
.
.
.
David
Ia merasakan kebahagiaan yang tak terkira malam ini, plong rasanya sudah mengutarakan segala rasa, terlebih segala benang kusut yang tercipta kini sudah terurai.
Sekitar jam 8 malam hujan baru reda, mereka lantas segera kembali kerumah Jessika.
Kali ini David menggandeng tangan Jessika, namun tidak mendapat penolakan dari sang empunya.
Udara dingin yang menusuk nusuk di kulit , seakan tak berarti karena tertutup hangatnya jalinan cinta.
Beginilah rasanya memiliki kekasih yang cukup sulit di perjuangkan? yuhu😁
Saat sampai dirumah, barisan sandal yang berada diluar rumah sudah tidak terlihat. Menandakan semua tamu sudah pulang.
Hanya ada lek Soleh yang membersihkan sisa sisa remahan makanan, yang terjatuh di karpet.
Sementara mbok Yah tidak terlihat.
"Assalamualaikum" Jessika mengucapkan salam tatkala dirinya memasuki rumah.
"Walaikumsalam" lek Soleh menoleh sejenak, kemudian melanjutkan membersihkan remahan makanan menggunakan penebah yang terbuat dari lidi.
"Wehhh, ko endi ae rek" ( wuyy, dari mana saja)
lek Soleh berseloroh, ia bukannya tidak tahu. Namun sengaja saja ia menggoda.
Jessika malu, wajahnya sudah seperti kepiting rebus.
"Mbok yah dimana Lek?" David mengalihkan topik, karena ia tahu Jessika sedang malu.
"Shalat isya Den, soalnya tamunya baru saja pulang"
David hanya mengangguk tanda paham.
"Aku kedalam dulu" pamit Jessika ingin melihat neneknya.
Kini menyisakan dua orang pria di ruang tamu, dengan nada menggoda lek Soleh bertanya kepada David.
"Gimana Den, berhasil tidak?"
"Alhamdulilah Lek, lancaaaaaaar car car" ia terkikik.
"Selamat ya Den, semoga Den David bisa membahagiakan Jessika. Saya kasihan sama dia, dari kecil hidupnya susah, terus terang saya sangat bahagia. Tapi Den David juga harus tahu, kami ini kaum kusam, ya Den David tahu sendiri lah"
"Terimakasih banyak Lek, doain kami ya" ia merasa keberhasilan hari ini juga atas andil Lek Soleh, yang mau diajak berkompromi.
Bahkan lek soleh juga berusaha memberikan waktu untuk dirinya dan Jessika mengobrol berdua.
"Pasti itu Den"
.
.
Jessika
Ia mencari cari keberadaan wanita kesayangannya itu, namun langkahnya terhenti begitu mendapati neneknya yang tengah menengadahkan tangan untuk berdoa.
Ya benar, mbok Yah tengah menunaikan shalat isya' yang tertunda karena banyak tamu yang menjenguknya.
Ia masih menunggu neneknya menyelesaikan kegiatannya, memperhatikan tubuh yang masih terbalut mukena putih tengah khusu' memanjatkan doa.
Ia tak tahu jadi apa hidupnya, bila tak ada wanita tua itu yang merawatnya sepenuh hati. Pengganti ibunya.
Ia menyusut sudut matanya yang berair dengan punggung tangannya, merasa bahagia sekaligus terharu.
"Nduk" ucap mbok yah membuyarkan lamunannya.
"Eh Wek" ia segara mengusap matanya, karena cairan bening itu tak mau berhenti keluar.
"Teko endi ae"( dari mana saja), tanya mbok yah sambil melepas mukena.
__ADS_1
"Jalan sebentar sama Den David" ia mendekat ke arah neneknya.
"Jadi kalian sudah berbaikan?"
"Maksudnya" Jessika tak menyangka neneknya tahu jika ia dan David sedang tidak saling sapa sebelumnya.
"Soleh wes cerito kabeh ning aku"( Soleh sudah cerita semua ke aku).
"Pesenku mung siji, sing ati ati. Dijogo awake, lek trae wes niat serius Ojo sui sui", ( pesanku cuma satu, yang hati hati. Jaga diri, kalau sudah serius jangan lama lama).
"Makwek sudah tua, tidak tahu sampai kapan akan mendampingi mu, kalau memang sudah merasa cocok lebih baik di segerakan. Makwek biar tenang kalau sudah ada orang yang menjagamu nduk"
"Jangan bilang gitu Wek" mata Jessika sudah menganak sungai.
"David kelihatannya anak baik nduk, Makwek hanya bisa mendoakan semoga kamu bahagia"
Ia memeluk cucunya erat, berharap kebahagiaan segera datang untuk cucu tercintanya.
*****
Mbok Yah keluar dengan mata dan hidung yang memerah, khas orang menangis.
Ia mendudukkan dirinya di kursi ruang tamu, menginterupsi lek Soleh dan David yang terlihat asyik ngobrol.
Sementara Jessika mengambil air wudhu, untuk kemudian melaksanakan shalat isya.
"Lo la nyapo kok mbendul mripate Mak?"( Lo la kenapa kok bengkak matanya mak), lek Soleh bertanya penuh kekhawatiran.
David yang melihat Mbok Yah habis menangis ikut bertanya dalam hatinya, apa yang terjadi?
Namun mbok yah hanya tersenyum, tak berniat menjawab pertanyaan lek Soleh.
"Den, apa Den David benar benar serius dengan cucu saya?" tanpa basa basi mbok yah langsung bertanya.
"Ia mbok, saya sudah lama menyimpan perasaan pada Jessika. Ya baru sekarang Jessika bisa membuka hatinya untuk saya"
"Apa Den David tidak malu, kami orang tidak punya. Sedangkan keluarga den David adalah orang terpandang" mbok Yah menatapnya dalam.
"Kenapa mbok yah bicara begitu, saya bahagia bersama Jessika mbok. Bagi saya status sosial tidaklah penting" jawab David penuh kejujuran.
"Jika memang sudah merasa cocok, jangan di tunda tunda lagi"
"Tentu mbok, saya akan segera melamar Jessika. Mbok Yah tahu sendiri usia saya sudah hampir kepala tiga, tidak ada waktu lagi bagi saya untuk sekedar main main"
"Alhamdulilah jika begitu, niat baik harus di segerakan"
Jessika mendengar obrolan mereka dari balik kelambu yang menutupi sebuah jalan menuju dapurnya.
Ia merasa bahagia hari ini, tak menyangka jika akhirnya rasa yang tumbuh tanpa sengaja dari pria yang paling ia hindari selama ini, menemukan titik terangnya.
David yang memberikan kesan pertama sombong kepadanya, justru menjadi pria yang diam diam juga ia harapkan cintanya.
Ingatannya akan pertemuan pertamanya saat di pasar malam, dia yang terjebak di kamar David saat numpang shalat dikamarnya, kejadian selepas ia tampil di waktu tasyakuran.
David yang mengambil first kiss miliknya sewaktu dia menjadi anak baru di Bryan's Caffe, Dia yang perhatian saat dirinya mendapat perawatan pasca kejadian di tusuk oleh Citra, David yang menyelamatkan dirinya dari penculikan yang di lakukan oleh Sherly, bahkan David sampai tertembak demi menyelamatkan dirinya.
Sungguh semua itu membuat dirinya merasakan jika David mungkin di takdirkan oleh Allah untuknya.
Namun ia juga tidak tahu, nada lagu yang sering dia bawakan bahkan menjadi nada nada cinta yang menghiasi relung hati David, membuat David makin jatuh hati pada Jessika.
Kini ia merasa bahagia, semesta telah melakukan tugasnya, membolak-balikan hatinya hingga kebahagian itu menghinggapinya saat ini.
Setelah menghembuskan nafasnya, Jessika mencoba menetralkan rasa grogi. Padahal biasanya ia tak segrogi saat ini ketika berhadapan dengan David.
"Nah itu Jessika, habis ngapain nduk" lek Soleh yang melihat Jessika membuka suara.
"Habis shalat Lek" ia melihat David yang tersenyum, "duh kenapa jadi deg degan gini sih".
"Saya pamit dulu mbok, mbok Yah istirahat ya" ucapnya , kemudian ia berdiri.
Ia mencium punggung tangan mbok yah , kemudian pamit.
Jessika bersama lek Soleh mengantar David kedepan, "Aku balik pisan Jes, wes bengi. Slamet dewean Nang omah iki mau" ( Aku pulang juga Jes, sudah malam. Slamet sendirian dirumah ini tadi).
Rupanya lek Soleh juga berniat undur diri dari sana.
"Den saya duluan ya, terimakasih banyak bantuannya" ucap lek Soleh.
__ADS_1
"Iya Lek sama sama" mereka bersalaman, lalu lek Soleh berjalan kaki pulang menuju rumahnya.
Mereka berdua diam, David tersenyum memandang wajah Jessika yang terlihat malu malu.
"Terimakasih" ucap Jessika yang tidak tahu harus berkata apa, ia merasa masih canggung.
"Untuk?" David menyeringai.
"Hari ini, mas David sudah terlalu banyak mambantu" ucapnya sambil mengusuk tengkuknya. Mendadak menjadi kikuk.
What? dia sudah memanggil dengan sebutan mas, ahay!!!
"cup" David mencium pipi Jessika, kemudian mengusap pucuk kepalanya.
Jessika mematung, merasakan benda kenyal yang menempel di pipinya, membuat gelenyar aneh dalam dirinya seakan bangkit.
Semburat merah itupun terpampang jelas di wajah putih wanita muda itu, oh my God!!
"Aku pulang dulu, jangan capek capek" ia berpamitan, kemudian masuk ke dalam mobilnya.
Mereka saling melambaikan tangan, seolah mengandung kata kata "sampai jumpa lagi sayang" 😁.
Jessika merasa bahagia tak terkira, bahkan senyum masih mengambang saat ia memasuki rumahnya, setelah mengunci pintu dan mematikan lampu yang menyala diruang tamu , ia bergegas memasuki kamar sederhananya.
Ia berguling kesana dan kemari, oh betapa bahagianya.
Beberapa menit kemudian,
Tring, ponselnya berbunyi.
"Cepat tidur, jangan begadang. Love you 😘"
Entah mengapa buncahan rasa bahagia itu seolah makin bertambah, apalagi David mengiriminya pesan yang makin membuat Jessika mabuk kepayang.
Jessika bahkan tidak memikirkan dari mana David mendapatkan nomer ponselnya yang baru.
Ia tak berniat membalasnya, ia masih canggung dan ini adalah kali pertamanya dia dekat dengan laki laki.
Rumah pak Edy
Begitu tiba di rumah besar itu, dia menyerahkan kunci mobilnya pada Victor.
Pertanda menyuruh lelaki dengan rambut gondrong itu, untuk memarkirkan kendaraannya dengan benar.
Ia lalu mengetik sebuah pesan, yang di tujukan untuk Jessika. Jangan ditanya dapat nomer dari siapa,Sultan mah bebas.
Yang pasti hasil dari titahnya memerintah Adrian, namun bukan hal yang sulit bagi Adrian.
Ia tinggal meminta kepada Vera, ya bisa jadi Adrian dan Vera saat ini tengah dekat.
"Sumringah banget rupa si bos" ucap Victor kepada Jack, yang tengah asik menghisap rokok.
Begitu memasuki rumah, ia mendapati Leo dan papanya yang mengobrol di ruang tamu.
"Baru pulang, dari mana aja" pak Edy mengintrogasi putra sulungnya itu.
"Tadi bantu bantu dirumah Jessika dulu pa" ucapnya menerangkan.
"Besok rencana kita ke kota David, sebaiknya kita segera menemui keluarga Bella"
"Ok aku setuju, makin cepat makin baik"
"Apa Jessika sudah tahu jika aku akan menikah?" Leo bertanya kepada kakaknya, yang terlihat sumringah.
"Aku sudah menjelaskan semuanya Leo, sepertinya dia akan memaafkanmu" ucap David.
"Benarkah? ,jadi hari ini kalian sudah?" ucap Leo seperti menebak sesuatu sambil tersenyum.
"Yap, sepertinya papa akan memiliki dua menantu sekaligus dari kedua anak papa ini" ucapnya dengan bangga.
"Maksudnya?" Leo bertanya.
"Neneknya Jessika merestui kami, bahkan beliau meminta kejelasan jika memang kami sama sama memiliki perasaan, aku diminta segera melangkah ke hal yang lebih serius"
"Kalau begitu pernikahan kalian di langsungkan bersamaan saja"
"Apa?" David dan Leo berucap dengan kompak.
__ADS_1