
.
.
.
Setelah melalui perdebatan yang cukup alot, mbok Yah memaksa pulang lantaran beliau sudah tidak tahan disana, Mbok Yah juga sudah merasa sehat. Sore itu juga ia di ijinkan pulang dengan catatan menandatangani surat pulang paksa.
Namun Jessika sedikit dibuat bingung lebih tepatnya kaget, karena saat akan melakukan pembayaran, petugas memberikan informasi jika semua biayanya sudah lunas.
"Maaf ya mbak siapa yang memberikan semua uang itu"
"Donatur mbak, beliau tidak mau disebutkan namanya. Dan ini masih ada sisa dari pembayaran" petugas wanita itu menyodorkan amplop coklat.
"Dan ini rincian pembayarannya mbak" petugas dengan name tag Reny itu, tersenyum seraya menyerahkan amplop yang berisi lembaran berisikan rincian dan total pembayaran yang sudah di stamp LUNAS.
"Bisa tebus obat di apotek ya mbak, sama ini kartu kontrolnya" ucap petugas itu menambahkan penjelasan.
Jessika benar benar bingung, siapa kira kira yang berbaik hati menolong dirinya.
Seketika ia berinisiatif menelpon lek Soleh.
"Hallo lek, lek kok wes dibayar kabeh Iki biayane. Malah iseh susuk Iki di wehne aku duite ambi petugas e" ( halo lek, kok udah dibayar semua biayanya ini. Malah masih ada kembalian ini diberikan sama aku uangnya.
"........................"
"Laiya aku juga bingung Iki, terus gimana kesini pinjam mobilnya siapa lek. Aku sudah siap siap"
"..............."
"Ya wes kalau gitu, iya iya heem walaikumsalam"
Jessika memasukkan ponselnya setelah lek Soleh memutuskan sambungan telepon mereka.
"Siapa yang bayar ya, ya Allah" ia masih penasaran, siapa yang rela memberikan uang dalam jumlah besar hanya untuk membayar biaya rumah sakit neneknya.
Lek Soleh
Ia cukup terkejut begitu mendapatkan kabar dari Jessika bahwa seluruh pengobatan mbok Yah sudah lunas.
Siapa juga hari gini yang mau berbaik hati menghamburkan uang sebanyak itu, untuk membayar biaya rumah sakit orang yang tidak dikenal. Begitu pikir lek Soleh.
Belum selesai memikirkan siapa gerangan orang yang membayar biaya rumah sakit, kini ia juga pusing karena kendaraan pickup kesayangan belum juga kembali.
Siang ini Slamet yang membawa mobilnya, lantaran lek Soleh harus ke beberapa pedagang untuk mengambil sayuran yang dijual kepadanya.
Mobil pickup miliknya belum kembali juga, padahal hari sudah sore. Sekarang ia bingung harus meminjam mobil siapa yang bisa dia pakai untuk menjemput Jessika dan mbok Yah.
Tidak mungkin dia menggunakan motor, selain mbok Yah masih dalam pemulihan, barang bawaannya juga seabrek.
Ia memutuskan menemui Bu Nanik, karena di desanya yang dekat hanya Bu Nanik dan pak Edy yang punya kendaraan roda 4.
"Walah Leh, tas ae di gowo Budi. Gawe ngeterne adike Ning bandara jarene, arep budal nong Taiwan" ( walah Leh, baru aja di bawa Budi, buat mengantarkan adiknya ke bandara, mau berangkat ke Taiwan)
Praktis penjelasan Bu Nanik barusan mau tidak mau membuat ia melangkahkan kakinya menuju rumah pak Edy.
"Assalamualaikum" lek Soleh celingak celinguk karena tak juga mendapat jawaban.
"Assalamualaikum" panggilannya kedua kali.
"Loh lek Soleh, mari masuk" jawab pak Edy begitu mengetahui lek Soleh berada di depan pintu rumahnya.
"Disini saja pak" lek Soleh lebih memilih ngobrol di kursi kayu yang berada di depan rumah pak Edy.
"Gimana, ada yang bisa dibantu" ucap pak Edy sambil mendudukkan dirinya di kursi artistik warna coklat itu.
"Begini pak, sebelumya saya mohon maaf mau merepotkan njenengan ( anda) lagi " ucapnya sungkan.
"Katakan apa yang bisa saya bantu" jawab pak Edy ramah.
"Saya mau sewa mobil sebentar pak, buat jemput Jessika dan mbok Yah. Si Slamet belum pulang dari pasar, terus tadi mobilnya Bu Nanik kebetulan lagi di bawa Budi" terang lek Soleh.
"Oalah, iya iya ada ada gak usah sewa bawa aja. Itu ada mobilnya si David juga" jawab pak Edy.
"Ada apa pa?" tanya David yang baru saja keluar, dan terlihat baru saja mandi.
Lek Soleh sampai bisa menghirup aroma maskulin dari David, ia juga terlihat makin tampan saat mengenakan jeans dan pollo T-shirt.
"Ini lek Soleh mau pinjam mobil, mbok yah mau pulang sore ini" jawab pak Edy menerangkan.
"Loh bukannya besok" tanya David sambil mendudukkan dirinya ke samping pak Edy.
Bahkan aroma wangi David makin menyeruak di hidung lek Soleh, saat jarak mereka makin dekat.
Lek Soleh pun heran, tahu dari mana jika mbok yah sebenarnya pulangnya masih besok.
__ADS_1
"Iy Den, tadi pulang paksa. Soalnya Jessika bilang mbok Yah sudah gak tahan disana, dan alhamdulilah kondisinya sudah sehat. Dan sudah menandatangani surat persetujuan pulang paksa, begitu tadi katanya Jessika" ucap lek Soleh panjang lebar.
"Biar aku saja yang jemput" ucap David.
"Tapi Den, maaf nanti merepotkan" ucap lek Soleh sungkan.
"Oh tidak Lek, lek Soleh bilang saja ke Jessika kalau sudah on the way" ucap David terdengar seperti sebuah perintah.
"Beneran ini Den, tadinya saya mau minjam mobilnya Aden"
"Gapapa Lek, mau menebus kesalahan" ucapnya penuh maksud.
"Doakan, si Jessika lagi ngambil ke David" ucap pak Edy pada lek Soleh yang menepuk bahu anaknya itu.
Lek Soleh pun paham dengan maksud mereka, ia lantas menyetujui.
"Kalau begitu, saya tak beres beres rumah mbok yah saja. Terimakasih banyak Den, Pak" ucapnya penuh hormat kepada pak Edy dan David.
David
Tanpa membuang waktu lama David mengeluarkan mobil mewahnya dari garasi rumah besar itu, ia akan menggunakan moment ini sebaik baiknya. Seolah tak ingin kehilangan kesempatan.
Restu dari papa dapat, Leo juga sudah memberikan pernyataan jika ia juga mengikhlaskan mereka, tinggal mbok yah dan tentu saja si pencuri hati, Jessika. Ahay!!
Diperjalanan dia senyum senyum sendiri, merasa jika hatinya berbunga-bunga. Ia menyalakan radio di dashboard mobilnya itu, demi memburu waktu yang terasa lama baginya saat ini.
🎶 "Kau boleh acuhkan diriku, dan anggap ku tak ada...."
"CK, kenapa bisa pas begini sih sama situasinya" ia berbicara sendiri sambil memukul setirnya pelan dan tertawa, selalu saja lagu di radio seolah menjadi backsound dari kejadian yang ia alami.
🎶"Ku yakin pasti suatu saat semua kan terjadi, kau kan mencintaiku dan tak akan pernah melepasku"
🎶"Aku mau mendampingi dirimu, aku mau cintai kekuranganmu....."
( Once Mekel "Kucinta kau apa adanya")
Ia menginjak pedal gasnya dengan kecepatan tinggi, seolah tidak ingin membuang banyak waktu.
Hingga waktu tempuh kurang lebih 1 jam itupun berakhir, tatkala partisi besar bertuliskan Rumah Sakit Al-Huda, sudah menyambut kedatangannya.
Ia langsung menuju gedung yang berada di bangunan paling belakang dari rumah sakit swasta terbesar di kota itu.
Menyusuri koridor, yang seperti tak ada habisnya didapati orang yang tengah dalam perawatan.
Kemudian ia menaiki tangga menuju bangunan bertuliskan Gedung Pancasila, pertanda kamar tujuannya sudah dekat.
Ia juga melihat Jessika yang tengah sibuk memasukkan barang barang mereka, ke dalam tas yang sudah sesak dan penuh.
"Assalamualaikum" suara David membuat dua wanita beda usia itu kaget.
"Walaikumsalam" Jawab mereka meskipun terkaget-kaget.
"Udah siap rupanya?" David menyenderkan tubuhnya di tengah pintu,sambil melipat kedua tangannya.
"Kok kamu disini" ketus Jessika.
"Nduk, jangan gitu. Maaf ya Den" mbok Yah memberikan tatapan memperingatkan.
"Lek Soleh mobilnya belum dibawa pulang sama karyawannya, jadi aku yang jemput kalian"
Jessika
Sebenarnya ia ingin menolak, bahkan sangat. Namun melihat neneknya yang sudah antusias untuk pulang ia mengalah saja.
David dengan cekatan membawakan tas dan juga sebuah kantong yang berisikan bantal dan juga karpet, kemudian Jessika membawa satu buah tas lagi berisikan pakaian kotor mereka selama berada di rumah sakit.
Saat berada di perjalanan, petugas bernama Reny itu tak sengaja bertemu David.
"Tuan sudah saya berikan tadi" ucapnya.
David memberikan tanda mata, mencoba memberitahu agar jangan mengatakan hal itu saat ini.
Jessika menjadi menatap mereka berdua, kenapa bisa kenal dengan petugas itu.
"Saya permisi dulu" ucap Reny setelah mendapat tatapan tajam dari David.
Reny bahkan mengangguk saat berpapasan dengan Jessika, Jessika hanya tersenyum kikuk membalas senyuman Reny yang setengah membungkuk kepadanya.
Sikap yang aneh bukan.
Tak ingin menimbulkan kecurigaan, David membuka suara.
"Mau langsung pulang atau kemana dulu?" David bertanya.
"Langsung pulang aja" Jessika menjawab ketus
__ADS_1
"Mampir ke toko dulu ya Den, nanti kalau ada yang jenguk dirumah kami tidak punya apapun" jawab mbok Yah yang ingin membeli sesuatu, karena biasanya akan ada tetangga yang ngertakne (datang ingin mengetahui keadaan).
"Makwek, nanti biar aku saja yang beli di warungnya Bu Nanik" ia menolak karena malas berada di dekat David.
"Baik mbok, kita mampir dulu ke toko" David lebih senang menjawab perkataan mbok Yah, dan senyum kepada Jessika penuh kemenangan.
Mereka berdua menunggu di lobby rumah sakit, saat mobil hitam nan mengkilat itu berada di hadapan ia dan neneknya, ia merasa pusing seperti kena jetlag.
"Kudu mabuk nduk?"( mau mabuk nak?)
mbok yah bertanya karena dia tahu, Jessika pasti tidak bisa naik mobil.
"Nggak kok Wek" bohongnya agar membuat mbok Yah tidak cemas
"Biar Jessika di depan mbok, biar dia gak numpahin nasi lagi ke aku" ucapnya setengah meledek dan tersenyum.
Mbok Yah tidak mengerti maksud David, ia kemudia di tuntun oleh David untuk masuk ke dalam kursi penumpang yang ada di belakang.
Kemudian memasukkan barang barang mereka ke bagasi belakang, lalu ia membuka pintu depan dan mempersilahkan Jessika untuk masuk.
"Silahkan nona" ia mengulurkan tangannya mempersilahkan dia masuk bak seorang putri.
"CK apaan sih, lebay" bibirnya manyun namun tetap menuruti perintah David.
David terkikik, ia sangat senang dengan reaksi Jessika. Bahkan bibir manyunnya itu ingin rasanya dia lahap saat itu juga.
David mendekat kearah Jessika, dan "Klik" suara sabuk pengaman yang terpasang.
David memasangkan sabuk pengaman untuk dirinya, aroma parfum maskulin David yang tak sengaja terhirup seolah menari nari di otaknya.
"Maaf" ucap David saat melihat Jessika yang mematung karena terkejut.
Mboh yah yang memperhatikan David yang perhatian kepada cucunya, merasa senang dalam hatinya.
"Semoga ini jalanmu ya Allah" mbok yang berdoa dalam hatinya yang merasa bahagia.
David melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, seolah tidak ingin segera berpisah dari Jessika.
"Tadi sudah pada makan belum?" David bertanya, karena tidak ada percakapan sama sekali diantara mereka bertiga.
"Belum" mbok yah menjawab
"Sudah" Jessika menjawab bersamaan dengan mbok Yah, hanya saja jawaban mereka berbeda.
Membuat Jessika menoleh ke belakang, ke arah neneknya.
Jessika seperti memberikan tatapan yang seolah memberitahu" kenapa ngomong gitu sih Wek".😤
Sementara mbok Yah hanya menatap dirinya tidak mengerti.
David tersenyum puas, ia tahu jika wanita di sampingnya ini bohong.
"Kruuuuuuk"
Perut sialan itu benar benar berkhianat kepada dirinya, membuat David tertawa lepas.
"Wah wah, bohong itu dosa Lo" David meledek Jessika.
Namun Jessika hanya memasang muka kusut, sambil bibirnya makin manyun karena suara dari perut sialan itu.
Ia membelokkan mobilnya ke sebuah warung makan yang terlihat agak ramai pengunjung, lantaran tidak ada restoran. Ramai adalah definisi makannya enak bukan
Ia juga tidak begitu tahu tempat makan yang berada di kota kecil itu. warungnya berada di barat jalan, memudahkan dirinya memarkirkan mobilnya tanpa harus menyebrang jalan.
"Kita makan disini dulu" ucapnya sambil menarik tuas rem tangan, sejurus kemudian mematikan mesin mobilnya.
David lebih dulu membukakan pintu belakang untuk mbok Yah, sementara Jessika terlihat membuka pintu depan sendiri.
David meletakkan tangannya di bahu mbok Yah dengan lembut, sambil mengajaknya untuk masuk kedalam.
Sementara Jessika dibiarkan berjalan sendiri di belakang mereka, tentu saja dengan muka cemberut.
David sesekali menoleh, tersenyum kearah Jessika seolah mengatakan " aku menang". Benar benar licik, menggunakan orang tua untuk melancarkan aksinya untuk PDKT ulang.
"Mbok yah mau makan apa?" tawar David setelah menarik sebuah kursi, dan mempersilahkan mbok Yah duduk.
"Lele aja" ucapnya
David paham, karena jika makan daging itu tak baik untuknya, mengingat tensi dari mbok yah baru saja normal.
"Kamu?" tanya David pada Jessika.
"Samain aja biar gak lama" jawabnya tanpa menatap David.
"Oke tuan putri" jawab David tersenyum yang melihat Jessika masih merajuk.
__ADS_1
Tunggu dulu, apa itu tadi. Tuan putri?
Jessika merasa kesal dengan David yang memanggilnya seperti tadi, dasar!