Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 113. Dalang dibalik kejadian malam itu


__ADS_3

.


.


.


Jessika


Ia mengikuti permintaan assiten Leo itu, sesaat setelah mendengar penjelasan dari pria datar itu.


"Nona ada hal penting yang ingin saya tanyakan"


"Terkait kejadian yang melibatkan nona"


"Hilangnya pak Eko"


"Bisa ikut saya dulu"


Setelah meminta izin kepada lek Soleh, ia akhirnya ikut dengan Tomy.


Tomy adalah orang yang dia kenal, jelas ia akan menjadi baik baik saja.


Tak lupa ia juga ijin dulu kepada neneknya, khawatir wanita tua itu akan cemas, karena Tomy sendiri tidak menjelaskan akan berapa lama mereka pergi.


Ia heran, kenapa baru sekarang semua di perjelas.


kenapa tidak sewaktu kejadian itu baru saja terjadi, namanya kini bahkan sudah cemar.


"Maaf nona, sebelumnya kasus ini di tangani oleh polisi"


"Namun mereka tidak menahan anda karena pak Edy tidak melanjutkan tuntutan"


"Polisi hanya meneruskan mencari keberadaan pak Eko, sampai sekarang belum di temukan"


Leo secara rinci menerangkan maksud dan tujuannya.


Mereka kini tengah menunggu istri pak Eko yang tengah membuatkan mereka teh.


Ya benar, mereka kini sudah berada di kediaman pak Eko.


"Saya juga gak percaya Jes jika kamu melakukan itu" ucap istri pak Eko, yang tengah menggendong anaknya yang masih balita.


"Saya hanya ingin menanyakan ini Bu" Tomy membuka kantong plastik hitam, yang berisikan sepatu boots coklat yang hanya sebelah saja.


Istri pak Eko membulatkan matanya.


"Apa ini kira kira milik pak Eko atau bukan" tanya Tomy.


"Nomer sepatu suami saya 42, dan sepatu itu dia beri ukiran E di alasnya. Karena sepatu pemberian dari pak Edy semua sama, takut tertukar. Itu inisiatif suami saya memberi ukiran biar tidak keliru. Kebetulan nama mandor disana yang awalnya E ya cuma suami saya"


Terang istri pak Eko dengan suara bergetar, melihat sepatu yang hanya tersisa sebelah saja.


Karena saat shalat dhuhur berjamaah di persawahan, seringkali banyak yang tertukar sepatunya. Atau ada beberapa yang iseng untuk mengerjai.


"Saya menemukan sepatu ini di jalan menuju sungai, sepatu ini cocok dengan ciri-ciri yang ibu jelaskan tadi. Saya yakin pak Eko belum meninggal Bu. Kemungkinan beliau kabur, atau bisa jadi hanyut di sungai" terang Tomy.


Tidak ada yang tahu.


Membuat istri pak Eko makin terisak-isak karena sedih.


.


.


Sore hari Tomy membawa Jessika ke tempat asing, sebuah rumah yang membuat dirinya takut.


"Mas ini dimana?" kali ini dia memanggil Tomy dengan sebutan mas, sungguh tidak konsisten.


Kadang tuan, kadang mas.


"Tenang nona, ada hal yang harus anda ketahui"


Berbeda dengan Tomy yang selalu konsisten memanggil dirinya degan sebutan nona, sedari awal bertemu.


Ia mengekor di belakang Tomy, hawa yang mencekam, bau lembab khas rumah yang lama tak di jamah penghuni.


Tampilan rumah dengan cat yang pudar di makan usia, apalagi letaknya yang ternyata jauh dari keramaian.


Makin membuat dirinya tak nyaman.


Sejurus kemudian mereka tiba di sebuah ruangan yang lebih bersih, luas dan terdapat dua pria berwajah oriental berbadan tegap.


"Dimana mereka?" ucap Tomy pada kedua pria itu.


Ia masih berjalan di belakang Tomy, sambil menoleh kanan kiri mencermati sebenarnya bangunan apa ini.


Ia terkejut melihat dua orang yang berada di dalam ruangan, namun dibatasi dengan besi. Seperti penjara di film barat yang pernah ia tonton sewaktu SMA dulu.


Menatap kehadirannya dengan wajah tajam.


"Apa anda kenal mereka" Tomy bertanya kepada Jessika.


Sambil menatap kedua pria itu dengan rasa takut, karena penampilan mereka yang sungguh tampilan khas berandal, Jessika mengingat-ingat, apakah ia benar mengenal pria botak dan pria gondrong itu.


Tunggu dulu, sepertinya saat ia di hakimi masa. Salah satu dari mereka menjadi profokator disana.

__ADS_1


"Aku tidak kenal, tapi seingatku mereka ada bersama warga saat aku di kerubungi masa di gudang waktu itu"


"Mungkin warga lain"


Tomy menatap Jessika intens," mereka adalah orang suruhan nona putri"


Jessika membelalakkan matanya terkejut, demi mendengar ucapan Tomy.


"Putri?"


.


.


Tomy


Selepas magrib ia tak langsung mengantar Jessika pulang, ia berencana akan membicarakan hal ini dengan pak Edy.


Makin cepat makin baik, ia sudah terlanjur menangani kasus ini.


Sebenarnya bisa saja ia menangkap putri langsung, namun bukti pak Eko yang belum di temukan, di tambah Putri itu adalah anak dari mandor utama, membuat Tomy harus mendiskusikan segala sesuatunya dengan orang nomer satu di lahan pertanian itu.


Pak Sis adalah orang baik, sangat bertolak belakang degan Putri.


Ia bisa mencium aroma kebusukan perilaku Putri, sejak dirinya pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini.


Tidak menyangka pula jika persoalan sandung menyandung dengan Jessika, bisa berlanjut hingga dendam separah ini.


Kriminal berencana.


"Nona, anda tidak keberatan kan jika saya mengajak anda untuk langsung berbicara dengan tuan Edy?"


"Tidak, tapi aku aku masih bingung harus berkata apa" Jessika begitu gugup, tak menyangka bila Putri benar benar nekad membuat dirinya seperti itu.


Kejahatan yang berencana, teroganisir dan tentu saja membuat nama baiknya tercoreng.


"Kita akan jelaskan disana"


Namun apes, ia tak mengetahui jika dua petinggi Darmawan Group itu tengah berada di kediaman pak Edy.


Lantaran mobil yang digunakan David untuk berkendara tadi, sudah ia parkirkan rapi di garasi.


Begitu dia masuk, ia terkejut melihat kursi makan itu penuh dengan orang.


"Kalian dari mana saja?" justru pertanyaan David membuatnya bergidik ngeri.


"Sepertinya aku dalam masalah" batin Tomy dengan tatapan nanar.


.


.


Melihat raut wajah David yang mulai mengeras, ia harus sesegera mungkin bertindak.


"Ehemm, Tomy duduk dulu. Jessika kamu juga ikut?, ayo nak kamu sekalian ikut makan malam" pak Edy mengajak mereka berdua yang mematung.


"Ayo ngobrolnya nanti saja, selesaikan makan kalian dulu"


Orang tua tetaplah orang tua, selalu bisa memegang kendali tengah suasana yang terasa mencekam😁.


****


Tomy dan Jessika sudah ikut duduk di sofa ruang tengah bersama pak Edy ,David,Leo dan juga Bella.


David masih menatap tajam Tomy, seolah menyiratkan pertanyaan" jelaskan kepadaku!"


"Laporkan sekarang Tom" Leo seolah mengetahui jika assistennya itu tengah melakukan bagiannya.


"Laporan apa?" David makin tak mengerti, mengapa selalu saja ia telat mendapat info.


Tomy kemudian mengambil alih fokus percakapan disana.


"Sebelumnya saya minta maaf kepada anda tuan David, saya mengajak nona Jessika tanpa ijin anda" ia tentu harus minta maaf bukan, wanita yang dia bawa bukanlah wanita sembarang.


Mereka semua masih terdiam, bahkan Bella yang tidak mengerti apapun masih diam dan menatap wajah semua manusia disana, secara bergantian.


Tomy menceritakan secara detail, rinci dan telaten. Tak ada secuil pun info yang ia lewatkan.


Bahkan David sudah mengepal geram, pak Edy juga nampak terkejut, apalagi Bella ia tak habis pikir mengapa ada manusia jahat seperti di film film yang terjadi di dunia nyata.


"Kita harus membuat rencana, kita juga harus pikirkan pak Sis"


"Benar , astagfirullah maafkan kami semua nak. Terlambat, nama kamu harus segera di bersihkan" Pak Edy berucap dengan penuh penyesalan.


"Kenapa kalian selalu melewatkan ku untuk hal sepenting ini?" David geram dengan keputusan Tomy yang bertindak sendiri.


"Maaf tuan" Tomy menjawab dengan menunduk.


Jelas bukan perkara mudah jika David sudah meradang.


"Aku sengaja yang menugaskannya bang"Leo harus meluruskan kesalahpahaman ini.


"Aku yang menyuruhnya untuk mencari tahu, aku masih belum percaya dengan hilangnya pak Eko"


"Lalu kenapa kau tidak memberitahuku?" David kini suaranya meninggi, membuat Jessika takut.

__ADS_1


"Bang apa kau lupa, beberapa bulan kita masih diliputi persoalan bersama Jessika. Bahkan kita sempat tak saling sapa, dan kau? "


perbincangan itu berubah menjadi sebuah adu mulut antara David dan Leo.


"Sudah sudah, kenapa kalian jadi bertengkar!" ucap pak Edy yang melihat suasana mulai mencekam.


Bella nampak syok melihat pertengkaran di ruang tengah itu.


"Leo ajak istrimu masuk, temani dia istirahat" titah pak Edy.


Leo akhirnya menuruti saran papanya, melihat wajah Bella yang sudah pias lantaran melihat mereka bertengkar.


"Ayo kita ke dalam" ajak Leo meraih tangan Bella, mengajaknya untuk masuk ke kamar mereka.


Tanpa mengucapkan apapun, Bella dan Leo meninggalkan mereka.


Bahkan Bella belum sempat saling sapa dengan Jessika, lantaran setelah kedatangan Jessika bersama Tomy tadi suasana menjadi mencekam.


Tomy hanya diam, merasa tak enak hati. Tapi dia hanya menjalankan tugas bukan.


"Semua ini juga salah papa, papa pikir dengan tidak menuntut Jessika semua sudah beres. Tapi papa salah"


"Saat itu papa hanya ingin Jessika aman, selamat itu saja. Karena jujur papa tidak percaya jika Jessika melakukan hal seperti itu"


"Dan untuk hilangnya Eko, papa sudah minta bantuan polisi. Tapi karena tidak ada hasil, pencarian di hentikan sesuai SOP ( Standar Operasional Prosedur) mereka"


"Kamu jangan keburu emosi, semua yang di katakan Leo ada benarnya"


"Sudah sebaiknya kamu antar Jessika pulang, ini sudah malam!"


****


David membawa motor yang di kendarai Tomy tadi.


"Pegangan yang betul" ucapnya karena Jessika duduk dengan tidak benar.


"Begini saja" ucap Jessika dengan kaku.


"CK" David hanya berdecak kesal.


Ia masih takut melihat David yang bertengkar dengan Leo tadi, macam menjadi pribadi lain saja.


sepanjang perjalanan mereka hanya diam.


Jessika sebenarnya ingin marah, mengapa David tidak memberitahu dirinya bila akan berkunjung ke desa.


Dia ini siapanya sebenarnya?


Tak membutuhkan waktu lama, mereka tiba dirumah Jessika.


Lampu rumah masih menyala, menandakan jika mbok yah masih belum tidur.


Ia melihat jam di ponselnya, pukul 19.47, belum terlalu malam.


David masih dalam mode diamnya, ia akhirnya ikut masuk kedalam.


"Assalamualaikum"


"Walaikumsalam" mbok yah menyambut kedatangan cucunya.


"Kok baru pulang, Lo ini Den David yang ngantar, tadi kamu perginya kan sa..." ucapan mbok Yah menggantung tatkala melihat Jessika mengedipkan matanya, pertanda untuk jangan meneruskan ucapannya.


"Oh, silahkan duduk Den" ucap mbok yah kikuk.


"Terimakasih mbok, dan gak usah repot-repot mbok saya cuma sebentar" jawab David sopan.


"Ya sudah, saya masuk dulu" pamit mbok yah yang menyadari sepertinya mereka berdua sedang tidak baik baik saja.


David mendudukkan tubuhnya ke kursi, sementara Jessika masih berdiri. Bingung harus apa, ia sebenarnya juga kesal.


"Sampai kapan kau akan berdiri begitu?" ucap David.


Akhirnya ia mendudukkan tubuhnya juga, segaris dengan David. Saling berhadapan.


David sudah sangat rindu dengan wanita ini, tapi begitu sampai gara gara Tomy entah buncahan rasa cemburu itu, memantik kekesalannya.


Pada siapa? pada dirinya sendiri mungkin. Karena selalu di dahului oleh Leo langkahnya dalam setiap moment.


Ia berjanji akan lebih concern lagi kepada hubungannya.


Mereka hanya diam dan saling bersitatap.


"Istirahatlah, aku pulang dulu. Besok kita bicara"


David undur diri dari rumah itu, selain berlama lama disana bisa membuat David tak tahan dengan kecantikan Jessika, ia masih harus mengintrogasi Tomy lebih dalam.


Ya, dia bosnya bukan.


.


.


.


.

__ADS_1


Tinggalkan jejak dengan beri like and comment.🙏


__ADS_2