
.
.
.
Diperjalanan Arin merutuki kebodohannya, bisa -bisanya dimalam yang dingin begini Ia lupa tidak membawa jaket, saking antusiasnya dia hanya mengenakan kulot panjang dengan kaos pendek saja.
" Duh, dingin banget aku rek"gimana ini aku baru nyadar sekarang." ucap Arin yang membuat kedua sahabatnya itu terkikik geli karena tingkah konyol sahabatnya itu.
"La apa kita balik dulu ngambil jaket? tanya Eka.
"Gak usah wes, keburu malem nanti". jawab Arin sambil memonyongkan bibirnya.
Akhirnya mereka berjalan dan sampai di lapangan, tempat di gelarnya pasar malam terakhir di kampung itu.
"Buseeet, rame banget rek".ucap Eka yang takjub karena selain rame pengunjung, ternyata segala macam makanan banyak yang dijual disitu.
Jessika kagum dan tidak memungkiri perasaan senangnya, malam itu Ia bisa jalan jalan meski hanya di kampungnya sendiri. Ia senang karena bersama sahabatnya Ia bisa menghabiskan malam minggu ini bersama mereka.
"Disini lumayan gak dingin rek", apa karena lampu lampunya ya hehehe ucap Arin tiba- tiba yang memang merasa sedikit lebih hangat dari pada dijalan tadi.
****
"Ayo bang, lelet amat sih". protes Leo pada David karena dari tadi ia hanya bingung hendak mengenakan baju yang mana.
"Cerewet banget lu, ini juga udah selesai".
"Bawa motor aja le, gue ogah jalan kaki. seumur hidup gue gue ga pernah jalan kaki kalau pergi ke suatu tempat".
"Cih, dasar...terserah lah ayo. gue apa Lo yang nyetir ini? "tanya Leo.
"Lo aja gue males" jawab David cuek.
"Males males terus, Lo apa sih bang yang gak males, kelonan sama Sherly aja ya Lo yang gak males" oceh Leo yang sudah sangat tidak tahan dengan abangnya itu.
"Nah itu Lo tahu, hahaha". jawab David.
Akhirnya mereka berdua membawa motor dan sampai juga di tempat gelaran pasar malam itu.
"Rame juga ya bang, ayo kita kesana dulu". ucap Leo yang tidak di tanggapi oleh David, ia merasa bosan.
tempat macam apa ini? cih membosankan sekali, gumam David dalam hati.
Sementara itu trio markonah sedang asyik mencoba semua wahana yang ada disana, Jessika sangat terhibur, bahkan selama 21 tahun bernapas di bumi dia belum pernah pergi ke tempat seperti ini.
Sebenarnya sudah sepekan gelaran pasar malam ini sudah terselenggara, namun seminggu ini Jessika selalu bekerja sehingga ia menggunakan waktunya untuk beristirahat jika malam, karena besoknya ia harus kembali ke persawahan untuk bekerja.
Sangat kontras dengan David yang menurutnya tempat seperti ini membosankan.
Namun bagi orang sekelas Jessika, tempat ini adalah tempat yang bisa mendatangkan kesenangan untuknya.
__ADS_1
"Jes, haus ni kita beli minum yuk. ada ice bubble tea disana, kita belu yuk" ajak Arin sambil menggandeng tangan Jessi dan Eka.
Mereka bertiga antre di kedai es itu, cukup ramai sehingga mereka menunggu agak lama
setelah mendapatkan mereka lalu mencari tempat yang bisa digunakan untuk duduk.
Namun belum sempat meminum saat Jessika hendak berbalik karena dia hendak menghindari anak kecil yang berlari di depannya tiba tiba,,,,,
bruuuuukkk...
"Astagfirullah" ucap Jessika setengah berteriak saat ia menabrak seseorang dan ternyata itu adalah David. Ia jatuh dan es yang dia pegang mengenai jaket David.
Flashback On
"Bang buruan donk, aku pingin beli makananan disan itu"oceh Leo yang sudah jengah dengan keleleran abangnya itu
"Duluan aja, lagi balas wa nya si Adrian ini". jawab David masih fokus dengan HPnya
"Ya udah, kalau ga ketemu aku telpon ya. aku kesana bang". ucap Leo sembari berjalan meninggalkan David.
"Okey". jawab David singkat
Namun karena David tidak fokus dengan jalan, ia tidak melihat bahwa di depannya ada orang yang mundur karena menghindari anak kecil yang tengah berlari.
Flashback Off
"Astagfirullah, maaf mas saya nggak...."
"Ceroboh sekali sih kamu, bodoh atau gima...."
ucapan David menggantung saat David menatap wajah wanita yang tegah memebersihkan jaketnya itu.
Deg
Gadis ini, sepertinya anak buah papa.
kenapa bisa cantik banget malam ini.
entah mengapa jantung David berdetak tidak karuan, namun karena gengsi David tetap pada mode sok nya.
Ia sudah tidak mood sejak mau berangkat tadi ditambah Sherly yang beberapa hari ini tidak memberinya kabar dan sulit sekali di hubungi, membuat David dengan mudah tersulut emosi.
"Udah sini", Ia menyahut dengan kasar sapu tangan yang di pakai Jessi untuk mengelap jaket milik David .
Jessika yang di perlakukan seperti itu sontak kaget, ia bahkan takut pada David karena dia menyadari kesalahannya. padahal Jessi gak salah salam amat sih.
karena mendengar suara keributan kedua sahabat Jessika mendekati Jessika.
"Ada apa je....."
kalimat Arin menggantung, sesaat setelah ia menatap lelaki yang terlihat kesal berada di depan Jessika dan terlihat membersihkan tumpahan es di jaketnya.
__ADS_1
"Den David", ucap Eka yang mengetahui bahwa itu adalah anak dari juragannya.
"Den maafkan temen kami, nanti jaketnya den David biar kamu cuci den atau beri tahu kami apa yang harus kami lakukan den"Jawab Eka yang takut.
Melihat seperti ada keributan, Leo yang antri membeli rujak soto mengurungkan niatnya buat beli.
"Bang, gak jadi ya saya mau jemput temen saya dulu. nanti saya balik lagi". ucap Leo ramah pada penjual rujak itu.
"O nggeh mas, mboten nopo nopo ( o iya ma gak apa apa)" jawab si pedagang.
Selepas itu Leo berlari kecil menghampiri keramaian, yang ternyata abangnya ikut terlibat di dalamnya.
"Bang David, ada apa?" tanya Leo yang sukses membuat semua mata tertuju padanya.
"Ini, cewek bodoh banget, bisa bisanya dia numpahin es di jaketku". pekik David masih dalam mode kesalnya
" Mampus, den Leo juga ada aduh gimana ini", Arin semakin panik takut salah paham seperti David yang tidak mau menerima penjelasan.
Hanya karena masalah sepele David bisa semarah itu pikir Arin.
Namun lebih kaget lagi Leo yang melihat sang empunya es itu adalah Jessika, dia terlihat
begitu cantik malam ini. ada desiran aneh di dada Leo saat itu.
"Maaf den David, saya tidak sengaja sungguh, tadi saya menghindari anak kecil yang lari lari dan saya tidak tahu jika den David ada di belakang saya" ucap Jessika memberanikan diri menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
David menoleh ke pemilik suara itu, David melihat Jessika sangat terpesona, apalagi dengan wajah takutnya itu.
Sungguh menggemaskan, tapi David selalu gengsi jadi dia tetap di mode kesalnya.
"Lain kali hat hati, bayaran kamu sebulan belum tentu bisa menggantikan jaket ku ini". ucap David dengan arogansinya yang selalu top markotop.
"Astagfirullah, ganteng-ganteng ternyata sombong, mulutnya jahat banget ternyata". batin Eka bermonolog.
"Udah lah bang, cuma ketumpahan es ga usah lebay"ucap Leo karena kasihan pada Jessika.
"Tuan David benar mas Leo, saya memang bodoh. saya juga gak seharusnya ada di tempat ramai seperti ini. Dan memang benar tuan, bayaran saya gak akan cukup buat membayar ganti rugi atas kerusakan jaket anda yang mahal itu, karena saya memang miskin. saya mohon maaf dengan segala kerendahan hati saya, namun apabila itu masih belum cukup. Anda bisa memotong bayaran saya untuk membeli jaket yang sama dengan yang anda miliki, meski itu seumur hidup saya, permisi ", ucap Jessika bergetar.
Entah mendapat keberanian dari mana Jessika mengatakan hal panjang lebar itu, ia selalu merasa sedih jika dihina seperti itu. entah mengapa tiba tiba dia merasa tidak suka dengan perkataan David yang terlontar dengan sombongnya.
Tanpa harus menguliti keadaan Jessika, semua orang juga tahu dia adalah yatim piatu yang hidupnya pas Pasan.
Perkataan David barusan benar benar seperti belati yang menghujam hatinya, ia tidak menyangka hanya karena es yang tumpah di jaketnya ia harus mendapat penghinaan seperti itu.
David mengernyitkan dahinya, padahal niat dia hanya ingin mengerjai, namun sepertinya bagi orang seperti Jessika hal itu sama saja dengan penghinaan.
Apalagi background Jessika yang memang orang tidak punya, akan sedikit sensitif apabila membicarakan hal itu.
Duh Babang David tampan tapi kok pedes ya mulutnya, awas nanti bucin......
********************************
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote nya ya makasih🙏