
.
.
.
Bella
Tomy yang sudah mendapat info jika Leo akan bertolak ke kota S bersama pak Edy dan David, menjadi manusia paling sibuk.
Belum lagi perintah dari Leo yang menyuruhnya untuk ini itu, benar benar harus gercep.
Selain harus tetap mengontrol perusahaan bersama Adrian, ia juga harus merangkap menjadi bodyguard untuk Bella.
Sampai hari ini, mama Sofia yang juga belum mengetahui perihal kehamilan anaknya, Bella.
"Kok kamu tiap hari diantar sama asistennya Leo Bel" ucap Bu Sofia yang melihat Tomy sudah standby dirumah Bella.
"Emm iya ma, soalnya Leo gak bisa jemput" ucapnya berbohong.
"Suruh dia masuk atuh bel, malah di biarkan diluar" ucap mama Sofia.
"Biar sudah ma, Bella berangkat dulu ya" ucap Bella setelah meneguk segelas susu di meja makannya.
"Ya udah hati hati ya" ucap mama Sofia saat Bella mencium pipi kanan mamanya.
"Sebenarnya aku bisa berangkat sendiri Tom" ia masih menggerutu tak suka dengan keputusan Leo ini.
"Maaf nona, saya hanya menjalankan tugas" lagi lagi jawaban yang sama yang didapatkan Bella, saat dirinya mengajukan beberapa protes.
Diam dan diam, Tomy juga tidak pernah berbicara jika tidak diajak bicara dulu, paling paling dia hanya menjawab,
"Baik nona"
"Sudah nona"
"Tolong jangan seperti itu nona, saya akan dimarahi tuan Leo"
Sangat sangat tidak normal, so bad! begitu batin Bella.
Ia masih sering merasa mual, bahkan jika pagi hari dia semangat menghabiskan makanan, siangnya ia terpaksa mengeluarkan semua isi dalam perutnya karena gejolak yang menggila.
"Aku hari ini ke kota S bersama papa" sebuah pesan dari Leo membuatnya tersenyum.
"Tom, jadi om Edy mau kesini" ia bertanya kepada Tomy.
"Benar nona" jawabnya lagi lagi datar.
"CK, kenapa kau tidak memberitahuku?" ia kesal karena Tomy benar benar pasif.
"Saya pikir tuan Leo kan menghubungi anda sendiri nona"
__ADS_1
"CK kau ini" ya benar juga sih, buktinya Leo mengirimkan pesan untuknya.
Hormon ini hamil benar benar tidak stabil, dan Tomy selalu saja membuat moodnya buruk.
.
.
Leo
Pagi ini mereka bersiap untuk bertolak ke kota S, David bahkan tak sempat menemui Jessika bahkan untuk sekedar berpamitan.
Ia menghubungi Jessika namun tidak di angkat, ia lantas mengirimkan pesan untuknya.
"Aku berangkat ke kota S sekarang, besok mau persiapan ngelamar Bella. Kamu baik baik disana ya, aku ngusuin Leo dulu, baru kita"
"Love you 😘"
Ia bahkan tersenyum sendiri, membuat Leo tak tahan untuk menimpali.
"Udah macam orang gila aja anak papa itu, lihat pa" cibir Leo sambil tersenyum, saat mereka berada di dalam mobil dan sudah siap untuk berangkat.
"Ganggu orang aja lu" David menaruh ponsel, dan kini konsentrasi beralih ke setir bundar di depannya.
Pak Edy hanya menggeleng kepalanya, ia merasa bahagia. Sebentar lagi putranya akan melepas masa lajangnya, meskipun melalui cara yang harusnya bisa dihindari
Namun bukankah Allah maha mengetahui, sedang kita tidak? itulah yang menjadikan pak Edy untuk tidak kehilangan harapan.
Dan berupaya memberikan pengertian kepada Leo, bisa jadi ini jalan kebahagiaan untuknya.
Untuk saat ini fokusnya memang bertanggungjawab kepada anak yang tengah di kandung Bella, meski ruang dalam hatinya masih hampa, kosong tak berpenghuni.
Perhatian yang ia berikan untuk Bella juga masih sekedar taraf normal, ia tidak ingin membuat Bella stres.
Apalagi ucapan dokter Sarah tempo hari, membuatnya harus menanggalkan egonya demi bayi itu.
.
.
Jessika
Ia yang sedari membuka mata sibuk dengan pekerjaan rumahnya, tak sempat membuka ponselnya.
Ia harus memasak juga mencuci pakaian kotor dari rumah sakit yang sudah setinggi gunung Rinjani.
Ia mengerjakan semuanya sendiri, tak memberikan ijin neneknya untuk melakukan pekerjaan. Bahkan hanya untuk menyapu.
Sekitar jam 9 pagi, aktivitasnya baru selesai. Ia juga sudah mandi dan duduk santai di teras rumahnya.
Begitu membuka ponselnya ada pesan masuk dari David, ia begitu antusias membukanya.
__ADS_1
Namun kebahagiaan itu menguap begitu saja, karena isi pesan tidak sesuai degan yang diharapkan.
Entah mengapa ia merasa sedih di tinggal David, sejurus kemudian ia mengetik balasan untuk David.
"Maaf tadi sibuk, baru selesai. Hati hati dijalan ya"
Namun ia sedikit bahagia begitu membaca ulang pesan David, " aku ngurusin Leo dulu , baru kita".
Ia mendekatkan ponselnya ke dadanya, sambil merasa bahagia. Benar benar terbuai indahnya cinta.
"Kamu kapan balik ke kota nduk" mbok yah Tiba tiba menyusulnya dengan membawa sebuah kaleng dan juga sebuah baju.
Membuat hati yang tengah berbunga itu, harus rela terinterupsi.
"Belum tahu Wek, aku gak tega mau ninggalin Makwek" ucapnya sambil menggeser tubuhnya, karena neneknya juga mendaratkan tubuhnya di persis di sampingnya.
"Kalau memang begitu, bilang baik baik ke bosmu. Kamu pamitan, datang baik baik keluar juga baik baik nduk" ucapnya sambil membuka kaleng bekas biskuit, yang ternyata berisikan jarum dan benang.
"Jadi bosmu biar bisa cepat cari pengganti" ucapnya sambil menyerahkan jarum dan benang, dengan maksud meminta Jessika memasukkan benang ke dalam jarumnya.
"Iya Wek, semua barangku juga masih di kost Vera" ucapnya dengan wajah fokus pada benang dan jarum.
"Kamu kerja seadanya saja disini. Di tempat Lek Soleh juga banyak kerjaan itu, ngikatin sayur" ucap mbok yah sambil menerima benang yang sudah terpasang di jarum kecil itu.
"David ke kota Wek" ucapnya menerawang.
"Pagi ini?, sama siapa saja?" ia berkata sambil pandangannya terfokus kepada tangan yang lihai memasukkan jarum yang tersambung dengan benang, membuat sebuah simpul yang dapat menyatukan baju yang koyak di bagian lengannya.
"Mungkin sama mas Leo sama pak Edy, mereka mau melamar nona Bella besok"
"Calonnya Den Leo?" ucap mbok yah masih terlihat menarik dan menusuk menggunakan jarum pada kain itu.
"Iya Wek, dia seorang dokter. Orangnya cantik, baik dan ramah. Dia yang merawatku waktu aku kena musibah" ucapnya menerawang.
"Beruntung dia mendapatkan Den Leo"
"Bukan dia Wek, tapi mas Leo yang beruntung. Mungkin saat ini mas Leo belum mencintai nona Bella, tapi kau yakin seiring berjalannya waktu cinta akan tumbuh. Nona Bella adalah pribadi yang baik" ia bercerita sambil tersenyum.
"Belum mencintai?" mbok yah tentu saja heran, bahkan ia sampai menoleh ke arah cucunya yang masih tersenyum itu.
Jessika kemudian menceritakan tentang hal yang dialami Bella, tentang Leo yang menikahinya karena sebagai bentuk pertanggungjawaban.
Mboh yah hanya menghembuskan nafasnya ketika mendengar penuturan Jessika," Astagfirullah, Makwek gak nyangka nduk kalau Den Leo begitu orangnya.
"Semua itu karena aku juga" ia tertunduk sendu, ia kemudian menceritakan kenapa Leo bisa terpancing untuk datang ke club, karena ia emosi dan cemburu kepadanya.
Namun ia tak menceritakan perihal dirinya yang dicium secara kasar oleh Leo, never!!! no way!!!
"Persolan hidup kalau kita ikuti seperti tidak ada habisnya, soal lama berakhir soal baru datang" ucap mbok yah memutus benang, tanda kegiatannya sudah usai.
"Yang telah terjadi kita tidak dapat mengubahnya"
__ADS_1
"Yang terpenting sekarang adalah bagaimana memperbaiki diri, semoga ini akan membawa kebahagiaan untuk Den Leo dan istrinya kelak"
"Juga kamu, karena jika nanti kamu jadi dengan Den David. Kamu akan jadi kakak iparnya"