
.
.
.
Jessika terpekur menatap lantai licin mengkilat di depannya, ia tengah menunggu kedatangan Bryan. Pria tampan bertato itu tengah menjadi orang yang paling ia tunggu saat ini.
Setelah surat resign ia serahkan, ia memenuhi panggilan dari Bryan. Tidak tahu apa yang akan di bicarakan.
Tap tap tap
Terdengar bunyi sepatu yang melangkah mendekat ke arahnya.
"Sory ya, macet banget tadi, ayo masuk" Bryan yang nampak fresh dan segar di pagi hari itu, tersenyum ramah kepada Jessika yang tengah duduk di kursi yang berada di depan ruangan bosnya, mungkin beberapa jam lagi menjadi mantan bosnya.
"Kamu yakin dengan keputusan kamu ini, padahal karena kontribusi kamu caffe ku tambah rame Jes, banyak yang suka sama cara kami bermusik"
Jessika awalnya takut bila tidak langsung di ijinkan, namun karena kebaikan hati Bryan lah yang mengetahui alasan di balik niatan dirinya untuk mengundurkan diri, Bryan menerima surat pengunduran dirinya.
Bryan nampak memasang wajah sedih, sudah pasti lantaran salah satu magnet di dalam bisnis Caffe nya telah mengundurkan diri.
Tak bisa di tampik, jika kehadiran Jessika menjadi daya tarik tersendiri bagi para tamu yang hadir.
"Terimakasih bos sudah memberi saya kesempatan bekerja disini, saya mohon maaf apabila saya melakukan banyak kesalahan selama saya bekerja, dan semoga Caffe ini bisa makin maju"
"Semoga kamu sukses di tempat lain"
*****
Vera nampak bermuram durja, hari ini dia libur. Namun harus datang ke Bryan's Caffe lantaran tak merelakan Jessika untuk datang ke Caffe.
Ia juga sedih karena keputusan Jessika yang akan keluar kerja, dan memutuskan untuk pulang kampung.
Ia menunggu Jessika di bawah, sambil di berondong pertanyaan dari beberapa karyawan lain yang mengetahui jika salah satu singer di Caffe itu akan keluar.
"Tau ah"
"Tanya aja sendiri"
"Gak tau"
Kata kata seperti itu yang terlontar dari mulut Vera ,saat rekan rekannya mencecar dirinya dengan berbagai pertanyaan.
Jessika juga berpamitan dengan teman temannya, mereka saling berpelukan bahkan Bu Maya juga terlihat menitikan air mata.
"Baik baik kamu Jes, kalau kawin jangan lupa undang kita. Ntar kita datang ke desa Lo rombongan" Bu Maya memeluk erat Jessika, sebagai tanda melepas kepergian rekan kerjanya itu.
"Maafin kita ya kalau ada salah" ucap semua karyawan dengan bergantian.
"Sama sama, semoga silaturahmi kita masih bisa terjalin, dan semoga kalian makin sukses"
"Pak saya minta maaf kalau ada salah salah ya," Jessika berpamitan kepada pak satpam yang bertugas menjaga Caffe itu.
"Loh neng mau kemana, kok pamitan"
"Saya mau pulang kampung pak"
"Oalah begitu, bapak juga minta maaf kalau ada salah ya neng, semoga sukses di lain tempat"
"Amin"
*****
Vera hanya diam duduk di kursi, ia merasa sedih mengetahui Jessika akan pergi dari kost itu.
Ia akan kembali seorang diri.
"Ver, kamu kenapa sih dari kemaren kayak orang kehilangan semangat juang tau nggak"
Vera hanya diam, matanya sudah panas hendak mengeluarkan kristal bening yang sudah mau berubah menjadi buliran yang siap meluncur.
"Lu kenapa tega ninggalin gue sih Jes" pertahanannya sudah jebol, tak terbendung lagi. Ia menangis.
"Maafin aku ya Ver, Mak wek lebih membutuhkan aku disana" ia memeluk teman yang sudah selalu ada untuknya saat berada di kota.
"Nanti malam kita jalan jalan ya, anggap sebagai perpisahan" ia melepas pelukan mencoba menghibur temannya itu.
Jessika
Selepas shalat dhuhur ia yang berniat ingin tidur siang, tak bisa memejamkan matanya.
Ia membuka ponselnya, ternyata ada banyak pesan dari David.
"Lagi apa?"
"kebiasaan ngilang"
"Udah jadi pamitan ke Bryan belum"
Ia tersenyum, ia memang tak sempat untuk mengabari, selain masih canggung dengan David ia memang terfokus dengan Vera yang ngambek tatkala tahu jika dia akan pulang ke desa.
"Aku nanti malam mau keluar sama Vera"
Ia membalas, meskipun jeda waktunya terbilang sangat lama. Itu sih bukan membalas, tapi membuat pesan baru.
__ADS_1
"Kemana?" tak disangka David membalas begitu cepat, apa pria ini selalu standby di depan ponselnya. Begitu pikir Jessika.
"Ga tau, mau jalan aja. Vera ngambek ke aku😁"
"CK, mau keluar tapi belum tahu tujuan 😤"
"Ya aku kan emang gak tahu tempat disini, biar Vera aja yang pilih🤟"
"Aku nyusul ya nanti🤗"
"Ga boleh 😜"
"Kenapa?"
"Kita berdua mau lihat cowok cowok ganteng😛" Jessika sengaja menggoda David, ia bahkan cekikikan di samping Vera yang sudah larut di alam mimpi.
"Jangan macam macam😠😠😠😠" sepertinya David sudah terbakar cemburu, hanya dengan membaca balasan Jessika yang seperti itu. Benar benar bucin.
1 detik
2 detik
3 detik
Jessika sengaja tak membalas pesan David, ia memilih untuk mencari aktivitas keluar, seperti membereskan jemuran atau bersih bersih.
David
Sejak Jessika mengirimnya pesan jika hari ini ia bersama Vera akan memenuhi panggilan Bryan terkait surah pengunduran dirinya, ia meletakkan ponselnya persis di sambil laptop yang tengah ia geluti.
Pesan yang dia kirim tak juga mendapat balasan, setelah makan siang barulah handphone miliknya mengeluarkan bunyi notifikasi.
Secepat kilat dia menyambar benda pipih mengkilat itu, ia tersenyum senyum sendiri saat Jessika membalasnya.
Hatinya benar benar penuh bunga bertebaran disana sini, beginilah rasanya jatuh cinta yang sebenarnya.
Namun emosi tiba tiba memenuhi rongga otaknya tatkala membaca pesan Jessika
"Kita berdua mau lihat cowok cowok ganteng😛"
Ia menjadi cemburu tidak jelas, bahkan ia tak bisa membedakan mana guyonan dan mana hal serius. Benar benar bucin akut.
Sejurus kemudian ia men-dial nomer Adrian.
Calling Adrian
"Hallo" Adrian menjawab panggilan darinya.
"Cepat cari tahu kemana teman Jessika akan pergi nanti malam, jika sudah tahu ikut aku menemui mereka"
Tut
Adrian
Ia tengah bersama Putri mengerjakan sebuah laporan keuangan, semenjak putri magang disana ia tak bisa menafikkan jika Putri adalah gadis cerdas.
Di tambah titah dari pak Edy untuk menempatkan Putri di bagian yang agak krusial, menjadikan Adrian tak bisa berbuat banyak selain menurut.
Ia juga harus mengajari Putri sendirian, lantaran Tomy yang tengah berada di desa dengan suatu misi yang ia sendiri belum tahu.
Namun sebuah panggilan menginterupsi kegiatannya yang terbilang sibuk itu.
"Cepat cari tahu kemana teman Jessika akan pergi nanti malam, jika sudah tahu ikut aku menemui mereka"
Tut
"CK, kenapa si David ini. Memangnya mau kemana Jessika" ia bermonolog sambil menatap layar ponselnya yang baru saja dimatikan sepihak oleh David.
Putri yang mendengar Adrian mengucapkan nama Jessika menjadi ingin tahu.
"Kenapa tuan?" ia berbicara dengan nada formal.
"Ga ada apa apa, udah kamu minta tanda tangan ke ruangannya David setelah ini" jawab Adrian yang tidak bisa sembarangan menceritakan kegiatan bosnya itu.
Putri
Hatinya merasa terbakar, begitu mendengar Adrian mengucapkan nama musuhnya itu.
"Kenapa Kak David berkeinginan untuk menemui Jessika" ia membatin, sambil berjalan membawa sebuah map berisikan dokumen yang musti di tandatangani David.
Tok tok tok
Ia mengetuk pintu ruangan bertuliskan Direktur Utama Darmawan Group.
"Masuk" terdengar suara dari dalam.
Putri membuka pintu dan menampakkan senyum terbaiknya kepada David.
"Kak David ini dokumennya" putri bersikap sok karan kepada David.
"Maaf Put, jika di kantor kau bisa memanggilku dengan sebutan yang lebih formal" ucap David sambil menerima Map yang Putri serahkan.
Putri merasa tak senang dengan ucapan David barusan, ia kesal.
"Baik pak" ucapnya terpaksa.
__ADS_1
"Begitu lebih bagus" David menjawab.
Akan ku periksa dulu laporan ini, kau bisa kembali ke tempatmu.
Putri merasa David mejadi dingin kepadanya, ia juga tak mengetahui apa sebenarnya penyebabnya.
"Baik permisi" ucapnya yang mau tidak mau menuruti apa kata David.
"Sial an, breng s ek !!!!!" ia memaki setelah berada diluar, bahkan beberapa karyawan yang lewat menatapnya.
"Apa Lo lihat lihat" ia bahkan berani kepada beberapa karyawan yang se usianya, padajal dia cuman anak magang disana.
Ia terlalu menyombongkan dirinya, menjual nama ayahnya yang dekat dengan pak Edy sebagai tangan kanannya.
Apalagi dirinya yang beberapa waktu yang lalu sempat di dapuk menjadi bintang iklan produk baru perusahaan David, tentu menjadi semakin besar kepala.
Membuat beberapa karyawan lain , menaruh percaya kepada Putri jika dirinya memang orang penting dalam keluarga pak Edy.
*****
Malam menjelang, hangatnya sinar fajar berganti dengan dinginnya angin malam. Cuaca malam ini cerah, terbukti dari hadirnya bintang bintang yang menyebar di langit, dan bulan yang tengah purnama, membulat sempurna.
Ia berdandan cantik malam ini, Vera pun juga mereka bahkan sengaja memesan taksi online dan tidak menggunakan motor.
Mereka mengenakan pakaian casual, dengan balutan make up natural yang makin membuat mereka berdua berbinar malam ini.
"Jangan sampai lu dah dandan cantik gini, lu mabok lagi" Vera berkelakar sambil menyambar Sling bag andalannya.
"Aku usahain enggak, ya kali udah dandan cantik masih buang bubur sembarangan" mereka tertawa bersamaan.
Mereka berdua sengaja berjalan keluar kost, karena ingin memudahkan supir taksi online untuk menemukan mereka.
"Mbak Jessika" ucap supir itu saat membuka kaca mobil, saat mobil warna silver itu berhenti di depan mereka.
"Ya mas"
Mereka kemudian masuk, dan duduk di kuris penumpang.
Tujuan mereka adalah menonton, ia ingin menghabiskan malam ini untuk bersenang-senang.
"Pokoknya aku mau nonton horror Jes" Vera dengan semangatnya membicarakan susunan kegiatan mereka malam ini.
Namun tiba tiba
Adrian calling
"Adrian, tumben" Vera berbicara sendiri sambil menggeser tombil hijau pada layar ponselnya.
"Dimana?"
"Dijalan"
"Iya, maksudnya tujuannya kemana"
"Kenapa sih"
"Udah jawab aja, tolongin aku, aku lagi dalam bahaya ni kalau gak bisa nemuin kalian dimana"
"Bhahahahhaha, ngaco ah"
"Ver, serius jawab mau kemana kalian"
"Ke bioskop XXX"
Tut
Adrian memutuskan teleponnya, membuat Vera mengumpat kesal.
"Gak sopan banget sih ni orang" Vera menggerutu.
"Cie cie, yang lagi PDKT" Jessika menggoda Vera yang wajahnya sudah bersemu merah.
"Paan sih Jes" ia benar benar malu.
"Cocok kok"
"Menurutmu dia gimana?"
"Gimana apanya?"
"CK, ya Adrian orangnya gimana"
"Oh itu, di tampan, sopan, terus ya sejauh ini dia baik"
"Itu sih biasa aja" Vera memanyunkan bibirnya.
"Biasa gimana, intinya kalau kamu nyaman lanjutin aja, dia kan orang baik baik"
"Aku minder Jes" Vera menunduk sendu.
"Aku orang biasa, sementara dia orang tajir. Pasti dia udah biasa deket sama yang selevel" tambahnya.
Namun sejurus kemudian mereka diam, dan larut dalam pikiran masing masing. Karena apa yang dirasakan Vera, sebetulnya sama dengan yang ia rasakan.
Tapi, ya ga tau lah. Tuhan sudah punya skenario terbaikNya.
__ADS_1