
.
.
.
"Mbak kita sudah sampai" ucap driver tersebut.
Setelah memberikan sejumlah uang untuk membayar, Jessika lalu turun dari mobil itu dengan perut yang masih terasa mual, dan bingung bagaimana caranya ia masuk.
"Gimana masuknya ini, aduh " Jessika celingak celinguk sambil mencari barangkali ada orang disana.
Jessika melihat ada satpam yang berjaga di sana, " Pak permisi " ucapnya.
"Ada apa non, cari siapa" tanya satpam itu sambil menghampiri
Jessika.
"Emmm anu saya...." belum selesai Jessika berbicara, handphone milik satpam itu berbunyi.
"Iya den"
"..............."
"Oh begitu"
"............."
"Dari Bryan's Caffe ya" satpam itu bertanya pada Jessika, dengan posisi sebelah tangannya memegang ponsel miliknya dengan sambungan telepon yang masih on.
Jessika hanya mengangguk, tanda mengiyakan pertanyaan si satpam.
"Sudah sampai ini den"
".............."
"Oh begitu baik den, siap laksanakan".
Telepon terputus, dan satpam itupun menyuruh Jessika untuk masuk. Sesampainya di dalam, seorang ART menyuruh Jessika untuk masuk ke kamar majikannya.
Jessika sangat takjub dengan rumah besar dan mewah itu, terdapat perabot yang bagus dan sudah pasti dengan harga yang fantastis.
Jessika meyakini jika pelanggannya ini adalah orang kaya, bagaimana tidak bahkan ia bis membuat manusia seperti Jessika harus bersusah payah kemari hanya untuk mengantar makanan yang di pesannya.
"Kenapa gak di terima di depan aja sih tadi, kenapa aku harus masuk sih CK" Jessika berdecak kesal.
Namun langkahnya terhenti karena mendengar notifikasi di ponsel miliknya.
"TOLONG KAMU FOTO PELANGGAN ITU SAAT DIA MEMAKAN PESANANNYA, BUKTI BAHWA KAMU SUDAH MENYELESAIKAN TUGAS, TTD Bryan "
Pesan dari Bryan itu membuat Jessika sangat kesal, ternyata bosnya benar benar menghukumnya.
"Ini kayaknya kamarnya, tadi pembantunya bilang kamar ke dua setelah lewat tangga" gumam Jessika.
Tok Tok Tok
"Permisi dari Bryan's Caffe" ucap Jessika.
__ADS_1
"Sebentar" sahut seseorang dari dalam kamar.
Terdengar langkah kaki yang berjalan dari dalam kamar mendekati pintu, dan membuka kunci perlahan.
Saat pintu itu dibuka, betapa terkejutnya Leo yang melihat seorang wanita yang ia rindukan ada di hadapannya, di dalam rumahnya, bahkan di depan kamarnya saat ini.
"Jessika!!!!" ucap Leo yang kaget bukan main.
"Mas Leo " ucap Jessika lebih terkejut.
"Kamu, kenapa bisa disini dan astaga" Leo Sampai bingung sendiri dengan pertanyaan yang ia ajukan, ia merasa senang namun juga penuh pertanyaan. Mengapa Jessika bisa ada di kota S.
Leo menarik tangan Jessika masuk ke dalam kamarnya.
"Eh mas Leo" ucap Jessika yang kaget saat dirinya di tarik masuk oleh Leo.
"Tenang saja kita bicara dulu disana" ucap Leo yang membawa Jessika ke balkon kamarnya, dan disana ada sofa yang sudah tertata rapi.
"Sekarang jelaskan, kamu kenapa bisa ada disini " Leo bertanya sambil mendudukkan tubuhnya di sofa empuk itu.
Jessika menceritakan tentang minatnya pada pekerjaan yang di posting oleh temannya, karena ia sudah menganggur lebih dari sebulan sehabis kejadian di gudang milik papanya Leo.
Ia juga berkata jika Jessika tidak melakukan seperti apa yang di sangkakan kepada dirinya.
"Aku bersumpah demi Allah mas, malam itu saat mati lampu mulutku ada yang membekap, dan saat saya sadar saya sudah berada di kebun. Tapi semua warga disana tidak ada yang percaya, karena saat melihat CCTV disana jelas orang itu adalah saya. Saya juga tidak tahu kenapa orang itu bisa mirip sekali dengan saya, tapi pak Edy juga tidak bisa membela saya karena banyak warga dan pekerja lain yang sudah terlanjur memvonis saya"
Jessika bercerita sambil menangis, ia tahu jika Leo adalah orang yang baik, namun saat kejadian Leo tidak berada disana.
"Kau yakin dengan semua itu Jes, ada yang sengaja membiusmu?" tanya Leo.
Jessika hanya mengangguk sambil menyeka air matanya.
Tiba tiba Leo memeluk tubuh Jessika, merasakan aroma wangi dari rambut Jessika. mendekap tubuh padat itu.
Jessika yang di peluk hanya diam, baru kali ini ia menumpahkan kesedihannya kepada lawan jenis, meski ia tahu lelaki yang memeluknya itu adalah lelaki yang pernah dia tolak pernyataan cintanya, beberapa waktu yang lalu.
Jessika mendorong pelan tubuh Leo ,dan membuat pelukan itu terlepas. Membuat Leo menghempaskan nafasnya kasar.
"Jadi kau bekerja di cafe milik Bryan" tanya Leo.
"Iya mas, dan ini saya disuruh ngantar makanan kesini, apa mas Leo sakit kenapa badanmu panas mas" tanya Jessika karena saat Leo memeluknya tadi, ia merasakan jika badan Leo tidak pada suhu normal.
"Iya aku memang kurang enak badan, aku ingin makan rolade tadi dan kebetulan aku memesannya pada Bryan" jawabnya singkat.
"Astaga, apa mas Leo sudah ke dokter ini panas loh mas" ucap Jessika sambil meletakkan tangannya pada dahi Leo.
"Belum , sudahlah aku tidak apa apa" ucap Leo yang senang atas perlakuan Jessika.
"Ya sudah mas Leo cepat makan ini, tadi aku susah susah bawain kesini mana taksinya bau tadi, aku sampai hampir mabuk mas" Jessika berucap sambil membuka bungkus makanan itu.
Jessika merasa berhutang Budi pada Leo, menurutnya Leo orang baik namun ia memang tidak memiliki perasaan apapun pada Leo, jadi ia menolaknya.
Leo yang mendengar perkataan Jessika kalau ia hampir mabuk, kembali teringat saat malam mereka keluar bersama Tomy dan Eka. Jessika saat itu juga mabuk, ia merasa kasihan pada Jessika.
"Aku mau makan kalau kamu suapin" ucap Leo manja.
"Ih mas Leo, makan sendiri lah" tolak Jessika.
__ADS_1
"Ayo lah, aku dari tadi belum makan apa apa Lo" Leo merayu.
Jessika yang kasihan itupun langsung menyuapkan potongan rolade lezat itu pada Leo.
"emmm enakkk" Leo berucap sambil mengunyah makanan itu.
"Mas Leo disini sendiri" tanya Jessika sambil mengambil potongan makanan itu kembali.
"Sama bang David lah, kan papa masih di kampung kamu, sama beberapa ART disini"
jawab Leo.
Jessika yang mendengar nama David, kini teringat kembali dengan kejadian tadi siang. Ia merasa merinding tiba tiba, malu campur kesal.
Ia kini menjadi ingin cepat pulang sebelum David kembali ke rumah itu, ia masih malu dan kesal jika bertemu David. Pria yang mencuri first kiss miliknya.
"ART apa ART mas" tanya Jessika.
"Asisten Rumah Tangga" jawab Leo dan mendapat balasan anggukan dari Jessika.
"Nih suapan terakhir" ucap Jessika.
"aaaaaaa emmmm enak" ucap Leo dengan mulut penuh sambil memberikan dua jempolnya.
"Makasih ya, aku seneng banget ketemu kamu. Oh iya kamu berhutang penjelasan kepadaku, kenapa ponselmu susah aku hubungi" ucap Leo.
Jessika lantas menceritakan jika ia sengaja mengganti nomer telepon, dan ia meminta maaf pada Leo.
Leo memaklumi, pasti ia kecewa dengan kejadian yang menimpanya. Nampaknya Leo benar benar harus meminta Tomy untuk mengusut kasus di gudang cabai milik papanya, yang melibatkan Jessika.
Seperti ada yang tidak beres disana, bahkan sampai saat ini papanya bilang jika pak Eko juga belum di temukan, bahkan pihak kepolisian juga sudah ikut andil di dalamnya. Namun masih belum menemukan titik terang terkait keberadaan pak Eko.
"Kamu gimana baliknya" tanya Leo.
"Aku nanti naik taksi aja lagi mas, biarin deh nahan mual lagi, nanti kasian temenku di kost nungguin aku" jawab Jessika.
"Dimana kost kamu Jes" tanya Leo.
"Di daerah NN mas, aku juga belum terlalu hafal daerah sini" jawab Jessika.
"Aku antar ya?" Leo menawari.
"Ga usah mas, mas Leo kan sakit. Lagipula aku sambil belajar biar tahu daerah sini" tolak Jessika.
"Ya sudah, kapan kapan aku main ke kost kamu ya" Leo berucap.
"Ia mas, aku juga gak nyangka Lo kalau tugas dari bos ini ternyata ke rumahnya mas Leo. Berarti mas Leo berteman dong sama bosku" tanya Jessika.
"Sepertinya aku harus berterimakasih pada Bryan karena sudah menerimamu, ia dia teman baikku" jawab Leo.
"Ya sudah mas, aku pulang dulu ya sudah sore ini. Cepat sehat ya mas Leo, periksa saja ke dokter Lo mas, biar cepat sehat Lo.
Jessika akhirnya pulang, Leo tak mengantarkan sampai kedepan karena ia masih meras sedikit pusing.
Namun saat membuka gerbang, ia melihat sebuah mobil mewah yang masuk ke rumah itu.
"Tuan David...........
__ADS_1
Please like and comment 🙏