Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 118. Apa yang di tabur, itu yang kita tuai


__ADS_3

.


.


.


Rumah Sakit Al-Huda


Rumah sakit ini adalah satu satunya rumah sakit yang terdekat yang berada di desa, Leo bersama David nampak panik, bingung, sedih cenderung khawatir.


Tentu saja, seorang wanita muda yang tengah hamil kini terbaring di atas brankar, dan di dorong menuju ruang tindakan itu tak henti hentinya mengeluarkan darah, dari jalan lahir itu.


"Mohon di tunggu di luar Tuan" ucap salah seorang petugas medis yang mengambil alih penanganan Bella.


Petugas menutup pintu bertuliskan," selain petugas di larang masuk".


Leo tampak mengacak rambutnya frustasi, ia begitu terlihat panik dan tergambar jelas rona ketakutan yang tak bisa ia tutupi.


Janin yang bertengger di rahim istrinya itu, masih berusia kurang lebih 10 Minggu atau hampir memasuki 3 bulan.


Tentu saja ia takut jika terjadi apa apa kepada Bella.


mengingat Putri sudah melakukan tindakan yang terbilang gila.


"Aku tidak akan memaafkan diriku jika terjadi sesuatu kepada Bella bang" Leo memukul tembok bercat hijau di rumah sakit itu.


Melampiaskan amarah yang menyelimuti dirinya, jika saja Putri itu seorang pria, mungkin sudah remuk redam ia hajar.


"Jangan menyalakan dirimu Leo, kita berdoa saja" David mencoba memberikan kekuatan untuk adiknya.


Ia juga terlihat mengirim sebuah pesan kepada Jessika, mengenai kejadian menegangkan siang tadi.


Sebisa mungkin merubah kesalahan yang telah dia buat, komunikasi bisa menjadi langkah awal .


Sekecil apapun info dan dimanapun dia berada, terus ia upayakan untuk kelangsungan hubungan baiknya dengan Jessika, meski hanya berbalas pesan .


.


.


Setelah beberapa saat dokter keluar dan terlihat memanggil Leo untuk masuk ke ruangan kerjanya.


"Mohon maaf sebelumnya Tuan, istri anda telah mengalami keguguran" ucap dokter itu yang tengah duduk berhadapan dengan Leo dan David.


Deg


Kini apa yang ia takutkan telah terjadi, beginikah rasanya kehilangan sesuatu yang berharga, sesuatu yang penting dalam hidupnya.


Hati Leo bagai tersayat sembilu, tubuhnya mendadak seolah tak bertulang. Lemas tak berdaya.


Keguguran? apakah itu artinya ia kehilangan calon anaknya.


"Anda yakin Dok?" mulutnya kaku saat mengucapkan perkataannya seperti itu saja.


David masih menjadi pendengar yang baik di antara obrolan dua pria di sampingnya.


Ia terlihat sedih mendengar penuturan Dokter tersebut


Dokter menganggukkan kepalanya penuh keyakinan," Dari hasil pemeriksaan, istri anda tengah mengandung dengan usia kehamilan 10 minggu"


"Sepertinya karena benturan atau guncangan yang terlalu keras"


"Kami butuh persetujuan dari anda untuk melakukan proses kuretase"


Leo masih menyimak dengan seksama penuturan pria berkacamata yang menggunakan jas kebesaran berwarna putih, dan sebuah stetoskop yang menggantung di lehernya.


Profesi yang sama dengan yang dimiliki isterinya.


Semua ini tentu saja akibat ulah Putri, ia kembali teringat saat Putri menendang perut istrinya.


Ia mengepalkan tangannya guna meredam emosi yang membuncah.


"Apa itu?" tanya Leo mulai fokus kepada ucapan sang Dokter, dan menepikan ingatannya tentang aksi nekat Putri.


Leo tentu saja tidak begitu mengerti tentang istilah medis.


"Kuretase adalah proses membersihkan jaringan janin dan plasenta , untuk menghentikan pendarahan dan mencegah infeksi di rahim" terang Dokter itu yang membuat Leo beberapa kali menganggukkan kepalanya.


"Bisa saya bicara dengan istri saya dulu dok"


.


.


Leo terlihat masih setia di rumah sakit, menunggui istrinya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit yang terlihat tengah berada di ruangan kelas 1.


Sementara David ia sedang keluar untuk menelpon seseorang.


Ruangan rumah sakit yang bersih dan dengan fasilitas yang tentunya jelas terbaik, tentu saja Leo Darmawan bukanlah orang biasa bukan.


Bella nampak terpukul setelah mendengar ucapan suaminya.


"Apa artinya anakku sudah meninggal?" air mata itu sudah menganak sungai. Isakan yang keras bahkan kini terdengar.


Tubuh Bella bergetar, sesak di dadanya kian menambah rasa penyesalan.

__ADS_1


Leo dengan spontan meraih tubuh Bella yang masih duduk di ranjang rumah sakit itu," kamu harus kuat" Leo sampai tidak bisa berkata apa apa lagi.


Bella nampak kian gencar mengucurkan air matanya, pelukan itu seolah menjadi wadah untuk dirinya berbagi kesedihan.


Pelukan yang begitu menenangkan.


Kali ini Leo benar benar sedih, terluka, marah.


Bagaimana tidak, dia harus mengalami kenyataan pahit ini. Kehilangan calon anaknya.


"Sebaiknya kamu persiapkan diri untuk proses medis" ucap Leo melepas pelukannya.


Bella adalah seorang dokter, tentu ia juga tahu langkah apa yang harus dia tempuh.


Namun persoalannya bukan itu, mereka menikah by accident bukan karena cinta, begitu pikirnya.


Dan jika calon anak yang menjadi satu satunya alasan pernikahan mereka kini sudah tiada, akankan Leo masih bisa mempertahankan hubungan mereka.


Lagi lagi ia menjadi mencemaskan hal yang belum tentu kebenarannya.


"Maafkan aku Leo" ia menutup matanya menggunakan kedua telapak tangannya.


"Sssstttt" sudah jangan seperti ini, aku makin merasa bersalah Bel"


"Harusnya aku gak melawan Putri tadi, andai aku nurut kata dia,anak kita pasti tidak ak..."ucapan Bella terjeda.


"Semua yang terjadi adalah tidak lebih dari sebuah takdir yang musti kita lewati dan jalani bel"


****


Putri berteriak hingga suaranya menjadi serak tatkala ia di gelendeng bersama dua orang kacung bayarannya, menuju Mapolsek di desa itu.


Proses hukum harus berjalan, Tomy kali ini turut serta menjadi saksi bersama pak Edy.


"Hubungi David Tom, tanyakan apa Bella baik baik saja" titah pak Edy saat mobil mereka berada di perjalanan menuju kantor polisi.


"Baik tuan" ia mengangguk hormat, menandakan perintah dari bosnya akan segera ia tunaikan.


.


.


Sementara di ruang UGD puskesmas terlihat Bu Santi yang baru saja sadar dari pingsannya.


Ia hanya mengalami syok berat, sehingga menyebabkan kesadarannya hilang. Tidak ada yang perlu di khawatirkan.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan yah?" tanya Bu Santi yang kini kembali mengeluarkan air matanya.


Penyesalan, kebodohan, dan entah apa lagi yang membuat hati mereka diliputi ketidaktenangan.


Mengingat kebodohannya yang lebih menuruti emosi dari pada logika kewarasannya.


"Sekarang Putri bagaimana nasibnya yah" belum mendapatkan jawaban dari pertanyaan pertama, Bu Santi kini melayangkan pertanyaan keduanya dengan tangisan yang makin menjadi.


Ucapan istrinya barusaja, tak pelak membuat pak Sis makin diliputi rasa penyesalan.


Ia adalah seorang ayah, adalah reaksi yang wajar bila dirinya marah, begitu mendapati anaknya hamil sebelum menikah.


Dia hanya berusaha melindungi anaknya, siapapun yang ada di posisi dia tentu saja akan berbuat begitu.


Alih alih meminta pertanggungjawaban kepada ayah bayi yang ia sendiri juga belum bisa memastikan kebenaran dari ucapan anaknya itu, kini dia harus mendengar kebenaran jika anaknya itu adalah seorang penjahat.


Otak dari segala kejahatan yang pernah terjadi di tempat kerjanya.


Benar benar diluar kendalinya.


Bagaimana mereka harus menghadapi keluarga pak Edy setelah ini, masyarakat terutama.


Dia adalah mandor utama, orang terpandang di desa tersebut. Namun mengapa malah tidak bisa menjadi suri tauladan yang baik bagi lingkungannya.


.


.


Sementara di gedung berlantai dua, dengan dominasi warna cokelat berlambang institusi penegak hukum itu, terlihat Putri yang tak bisa di ajak koordinasi dengan baik.


"Bukan aku"


"Gak tau"


"Sudah di bilang bukan aku"


Kata kata tak lebih dari sebuah tolakan ataupun perkataan yang justru memancing kemarahan petugas.


Sementara Tomy yang menemani pak Edy, kini masih terlihat setia berada di samping bos besarnya itu.


Mereka memberikan keterangan sejelas jelasnya, bahkan rencananya besok pak Eko juga akan di panggil guna melengkapi berkas perkara.


****


Hari yang mencekam itu kini telah berganti dengan pagi yang memberikan rasa semangat, juga kehangatan.


"Wek aku mau jenguk istrinya mas Leo" ia berpamitan kepada neneknya yang terlihat sibuk di dapur, mengulek bumbu.


"Loh memangnya kenapa nduk?" ? mbok yah seketika menghentikan kegiatannya, dan kini hendak menyimak penjelasan Jessika.

__ADS_1


Dia menceritakan semua cerita yang ia dapat secara langsung sewaktu menemukan pak Eko, juga yang di infokan David melalui sambungan telepon semalam.


"Astagfirullahhaladzim, gak nyangka nduk kenapa Putri se benci itu sama kamu"


"Dia anak orang berada, bapaknya mandor utama di desa ini"


"Gak pernah kekurangan uang"


"Manusia tidak hanya di uji oleh kesusahan nduk, tapi lewat kelebihan juga" mbok yah memberikan petuah bijaknya.


"Nona Bella juga keguguran Wek" ucap Jessika sendu.


"Innalilahi wainailaihi rojiun" Jawab mbok yah memegangi dadanya, ia masih belum bertemu istrinya Leo. Namun ada rasa iba yang tak bisa ia sembunyikan.


.


.


Jessika kini tengah berada di mobil bersama David, hubungan mereka makin terjalin indah.


"Aku bawain apa ya mas buat nona Bella"


"Kok nona Bella?"


"Ya kan aku dari dulu manggilnya nona Bella"


"CK, dia itu kan bakalan jadi adik kamu" David menyunggingkan senyumnya.


"Adik ipar maksudnya" tambahnya lagi, memperjelas kalimatnya.


Membuat Jessika tersipu malu.


"Gak usah bawa apa apa, besok dia pulang kok. Lagipula kita nanti harus ke Polsek terus kita harus datang ke balai desa"


"Balai desa?" Jessika menoleh ke arah David yang masih fokus dengan kemudinya.


"Nama kamu harus segera di bersihkan"


"Tomy sudah koordinasi dengan semua pihak, keluarganya Putri nanti juga akan hadir"


"Akan ku pecat mereka semua" David kali ini emosi mengingat pak Sis yang bertindak bo doh.


Jessika hanya terdiam, mencerna setiap ucapan David.


Ia tak menyangka memasuki kehidupan di keluarannya David musti seribet ini," membersihkan nama ?" batinnya.


"Aku ingin kita segera menikah, makanya secepatnya nama kamu harus di bersihkan dari prasangka masyarakat"


"Papa bilang di RT sebelah masih banyak yang ngira kamu jadi pelakunya"


"Aku belum tenang kalau semua belum di klarifikasi"


Jessika merasa David adalah orang yang perfeksionis juga terarah.


"Maaf aku kurang cepat dalam apapun, kurang tanggap" sesal David yang teringat jika Leo selalu selangkah lebih maju dari pada dirinya.


Dalam hal pengambilan solusi dan tindakan lebih tepatnya.


"Sudahlah mas, semua yang terjadi gak bisa kita hentikan. Jalanku memang sudah seperti ini, kamu pun begitu kan"


David tersenyum, hati kekasihnya itu memnag luar biasa.


"Terimakasih sayang" ia mengambil tangan Jessika, dan menciumnya dalam


Membuat Jessika kini teramat bahagia di perlakukan seperti itu, pipinya pun kini menjadi merah merona.


Bersama David ia merasa dunia ini hanya milik mereka berdua.


Yang lain ngontrak.😁


.


.


.


.


.


Hallo para readers yang baik hati, bagaimana kabarnya? semoga sehat selalu ya.


Maafkan author terlambat Up, karena sibuk di dunia nyata.


Terimakasih yang sabar menantikan lanjutan kisah Jessika ya.


Setelah Putri hamsyong nanti kita akan berlanjut ke pernikahan Jessika ya.


Habis susah susah sekarang lihat Jessika yang mendapat kebahagiaan.


Matur nembah nuwun ingkang kathah kagem sedanten readers ku yang baik hati.


Salam


Mommy Eng 🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2