
.
.
.
Waktu bergulir dengan cepat, dinginnya malam kini berganti dengan cerahnya fajar.
membuat separuh isi bumi bergeliat, anak anak bersekolah, pedagang menuju pasar, petani kesawah.
Di bangunan sederhana namun bersih dan rapi serta banyak tersusun beraneka tanaman hias , Jessika sudah bersiap memulai aktivitasnya pagi ini.
"Wek aku berangkat dulu, Assalamualaikum", ucap Jessika seraya mencium punggung tangan sang nenek.
"Walaikumsalam, bekalnya udah Mak wek masukin di tas nduk", jawab sang nenek penuh kasih .
Jessika pun melangkahkan kakinya menuju areal persawahan milik pak Edy, sudah menjadi hal biasa ia berjalan kaki.
Baginya selain karena belum memiliki motor, hitung hitung olahraga gratis begitu fikirnya .
Diperjalanan dia saling menyapa antar warga, ia adalah gadis yang supel dan ramah kepada siapa saja dan itu adalah hasil didikan mbok Yah, nenek kesayangannya itu.
*******************************
Leo juga sudah siap dengan baju kebesaran khas mandornya, safari dua kantong berwarna krem dengan celana senada dan juga sepatu boots sebagi pelengkap.
Ia terlihat tampan dan berwibawa mengenakan pakaian tersebut, juga dengan rambut yang sudah di sisir rapi serta aroma parfum maskulin, menambah kesempurnaan penampilannya.
Memang hanya akan ke sawah, namun Leo adalah orang yang perfeksionis dan mengutamakan penampilan.
"CK kamu mau ke sawah aja ganteng begini Leo, apalagi kalau mau ke kantor", papanya berdecak kagum karena putra bungsunya itu terlihat tampan.
"Ya, aku ganteng gini kan dapat warisan dari papa, warisan wajah ganteng", jawab Leo pada papanya dengan menunjukkan deretan giginya yang rapi.
Akhirnya mereka sarapan bersama, dan juga pak Sis kebetulan sudah sampai dirumah pak Edy.
__ADS_1
Sudah menjadi kebiasaan baru setelah pak Edy berada di desa sebelum memonitor pegawai di sawah, pak Sis datang terlebih dahulu ke rumah pak Edy.
Setelah menyelesaikan sarapan dan mengecek perlengkapan yang di bawa termasuk cek list harian, mereka bersiap untuk berangkat.
"Sudah siap den, kita berangkat sekarang?", tanya pak Sis kepada Leo.
" Ayo pak, Pak Sis yang di nyetir ya", jawab Leo.
Akhirnya mereka berdua berangkat menyusuri jalan bebatuan khas jalan pedesaan.
Tak membutuhkan waktu lama, dua mandor beda usia itu telah sampai di areal persawahan yang baru saja di beli Pak Edy dan akan mereka tanami bibit cabai.
Selama berada disitu sebenarnya Leo bisa saja menjadi apapun, karena dia juga yang punya lahan disitu. Namun dia lebih memilih memakai baju mador karena terkesan lebih flexibel.
Leo mengedarkan pandangannya, menyapu setiap jengkal persawahan dan matanya berhenti pada Jessi yang tengah sibuk meletakkan satu persatu bibit-bibit cabai di lajur lajur Tanah yang sudah di bentuk memanjang dan terbungkus plastik khusus pertanian.
Ia tersenyum , pucuk dicinta ulam pun tiba. Pepatah itu cocok untuk menggambarkan perasaan Leo saat ini, hari ini dia berniat mencari Jessi namun siapa sangka dia ikut group yang di pilih Pak Sis untuk menanam cabai hari itu.
Jadi Leo tidak perlu susah susah mencarinya, kemudian Leo berjalan kaki menuju tempat Jessi dan teman-temanya yang tengah sibuk bekerja.
"Ehem ehem" ,David berdehem dan berhasil membuat para pekerja disana menoleh ke sumber suara, ada sekitar 5 orang disana.
"Selamat pagi mbak, gimana udah dapat banyak?", balas Leo kepada mbak Dewi namun dengan sedikit melirik Jessi yang masih tak bergeming dan fokus mengerjakan pekerjaannya.
"Lumayan den, nanti setelah selesai naruh bibitnya tinggal masukin ke lubang lubangnya", jawab mbak Dewi kembali memberi penjelasan kepada Leo.
Arin dan Eka menjadi salah tingkah, takut takut kalau mereka melakukan kesalahan dan Leo akan marah seperti David kapan hari.
Mereka bahkan tak berani menatap Leo, hanya fokus melakukan tugasnya tanpa berani menjawab ataupun menatap mandor ganteng itu.
Mbak Dewi , Eka, Arin dan juga satu pekerja lagi pergi ke gubuk Barat untuk mengambil benih yang kurang.
Mereka harus berpasangan karena membawa bibitnya dengan cara di gotong.
Bibit yang ditanam adalah benih yang sebelumya sudah di sebar dan di masukkan ke dalam tanah yang sudah dimasukkan plastik panjang, kemudian di potongi dengan ukuran ketebalan tanah kurang lebih 7 cm.
__ADS_1
Jadi bibit cabe itu masih kecil dan saat akan di tanam, plastiknya harus di lepas terlebih dahulu untuk kemudian di tanam di lajur palstik yang sudah dilubangi sebelumnya oleh pekerja laki-laki.
Tersisa Jessika dan Leo berdua saja, Leo tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk berbicara pada Jessi.
"Mbak Jessika kelihatannya udah lihai banget ya?", tanya Leo garing karena bingung memulai pembicaraan dengan berkata apa.
"Biasa aja den, saya juga masih baru disini", ucap Jessi merendahkan dirinya, padahal dia memang sudah mahir melakukan pekerjaan itu. Sudah lebih dari setahun dia bekerja di persawahan milik papanya Leo
"Mbak atas nama abang saya, saya momohon maaf atas kejadian kapan hari. Sugguh saya menyesal karena abang saya menyakiti hati mbak Jessika", ucap Leo dengan tulus.
Jessika memandang Leo sekilas lalu mengerjakan pekerjaannya kembali, ia nampak berfikir jika memang David merasa bersalah mengapa tidak dia sendiri yang meminta maaf, mengapa justru Leo yang meminta maaf padanya.
"Sudahlah den, saya udah gak memikirkan hal itu lagi. Karena ucapan den David pun saya makin menyadari bahwa saya harus bekerja lebih keras lagi agar orang lain berhenti memandang saya sebelah mata", jawab Jessika panjang sambil memasukkan bibit kedalam lubang kecil di tanah.
"Bang David sebenarnya baik mbak, cuman dia begitu memang kalau belum akrab dengan orang lain", tambah Leo berbicara.
Seketika Jessika berdiri dan menatap Leo, ia tahu pria di depannya ini berbeda. Jika tidak mana mungkin orang sekelas Leo sampai di bela-belain datang kepada pegawai sawah biasa seperti Jessi untuk meminta maaf sekalipun itu bukan kesalahannya.
"Saya sudah memaafkan den David, bahkan sebelum den Leo meminta maaf. Di dunia ini gak ada orang yang sempurna, semua orang bisa saja salah", ucap Jessika sambil menatap Leo.
Leo yang di tatap menjadi salah tingkah, padahal saat dia berhadapan dengan wanita wanita di kota dia tidak pernah segrogi itu.
"Mbak Jessika jangan panggil saya den lah, panggil mas Leo aja", pinta Leo ramah.
"kalau gitu den Leo maksud saya mas Leo panggil saya Jessi aja, sepertinya mas Leo usianya lebih dewasa dari saya", jawab Jessika dengan pintanya.
Leo yang di beri pernyataan seperti itu tertawa kecil, pasalnya sedari kemaren ia memanggil Jessika dengan sebutan "mbak".
Leo merasa lega pasalnya Jessika sudah tidak mempermasalahkan lagi ucapan pedas sang kakak.
Ia tak menyangka Jessika memiliki hati yang besar, ia kagum dengan Jessika yang memiliki sikap bersahaja dan menghormati siapapun berbeda dengan wanita wanita yang dia kenal selama ini.
***************************
Suka Jessika sama bang Leo, apa Jessika sama bang David hayooooo .....
__ADS_1
kawal terus ya
tapi jangan lupa like comment dan vote nya ya 🙏