
.
.
Siang yang terik kini berubah menjadi sore yang teduh. Bersamaan dengan seluruh energi yang sudah menyusut. Eka menguncir rambutnya asal. Benar-benar merasa gerah meski AC konsisten menyala di ruangan itu.
"Ka, nanti kalau udah kamu CC email-nya ke saya ya" ucap pak Eko.
Ya, seiring perkembangan teknologi yang kian mutakhir. Semua pekerjaan selalu ada sangkut pautnya dengan namanya email.
Mudahkan siapa saja untuk berkirim info, laporan bahkan hal penting lainnya. Memangkas birokrasi panjang dari sebuah pekerjaan.
"Siap Pak!" jawab Eka sopan.
Pak Eko terlihat keluar dari ruangan itu, di hari begini ia biasanya akan merokok bersama karyawan-karyawan lainnya di Selasar depan.
Menunggu jam pulang, apabila tidak ada lembur. Mengingat pasokan cabai yang harus dikirim sudah selesai semua.
Eka mencari-cari Tomy, namun tak jua menemukan. Karena tadi pagi ia berangkat bersama Tomy, maka pria datar itu juga harus bertanggung jawab pula untuk mengantarkan dirinya.
"Dimana sih, susah banget kalau di cari. Giliran gak di butuhkan aja nongol bolak-balik!" menggerutu dan terus menggerutu, sudah menjadi tindakan wajib yang dilakukan Eka saat kesal pada manusia datar itu.
Tunggu dulu, apakah mereka sudah menjadi sepasang kekasih???, ahaay!!!
Tak mengira bahkan tak pernah di sangka, pria datar itu malah jatuh hati pada sosok wanita ceriwis, bar-bar dan pecicilan macam Eka. Ibarat panci, yang ketemu sama tutupnya. Ibarat huruf vokal yang bertemu dengan huruf konsonan. Ibarat baterai negatif, di pasangkan dengan baterai positif. Semua perbedaan itu menghasilkan keselarasan.
Saat hendak berbalik dan berniat untuk masuk kedalam ruangannya, ia terkejut degan bunyi klakson.
Tin Tin!!
Ia terlonjak kaget, rupanya Tomy tengah berada di depan kemudinya. Seperti biasa, datar tanpa ekspresi.
"Cepat masuk!. Kalau kita terlambat, aku akan menghukum mu!"
"Apa?, hey. Dari tadi aku mencari mu, bisa - bisanya sekarang kau malah bersikap begitu!!"
Eka berbalik badan, lalu mengambil tas dan beberapa barang miliknya. Sejurus kemudian ia mengunci ruangannya.
Dengan wajah kesal ia membuka pintu mobil, ia duduk di bagian belakang. Dengan bibir manyun.
"Apa kau pikir aku supir mu?, cepat pindah ke depan!" titah Tomy.
"Astaga, dia ini benar-benar!!" Eka hanya bisa menahan nafasnya, ia menggigit bibirnya mengurasi rasa kesal.
Brak
Eka masuk dengan menutup pintu mobil itu agak keras, sudah lelah, lapar dibuat kesal pula.
Tomy tersenyum licik, ada rasa puas bisa mengerjai wanita di sampingnya.
Eka masih enggan menatap Tomy, ia duduk sambil menyilangkan kedua tangan. Tentu saja dengan nafas yang terbuang kasar, menandakan bila kejahilan Tomy sukses membuat wanita itu badmood.
"Eittsss mau apa?" Eka memundurkan tubuhnya begitu melihat Tomy yang condong ke arahnya.
Klik
__ADS_1
Suara sabuk pengaman kini telah terpasang, rupanya Tomy selalu mengedepankan safety. Apalagi untuk spesial woman seperti Eka. Membuat jantung Eka berdegup kencang. Tak menyangka dengan perhatian yang Tomy berikan. Ya, meskipun dengan cara sedatar wajah tampannya.
"Pakai sabuk pengaman!, aku tidak ingin terkena tilang polisi hanya karena kebodohanmu!" ucap Tomy.
"Kau ini!!, memangnya mau kemana sih. Rumahku dari perempatan langsung belok. Sampai deh. Ga ada urusan sama polisi!!" kali ini Eka tak mau kalah.
Namun seperti biasa, Tomy tak menjawab atau berniat meladeni ocehan Eka. Ia lebih memilih memasukkan gigi kendaraannya lalu menginjak pedal gas. Melesat pergi dari Gudang Utama.
Tin Tin
Bunyi klakson yang di bunyikan oleh Tomy, ia mengangkat tangannya sesaat setelah membuka kaca pintu mobilnya. Menyapa pak Eko yang terlihat tengah mengobrol bersama beberapa mandor dan pekerja lainnya.
"Ya Tuan, hati-hati!!" balas pak Eko mengangkat tangannya.
Beberapa orang disana sudah tak kaget dengan kedekatan Tomy dan Eka, hanya saja mereka tidak tahu bila mereka berdua sudah saling menyukai.
****
Demi apapun Eka tak habis pikir, Tomy benar-benar tak mengajaknya pulang. Ia juga melewati jalanan kota yang banyak polisi berjajar sore itu. Mengatur arus lalulintas yang padat. Jam-jam seperti saat ini adalah jam pulang kantor.
Hotel X
Tomy sengaja membooking hotel bintang 3, lantaran ia ingin beristirahat sejenak. Sembari menunggu Eka yang akan di make up.
"Hey, aku belum pamit ibuku!!" rengek Eka yang tak terima dengan keputusan sepihak dari Tomy.
"Telpon ibumu sekarang!" Tomy menyerahkan sebuah ponsel kepada Eka.
"Jangan membuat semuanya rumit, tugas ini juga bagian dari pekerjaanmu!" ucap Tomy.
"Kenapa menatapku begitu?, menyesal telah menciumku kemarin? ucap Tomy santai.
"Bagaimana dia bisa tahu isi hatiku!" ucap Eka dalam hati.
Ya, mereka kini berada di hotel. Tomy berdalih jika pulang dandanan Eka tidak sesuai dengan standard Darmawan Group nantinya. Ia sudah memesan MUA terbaik untuk merombak tampilan Eka. Selain itu, ia ingin membuat waktu lebih efisien.
"Bagiamana?" tanya Tomy yang melihat Eka telah selesai menelpon.
"Udah!" ketus Eka.
Tomy tersenyum, amat senang bila melihat Eka yang kalah dan memanyunkan bibirnya.
"Bersiaplah, sebentar lagi perias akan datang. Dan ini bajumu!" ucap Tomy menyerahkan paper bag, yabg berisi gaun yang tadi pagi dibelinya di butik milik mama Jason.
.
.
Waktu begitu cepat berlalu, saat hendak diberikan sentuhan terakhir perut Eka berbunyi.
Kruuuuukk
Membuat dua MUA disana saling menatap.
"Anda lapar nona?" tanya wanita berhijab, yang terlihat hendak mengoleskan lipstik dengan warna nude kepada Eka.
__ADS_1
Eka menyengir. Menahan malu.
"Tidak terlalu, kalian lanjutkan saja" ucap Eka sedikit malu.
Eka sudah terlihat siap dengan dandanan yang ciamik, juga baju yang fit di badannya. Tak akan menyangka, wanita pecicilan itu kini terlihat benar-benar anggun dan cantik.
"Apakah ini aku?" Eka berucap pada dirinya di pantulan cermin, seraya membolak-balikan badannya ke kanan dan ke kiri. Takjub akan dirinya sendiri.
Membuat dua MUA itu terkikik geli dengan tingkah Eka yang bar-bar.
"Tentu saja itu anda nona!"
Tepat pukul tujuh, Tomy mengetuk pintu kamar hotel. Ia juga sudah rapih. Terlihat mengenakan setelah jas, lengkap dengan tuxedo berwarna navy.
Membuat dirinya sangat tampan, dalam balutan jas elegan itu.
"CK, lama sekali!" ucapnya seraya melihat jam yang melingkar di lengan kirinya.
Namun sejurus kemudian, ia menjadi terhipnotis dengan kedatangan Eka yang nampak malu malu. Dua perias itu terlihat menemani Eka keluar menemui Tomy.
"Bagiamana Tuan?" ucap salah satu perias yang berambut panjang. Meminta pendapat Tomy.
Tomy masih diam terkesima, Eka benar-benar cantik malam ini. Tak salah dia mengajaknya untuk datang pesta malam ini.
"Kau cantik hari ini!" batin Tomy , ia bahkan menyunggingkan senyum manisnya. Membuat dua MUA itu bernafas lega.
"Perfect!!"
***
Mobil sedan itu melesat dengan kecepatan tinggi menuju hotel Panorama. Tempat di selenggarakan acara ulang tahun Tuan Zakaria yang ke 55.
Pria itu adalah kolega David dari DIWARA Group. Pemilik perusahaan tambang yang ada di kota kecil itu.
David tak mau quality time nya terganggu dengan hal apapun. Tapi ia juga tak ingin membuat koleganya kecewa.
Tomy akhirnya di dapuk untuk mengganti David datang ke acara itu. Tentu saja David sudah mengirimkan hadiahnya sendiri, namun David meminta Tomy untuk tak datang sendiri. Jessika sengaja meminta David menyuruh Tomy untuk tak sendirian, agar mereka bisa segera melakukan pendekatan.
Jessika sudah bahagia bersama David, Arin juga sebentar lagi melangsungkan pernikahan bersama Rendra, ia ingin sahabatnya itu juga menemukan kebahagiaan.
"Dengan ada peraturan yang harus kau patuhi selama disana!" ucap Tomy.
"Ini ke pesta, apa mau apa sih? ribet banget!!" Eka yang perutnya merasa sakit karena lapar, sungguh tak bisa berekspresi ramah.
"Yang pertama jangan jauh-jauh dariku!"
"Yang kedua, kau tidak boleh pergi tanpa pamit kepadaku. Mengerti?" ucap Tomy.
"CK, iya-iya. Udah cepetan!!" Eka mengiyakan saja ucapan Tomy, ia ingin segera masuk. Di dalam pesta, pasti identik dengan makanan lezat bukan. Ia sudah sangat kelaparan, berniat ingin menghabiskan semua sajian dengan rakusnya.
.
.
.
__ADS_1