Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 117. Kehancuran Putri


__ADS_3

.


.


.


Putri yang pulang ke rumahnya terkejut melihat ayah dan bundanya sudah duduk di ruang keluarga secara berhadapan.


Ia merasa ada yang tidak beres, dengan ragu ia tetap melangkahkan kakinya.


Bahkan adik laki lakinya menatapnya dengan tatapan yang tak bisa di artikan.


"Dari mana saja kamu" suara pak Sis dengan intonasi tak biasa.


Membuat Putri gemetaran.


"Ya dari tempat om Edy lah pa, memangnya dari mana" ucapnya melawan.


"Plaaaaaakkkk" Tangan kekar pak Sis mendarat di pipi mulus anaknya itu, kemarahan, kekecewaan, dan luapan emosi tumpah ruah jadi satu.


"Anak kurang ajar!!"


"Ayaaahh!!!" suara Bu Santi yang mencoba menahan tangan suaminya," sudah yah, itu anak kita yah" ucapnya sambil berderai air mata.


Putri memegangi pipinya yang terasa panas dan menebal seketika, pedih.


"Ayah ini kenapa sih, Putri salah apa?" Putri mulai menerka nerka.


"Masih tanya salah kamu apa, ini jelaskan ini!" ucap pak Sis seraya memperlihatkan sebuah alat penguji kehamilan dengan tanda dua garis merah pada bagian putihnya.


Mata Putri melebar seketika, membulat sempurna menandakan keterkejutan yang hebat.


Bagaimana bisa orang tuanya mendapatkan benda itu.


.


.


Kini Putri dan kedua orangtuanya tengah duduk terpekur, bagaimana bisa petaka besar ini terjadi di keluarga mereka.


"Susah payah ayah mendidik kamu, tapi kenapa bisa kamu berbuat hal paling kotor Putri!!" pak Sis sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya.


Makian, umpatan bahkan kata kata kasar sudah hilir mudik di telinga anaknya itu.


"Mau di taruh mana muka Ayah, katakan siapa ayah dari janin yang ada di perutmu itu"


Putri begitu ceroboh, ia juga tak mengantisipasi mengapa benda penguji itu bisa ditemukan oleh bundanya.


...Flashback On...


"Put putri" panggil Bu Santi ketik mengetuk kamar anak sulungnya itu.


Bu Santi tidak tahu jika putri ikut kerumah pak Edy bersama ayahnya.


Sementara ayahnya akan menggunakan motor khusus mandor, yang ada di rumah pak Edy.


untuk mengontrol ke persawahan, ketika selesai dari rumah pak Edy.


Memudahkan dirinya untuk tak bolak balik.


" Kemana anak ini" ia yang baru pulang dari acara bersama ibu ibu itu lalu membuka pintu kamar anaknya.


Berniat ingin mengingatkan jam shalat.


Namun kamar itu kosong melompong, ia lalu berniat membuang tempat sampah di kamar dan yang ada di kamar mandi anaknya itu.


Namun ia terkejut saat mendapati sebuah benda panjang tipis, yang jatuh di lantai kamar mandi.


Barang itu sudah tidak asing lagi baginya, namun yang membuat dirinya terkejut mengapa benda itu bisa ada di kamar mandi anaknya.


"Astagfirullah, milik siapa ini"


Dengan hati masih ingin berfikir positif, Bu santi membawa benda itu. Dia juga langsung menelpon pak Sis saat itu juga.


Pak Sis yang mendapati istrinya tengah menangis itupun merasa heran, " ada apa bun?" tanyanya saat melihat istri yang dia cintai menangis.


"Aku menemukan ini di kamar putri pa" Bu santai sudah tidak bisa berkata apa apa lagi, jika memang bukan miliknya biar anaknya sendiri yang akan menjawab nanti.


...Flashback Off...


.


.


"Kak David yang melakukan semua ini" ucap putri menatap wajah ayahnya.


Putri benar benar kehilangan kewarasannya, bagaimana bisa dia menyebut nama David atas perbuatan bejatnya bersama Alex.


"David?" mata pak Sis membulat seketika.


Saat itu juga pak Sis datang menemui keluarga pak Edy.


Ia tak bisa merelakan jika David dengan seenaknya memperlakukan putrinya dengan tidak benar.


.


.


.


Pak Sis


Pak Edy terkejut begitu melihat pak Sis yang datang bersama anak dan istrinya dengan keadaan kacau.


"Dimana David" ucap pak Sis yang sudah di kuasai emosi.


Ia tahu jika dirinya dan keluarganya menggantungkan hidupnya kepada usaha pak Edy.

__ADS_1


Tapi bukan berarti keluarga bosnya itu memperlakukan mereka dengan seenaknya.


"Pak Sis, ada apa ini" terang saja pak Edy bingung, mengapa pak Sis datang dengan emosi begini.


Sementara Putri sudah ketar ketir, lantaran ia kini menjadi ciut nyali. Bagaimana tidak ia telah berbohong, bermodal sebuah foto ketika dirinya bersama orang lain dalam posisi intim.


Padahal mahkota berharga miliknya adalah Alex yang telah merenggutnya.


"Ada apa ini" ucap David yang baru saja tiba dari mengantar Jessika pulang.


Bough Bough Bough


Tapa aba aba pak Sis langsung menghantam David, membuat tubuh pria tampan itu terjerembab.


Terang saja David yang tanpa persiapan itu, langsung mendapat serangan telak dari pak Sis.


"Ayah!!" ucap Putri melerai dengan histeris.


Bu Santi bahkan sudah gemetaran, bagaimana bisa pertengkaran ini terjadi.


"Pak Sis jaga batasanmu" ucap pak Edy meradang yang melihat David robek sudut bibirnya.


Membuat Leo dan juga Bella turut keluar karena mendengar kegaduhan.


"Ada apa ini, pak Sis kenapa kau menyerang bang David" Leo berusaha menengahi persoalan yang terjadi, meski ia sendiri belum tahu duduk perkaranya.


"Lihat ini, dan juga ini" ucapnya merogoh sebuah benda tipis, yang ternyata alat tes kehamilan dan juga ponsel dengan sebuah foto yang menampakkan Putri tengah bersama seorang pria.


Yang di dalam foto itu memang sekilas mirip dengan postur David, hanya saja wajahnya tidak terlihat.


"Omong kosong apa ini" David tentu saja tidak terima dengan semua ini. Ia menatap tajam Putri, ia benar benar kehilangan kesabarannya.


"Bang David tidak akan pernah berbuat seperti ini kepada putri pak" bela Leo, ia tentu saja tidak membenarkan tuduhan pak Sis yang terlalu tak masuk akal menurutnya.


"Kalian keterlaluan" pak Sis kali ini menyerang Leo, membuat pria itu terhuyung kebelakang.


"Leoooo" Bella sampai berteriak, namun di cegah oleh pak Edy.


"Tenang Bella" pak Edy mencoba menenangkan Bella, keadaan begitu genting.


.


.


Leo


Ia kini membalas serangan pak Sis, lebih kuat bahkan membuat pak sis terjengkang ke lantai licin dirumah pak Edy.


"Berhenti!!!" kali ini Bu Santi tak kuat lagi melihat suaminya yang tergolek lemah di lantai, kacau balau.


"Cukup put, mungkin benar kau saat ini hamil. Tapi mustahil jika yang melakukannya bang David"


"Dan ini, beraninya kau membuat karangan cerita seperti ini"


"Praaaannkkkk" ia membanting ponsel hitam itu, ponsel yang berisi foto putri bersama seseorang yang mirip David.


Ayahnya kini tergolek lemah karena serangan Leo.


.


.


David


Ia merasa jengah dengan ulah Putri, cukup sudah dia melakukan hal merugikan.


"Hubungi Tomy sekarang juga, bawa mereka semua kemari"


David sudah tak bisa menahan lagi. Sekalian saja di bongkar sekarang.


Kebusukan dan kejahatan Putri akan tamat hari ini juga.


"Dan kalian, jangan ada yang keluar!!" ucap David meradang menunjuk kepada keluarga Pak Sis.


Ia tak habis pikir, mengapa Putri begitu nekat melakukan hal ini.


Ia menatap tajam wajah Putri yang sudah pucat pasi.


.


.


Setelah lebih dari satu jam mereka duduk dan saling diam, tanpa ada yang berminat berbicara.


Tiba tiba terdengar deru mesin mobil yang terparkir di depan.


"Siapkan diri kalian untuk mengetahui kebenaran!!" ucap David yang sama sekali tak memiliki rasa sopan kepada keluarga pak Sis.


Putri membulatkan matanya begitu melihat dua orang bertubuh tegap, dengan memakai baju hitam. Yang satu botak dan yang satu berambut gondrong.


"Sial, mereka kenapa bisa disini" batin putri yang makin takut.


Jack dan Victor membawa mereka kerumah pak Edy, niatnya mereka akan disuruh mengaku saat semua warga berkumpul.


Namun karena ulah Putri, David tak bisa menahannya lebih lama lagi.


Jack dan Victor mendorong dua manusia itu, membuat mereka menekuk lututnya dengan posisi setengah berdiri dan tangan yang di borgol ke belakang.


Leo kini berjalan ke arah mereka.


"Apa kau mengenalnya Put?" Leo menatap Putri dengan senyum mengerikan.


Putri sudah pucat, sementara kedua orangtuanya menatapnya heran.


"Bicaralah!" David mendorong tubuh pria itu dengan kasar, memerintahkan mereka untuk mengakui kejahatan mereka.


Putri menggelengkan kepalanya sambil menatap dua pria suruhannya itu, "Tidak jangan, kumohon jangan" batinnya berkata.

__ADS_1


"Nona Putri membayar kami 100 juta untuk menjebak Jessika, dia menyamar menjadi Jessika malam itu"


"Dan kami juga yang menghanyutkan salah satu mandor disana"


"Semua atas perintah nona Putri"


Duaaaarrrr


Laksana tersambar petir, ia mendadak kaku.


Ucap pria gondrong itu dengan terpaksa membuat Putri tak bisa berkutik lagi, bak simalakama bukan.


Mereka sudah tidak punya pilihan, telak.


Bu Santi sontak terkejut mendengar penuturan dua preman itu, apalagi pak Sis.


Dirinya seperti dihantam sebuah palu besar, kepalanya mendadak sakit dan pusing.


Bagaimana bisa, anaknya adalah otak dari segala kejahatan selama ini.


"Lalu dimana pak Eko" Bu Santi kini bertanya dengan suara serak, ia juga penasaran. Karena ia juga turut sedih atas hilangnya pak Eko.


"Saya disini" ucap pak Eko yang mendadak muncul bersama Tomy, terlihat lebih segar dan juga sudah memangkas rambutnya.


"Saya tidak menyangka kamu begitu jahat Put"tambah pak Eko, membuat dua preman itu juga kaget.


Lantaran mereka mengira pak Eko sudah tewas, saat mereka menghanyutkan mandor itu.


Putri makin kaget lagi begitu melihat pak Eko yang masih hidup.


Berakhir, tamat, kalah telak. Itulah posisi Putri saat ini.


"Anak anda mungkin saja hamil, bisa saja itu benar. Tapi kebenarannya jelas bukan saya yang melakukan. Dan jika itu benar, aku bisa menuntut kalian" David kini menunjuk kepada pak Sis.


Meluapkan kekesalannya.


Sementara Putri sudah frustasi,"Tidak tidak mungkin, tidak mungkin"


Ia kemudian berlari ke arah Bella yang berada di depannya.


Ia mengunci leher Bella, meraih sebuah vas keramik panjang di nakas yang berada tepat di sampingnya dan mengarahkan ke kepala Bella.


Membuat semua yang disana berteriak.


"Putri jangan!!" ucap pak Sis.


"Lepaskan dia!!" ucap David.


"Hey kau!!! jangan macam macam!!" Leo kini terlihat panik, dan khawatir.


"Ya memang benar aku yang melakukannya kenapa?, kenapa kalian lebih memilih wanita miskin itu dari pada aku"


"Hahahaha" dia tertawa penuh ironi.


"Manusia bo doh!!!!!"


Tomy kini mencoba mencari cara untuk menyelamatkan istri bosnya itu.


Sementara Bella sudah sangat ketakutan," Leo tolong aku"ucapnya sambil menangis.


"Diam kau wanita sialan!!" ucap Putri membentak Bella, ia juga kecewa kepada Leo.


Ia menyukai Leo sejak awal, tapi justru Bella yang menikah dengan Leo.


Detik itu juga Bella menggigit tangan Putri, ia mencoba melepaskan dirinya. Membuat Putri kesakitan dan melepas tangannya dari leher Bella.


Namun sepersekian detik, ia menjambak rambut Bella serta memukulkan vas itu ke kepala Bella dan menendang Bella, hingga membuat tubuh wanita itu tersungkur.


Kepala Bella sudah bersimbah darah Lantara mendapat hantaman benda keras.


"Bella..." Leo segera mendatangi istrinya yang sudah tergolek lemah di lantai.


"Bella" ia menepuk pipi istrinya yang mulai tak sadarkan diri itu.


Putri yang terkejut ingin kabur, namun dengan gerakan cepat Tomy mengunci tangannya kebelakang.


Bu Santi pingsan saat itu juga, tidak kuat melihat yang saat ini terjadi.


Kehamilan anaknya diluar nikah, juga kenyataan jika anaknya adalah pelaku kejahatan. Membuat dirinya tak bisa menahan persoalan yang membuat kepalanya seolah meledak.


"Bundaaaa!!!!" Putri menjerit histeris melihat bundanya pingsan, sementara pak Sis segera membopong tubuh istrinya untuk di bawa ke Rumah Sakit.


Prioritasnya kini lebih baik menyelamatkan istrinya dulu.


Sementara Leo nampak panik melihat Bella yang tak sadarkan diri.


"Bawa dia kerumah sakit Leo, ayo cepat" David segera menyiapkan mobil untuk membawa Bella.


"Kalau sampai terjadi sesuatu kepada Bella, akan ku habisi kau!!" Leo menunjuk Putri dengan penuh kemarahan.


Sementara pak Edy menghubungi polisi, untuk mengamankan dua orang penjahat itu.


Mengirim mereka ke tempat yang semestinya.


Juga Putri, bagiamana pun juga ia juga harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.


Putri yang memberontak itu masih di bawah kendali Tomy, ia tak akan membiarkan Putri lepas kali ini


.


.


.


.


.

__ADS_1


Huft, kok jadi author yang tegang ya😁😁😁😁


__ADS_2