baik, tidak membedakan status"


"Kalau aku gak kerja disana, itu artinya aku tidak akan mengenal kamu mas, kita gak akan pernah bertemu juga" Jessika menatap David penuh harap


"Terbuat dari apa hatimu sayang" batin David.


"Kita lihat nanti ya" kini David menjawab dengan ucapan yang lebih serius.


Mereka kini menuju Balai Desa, nampaknya Tomy benar benar bisa di andalkan untuk urusan birokrasi kemasyarakatan.

__ADS_1


Selain warga desa P yang mayoritas adalah pekerja di lahan Pak Edy, nampak juga telah hadir Kepala Desa, Babinkamtibmas, Babinsa, beberapa Tokoh Desa dan juga Pak Sis Bersama Bu Santi yang terlihat sembab matanya.


Juga beberapa wartawan surat kabar daerah, dan media online yang terlihat sudah hadir.


Bagaimanapun juga, ini adalah berita yang menyangkut usaha dari pada seorang Edy Darmawan.


Jessika duduk di sebelah David sebelum acara itu dimulai, bisa dibilang konferensi pers kelas Desa.


Sementara Pak Sis terlihat berada duduk di samping istrinya, terlihat raut wajahnya kusut dan penuh beban.


Mungkin kurang istirahat, atau saking matanya tak bisa terpejam lantaran peliknya persoalan.


Jessika menjadi iba dengan pak Sis, pasti ia juga tengah di pusingkan dengan Putri yang terjerat kasus hukum, di tambah kehamilannya.


Setelah sambutan dari Kepala Desa, waktu dan tempat kali ini bergulir kepada Pak Edy.


"Assalamualaikum warahmatullahi Wabarakaruh"


"Selamat pagi dan salam sejahtera"


"Yang terhormat Bapak Kepala Desa P, Bapak Babinkamtibmas, Bapak Babinsa, dan juga seluruh warga yang telah hadir"


Pak Edy dengan lancar dan lugas menjelaskan tujuan utama diadakan pertemuan dengan banyak orang pagi itu.


Jessika memperhatikan ucapan demi ucapan yang di haturkan oleh Pak Edy, menyimak dengan seksama.


"Seperti yang kita ketahui kejadian beberapa bulan yang lalu adalah kejadian yang benar benar tidak saya harapkan" lanjut Pak Edy masih memberikan klarifikasi.


Beliau juga menceritakan kronologis ditemukannya pak Eko, juga video pengakuan dari dua orang kacung yang telah di sewa oleh Putri.


"Wuuuuuuuuu" nada kekesalan dan kekecewaan terlontar dari mulut semua warga yang kecewa dengan keluarga Pak Sis, membuat dirinya menundukkan kepalanya.


Mau bagaimana lagi, semua ini harus terlewati bukan.


Pak Edy memberikan jeda kalimatnya, saat para warga menyalurkan kekesalannya dengan menyoraki keluarga pak Edy.


Beberapa Anggota polisi dan TNI juga terlihat bersiaga di sana, mengantisipasi bila terjadi gejolak yang berlebihan dari warga.


"Tenang mohon tenang" ucap Pak Edy.


"Keluarga kriminal!!!"


"Usir dari kampung ini!!!"


Reaksi umum, warga sudah pasti marah.


Beberapa dari mereka seketika merasa tak enak hati kepada Jessika, lantaran pernah berbicara tidak sopan kepadanya.


Kebenaran tetaplah kebenaran, ia akan muncul dengan caranya sendiri sekalipun kelicikan membuatnya menjadi terselubung.


Pak Sis tak kuasa menahan kesedihan, apalagi Bu Santi. Mereka berdua begitu terpukul.


"Mari ananda Jessika saya persilahkan untuk memberikan sepatah dua patah kata" Pak Edy memberikan kesempatan kepada Jessika.


Jessika menoleh kepada David, meminta pendapat.


David mengangguk, seolah berkata" naiklah"


Suasana hening, dan semua mata tertuju pada Jessika yang berjalan hendak menuju meja, yang baru saja di pakai Pak Edy untuk berbicara.


Ia sedikit gugup, tak pernah sekalipun berbicara di depan umum.


Mula mula ia memberikan salam, dan juga sedikit sambutan sambil memegang microfon dengan sedikit gemetaran.


Sangat amatir.


Kaku namun bolehlah, untuk pemula.


"Saya berterimakasih kepada keluarga Pak Edy, kepada mas Leo, juga mas David yang selama ini masih bersikap baik kepada saya meskipun ada beberapa warga yang masih belum bisa menerima saya"


Membuat semua masih diam, seolah tak sabar menunggu perkataan apa lagi yang di ucapkan oleh Jessika.


Para wartawan juga makin gencar memotret dan mengabadikan kalimat demi kalimat yang di jelaskan oleh Jessika.


"Sebagai manusia biasa saya juga merasakan sedih, asing dan kehilangan harapan waktu itu"


"Bahkan penjelasan saya tak mendapat tempat di hati warga waktu itu"


Lambat laun Jessika mulai terbawa suasana, dia seolah seperti menceritakan kisah hidupnya saja.


"Semua orang pernah berbuat salah, tapi dalam ini Pak Sis bukanlah orang yang bersalah"


"Pak Sis adalah figur orang yang baik, Putri lah yang memang memiliki tabiat yang tak baik"


Ia berkata penuh kejujuran, apa adanya dan tak ada yang di tutupi.


Membuat semua orang menatap ke arah pak Sis bersama istrinya, yang terus menunduk.


"Secara pribadi saya telah memaafkan Putri, namun jika hukum masih memproses, biarlah semua berjalan sebagaimana mestinya"


"Dan saya berharap tidak ada satupun warga yang memperlakukan Pak Sis dengan berbeda, orang tua tetaplah orang tua" Jessika menatap Pak Sis iba, ia tahu bagaimana rasanya tak memiliki orang tua.


"Wuuuuuuu" riuh tepuk tangan menggaung di sana, semua orang merasa bangga dengan Jessika yang memiliki hati yang besar.


Terutama David, ia memang tak salah pilih orang kali ini.


Bu Santi kini tersenyum ke arah Jessika, seolah menyiratkan ucapan," Terimakasih banyak nak".


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2