Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 23. Edy Darmawan yang dermawan


__ADS_3

.


.


.


Hari itu berlalu dengan cepat, setengah hari ini Leo belum bertemu Jessika dan kedua sahabatnya itu.


Bukan tanpa alasan, hal itu terjadi karena Leo harus "mobile" ke petak yang lain, karena luasnya lahan cabai yang di tanam berbeda beda usianya.


Ada yang baru di tanam seperti yang tengah di kerjakan Jessi dan kawan-kawan nya, ada juga yang sudah setinggi pinggang orang dewasa dan ada juga yang sudah memasuki masa panen.


Masa panen cabai terjadi setelah kurang lebih 5 bulan tanam, tentunya dengan berbagai perawatan mulai dari pengolahan lahan, penanaman bibit, pemberian pupuk dan juga penyemprotan hama.


Tak heran pekerja yang bekerja disana jumlahnya juga sangat banyak.


Hasil panennya pun di ekspor hingga ke luar negeri, ini juga karena kelihaian pak Edy dalam melihat peluang pasar.


"Kopi bek", ucap salah seorang mandor yang telah selesai bertugas sembari duduk di bangku warung bek Narti.


"Ngutang apa bayar?", tanya bek Narti agak sensi pada para mandor yang sudah akrab dengannya itu.


"Kenapa tumben tanya begitu dulu", tanya salah seorang dengan tertawa.


"Iya soalnya biar aku tulis di buku baru, soalnya utangmu yang lama semua udah pada dibayar sama den Leo", ucap bek Narti


"Apa?", jawab mereka serempak dengan wajah saling bertatapan.


Mereka heran kenapa juragannya bisa tahu kalau mereka hobi kasbon di warung itu.


"Kalau ngutang lagi aku disuruh lapor, biar bayaranmu pada dipotong sama juragan", ucap bek Narti pada mandor yang berada di dekatnya sembari memukulnya dengan centong nasi karena dia memecahkan rekor sebagai pemilik kasbon terbanyak.


"Bayaran wes okeh ngono kok ijek ngutang ae, lak bangkrut sui sui aku", ( Bayaran sudah banyak kok masih hutang aja, bisa bangkrut lama lama aku", jawab bek Narti kesal karena selama ini dia sudah tertipu.


Selama ini mereka selalu saja mengeluh gaji telat dan lain sebagainya, sehingga kadang rokok dan kopi mereka membudayakan ngutang dulu😂, padahal itu hanya akal- akalan mereka saja.


Flashback On


Saat pak Edy selesai menerima telpon di belakang warung bek Narti tanpa sengaja ia mendengar percakapan antara bek Narti dan suaminya.


Suami bek Narti bekerja sebagai tukang bangunan di desanya, sudah hal biasa sebelum berangkat bekerja ia selalu membantu istrinya untuk membuka warung jualannya yang berada di pinggir jalan dan selalu menjadi pos persinggahan para mandor persawahan.


"Pak kapan sampean bayaran, warunge isine Podo entek durung iso belonjo. Golongane pak Eko utange durung dibayar Lo pak",


( Pak kapan bapak dapat bayaran, warungnya isinya udah pada habis belum bisa ngisi lagi. Pak Eko dan teman-temanya juga belum ada yang membayar hutang" ucap bek Narti pada pak Sentot suaminya)


"Pie karepe wong wong iki, lek carane koyok ngene warunge awakdewe iso tutup buk. Padahal bayarane wong wong kui po Ra Yo gede to buk?",


( apa maunya orang- orang ini, kalau begini caranya bisa bisa warung kita tutup buk. Padahal gaji mereka apa nggak besar buk?)


jawab pak Sentot.


"Katanya pada ngeluh gajiannya telat", jawab bek Narti sewot.


Pak Edy hanya geleng-geleng kepala mendengar penurut bek Narti, percakapan itu terekam jelas di ingatan pak Edy, sehingga dia memutuskan akan memberitahu Leo untuk membereskan persolan ini.


Flashback Off


****************************************


Baik para mandor ataupun para pekerja semua sudah meninggalkan lokasi persawahan sebelum hari gelap,seperti biasa Jessika dan teman temannya pulang bersama.

__ADS_1


"Assalamualaikum wek", ucap Jessika saat memasuki rumahnya.


"Walaikumsalam udah pulang nduk", jawab mbok Yah.


"Iya Wek, emmm tadi lek Soleh mampir kesini gak?", tanya Jessika kembali.


"Iya untung tadi pagi mak wek belum berangkat, itu di nganterin gitar kesini itu Mak wek taruh di kamarmu. Gitar siapa itu, kamu beli?", Jawab mbok yah sambil bertanya kepada cucunya.


Akhirnya Jessika menceritakan asal gitar itu, karena hari sudah sore ia kemudian bergegas untuk mandi dan melaksanakan shalat ashar salah satu kewajiban yang harus dia tunaikan sebagai umat muslim.


Malam hari selepas Isya, dia meraih gitar yang ada di kasurnya itu serta membawanya ke depan rumah dan mencoba memetik dan mengecek nadanya.


Karena ada salah satu senar yang nadanya fals, ia kemudian men set "Tuner senarnya" hingga nadanya menjadi sesuai.


Jessika cukup senang, sedari lulus SD ia tekun belajar gitar di rumah pak lek nya. Dia merasa tertarik dengan seni musik bahkan Jessika juga memilik suara yang merdu.


Hingga dia menjadi begitu mahir dengan alat musik itu, bahkan setiap ada acara event di sekolahnya dua selalu tampil mengisi acara dengan bernyanyi sambil memainkan gitar.


Kemudian dia mencoba gitar itu, jemarinya yang lihai menekan bagian "fret" gitar itu membentuk chord yang dia aplikasikan di "finger board" menggunakan tangan kirinya sementara tangan yang lain memetik senar dan terciptalah harmoni bunyi yang begitu indah.


Kemudian sebuah lagu dinyanyikannya dengan diiringi petikan senar gitar yang dia mainkan.


*Di mana akan kucari


Aku menangis seorang diri


Hatiku s'lalu ingin bertemu


Untukmu aku bernyanyi


Untuk ayah tercinta


Aku ingin bernyanyi


Walau air mata di pipiku


Ayah dengarkanlah


Walau hanya dalam mimpi


Lihatlah hari berganti


Namun tiada seindah dulu


Datanglah, aku ingin bertemu


Untukmu, aku bernyanyi


Untuk ayah tercinta


Aku ingin bernyanyi


Walau air mata di pipiku


Ayah dengarkanlah


Walau hanya dalam mimpi*


Suara Jessika benar benar merdu, ia sengaja menyanyikan lagu itu karena kerinduannya kepada sang ayah.


Tak terasa pula kristal bening itu lolos begitu saja dari sudut mata Jessika.

__ADS_1


Tanpa sengaja sesosok pria tampan mendengarkan dan takjub dengan apa yang dia lihat.


Flashback On


Pas Edy berencana akan mengadakan syukuran sekaligus mengumpulkan para pegawainya di desa itu.


Saat kunjungannya di desa desa lain, ia juga melakukan hal yang serupa. Hal itu bertujuan agar terjalin rasa kekeluargaan antara pekerja dan Bos mereka.


"Leo papa minta tolong antar papa kerumah mbok yah", pinta pak Edy pada putranya itu .


"Sekarang pa, ada urusan apa papa kesana? ", jawab Leo sambil balik bertanya pada sang papa.


"Kamu lupa kalau papa akan membuat syukuran bersama dirumah ini?", jawab pak Edy.


"Ya enggaklah pa, tapi maksud Leo apa hubungannya syukuran dengan mbok Yah?", jawab Leo yang masih tidak mengerti tujuan papanya itu.


"Tadi papa telpon pak Sis kalau di desa, mereka lebih senang memasaknya bersama sama jadi lebih rukun katanya dan kebetulan warga sini cocok dengan masakan mbok Yah, pak sis juga merekomendasikan beliau tadi", jawab pak Edy menjelaskan.


Memang benar mbok Yah adalah orang yang selalu dijadikan juru masak apabila di desa P ada yang menyelenggarakan hajatan baik itu pernikahan maupun khitanan, mereka masih menerapkan sikap gotong royong dan guyub rukun.


Sehingga tak heran kalau di kampung terdapat salah satu warga yang memiliki hajatan pasti banyak tetangga kanan kiri yang dimintai untuk datang menolong, bahasa jawanya Rewang.


"Jadi maksud papa kita kerumah mbok yah mau minta tolong begitu?", jawab Leo.


"Benar, beliau adalah orang sepuh Leo jadi kita harus menghormati dengan cara kita harus Sowan (datang) ke tempat beliau", ucap pak Edy memberi edukasi pada putranya itu.


Setelah bertanya ke beberapa warga sekitar akhirnya pak Edy dan Leo sampai juga di depan rumah mbok Yah.


Flashback Off


" Itu bukannya Jessika", Leo bergumam dalam hati yang pandangannya tidak beralih pada Jessika.


Lagi lagi dia terpesona melihat Jessika yang terlihat cantik malam itu, apalagi dia juga baru mengetahui bahwa pegawai cantiknya itu mahir memainkan gitar.


Karena melihat putranya hanya mematung pak Edy menepuh bahu anaknya itu sedikit keras.


"Ngelamun aja kamu, ayo cepat masuk", ucap pak Edy pada Leo yang lelet itu.


Mereka berdua menggunakan motor untuk menuju rumah mbok Yah, sementara Jessika yang terbawa lagu itu sampai tak mendengar suara motor Leo.


"Assalamualaikum", ucap pak Edy kepada gadis itu yang masih belum menyadari kedatangan mereka berdua.


Jessika yang mendengar suara tersebut menoleh ke sumber suara itu, dia sedikit kaget lantaran orang nomer satu di lingkungan pekerjaannya itu berkunjung ke rumahnya bersama putra bungsunya.


"Walaikumsalam, eh pak Edy ada yang bisa saya bantu pak?", jawab Jessika penuh hormat pada Big Bos nya itu.


"Benarkah ini rumah mbok yah nak?", jawab pas Edy kembali bertanya.


"Be betul pak, beliau nenek saya", Jawab Jessika sedikit gagap karena grogi kedatangan Orang penting itu.


"Apa beliau ada? kebetulan saya ada perlu", jawab pak Edy kembali.


"Oh iya pak mari silahkan masuk pak, beliau ada di belakang saya panggilkan dulu", jawab Jessika dengan sopan.


Dalam benaknya bertanya, ada apa gerangan yang membuat mereka datang kerumahnya malam malam begini.


Setelah mempersilahkan pak Edy dan Leo untuk duduk Jessika kemudian memanggil neneknya yang ada di dapur mempersiapkan bahan bahan cenil untuk dijual besok.


Leo yang mengetahui ternyata Jessika adalah cucunya mbok Yah menjadi senyum senyum sendiri, sepertinya pemuda itu menyukai Jessika.


**************************************

__ADS_1


Please like and vote ya........


__ADS_2