
.
.
.
Saat tiba di airport Tomy dan Eka segera memarkirkan kendaraan mereka, di parkiran VIP.
Tentu saja, pihak bandara sudah mengetahui siapa David dan keluarganya.
"Kenapa kau tidak turun?" tanya Tomy, yang melihat Eka masih saja bersidekap. Alias merajuk.
Eka hanya diam sambil memanyunkan bibirnya," aku disini saja".
"Turun, atau akan ku laporkan" ucap Tomy mengintimidasi.
"CK" Eka mendecak kesal.
"Teren ete ke leperken" ia berbicara dengan mulut menye menye. Menirukan ucapan Tomy.
Lagi lagi, mau tidak mau.
Tomy hanya diam, hatinya tertawa begitu mendengar tingkah Eka.
Namun ia masih bisa menyembunyikan, keinginannya untuk tertawanya itu.
Eka mengekor di belakang Tomy, sesekali mencibir di belakang Tomy, dengan mulut komat-kamit.
Melangkah dengan wajah malas.
Tomy yang menyadari dirinya tengah di cibir oleh wanita cerewet itu, berniat mengerjainya.
Ia menghentikan langkahnya mendadak, seraya melipat kedua tangannya.
Dugh
Eka menabrak tubuh tegap Tomy, bahkan dirinya sampai terhuyung kebelakang.
"Aduh" ucapnya terkejut.
"Apa yang kau lakukan" Tomy menatap datar Eka.
"Aku, aku tidak melakukan apa-apa" ucap Eka seraya mundur satu langkah.
Tomy menatapnya mengintimidasi, membuat wanita itu menggigit bibirnya seraya mengalihkan pandangannya kesana-kemari, dengan posisi tangan ia taruh di belakang.
Bak orang mati kutu.
"Ekaaa" terdengar suara wanita yang memanggilnya.
.
.
Eka
Ia memang tidak tahu bila Tomy rupanya menjemput Jessika dan David.
Terlalu sibuk dengan dirinya yang merajuk, sewaktu di gudang tadi.
"Jessika...." ia merentangkan tangannya menuju sahabatnya itu.
"Kamu ikut Tomy?" tanya Jessika.
"mmmm, iya" ia tersenyum malu.
Pasti Jessika sudah salah paham dengannya. Begitu pikirnya.
__ADS_1
"Tapi tadi aku gak tahu kalau Tomy mau jemput big bos" ucapnya seraya menunjuk ke arah David.
Jessika tersenyum," lebih dari jemput kita juga gapapa kok Ka, iya nggak sayang" ucapnya kepada David.
"Ya, benar" jawab David.
Sementara Tomy masih dengan wajah datar, mengambil koper milik David.
Tak berniat ikut nimbrung obrolan mereka.
.
.
Tomy
Hatinya sebenarnya dag dig dug, namun ia masih bisa memvisualisasikan wajah datarnya, yang seolah tidak terjadi apa apa.
Wanita bar bar itu selalu sukses membuatnya senang, meski dalam hati dan tak terucap.
"Tuan kita mampir ke toko furniture dulu"
"Ada apa?" jawab David.
"Dia telah merusak inventaris di kantor gudang"
"Apa, bisa bisanya dia memberitahu si bos, bukannya dia sudah berjanji tadi. Sialan!!"
Eka menatap dirinya tajam, tatapan permusuhan lebih tepatnya.
Namun Tomy hanya menyunggingkan senyumnya, aku menang!!.
.
.
Mayang
Entah dari mana asal usul gadis itu, Jessika yang kasihan karena melihat Mayang kerap mengamen di pasar itu, membuatnya iba.
Jessika lantas memutuskan untuk menyuruhnya bekerja di rumahnya, sebagai pembantu.
David tak bisa menolak permintaan istrinya untuk memperkerjakan Mayang, di dalam rumah mereka.
Sambil berjanji dalam hati, akan mencari tau asal usul wanita itu.
David begitu mencintai istrinya, ia hanya berusaha membuat apa yang di kehendaki istrinya bisa terwujud.
Dan kebetulan, David melarang Jessika untuk terlalu bekerja keras pasca istrinya itu keguguran.
Sore hari Mayang menyambut kedatangan majikannya, seminggu terakhirnya ini dia hanya seorang diri mengurus rumah tinggal David.
"Selamat datang Tuan, Nyonya" ucapnya saat membukakan pintu, seraya membungkukkan tubuhnya.
"Terimakasih Mayang" Jessika selalu saja bersikap ramah, meski dengan pembantunya.
Sementara David hanya diam saja, tak menyapa ataupun menjawab ucapan pembantunya itu.
Mayang menatap tajam ke arah Jessika yang tengah berjalan bersama David, tatapan yang sulit diartikan.
Setelah itu ia pergi ke sebuah ruangan, untuk menelpon seseorang.
.
.
.
__ADS_1
"Sayang, ada apa?" David terlihat panik, saat melihat Jessika menangis seraya tergopoh-gopoh turun dari lantai dua.
"Makwek sakit mas" ia mengusap air matanya, dengan punggung tangannya.
"Kita kesana sekarang"
Malam ini David tak meminta bantuan Tomy, ia sendiri yang menjadi supir untuk istrinya.
Jarak rumah mereka dengan rumah mbok yah hanya 40 menit perjalanan, mbok yah menolak untuk diajak tinggal bersama Jessika.
Ia lebih senang tinggal di rumah lamanya, yang sudah di renovasi oleh David.
Menjadi lebih baik, dan juga lebih bagus.
"Lek, dimana Makwek" Jessika tak sabar ingin menemui neneknya.
"Di dalam nduk" ucap Lek Soleh, yang menunggui neneknya itu.
Ia membuka pintu bercat putih itu, menampilkan sosok tua yang tengah berbaring miring menghadap ke arah selatan.
"Wek" Jessika mencoba membalikkan tubuh renta itu.
"Nduk, Kowe rene karo sopo? wes balik kapan?( nak, kamu kesini sama siapa, sudah pulang sejak kapan?).
Mbok Yah mengetahui bila cucunya itu, tengah menengok adik iparnya.
Jessika merasa tak tega melihat neneknya yang terbaring lemah.
"Nenekmu gak mau di bawa ke rumah sakit nduk"
"Melarang juga untuk ngabari kamu, tadi si Slamet yang tahu kamu udah balik langsung tak suruh WA kamu"
Lek Soleh berucap di ambang pintu.
Mbok yah sudah berusia lanjut, tubuhnya kerap sakit sakitan. Karena lekang di makan usia, di tambah kadar gula darah yang lumayan tinggi.
"Mas aku mau nginep sini malam ini" ucap Jessika.
.
.
David malam itu pulang kerumahnya sendiri, banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.
Banyak laporan, juga beberapa perijinan perluasan lahan yang harus ia urus.
Juga ada beberapa berkas yang sudah di email Tomy, yang harus ia pelajari.
Pintu ruang kerja David terdengar ada yang mengetuk.
"masuk" ucap David.
Mayang datang dengan tatapan yang tak bisa di terka, ia membawa secangkir kopi.
"Tuan, kopi" ucap Mayang.
"Terimakasih, taruh saja di situ" ucap David tanpa mengalihkan pandangannya terhadap layar laptopnya.
Saat Mayang hendak berbalik dan pergi, David berkata "oh ya, besok tidak usah masak terlalu banyak. Istriku menginap di rumah neneknya" tukasnya.
"Baik tuan" sejurus kemudian Mayang pergi, meninggalkan David.
Ia menyunggingkan senyum penuh kelicikan.
Siapakah sebenarnya Mayang?
.
__ADS_1
.
.