
.
.
.
Tomy menghubungi David dan Leo saat itu juga, informasi sepenting ini harus dengan segera diketahui oleh bosnya itu.
Setelah memberi tahu lokasi terkini lewat shareloc, akhirnya David dan juga Leo sampai di desa S. Tempat dimana pak Eko tinggal selama ini.
Menurut kepada aplikasi terkadang bukan pilihan yang baik, mereka sepertinya harus ingat pepatah" malu bertanya sesat dijalan".
Mau tak mau demi kelancaran perjalanan mereka, beberapa kali dua pria itu harus menepikan mobilnya guna bertanya kepada orang.
"Awas saja kau Tomy, kasih petunjuk jalan gak bener banget sih" gerutu David yang berada di depan kemudi.
Sementara Leo terlihat mengembuskan napasnya kasar, ia malas meladeni kakaknya yang mudah marah.
Dua Jam lebih perjalanan mereka tempuh, karena mereka sempat tersesat beberapa kali.
Sampai menjelang siang mereka baru sampai di sebuah desa dengan topografi yang condong ke pegunungan, rumah rumah warganya masih banyak yang terbuat dari bilik bambu.
Sampai akhirnya mereka melihat mobil dengan plat nomer yang mereka kenal.
"Itu dia" ucap Leo saat melihat mobil hitam mengkilat di depannya.
"Assalamualaikum" ucap David setelah berada di bibir pintu rumah kecil itu.
"Walaikumsalam" ucap kompak para manusia yang duduk di kursi kayu, yang berjejer rapi di dalam rumah sempit dan sesak itu.
David harus menundukkan badannya karena tinggi badannya yang melebihi kapasitas ukuran pintu rumah tersebut.
Leo juga demikian, meski tak setinggi David namun dia ternyata perlu menundukkan tubuhnya agar tidak menabrak gawang pintu.
Mereka berdua terkejut melihat penampilan pak Eko yang sudah seperti orang lain, membuat mereka iba.
****
Putri mondar mandir dengan menggigit ujung jarinya, mengikis kuku kukunya sedikit demi sedikit.
Tiba tiba timbul ide gila dari otak kotornya itu.
Ia ingin menjebak David, jika Leo tidak kudapatkan, maka kak David pun bisa. Begitu batinnya berbicara.
Ia ingin menjebak David, agar bayi yang ada di dalam kandungannya bisa mendapatkan pengakuan.
Gila memang, tapi bagi orang panik ide itu bisa saja menolongnya. Baginya.
Namun dia tidak tahu, bila petaka lain akan segera menghampirinya. Tertangkapnya dua kacung yang kini di jaga oleh Jack dan Victor, serta ditemukannya pak Eko, jelas akan menjadi bukti konkret kejahatan Putri selama ini.
.
.
Selepas dhuhur pak Sis akan kembali ke persawahan, namun dia akan lebih dulu mampir ke rumah pak Edy.
"Yah aku ikut ya, bosen dirumah" ucap Putri kepada pak Sis.
"Yakin mau ikut?"
Ia menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
Pak Edy tidak tahu menahu tentang kepergian David saat ini, dia dirumah hanya dengan bik Darmi, assisten rumah tangganya.
Pak Edy bersikap biasa meskipun ia tahu jika Putri adalah gadis yang jahat.
"Kapan datang nak?" ucapnya saat Putri menyalami tangannya dengan takzim.
"Dua hari yang lalu om"
Pak Edy benar benar tidak tahu, bagaimana nanti cara mengungkapkan kebenaran kepada pak Sis tentang kejahatan anaknya.
"Pak hari ini kita kirim cabai ke pulau B, sementara yang di petak C banyak yang terkena penyakit. Jumlahnya masih kurang" terang pak Sis mengenai kendala di lapangan yang terjadi.
"Kalau begitu pending dulu yang akan dikirim ke pulau K, biar saya langsung nanti yang menghubungi koordinator pulau K"
"Siap pak" pak Sis yang lega karena pak Edy selalu saja solutif.
"Bagaimana kemaren kegiatan magang mu nak?, semua berjalan lancar?" pak Edy lagi lagi mencoba bersikap seolah tidak terjadi sesuatu.
"Baik om, kemaren sempet dapat kesempatan jadi model iklan juga disana. Makasih banyak ya om". Ucap putri senang, karena selalu saja pak Edy memperlakukan dia baik, sehingga membuat dia salah mengartikan kebaikan orang lain.
Mereka terus saja mengobrol, larut dalam pembicaraan.
****
Sebelum berpamitan pak Eko memeluk erat dua orang lanjut usia itu, bahkan nenek tersebut menangis haru melepas kepergian pak Eko.
Bella bahkan ikut merasa sedih, dia di peluk suaminya dan terlihat Leo mengelus punggung istrinya itu. Memberikan kekuatan.
Jessika bahkan beberapa kali menyusut cairan bening di matanya ,yang lolos tanpa seijin darinya itu, menganak sungai dan membuat matanya merah.
David terlihat menepuk punggung pak Eko, seolah mewakili memberikan kekuatan.
"Saya akan sering berkunjung kemari mbok, pak"
"Nanti saya ajak anak istri saya"
"Saya pulang dulu untuk menyelesaikan masalah ini"
Ucap pak Eko yang sedih, bagaimanapun juga mereka berdua sudah di anggap orang tua oleh pak Eko.
Tanpa mereka mungkin pak Eko sudah tidak tahu seperti apa nasibnya.
David memberikan beberapa lembar uang kepada dua orang tua tadi, ada banyak hanya saja menurutnya itu belum cukup.
Keterbatasan uang cash yang ia bawa membuat dirinya tak bisa berbuat banyak, ia berjanji akan memberikan bantuan lainnya saat dia kembali nanti.
Setelah urusan pak Eko beres pastinya
"Terimakasih banyak nak"
"Ini terlalu banyak" ucap nenek tua itu, yang belum pernah memegang uang sebanyak itu.
Mereka melambaikan tangan sebagai pengiring perpisahan.
Perpisahan sementara lebih tepatnya.
Kali ini Leo yang berada di depan kemudi, dan tentu saja Bella berada di depan.
Pak Eko berada di kursi paling belakang.
Sementara di kabin kedua diisi oleh David dan Jessika.
David tidak akan rela berbagi tempat untuk orang lain, apalagi dekat dengan Jessika.
Pak Eko juga sudah tahu bila Bella adalah istri Leo, menyimak dari perbincangan mereka sewaktu di rumah nenek tua tadi.
Semetara ia masih mengira ngira, kenapa David bersejajar dengan Jessika? apakah mereka?
__ADS_1
Ia segera menepis pertanyaan kepo itu, ia lebih memilih bagaimana dia bersikap nanti saat akan mengungkap kepada pak Sis, tentang kejahatan putrinya yang nyaris saja membuat dirinya meregang nyawa.
****
Mereka sampai di kediaman pak Edy sekitar jam dua siang, mereka berempat sampai di rumah besar milik pak Edy.
Nampaknya mereka sudah menyusun rencana, mereka tak membawa langsung pulang pak Eko.
Sangat tak bagus jika langsung menunjukkan pak Eko kepada masyarakat, apalagi Putri adalah wanita licik.
Yang penuh dengan ide ide jahat, kali ini mereka harus selangkah lebih maju dalam hal intrik.
"Kalian sudah pulang?" ucap pak Edy yang terlihat mengobrol dengan Putri.
Putri melihat ke arah 5 orang yang berjalan masuk ke dalam rumah itu.
David, Leo,Jessika, Bella dan Tomy berada di barisan paling akhir.
Putri seketika berdiri, melihat penampilan Bella dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Apakah dia istri kak Leo, sepertinya dia wanita kaya. Dan kenapa si Jessika ikut mereka, najis banget" ia berucap dalam hatinya.
Mereka berlima sempat kaget saat melihat putri di rumah papanya, namun mereka juga harus bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Halo kak, pasti kakak istrinya kak Leo ya" ucap putri seraya memberikan tangannya untuk berjabat tangan.
Bella hanya tersenyum kikuk, pasalnya dia tidak suka dengan orang jahat.
Dan menurut Bella , Putri ini benar benar diluar ekspektasinya.
"Bella"
"Putri"
Mereka saling berkenalan, membuat canggung semua yang disana.
"Saya permisi dulu" ucap Bella yang memang lelah.
"Jes, aku ke kamar dulu ya. Terimakasih sudah mau menemaniku hari ini" ucap Bella tersenyum ke arah Jessika.
"Sama sama nona, istirahatlah. Ibu hamil tidak boleh terlalu lelah" ucap Jessika yang membuat Putri seperti diingatkan tentang kondisi dirinya yang juga tengah berbadan dua.
Putri hanya tersenyum, mengiyakan Bella yang berpamitan.
"Aku temani istriku dulu" ucap Leo datar, segera meraih bahu istrinya dan berjalan bersejajar.
Membuat hati Putri mencelos tak suka.
"Masih ada kak David" Batinnya berbicara.
"Tuan saya permisi dulu" pamit Tomy yang harus menyelesaikan beberapa urusan krusial.
"Pergilah" jawab pak Edy.
Putri menatap sinis Jessika, kenapa dia selalu menempel kepada David.
"Kak david kapan pulang ke kota, aku bisa nebeng gak" ucap Putri memulai aksinya.
"Belum tahu put, mungkin aku akan naik pesawat"
"Pesawat?"
"Bandara B kan baru aja buka nak, ada pesawat rintisan yang terbang ke kota S sama kota J setiap harinya" jawab pak Edy yang melihat raut kesal di wajah David.
"Aku antar pulang" ajak David kepada Jessika, tanpa tertarik untuk mengobrol dengan Putri.
"Pa aku antar Jessika dulu, Put duluan ya" ucap David yang malas kepada wanita licik itu, ia hanya basa basi karena menjalankan rencananya.
Membuat hati Putri memanas.
David membawa mobil, padahal jarak rumah pak Edy dengan rumah Jessika terbilang cukup dekat.
"Kenapa bawa mobil?" tanya Jessika.
Namun David tak menjawab, ia langsung memencet automatic key remote, dan langsung membuka pintu kemudian masuk ke dalam bangku kemudi.
"Ish orang ini" Jessika menggerutu, sikap David aneh. Sangat aneh.
Kadang hangat, kadang seperti saat ini.
Jessika mendudukkan tubuhnya di kursi samping David, memanyunkan bibirnya.
David sekilas melirik wanita cantik di sampingnya itu.
"Gemes banget, pingin cepet aku halalin. Tak buat gak bisa jalan kamu kalau ngambek kayak gini ke aku" seringai licik terpancar dari bibir pria tampan itu.
"Loh kok belok, rumahku kan kesana" protes Jessika yang tidak di gubris oleh David.
"Kamu ini kenapa sih, diem salahku apa coba" Jessika terus saja mencecar David degan berbagai pertanyaan.
Sampai Akhirnya mereka tiba di sebuah danau buatan, tempat yang damai dan cocok untuk mengobrol.
Jessika mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Kok kamu bisa tahu tempat ini?" ucapnya sambil menoleh ke arah David.
David tak menjawab, namun membuka sabuk pengamannya dan langsung membuka pintu.
Ia memutar ke depan, membukakan pintu untuk Jessika.
"Apa kau tidak lelah terus saja bertanya dari tadi" ucap David sambil memasang gaya cool.
"Issshhhh" ucap Jessika mencibir seraya keluar dari dalam mobil, sambil menyenggol bahu David.
"Minggir" ucap Jessika yang nerobos berjalan, tapi seketika dia kembali.
"Kita kemana terus?" tanyanya karena bingung, dan tidak mengetahui tempat itu.
"Makanya jangan ngomel ngomel terus" ucap David tersenyum penuh kemenangan.
.
.
Mereka berdua duduk di bangku kayu dengan panjang kurang lebih 1 meter, menghadap ke arah danau dengan yang nyaris tanpa riak air.
Tenang, damai di tambah udara yang di limpahi semilir angin.
"Aku ga nyangka bisa sedekat ini sama kamu" David berucap tanpa mengalihkan pandangannya.
"Sama" Jessika juga berucap tanpa menoleh ke arah David.
"Kamu tahu, awalnya aku hopeless banget begitu tahu Leo tertarik sama kamu"
"overall dia lebih lembut sikapnya, dia bahkan jadi seperti kakak malahan" ucap David sambil menerawang, dan tersenyum.
"Apalagi saat tahu dia pernah nembak kamu"
"Kenapa kamu tolak dia?"
__ADS_1
Jessika menoleh ke arah David, menatap wajah tampan itu lekat lekat.
"Kalian memang beda" ucap Jessika.
Seketika David menoleh, seraya mengernyitkan dahinya.
Jessika tersenyum, mendapati reaksi David yang seolah meminta jawaban saat itu juga.
"Dia baik dengan segala kekurangannya, dan itu adalah hal milik nona Bella saat ini"
"Cinta itu gak bisa di paksa, ia mengenal takdirnya dengan benar"
"Ibarat nada yang kumainkan, jika kunci atau chordnya gak benar ya jadi fals. Cinta juga begitu"
"Kamu juga baik dengan segala kekurangan yang pasti mengimbangi, aku pun begitu. Hanya saja sebagai manusia kita selalu di beri kesempatan untuk berbenah bukan?"
"Aku terlahir dari keadaan yang apa adanya, tak mengenal kemewahan, tak mengenal dunia luar. Aku takut jika nanti aku membuatmu kecewa, atau bahkan membuatmu malu" ucapnya seraya mengalihkan pandangannya kembali, kearah danau.
Menerawang masa silam, dimana dia memang sama sekali tidak mengenal pacaran dan birokrasi yang terjalin di dalamnya.
"Aku tidak peduli dengan dunia diluar kita, yang jelas sejak aku pertama bertemu kamu, entah mengapa ada rasa yang tidak bisa aku jelaskan" David menangkup wajah cantik Jessika dengan kedua tangannya.
Membuat pandangan mereka beradu.
David yang menatap bibir tipis itupun seolah terbuai, dimabuk asmara detik itu juga.
Ia mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Jessika.
Detik berikutnya bibir mereka saling menempel, Jessika yang merasa benda kenyal itu menyentuh bibir tipisnya spontan memejamkan matanya.
Ciuman lembut, yang berbeda dengan yang dia rasakan sewaktu dirinya bekerja di cafe Bryan.
Ciuman yang di lakukan dengan orang yang sama pula.
Hari ini begitu berbeda, penuh kasih, penuh sayang , penuh kelembutan,penuh cinta.
Membuat dirinya merasakan gelenyar yang sulit diartikan.
David menyudahi kegiatannya itu karena terinterupsi dengan panggilan telepon yang berasal dari ponsel miliknya.
"Oh ****!!!" Umpatnya dalam hati.
Dua benda kenyal itu terlepas juga akhirnya, membuat wajah Jessika sudah seperti buah tomat.
Merah dan merasa begitu malu.
"Astaga, kenapa aku bisa begini" ia merutuki dirinya sendiri yang tak bisa menahan gelora menyenangkan bersama David tadi.
Ia langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, saat David sibuk menjawab panggilan teleponnya.
"Sory, tadi Adrian" ucap David setelah memutuskan sambungan teleponnya.
Ia melihat Jessika tertunduk, sudah dipastikan dia sangat malu.
"Kenapa malu, kau harus membiasakan dirimu mulai sekarang" David menyeringai.
"CK bisa tidak jangan menggoda terus" Jessika kembali merajuk, ia sudah sangat malu.
David merubah posisi duduknya dengan berjongkok di bawah dan menghadap Jessika, ia mengeluarkan sebuah kotak bludru bewarna navy.
"Maukah kau menjadi istriku?" David berucap seraya menyodorkan cincin berlian yang jauh lebih bagus dari cincin yang pernah di berikan kepadanya sewaktu di Bryan's Caffe.
Jessika mendadak tercekat, lidahnya kelu, matanya mulai memanas, dia belum pernah di perlakukan semanis ini.
"Apa itu artinya dia melamarku?" batin Jessika.
"Menjadi ibu dari anak anakku?" tambah David kembali dengan senyum merekah.
Cairan bening itu lolos seketika tanpa ijin dari pemiliknya, ia merasa begitu bahagia.
Ia merasa terharu, terus terang saja dia juga merasa nyaman apabila di dekat David, merasa bahagia.
Inikah Nada Cinta yang selalu dia harapkan hadir di hidupnya?
Ia menangis bahagia seraya menganggukkan kepalanya," Aku mau" suara serak itupun keluar juga.
David menyematkan cincin berlian itu ke jari manis Jessika.
David kemudian mencium tangan putih mulus itu, kemudian ia berdiri diikuti oleh Jessika.
Mereka saling berpelukan haru.
"Aku ku lamar secara resmi setelah ini" bisiknya kepada tubuh yang tengah bergetar sebab menangis karena buncahan rasa bahagia, dan percikan api cinta yang membara diantara mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih banyak para readers yang sudah setia hingga bab ini, setelah kehancuran putri kisah akan di suguhkan dengan kebahagiaan yang kontemporer ya.
Babang Leo juga sepertinya mulai menerima Bella, selanjutnya tinggal Adrian sama Tomy nih.
Menurut kalian Adrian cocoknya sama siapa?
Tomy sama Eka cocok tidak.
Semoga para readers ku sehat selalu ya dimanapun berada.
__ADS_1
🙏🤗🤗🤗