
.
.
.
Bola mata Adrian melirik ke sumber suara" boleh aku makan disini, aku sudah lapar".
Vera sudah tidak menjaga image-nya kali ini, sedari sore hingga malam begini, apalagi energinya sudah terkuras meladeni beberapa manusia tadi.
Pastilah cacing dalam perutnya itu sudah berdemonstrasi.
Mereka makan dalam diam, apalagi Jessika. Ia seperti tidak berselera untuk memasukkan apapun ke mulutnya.
"Jangan membuat kami semua repot, makanlah. Untuk bersedih kita juga memerlukan kekuatan" tukas Vera yang mulai jengkel melihat Jessika hanya mengaduk aduk makanan.
Entah mengapa kesabaran Vera sudah sangat terkikis melihat tingkah Jessika, yang menurutnya tak perlu ia lakukan.
Tentu saja sejak sore hingga saat ini, dirinya menjalani sesuatu yang cukup menguras adrenalin dan emosi.
Adrian dan Tomy hanya saling pandang, apakah mereka bertengkar? begitu kata yang mendominasi otak mereka saat ini.
Jessika tersentak, Vera benar ia sudah sering merepotkan semua orang. Ia juga sadar, sikapnya ini bukanlah hal yang benar.
"Maaf" lirihnya.
"Huft" Vera menghembuskan nafas berat.
"Aku juga minta maaf" ucap Vera yang merasa jika ucapannya barusan keterlaluan.
"Tak seharusnya aku begitu" sesal Vera.
****
"Terimakasih banyak tuan" Vera membungkukkan badannya saat Adrian hendak pamit.
"Jangan lupa kunci pintu kalian, selamat beristirahat" ucapnya tersenyum.
Vera dan Jessika menatap punggung Adrian yang terlihat memasuki mobilnya.
Mereka lantas berjalan kaki menuju kost. Ya, Vera sengaja meminta di turunkan di gang saja, mengingat ini sudah malam, ia merasa tak enak dengan tetangga kanan kiri.
Setelah mandi dan bersuci ia tak langsung menenggelamkan dirinya di matras empuk itu, ia tengah bersiap untuk menunaikan kewajibannya.
Tentu saja sudah tertunda akibat drama penculikan, yang seumur umur belum pernah ia alami.
Ia sudah seperti dalam film-film, tegang , takut, khawatir, cemas, tidak tahu harus apa.
Rasanya hal ini tak pernah ia pikirkan saat di desa, sangat kontradiktif dengan keadaan disini.
Tak lupa ia menyerukan untaian doa, sesekali matanya berair. Menandakan kekhusyukan dalam berdoa.
Sementara Vera sudah seperti anak muda kebanyakan, ia mangkir dari kewajibannya itu. Ia merasa sekujur tubuhnya remuk, dengkuran halus juga sudah terdengar darinya.
Jessika menyebut nama itu dalam doanya, nama pria yang sudah rela berkorban untuk dirinya.
Bahkan ia saat ini bingung harus berbuat apa, jika memberinya perhatian , apakah pantas bagi seorang Jessika.
David orang terhormat, dengan segudang usaha dan pencapaian yang membuat semua orang tunduk terhadap dirinya.
Sudah bisa di pastikan, tanpa kehadirannya pun ia akan tertangani dengan baik di rumah sakit swasta terbesar itu.
Namun hatinya terus mengatakan untuk bertemu dengan pria itu, pria yang sudah membuat hati Jessika sering tidak menentu.
****
Proyektil itu sudah berhasil di keluarkan dari punggung pria berusia matang itu.
Ia sudah berpindah ke ruangan kelas terbaik di rumah sakit itu, Leo dan Tomy terlihat tengah berada diruangan berdominasi warna hijau pastel, dengan beberapa perabot yang bahkan mirip dengan hotel, bukan rumah sakit.
__ADS_1
Kantuk tak kunjung menyerangnya, ia membersihkan diri dan mengganti bajunya yang sudah kotor itu.
Mengganti dengan baju dalam paper bag, tentu saja barang itu sudah di siapkan oleh Tomy. Assiten paling siaga di samping Leo.
"Kau pulanglah, besok ada pertemuan penting dengan Mr.Richard, katakan pada Adrian untuk menghandle semua. Jangan lupa sampaikan permohonan maaf dari kami" Leo bertitah.
Jam menunjukkan pukul 00.15
"Kita balik, besok bos minta pertemuan dengan Mr. Richard kau yang urus" ucapnya datar.
Adrian menggerutu, padahal ia baru saja turun dari mobil selepas mengantar dua wanita tadi.
"****" umpat Adrian karena belum juga dia melangkah kaki, Tomy sudah duduk dengan datar di kursi depan penumpang.
Tomy tak menanggapi reaksi Adrian yang sudah sebal itu, seharian tak beristirahat ditambah tenaganya terkuras untuk berkelahi tentu saja membuat tubuh mereka lelah.
****
"Kenapa kau bangun bang, istirahatlah!" Ucap Leo terperanjat sambil memulihkan kesadarannya, karena entah jam berapa matanya baru bisa terpejam.
Ia melihat David yang berjalan hendak ke kamar mandi, setengah meringis merasakan nyeri di punggungnya.
"Tenanglah, aku bukan bayi yang perlu di khawatirkan" ucapnya menuju toilet.
"Bagaimana di kantor, hari ini Mr. Richard akan ke perusahaan" ucapnya, dengan kepala yang menyembul keluar dari toilet, di ikuti semua badannya.
"Adrian dan Tomy sudah ku perintah mengambil alih sementara, selama kau disini" ucapnya sambil hendak bergantian menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Tok tok tok
"Selamat pagi"ucap Bella tersenyum, menatap dua bersaudara yang terlihat tengah mengobrol ringan.
Bella menjalankan tugasnya dengan baik, mengontrol dan memeriksa luka bekas peluru yang bersemayam itu.
"Kak David bisa pulang jika mau, tidak ada yang perlu di khawatirkan" ucapnya.
"Itu terdengar bagus untukku, aku tidak terlalu suka bau rumah sakit" tukasnya.
"Apa yang kau katakan, aku akan melakukan yang terbaik untuk my future brother in law ( calon kakak ipar) ucap Bella tanpa sungkan .
David terkikik, sambil menggelengkan kepalanya melihat sikap dokter cantik itu yang manja dan selalu energik.
Sementara Leo hanya diam, sama sekali tak nyaman dengan celetukan Bella.
****
Bryan : "Ver kamu bisa masuk gak hari ini, hari ini ada yang booking tempat kita. Pada kena flu anak anak jadi ga bisa masuk"
Vera : " Bisa pak, tapi Jessika" ia berucap sambil menoleh ke arah Jessika yang sedang melipat mukena, karena baru saja menunaikan shalat Sunnah pagi itu.
Bryan : " Biar dulu, dia masih syok. Aku beri ijin"
Sambungan telepon itu akhirnya terputus, setelah tujuan Bryan sudah tersampaikan.
"Duh sory Jes gue ga bisa nemenin lu jenguk tuan David, tapi nanti tetep aku antar. Pulangnya lu bisa pesen ojek online ya" ucap Vera serata menyambar seragam kebesarannya, untuk segera menuju cafe.
Di rumah sakit
"Lu ati ati ya, inget kalau ada apa apa telpon gue, kalau ada yang jahat lagi lu teriak aja minta bantuan" ucap Vera seraya mengambil helm yang Jessika lepas.
"Iya Ver, setalah dari sini aku langsung pulang kok" jawabnya singkat.
Ia merasa berhutang nyawa pada David, menjadikan alasannya untuk datang menemuinya pagi ini.
Dengan tangan kosong ia menuju kamar dimana David dirawat, selain tidak mengerti harus membawa apa karena bingung, ia juga dibuat terburu-buru oleh Vera.
Saat hendak membuka pintu kamar kelas kakap itu, ia dikagetkan dengan suara Bella.
"Hai Jes, kamu disini" sapanya sembari menghampiri Jessika.
__ADS_1
"Nona Bella, saya mau menemui tuan David. Apa anda akan memeriksanya?" tebak Jessika karena ia melihat Bella disana.
Ia langsung menggelengkan kepalanya, menandakan tebakan Jessika tidaklah benar
"Enggak, aku mau pulang".
"Kak David juga udah dibawa pulang sama Leo, baru aja" ucapnya memberitahu.
Jessika seketika bingung, ia bodoh kenapa tidak menanyakan dulu pada Leo apakah mereka masih disana.
"Emm ya sudah kalau begitu, aku akan pulang saja" ucapnya kikuk.
"Hey, kau sudah berniat menjenguk kak David kan. Kau harus bertemu dengannya" ucap Bella senyum.
"Tapi dia sudah pulang, aku sudah bersyukur akan hal itu. Itu berarti keadaannya sudah lebih baik. Kurasa aku tidak perlu menemuinya" ucap Jessika menunduk.
"Aku tahu kalian saling memiliki perasaan" ucap Bella memegang tangan lembut Jessika.
Jessika menatap Bella, wanita berkelas yang cantik dengan sederet karir cemerlang. Berbeda dengan dirinya, yang hanya wanita kampung dan tidak ada yang bisa di banggakan.
"Aku tidak mengerti maksud anda nona" Jessika mengernyitkan dahi.
"Kak David rela melakukan semua ini untukmu, dan kau sekarang berada disini pasti juga karena kau memiliki perasaan pada kak David kan" tebak Bella dan entah mengapa ucapannya itu, membuat Jessika tak bisa berkata.
Benar, tepat, memang seperti itu kenyataannya, atau karena hanya empati terhadap pertolongan David padanya. Entahlah.
"Aku akan mengantarmu kerumah kak David" ucap Bella.
****
Bik Asih dan mang Ujang tergopoh-gopoh saat mengetahui majikan mereka yang sudah beberapa hari tidak pulang, kini kembali kerumah dengan keadaan tidak begitu baik.
"Astagfirullah Den, Den David kenapa bisa begini" ucap ART itu sambil memegang kedua lengan David.
Bukan tanpa alasan, ia begitu kasihan mengingat dua perjaka itu sudah hidup lama bersamanya.
"Aku tidak apa apa Bik, terimakasih sudah mencemaskanku. Aku akan beristirahat dulu" ucap David ramah.
"Mang tolong bersihkan semua mobil ya" ucap Leo karena mobil yang mereka gunakan saat misi penyelamatan Jessika kemaren, sudah sangat kotor.
"Aku keluar dulu bang, nampaknya Mr. Richard tidak bersedia jika hanya bertemu dengan Adrian" ucap Leo kesal.
"Pergilah, sampaikan permohonan maaf dariku" ucap David seraya merebahkan diri di kasur king size itu.
Leo mengangguk tanda setuju, setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian kantor. ia segera melesat menuju gedung pencakar langit itu.
****
"Belagu sekali dia, minta ketemu sama David kalau tidak kamu" ucap Adrian yang kesal pada Mr. Richard.
Mr. Richard memang orang yang selektif, apalagi jika membicarakan perihal kerjasama.
Pergilah, biar aku yang mengatasi.
Adrian dan Tomy pergi meninggalkan Leo, persetan dengan Mr. Richard begitu pikirnya, manusia rewel yang ingin segera ia hindari.
Ponsel Tomy berdering, ia mengernyitkan dahinya melihat sebuah panggilan dengan nomer baru yang tertera.
"Hmmm" ucap Tomy saat benda pipih itu menempel di teling kirinya.
"Bos, saya Jack. Saya sudah di desa P......." ucap Jack menjelaskan beberapa fakta mengejutkan.
"Bagus, buat se rapi mungkin" titahnya.
"Tapi, sepertinya......."
Mereka terus berbicara hal penting itu selama beberapa menit.
Sampai akhirnya terdengar suara wanita
__ADS_1
"Mas......