Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 91. Kerumitan yang kian melebar


__ADS_3

.


.


.


Putri melihat ada semburat kemarahan di wajah tampan David, setelah mendengar ucapan Vincent. Namun ia tersenyum licik, pasalnya David tidak menolak waktu lengannya di pegang olehnya saat Jessika mengantar makanan.


Sepertinya ada sesuatu, begitu pikir putri. Namun ia tidak ambil pusing, yang jelas dia bahagia kali ini. Selain di dapuk menjadi bintang iklan produk baru perusahaan David, ia kini bisa dekat dengan David.


Tidak ada Leo pun , David jadi. Mereka sama sama tampan, dan yang paling penting mereka adalah orang kaya.


Jessika meletakkan nampan kosong itu dengan sebal"Hihh, tau ada dia gak mau aku ngantar makanan" ia sungguh bersungut-sungut sebal.


"Monyong aja Lo, ada apa sih" tanya Vera yang melihat Jessika cemberut.


"Ga ada apa apa" jawabnya cuek.


Vera memandang ke depan, menyapu pandangan dan melihat David dengan seorang lelaki dan seorang wanita.


"Gara gara itu" tunjuk Vera menggunakan dagunya, sambil menatap David yang terlihat tengah bersantap ria.


"Entah lah Ver, kamu lihat sendiri kan kemaren baru aja aku lihat dia sama cewek, sekarang udah sama Putri" ucapnya masih sebal.


"Jadi itu Putri, kok bisa sama dia. Bukannya dia masih kuliah ya" Vera makin penasaran.


"Tau ah, udah gue ke sana dulu ada pelanggan" ucapnya kemudian pergi.


"Yeeee, itu namanya Lo cemburu" ucapnya setengah meledek saat Jessika berlalu dari hadapannya.


David masih melihat pergerakan Jessika dari kejauhan, meski sikapnya berusaha menjauhi namun sangat bertolak belakang dengan yang dirasakan hatinya.


"Baiklah saya setuju, Nona Putri ini sangat cakap meskipun masih menjadi mahasiswa. Saya setuju bila dia menggantikan Elsa, lagipula wajahnya mirip" ucap Vincent membuat David menghentikan pandangannya.


"Oh baiklah tuan, semoga kedepannya kerjasama ini terjalin dengan baik" David menimpali asal, karena dia benar-benar sudah tidak bisa berkonsentrasi.


David dan Putri hendak kembali ke perusahaan, namun saat akan keluar mereka mendapati Jessika yang tengah membersihkan meja kotor.


"Aku ke toilet bentar kak" ucap putri pada David.


"Aku tunggu di mobil" David menjawab.


Putri sengaja berbohong agar dia bisa menemui Jessika, tentu saja ia ingin membuat musuhnya itu merasa bersedih.


David mencoba menguatkan hati dengan tidak menoleh pada Jessika, ia benar benar berusaha melakukan semua ini untuk Leo.


Jessika merasakan nyeri di hatinya," semudah itukah?" batinnya yang merasa David telah jauh berubah bahkan hanya dalam hitungan hari.


"Wow, si maling sekarang udah kerja di kota ya. Jadi babu rupanya" cibir Putri saat Jessika melintas di depannya.


Jessika mencoba tak menanggapi, ia sudah malas meladeni manusia yang selalu mencari ribut dengannya itu.


"Woy maling!!!" teriak putri yang membuat Jessika berhenti.

__ADS_1


"Aku gak ada urusan sama kamu, tolong jaga ucapanmu" jawab Jessika jengah.


"Wah wah si maling udah berani ya, asal lo tau kak David itu gak berselera dengan babu rendahan macam Lo, lihat gue bahkan dia milih gue jadi model iklan. Hahaha" ucapnya sombong.


"Terserah" ucapnya Jessika kemudian berlalu karena jengah.


"Heh si alan!!!!!! gue belum selesai ngomong. ihhh!!!!!!" Putri menghentakkan kakinya karena kesal ucapannya tidak di ladeni oleh Jessika.


"Awas aja loe ya" batin Putri kemudian pergi untuk menyusul David.


****


Sesuai rencana sore selepas pulang kerja, mereka berkunjung ke mall yang ada di kota itu.


Bukan tanpa alasan, mereka berdua telah mendapat gaji upah dari kerja kerasnya sebulan ini.


"Yuk buruan, kita makan dulu atau cari handphone dulu" ucap Vera setelah melepas helm sesat setelah mereka memarkirkan motor.


"Ver cari yang murah ya, kalau bisa biar dapat dua. Yang satu mau aku paketin ke Makwek" ucap Jessika.


"Iya gampang nanti kita keliling, udah yuk" ajak Vera memasuki bangunan besar,dengan dominasi kaca bening itu.


Jessika belum pernah memasuki tempat epic seperti ini, biasanya dia membeli baju di pasar bersama Makwek nya.


Begitu memasuki tempat itu ia disambut oleh udara sejuk AC,di lantai dasar itu terdapat playzone untuk anak anak, market , tempat penitipan barang dan terlihat beberapa buah mobil yang di pajang di lantai dasar mall itu, bisa saja itu adalah promosi dari dealer yang menjalin kerja sama dengan mall tersebut, bisa jadi.


Dari lantai dasar dia menuju lantai dua menggunakan eskalator, terlihat banyak konsesi dari baju baju dewasa, anak anak, tas, perlengkapan bayi dan juga stand sepatu juga sandal.


Mereka menuju lantai tiga, tempat dimana counter handphone berada, sungguh Jessika merasa ciut melihat harga harga baju yang terbandrol jelas saat ia melihat di lantai dua tadi.


"Kamu mau merk sama tipe apa Jes" ucap Vera saat mereka mulai menyusuri lantai tiga, ada banyak stand disana, mulai dari merk biasa sampai merk ternama.


"Alah yang biasa aja, yang penting bisa di pakek buat komunikasi, standar aja lah" ucap Jessika.


"Ini bagus, camera bagus RAM nya gede lu kalau mau download aplikasi apa aja masuk dia" ucap Vera.


"Duit gue cuma xxx juta, belum bayar kost ke kamu. Cariin yang paling murah aja. Yang penting bisa buat nelpon dulu punya Mak wek" bisik Jessika pada Vera.


"Buat Mak wek kamu yang ini aja, yang penting bisa video call an nanti ya" ucap Vera sembari menunjukkan poduk ponsel sejuta umat kepada Jessika.


"Oke deh itu aja" Jessika mengangguk tanda setuju, harganya pun sesuai dengan budget yang ia miliki.


"Tolong di registrasi sekalian mas, buat orang tua soalnya. Biar tinggal pakek aja" pinta Vera pada penjual ponsel itu.


Setelah melalui perdebatan yang alot mengenai harga ponsel untuk Jessika, akhirnya Vera memenangkan perdebatan itu.


"Nah gitu dong mas, nanti aku bawa masa yang banyak biar beli to stand nya mas" ucapnya puas setelah mendapatkan harga korting,yang banyak menguras energi perdebatan.


Membeli dua ponsel mengikis hampir 80% gaji Jessika, ia harus berhemat beberapa bulan kedepan. Dengan sisa tabungan yang minim, belum lagi untuk bayar kost dan juga keperluan sehari hari ia harus bisa berhemat.


"Nih, semua udah di registrasi" ucap Vera.


"Loh tapi kan KTP punya Mak wek belum ada, kok bisa register?" tanya Jessika bingung.

__ADS_1


"Tau tu Paijo, akal akalan dia kali. Ya udahlah nanti kalau gak bisa di pakai minta tolong lek Soleh aja buat benerin" ucap Vera enteng.


"Yaelah" ucap Jessika setengah kecewa.


"Udahlah tenang aja" ucap Vera yang mengajaknya turun ke lantai dua.


"Kita cari baju yuk, atau lihat lihat tas" ajak Vera antusias.


"Kamu aja deh, duitku wes rijik ( uangku dah habis) hehehe" ucap Jessika.


"Alah tenang aja, pakai uangku dulu lah" Vera masih nekad mengajak Jessika untuk menyalurkan naluri khas perempuan itu.


Namun saat melewati stand baju baju bayi ia bertemu dengan seseorang yang dia kenal.


"Ver, itu layaknya dokter Bella" ucap Jessika sambil terus berjalan beriringan bersama Vera.


"Mana, oh iya samperin yuk" ajak Vera.


"Dokter Bella" ucap Vera menyapa, namun justru membuat Bella terkejut.


"Eh, Jessika kalian disini?" ucap Bella mencoba memangkas kegugupannya, entah mengapa ia merasa sepertinya seorang pencuri yang ketangkap basah.


"Iya ini dok, dokter Bella beli baju bayi? buat siapa?" tanya Vera.


Entah mengapa Bella terlihat gugup, padahal itu hanya pertanyaan dasar. Karena Vera melihat Bella menenteng tas yang telah terisi baju baju bayi yang nantinya akan di bayar menuju kasir.


"Oh ini, buat itu, buat keponakan...iya buat keponakanku" jawabnya gugup


"Oh begitu, dokter apa kabar sepertinya lebih kurus sekaran ya" Vera masih mencecar dengan berbagai pernyataan yang justru membuat Bella tak nyaman.


"Iya, dokter Bella sakit? sekarang lebih terlihat kurus dok. Kita memang sudah lama tidak bertemu ya" ucap jessika.


"Benarkah, ah mungkin karena aku terlalu sibuk jadi sering telat makan" elaknya.


"Baiklah dok sampai ketemu lain waktu, kami pergi dulu" ucap Vera pamit.


"Hati hati ya, sampai jumpa" balas Bella ramah.


Bella


Setelah memeriksakan dirinya ke dokter Obgyn yang notabene adalah rekannya, ia kemudian menceritakan apa yang ia alami dan tentu saja meminta rekannya itu untuk merahasiakan semua ini.


Ia telah bertekad menyembunyikan semua ini dan melewatinya seorang diri.


Dokter Sarah yang memeriksanya itu pun sangat merasa iba kepadanya," kamu bilang aja sama Leo Bel, bayi dalam perutmu itu nggak berdosa" ucapnya memberi saran.


"Aku tidak yakin jika dia akan mengakui semua ini Sar, tolong bantu aku untuk merahasiakan semua ini" pinta Bella dengan sendu.


Usia kehamilan yang menginjak satu bulan alias memasuki trimester pertama membuat dirinya kehilangan selera makan, dan terus mual mual. Bahkan ia pernah memuntahkan cairan kuning dari dalam perutnya, pertanda jika perutnya sudah kosong dan tidak ada isinya.


Bella berniat mencari beberapa baju, namun saat melintasi stand baju bayi entah mengapa aku tertarik.


Bella mengambil beberapa baju yang menurutnya lucu, padahal usia kehamilannya masih terbilang muda. Namun entah mengapa ia tertarik dengan semua itu.

__ADS_1


Sampai ia di kagetkan dengan suara perempuan, yang ternyata adalah Jessika dan temannya.


Padahal pertanyaan yang di ajukan mereka adalah tergolong pertanyaan biasa, namun sukses membuatku grogi. Definisi berani karena benar dan takut karena salah.


__ADS_2