Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 192. Serangan Mendadak


__ADS_3

.


.


.


Jack


Dengan langkah gontai pria itu hendak kembali menuju kamarnya. Entah mengapa usai mendengar penuturan dari Dion bila rekannya itu menaruh rasa kepada Gendis, mendadak hatinya tak iklhas.


" Udah ketemu Jack?" Jessika yang tiba-tiba muncul dari luar mengagetkan pria itu.


" Astaga Bu...!" Jack terperanjat.


Jessika tergelak, " Makanya jangan ngelamun aja!"


" Kamu suka ya sama Gendis?" tanpa tedeng aling-aling Jessika langsung menonjok Jack dengan pertanyaan yang membuat Jack keranjingan.


Jack membulatkan matanya, bagiamana bisa analisa bosnya itu membuatnya merinding.


" Kalau suka jangan di buat bete terus. Jangan sungkan. Ikuti saja sebagimana mestinya!" Jessika menepuk pundak Jack yang masih mematung.


Jessika meninggalkan pria yang kini masih sibuk mencerna ucapannya itu.


.


.


Malam menjelang, dirumah sederhana nampak seorang gadis tengah sibuk dengan isi lemarinya.


" Apa cuma ini yang aku punya?" Gendis bingung, ia tak memiliki pakaian yang layak. Dalam artian sebagai wanita.


Selama ini, ia kerap mengenakan jeans serta kaos yang menurutnya nyaman paripurna saat digunakan di manapun. Bahkan ketika menjalankan tugasnya sebagai babu.


" Kamu mau kemana?" Yudi berdiri di ambang pintu sibuk mencari sisa makanan yang terselip di giginya menggunakan tusuk gigi.


" Mau pergi!"


" Ojo bengi-bengi ( jangan malam-malam) koe cah wedok ( kamu perempuan)!"


Usai mengatakan hal itu, Yudi melesat dari depan kamar Gendis. Dan entah mengapa Gendis merasa bapaknya kini sedikit berbeda.


Akhirnya ia memilih Jeans yang paling bagus yang dia punya, memadukannya dengan tengtop dan mengenakan kemeja kotak-kotak yang ia buka dua kancing di bagian atasnya.


" Mau gimana lagi, opo eneke ae. Nduwene Yo gur Iki ( mau gimana lagi, apa adanya saja. Punyanya juga ini)" Gendis menguncir rambutnya yang sedikit ikal itu. Ia menepukan bedak ke pipinya, memoleskan liptin satu-satunya yang ia miliki ke bibirnya.


Gendis mematut dirinya di cermin. Ia tak punya baju lain. Hanya itu yang terbaik yang ia miliki, gaya casual yang nyaris tak pernah berubah.


Anak Yudi itu terlihat cantik dengan balutan kesederhanaan. Gadis itu membagi dasarnya cantik, hanya saja tertutup kesulitan hidup.


Ia janjian dengan Dion untuk menunggu di perempatan jalan dekat arah rumahnya. Ia meminta bantuan Sono untuk mengantarkan dirinya kesana. Dengan jalan kaki tentunya.


" Sama siapa sih kamu perginya?" Sono berkali-kali melihat jam demi memburu waktu.


" Ada, guru baru yang ngajar di TK. Dia anak buah bos David!"


" Banyak banget anak buah bos lu itu!"

__ADS_1


Dan saat mereka tengah asik mengobrol, sebuah mobil berhenti di depan mereka.


" Maaf lama, ayok!" Dion malam itu nampak segar sekali. Pria itu mengenakan celana chinos krem dengan mengenakan kaos polo hitam. Sangat menawan.


Sono sampai terbengong melihat hal itu.


" Kamu mau ajak temen kamu?" tanya Dion.


" Emang boleh?" tanya Gendis.


" Boleh lah. Ayok!"


Dengan hati riang gembira Sono langsung naik ke mobil itu. Kapan lagi diajak jalan-jalan pikirnya. Gendis menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah norak temannya.


" Ganteng banget yang ngajak elu!" bisik Sono namun masih di dengar Dion. Pria itu menarik senyuman.


" Iya lah!"


" Dia juga kelihatan ramah, gak kayak yang kemaren kita ketemu itu!" yang di maksud Sono adalah Jack. Rupanya kesan pertama itu sangat penting.


Sejenak Dion memasang telinganya. Apa dua manusia di belakang itu tengah membicarakan Jack?


" Kita kemana ini?" tanya Dion sambil melihat kaca kecil di depannya.


" Emmm terserah aja, kita belum pernah jalan kak!" Gendis meringis. Begitu juga dengan Sono.


Dion tergelak, " Beneran nih terserah aku?"


Mereka berdua mengangguk.


.


.


Gendis hanya diam. Dalam hatinya, ia sebenarnya takjub. 21 Tahun bernapas di desa itu, namun tak pernah ia tahu kemerlip dunia yang indah, yang berada sekitar 7 kilometer dari tempat tinggalnya.


" Masuk yuk, kita makan dulu. Habis itu kita ke karaoke yuk. Kita nyanyi!" Dion tersenyum.


Gendis makan dalam diam. Berbagai makanan dengan nama sulit itu, ia telan dengan nikmatnya. Sono bahkan senang sekali malam itu.


" Maaf ya kak, dia emang gitu!" Gendis menunjuk Sono yang sendawa tiga kali karena kekenyangan menggunakan dagunya.


Dion tergelak, Gendis dan temannya itu begitu apa adanya.


" Sebenarnya aku mau ngajak ke tempat yang trend. Tapi selain kalian juga gak tau, aku juga gak tau. Kita lain kali pergi lagi ya. Setelah ini aku pingin karaokean!"


" Boleh, tapi nunggu aku gajian ya kak. Gak enak terus di bayarin kakak!" ucap Gendis.


Dion tersenyum, jauh di dalam hatinya Gendis benar-benar wanita yang berbeda.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata mengamati mereka bahkan sejak di perempatan dekat rumah Gendis tadi.


" Kak, aku mau toilet dulu. Son, kamu disini dulu . Titip Sono ya kak, meskipun dia barang antik , tapi jangan jual dia!" Gendis terkekeh.


Membuat Sono mendengus kesal. Sementara Dion makin tergelak.


Gendis sebenarnya tidak tahu dimana tempat bernama toilet itu berada. Namun, isi kandung kemih yang penuh mendesaknya untuk segera mengeluarkan cairan itu.

__ADS_1


" Mbak toilet di sebelah mana ya?"


Malu bertanya sesat di jalan. Gendis akhirnya bertanya kepada seorang wanita yang bekerja sebagai pelayan disana.


" Oh, terus aja mbak nanti belok kanan. Dekat tangga di sebelah taman itu!"


Gendis mencoba mengingat dan mengikuti arahan pegawai tadi. Dan benar, ia menemukan tempat itu di sebelah tangga. Di dekatnya terdapat ruangan yang entah itu apa.


Usai mendapatkan kelegaan lantaran kandung kemihnya kini kosong, Gendis membenarkan ikatan rambutnya di toilet itu. Namun, tak di sangka seorang pria masuk secar tiba-tiba dan langsung memutar anak kunci pintu toilet itu.


" Kau?!" Gendis terperanjat saat melihat Jack kini membuka penutup jaket hitam yang pria itu gunakan.


" Kau mau apa?"


Jack diam dan berjalan mendekat ke arah Gendis. Wajahnya nampak menahan kegeraman.


" Hey??! mau apa kau!??" Gendis mendadak takut. Kemana keberanian yang beberapa hari ini ia gencarkan terhadap Jack?


" Aku akan teriak kalau kau mend....."


Jack menekan tubuh Gendis hingga mentok ke tembok toilet itu, Sejurus kemudian ia mencium bibir gadis dengan cepat. Tangan kiri Jack menekan tengkuk Gendis dan tangan kanannya memegang pinggang Gendis. Membuat gadis itu terkejut dan takut dalam waktu bersamaan.


Jack melu*mat bibir Gendis dengan rakus. Membuat wanita itu benar-benar terperanjat dengan serangan tiba-tiba dari Jack.


" Kurang ajar!" Gendis mendorong tubuh Jack sekuat tenaga. Membuat ciuman mereka terlepas dengan paksaan dari Gendis.


Gendis terlihat mengusap bibirnya kasar dengan punggung tangannya seraya menatap tajam ke arah Jack.


" Kau gila!!!" Gendis menatap Jack dengan nafas memburu.


" Aku tidak suka kau pergi dengan Dion!"


Kedua manusia itu menatap dengan nafas tersengal-sengal.


"Sekarang ikut aku!" Jack menarik tangan Gendis dengan cepat.


Gendis melihat kemarahan di mata Jack. Wanita dengan keberanian yang kentara itu, kini bagai kehilangan taringnya.


Gendis takut saat Jack menjadi seperti orang yang kesetanan. Rahang pria itu terlihat mengeras, bahkan wajahnya benar-benar menyiratkan kemarahan.


" Lepas!!"


" Ikut, atau aku akan berbuat lebih dari tadi kepadamu!" Jack menatap Gendis dengan suara meninggi. Membuat nyali wanita itu menciut.


" Kita pulang!" Jack membuka anak kunci itu lalu menyeret lengan Gendis. Seolah tak membiarkan Gendis terlepas.


" Apa, tapi kak Dio..."


" Aku bilang pulang!!!"


Gendis menelan ludahnya. Benarkah bila pria di depannya itu kini benar-benar sedang marah?


.


.


.

__ADS_1


.


Hallo Readers, karya ini sudah hampir tamat ya.


__ADS_2