
.
.
.
"Seringkali Tuhan mempertemukan kita dengan orang salah, sebelum mempertemukan kita dengan orang yang tepat."
Jessika akhirnya terbangun karena merasakan sesuatu yang menusuk nusuk pipinya, rupanya David sengaja membangunkan Jessika. Ingin rasanya ia memindahkan tubuh wanita itu, namun ia takut terjadi salah paham.
"Euggghhhh" ia menggeliat ringan.
"Astaga, maafkan aku mas" ucapnya kemudian cepat cepat melepaskan mukena berwana violet itu, kemudian melipatnya.
"Maaf membangunkan mu, tapi jika ia lelah sebaiknya jangan tidur disini. Nanti masuk angin" ia merasa tak tega harus mengusik Jessika.
"Aku capek banget, gara gara obat anti mabok itu, sampai sekarang ngantuk terus aku" ia menggerutu, salah dia juga meminum obat itu dua tablet sekaligus.
Memberikannya efek domino, selain membuatnya benar benar tidak mabuk, namun juga membuat matanya lengket tak tertahankan.
Sore hari
Ternyata David mengulur kepulangan Jessika, mereka keluar rumah sekitar jam empat sore, namun baru tiba di kost pukul 8 malam.
David mengajaknya berputar putar tidak jelas, sambil wisata kuliner jajanan street food.
Lantaran Jessika yang memintanya, ia malah tak nyaman jika harus makan di restoran mewah. Selain bukan tempatnya, menurutnya makanan yang mahal itu seringkali tidak cocok dengan lidahnya, belum lagi nama nama makanan yang cukup sulit untuk di eja.
Membuat dia memutuskan untuk membeli makanan khas pinggiran jalan yang lezat dan dengan harga yang merakyat.
Ia terlihat membeli batagor khas Bandung, onde onde isi coklat, martabak manis, martabak asin, dan juga minuman kekinian yang lagi menjamur dimana-mana.
Tentu saja harga semua makanan itu, bukanlah apa apa bagi seorang David.
"Yakin ini aja?" tawar David.
"Udah lah mas, ini udah banyak"
Namun ketika mereka berjalan hendak menuju mobil, ia melihat seorang anak remaja yang tengah menjajakan dagangannya.
Berupa donat kentang, dengan topping beranekaragam yang menggugah selera.
"Kak beli donat kak" ia menawarkan dagangannya kepada Jessika yang tengah lewat dihadapannya.
Terlihat sepi dari pada lapak lain yang berada di sebelahnya.
"Kamu buat sendiri?" Jessika bertanya sambil tersenyum.
Anak laki laki ini kurus, berkulit coklat cenderung gelap, memakai kaos gombrong dan celana selutut.
"Ini buatan ibu kak, homemade. Biasanya ibu yang jual" ia mempromosikan dagangannya, berharap itu bisa menarik calon konsumennya.
"Terus ibu kamu kemana?" ia menangkap raut sedih di wajah anak remaja itu, entah mengapa Jessika malah menginterogasi bocah itu.
"Bapak lagi sakit kak, jadi saya gantiin ibu"ucapnya tertunduk, putus asa karena sedari tadi belum ada satupun pembeli yang sudi untuk membeli dagangannya.
Jessika merasa kasihan, "Berapa sekotak dek?"
"25 ribu kak"
"Kakak beli 4 ya dek" ia lalu menyerahkan dua lembar uang merah bergambar Proklamator RI, uang pribadinya tentunya.
Sisa ongkos perjalanannya pulang," uang bisa di cari lagi, anak ini lebih membutuhkan" batinnya berbicara.
"Ini kebanyakan kak, 4 kotak jadinya seratus ribu"
"Yang ini buat kamu, kakak lagi ada rejeki" Jessika tersenyum kepada anak itu, bahkan matanya sudah berkaca kaca.
Anak sekecil itu sudah harus berjualan, beruntungnya ia masih memiliki kedua orang tua. Lebih beruntung daripada dirinya.
Wajah anak itu berubah berbinar, David hanya mendengarkan interaksi kedua manusia di depannya itu.
"Ini kak" anak itu menyerahkan 4 kotak donat, dengan per kotaknya berisi 10 donat kentang lezat.
"Salam buat ibu kamu, semoga bapak kamu cepat sehat ya.
__ADS_1
David yang melihat kebaikan Jessika merasa takjub, luar biasa!
"Benar benar berhati malaikat" ia membatin.
David membantu memasukkan kantong kantong berisikan makanan street food hasil dari Jessika yang kalab tadi.
"Aku kesana bentar ada yang ketinggalan" David pamit kepada Jessika.
Ia mengangguk tanda setuju,"jangan lama lama"
David kembali kepada anak lelaki tadi.
"Hey, ini untukmu" David menyerahkan 10 lembar uang bergambar Proklamator berwarna merah itu.
"Untuk saya om?" anak itu terkejut bukan kepalang.
"CK " David mendecak, tadi aja Jessika di panggil kak, kenapa dia malah di panggil om, batinnya kesal.
"Iya, nanti jika ada pasangan yang berjalan berdua kamu kasih sekotak donat, sampai donat kamu habis. Anggap ini saya yang bayarin, ok" David menepuk pundak anak itu lalu detik itu juga pergi menyusul Jessika.
"Terimakasih banyak om" ucapnya sambil berteriak ceria dan mengangkat uang yang banyak tadi.
"Oh ****, om lagi" ucapnya dalam hati.
David masih bisa mendengar dari kejauhan suara anak lelaki kurus tadi.
"Maaf ya, tadi ketemu teman. Kita langsung pulang?" ucapnya sambil memasang sabuk pengaman.
"Kita mampir ke tempat temanku bisa nggak"
Akhirnya David menuruti permintaan Jessika, tanpa di nyana Jessika memintanya pergi ke kontrakan Andhika.
Laki laki tampan seusia dirinya, yang pernah berjasa menolongnya sewaktu pertama kali ia menginjakkan kakinya di kota.
"Rumah siapa ini" David mengernyitkan dahinya.
"Temanku" Jessika tersenyum sejurus kemudian membuka pintu mobil.
Ia terlihat membawa sekotak donat lezat tadi dalam tentengannya.
Terlihat pria tampan membukakan pintu yang barusaja di ketuk oleh Jessika.
"Jessika!" pria itu terkejut, namun cenderung bahagia.
"Ini beneran kamu?" ia tiba tiba meraih tangan Jessika, dan memegangnya.
Membuat David seakan ingin menampik tangan kurang ajar itu.
"Emm iya mas" Jessika menarik tangannya sungkan.
Sementara wajah David sudah seperti seekor banteng yang siap menerkam benda di depannya. Terbakar api cemburu.
"Oh mari masuk" Andhika mempersilahkan mereka berdua masuk dan duduk di kursi dengan model minimalis itu.
Terlihat bersih dan nyaman, meski ada beberapa kekacauan yang terjadi karena Andhika tengah rempong mengerjakan tugas kuliahnya.
"Mas Dhika kenalin ini mas David"
"Mas David ini mas Dhika"
Jessika tersenyum kaku demi mendapati wajah David yang tiba tiba menjadi datar.
Mereka berdua bersalaman tanpa basa basi.
"Ini mas, buat mas Dhika" ucapnya menyerahkan sekotak donat kentang lezat.
"Emmm aku kesini selain mau silaturahmi juga mau berterimakasih, sekaligus pamitan" ia memulai percakapan karena David hanya diam dan memasang muka devilnya.
"Lok pamitan?" Andhika bertanya bingung.
"Aku mau pulang ke kampung mas, mau berhenti bekerja".
Di mobil menuju perjalanan pulang ke kostannya, David masih membisu. Mendiamkan Jessika tanpa sepatah kata pun.
Jessika tidak mengerti, mengapa David diam seperti ini. Membuatnya menjadi tak nyaman.
__ADS_1
"Tadi itu mantan kamu" David akhirnya mengucapkan perkataannya setelah hampir 30 menit mereka saling diam.
"Mantan?" Jessika menoleh kepada David yang terlihat masih fokus menyetir.
Membuat dia menyadari jika pria bertubuh kekar di sampingnya itu, telah cemburu.
"Kan tadi aku udah bilang dia teman, dia yang nolong aku waktu aku pertama kesini, nolongin aku sewaktu aku belum bisa menghubungi Vera mas"
"Ya tapi kenapa pegang pegang tangan begitu tadi, terus pas kamu pulang dia meluk kamu lagi"
Sumpah, David terlihat seperti anak kecil banget.
"Mas, aku juga gak tau kenapa mas Dhika tiba tiba memeluk aku tadi, lagipula aku langsung mendorong dia kan" Jessika kesal, David sungguh bersikap aneh hari ini.
"Aku cemburu!!" David memberengut, ingin rasanya dia menonyor pria yang seenaknya memeluk Jessika tadi.
Andhika
Suara pintu yang terdengar ada yang mengetuk, membuatnya untuk meninggalkan kesibukannya dihadapan layar laptop.
Ia terkejut begitu mendapati sosok yang masih bersemayam dalam hatinya itu, nyaris tak percaya.
Namun ia juga bertanya-tanya, dengan siapa dia datang malam ini. Seorang pria berperawakan tinggi, berbadan kekar, berwajah tampan dan sepertinya bukan dari golongan pengeretan.
Namun sikapnya yang dingin dan datar kepada Andhika, membuatnya untuk tak terlalu mau berinteraksi dengan pria itu.
"Jessika benarkah ini kamu?"
"Ayo silahkan masuk"
Begitu mendengar ucapan Jessika yang akan pamit, ia merasa seperti kecolongan. Belum juga sempat berkunjung ke tempat Jessika bekerja karena kesibukannya yang tak pernah usai, kini ia malah harus di pamiti seperti ini.
"Mak wek sakit mas, aku tidak mau jadi beban pikiran beliau kalau di kota terus. Ga ada gunanya juga aku cari duit banyak kalau Mak wek ku gak bahagia disana"
"Aku pulang ya mas Dhika, terimakasih buat kebaikannya. Baik baik disini mas, dan semoga sukses jadi dokternya"
Mendengar ucapan Jessika yang memberikan semangat untuk dirinya, membuat dia reflek memeluk tubuh wanita itu.
Ia tidak bisa menahan dirinya lagi, bahkan ia mengabaikan tatapan elang dari pria tampan di sampingnya itu.
"Mas tolong jangan begini" Jessika mendorong tubuhnya pelan.
"Maaf Jes, kamu juga semoga sukses di lain tempat ya. Terima sudah menyempatkan datang kemari"
David
Pria sialan!, beraninya dia memeluk calon istriku. Awas saja!
Ia marah, cemburu, tak rela.
Ia masih berdiam diri, menetralkan gemuruh yang membara di dadanya.
"Apakah dia mantan pacarnya?"
"Siapa dia"
"Dia tampan, apa dia lebih tampan dariku"
"Tidak, dia masih mahasiswa. Cih!!!"
Ia tak bisa menahan diri lagi untuk tak bertanya kepada Jessika, sungguh cemburu itu tidak enak. Sama sekali tidak enak.
Setelah mengatakan jika dia cemburu, Jessika malah mentertawakan dirinya.
"Bhahahahhaha" Jessika terbahak bahak.
"Mas cemburu? sama mas Dhika?
"Mas, dia itu teman aku di kampung Lo, lagian mas aku itu udah punya kamu, jadi tolong jangan meragukanku" Jessika menghadap ke arah David.
"Mas bisa pegang perkataanku" kali ini dia berani memegang pipi David yang di tumbuhi bulu halus, membuat pria itu makin nampak maskulin.
David meraih tangan lembut Jessika, menggenggamnya lalu menciumnya.
"Makasih sayang"
__ADS_1
"Jangan buat aku cemburu lagi" ucapnya masih menggenggam tangan lembut wanita yang ia cintai itu.