
.
.
.
Kita tak bisa memilih untuk bernasib seperti apa di dunia ini, sebab yang kuasa jauh lebih berwenang dalam hal ini.
Jika semua orang tengah diliputi rasa kebahagiaan, namun Jessika kini tengah merasa sedikit diliputi kesedihan.
Ia juga wanita, tentu saja memiliki anak adalah keinginan utama setelah menjadi seorang istri bukan.
Namun sepertinya Tuhan sedang menguji kehidupannya.
...Flashback On ,1 year ago...
Menjadi seorang Nyonya David tak membuat Jessika berleha leha bak tuan putri. Itu jelas bukan dirinya.
Setelah Pak Edy memberikan sebuah hadiah pernikahan, berupa rumah besar di kawasan pedesaan yang dekat dengan lokasi pekerjaan yang di emban David, Jessika makin produktif dalam mengurus rumah tangganya.
Ia menolak untuk menyewa jasa ART atau sekedar membantunya mengurus kesibukan di rumah.
Jessika memutuskan untuk mengurus segala sesuatunya sendiri.
"Aku ingin mandiri mas"
"Itu adalah tugasku untuk mengurus semua keperluan mu"
"Aku ingin jadi istri yang baik buat kamu"
Kalimat demi kalimat yang terlontar seolah menegaskan, bahwa dirinya adalah seorang istri idaman.
Bukan hal sulit jika hanya memasak dan berberes beres rumah.
Sebab wong wedok ( seorang perempuan) harus tahu dan bisa tiga hal ini.
Macak ( dandan)
Masak ( memasak)
Manak ( melahirkan)
.
.
Di minggu pertama awal bulan September Jessika yang tamu bulanannya tengah mengalami keterlambatan itu, berusaha mencari tahu.
Ia bukan wanita kuper yang tidak mengerti arti dari semua itu, terang saja David yang nyaris setiap hari membuatnya melayang ke puncak keindahan itu, tak pernah absen untuk menabur benih ke lahan miliknya.
Ia membeli sebuah alat uji kehamilan, dan rupanya strip alat itu memunculkan dua garis merah yang masih belum jelas.
Namun ia yakin, jika kerja keras mereka selama ini tengah membuahkan hasil.
"Alhamdulilah" ucapnya senang.
Ia berencana akan memberitahu suaminya, tentang berita membahagiakan ini setelah David pulang.
David yang mengetahui bila istrinya mengandung benih yang ia tanam di rahimnya, tentu saja amat bahagia.
Hidupnya terasa lengkap saat itu, sungguh ia merasa menjadi manusia paling bahagia di dunia.
Bahkan hasil pemeriksaan di dokter kandungan terbaik di kota itu, menerangkan bila Jessika memang tengah hamil.
Hari berganti hari, di bulan kedua mereka berencana akan memeriksakan kandungannya di bulan kedua ini, pada hari Minggu besok ketika David off.
Namun malang tak dapat di tolak, untung tak dapat di raih.
Entah mengapa pandangan Jessika menjadi kabur saat dia baru selesai mandi.
Bertepatan dengan David yang sudah berangkat ke areal perkebunan cabai.
Ia terpeleset saat dirinya berada di kamar mandi, tubuhnya terhuyung dan membentur bak mandi besar di dalam kamar mandi itu.
Seketika semuanya menjadi gelap.
Beruntung Mbok Yah dan Lek Soleh, yang hari itu tengah berniat berkunjung ke rumah baru Jessika datang tepat waktu.
Mereka berdua terperanjat saat mendapati Jessika yang tergeletak di kamar mandi, dengan menggunakan handuk kimono putih, namun sudah bersimbah darah.
Tanpa menunggu lagi, lek Soleh segera membawa Jessika menuju rumah sakit.
Panik bukan main.
"Lek, apa yang terjadi" ucap David yang datang dengan wajah panik, cemas dan dengan tubuh gemetar.
"Sabar David" akhirnya Lek Soleh menceritakan kejadian yang ia lihat tadi.
Tentang keadaan Jessika yang sudah bersimbah darah, saat dirinya dan Mbok Yah tengah berada di rumah baru mereka.
"Tuan David " ucap seorang perawat wanita itu.
David di giring menuju ruangan Dokter yang menangani Jessika.
"Mohon maaf Tuan, Istri anda mengalami keguguran. Kami tidak bisa menyelamatkan janin yang ada di dalam perut istri anda"
Duaaaarrrr
Petir seolah menyambar dirinya, ia merasa lemas saat itu juga.
David saja merasa hancur, bagiamana dengan istrinya nanti jika tahu janin yang bersemayam di dalam perutnya, telah gugur.
Jessika merasa mungkin itu kesalahannya, lantaran terlalu lelah dalam mengerjakan semua pekerjaan rumahnya.
Seorang ibu hamil dengan usia kandungan yang masih relatif muda, sangat riskan apabila berada dalam kondisi yang lelah.
Di tambah kejadian tak di inginkan, yang menimpa Jessika yakni terpeleset. Sudah barang tentu menyebabkan janin dalam kandungannya itu, gugur.
Sempat sedih juga merasa menyesal, sekaligus merasa bersalah.
Jessika melewati hari harinya dengan berusaha tak menunjukkan kesedihannya.
__ADS_1
Walau suaminya itu tahu, tentang buncahan kesedihan yang kerap di tampilkan oleh wajah cantik Jessika.
"Sayang, kamu tolong jangan capek capek" David memeluk istrinya dari arah belakang, seraya mengecup pundaknya.
"Maafkan aku mas" ucap Jessika seraya menerawang ke arah jendela.
David membalikkan tubuh istrinya," tatap mataku" ucapnya seraya menatap manik mata indah Jessika.
Jessika menatap mata suaminya, lekat dan dalam diam.
"Jangan seperti ini, apa yang Tuhan ijinkan terjadi kita harus percaya, bahwa semua akan membawa kebaikan untuk kita" ucap David yang merasa istrinya itu sering melamun, pasca keguguran.
Mereka memutuskan untuk memperkerjakan satu orang assisten rumahtangga, untuk membantu Jessika.
Sampai beberapa bulan berlalu, mereka belum juga diberikan pengganti.
Membuat Jessika terus bersedih.
Namun David selalu berusaha menghibur istrinya itu, yang seringkali merasa bersalah.
...Flashback Off...
"Kamu ngapain disini?" ucap David yang melihat istrinya tengah duduk di kursi luar rumah sakit itu.
"Oh, enggak aku tadi baru aja nelpon Mak Wek" ucapnya berbohong, sesaat setelah menyusut air matanya.
Namun terlambat, sebab David sudah mengetahui bila istrinya itu baru saja menangis.
"Kamu menangis?" ucap David memegang pipi Jessika, seraya menatap istrinya itu lekat.
Jessika menggeleng," enggak, disini banyak banget debunya mas" bohong Jessika berupaya menutupi kesedihannya.
"Kita pulang dulu, istirahat. Sekalian prepare buat kepulangan Leo sama istrinya" ajak David.
Entah mengapa Jessika yang usai melihat keadaan Bella yang menjadi pusat perhatian itu sedikit sedih.
Dia bukan iri, dia senang dengan kelahiran keponakannya itu. Ia juga bahagia akhirnya Leo memiliki keluarga yang utuh.
Namun entah mengapa dirinya begitu sensitif, harusnya ia juga bisa memberikan kebahagiaan untuk suami dan mertuanya.
Ia hanya manusia biasa, yang tak bisa menutupi kesedihannya dengan sempurna.
Bik Asih terlihat menyambut kedatangan David dan Jessika.
"Kamu sebaiknya mandi dan istirahat" David selalu saja memberikan perhatian prima untuk istri tercintanya itu.
.
.
Pagi itu Jessika tengah di sibukkan mengurus ini itu bersama buk Asih. Bukan tanpa alasan, hari ini Bella sudah di perbolehkan pulang.
Ia bahkan menelpon Vera untuk datang membantunya, melakukan persiapan penyambutan kedatangan anggota baru keluarga Darmawan itu.
Aneka masakan juga berbagai kado lucu untuk keponakannya itu, telah terprepare dengan baik
Suatu keajaiban, dalam waktu singkat Jessika bisa menciptakan kemeriahan seperti ini.
Claire Pramesti Darmawan, adalah nama putri kecil buah cinta Bella dan Leo.
Pramesti berarti sukacita dan kegembiraan.
Darmawan adalah nama dari keluarga Leo.
Nama adalah doa, Leo dan Bella tentu berharap yang terbaik untuk buah hati mereka.
"Selamat datang baby Claire" ucap Jessika berbahagia ketika Bella tiba di rumah besar itu.
Semua yang disana begitu senang, tak mengira akan mendapat sambutan seperti ini.
Dekorasi rumah hasil kesibukan Jessika yang di bantu Vera dan bik Asih.
...Welcome to home little princess Baby Claire...
"Astaga, kakak ipar. Ini luar biasa" Bella merasa senang sekaligus terharu dengan perhatian Jessika.
David bahkan tak henti-hentinya menyunggingkan senyum terindahnya.
Mama Sofia yang tengah menggendong cucunya itu, juga merasa begitu bahagia.
Apalagi pak Edy dan Leo, sudah barang tentu merasa teramat senang dan bahagia.
"Ayo ayo semua makan dulu, belum pada sarapan kan" Vera dengan tingkah jenakanya mempersilahkan semua untuk sarapan bersama.
"Aku akan kasih ***** buat Clai dulu" ucap Bella kepada yang lainnya.
"Akan aku temani" Jessika begitu antusias dengan keponakannya yang comel itu.
Mama Sofia bergegas keluar sesaat setelah menyerahkan baby Clai kepada mamanya.
"uuuu cayang, udah haus ya" ucap Bella sembari menimang anaknya yang sudah tak sabar, untuk segera menghisap sumber kehidupannya itu.
Bayi sehat dengan kulit putih bersih itu, dengan rakusnya melahap Asi tersebut.
Jessika merasa gemas dan turut bahagia," selamat ya Bella sekali lagi, aku benar benar bahagia"
"Terimakasih banyak, apa yang terjadi dalam hidupku. Kamu juga berperan di dalamnya" Bella tersenyum menatap Jessika.
"Kau sangat beruntung" Jessika mengelus pipi gembul bayi itu.
Bella yang menyadari raut kesedihan di wajah Jessika, sudah paham dengan yang ada di dalam pikiran kakak iparnya itu.
"Selalu ingat ucapan papa, Allah maha mengetahui sedang kita tidak"
"Apa yang Tuhan ijinkan terjadi, percayalah semua itu selalu membawa kebaikan untuk kita" Bella mengucapkan kata kata bijak, yang selalu di ucapkan oleh papa mertuanya itu.
Kali ini mata Jessika sudah panas, hendak mengeluarkan cairan bening.
"Semoga setelah ini kamu juga akan segera menjadi ibu" Bella memegang tangan Jessika menggunakan tangan kanannya, ia tahu bila kakak iparnya itu tengah bersedih.
****
__ADS_1
Sepertinya Tomy bisa di kategorikan manusia yang kurang beruntung.
Selepas mengantar para juragannya, ia harus melesat kembali ke desa.
Semenjak Jessika dan David berpindah ke rumah baru, ia kini menemani pak Edy di rumah besar.
Ia juga sudah bertukar tugas dengan Adrian, kini ia yang harus menjadi ajudan, assisten sekaligus tangan kanan David.
Ia kembali ke desa menggunakan transportasi darat, sekitar pukul 7 malam ia baru tiba di desa.
Sunyi dan sepi, lantaran semua penghuni tengah berada di kota. Hanya ada bik Darmi dan suaminya yang mengurus rumah milik Pak Edy.
Rumah pak Edy sudah seperti base camp bagi orang-orang yang berada di naungan Darmawan Group, Jack dan Victor juga kini sering di bagi tugas.
Mengandalkan orang kepercayaan, adalah hal yang selama ini di lakukan oleh pak Edy.
"Den, mau makan?" tawar bik Darmi yang melihat Tomy baru saja keluar kamar.
"Tidak usah bik, saya masih kenyang" masih datar, entah sampai kapan manusia satu ini akan betah membujang.
Ia masih termasuk manusia normal bukan, perlu mencintai dan di cintai.
Tapi, oh my God!!! pria sedingin dia harus banyak belajar meriah hati wanita.
Wanita sesungguhnya, dalam artian yang sama sama memiliki perasaan.
Bukan wanita yang datang silih berganti, hanya untuk sekedar teman ranjang urusan biologisnya.
Definisi dari penganut free for life.
Namun kepindahannya di desa jelas membuatnya agak sulit menjadi seperti dirinya.
Ia memutuskan untuk ke gudang malam ini, mengontrol bongkar muat barang.
Jauh lebih baik dari pada kesepian di rumah sendirian.
Ia yakin malam ini pasti masih ada kegiatan disana, benar benar tak memiliki rasa lelah.
.
.
Pak Eko yang di dapuk menjadi mandor utama setelah menggantikan posisi pak Sis itu terlihat datang menyambut Tomy.
Ya benar, pak Sis lebih memilih untuk mengundurkan diri. Karena ia merasa tak enak hati atas perbuatan Putri kepada keluarga Pak Edy.
"Tuan, anda sudah kembali" sapa pak Eko.
"Hemm, gimana pak apa besok sudah bisa dikirim ke pulau K"
"Bisa Tuan, tinggal beberapa koli saja yang belum di packing"
Mata Tomy menyapu ke sekeliling area gudang besar itu, nampak lampu kantor yang masih menyala.
"Apa anak anak administrasi belum pulang?" tanya Tomy.
"Iya Tuan, mereka tengah buat laporan sekaligus report buat airwaybill pengiriman besok"
Tomy langsung meninggalkan pak Eko yang berdiri di sana, ia melangkahkan kakinya menuju ruangan ber- cat putih itu.
Ia melihat sosok Eka yang masih mengetik beberapa laporan.
Seorang diri.
"Kenapa kau masih disini" suara bariton Tomy mengagetkan Eka.
"CK, kau ini. Bisa tidak pakai salam dulu, kalau aku pingsang karena kaget gimana" Eka memanyunkan bibirnya karena kesal.
Eka benar benar terkejut, karena di saat dia serius tiba tiba mendengar suara Tomy, yang tidak ia ketahui kapan muncul dan datangnya.
"Tinggal aku bawa saja kalau pingsan"
"Tu sebelah kamar mandi ada lemari kosong, kutaruh saja kau disitu. Beres kan"
Eka makin kesal," kamu pikir aku apa" gak ada manis manisnya jadi lelaki.
Sejurus kemudian terlihat seorang lelaki yang membawa motor, datang ke gudang tersebut.
Membuat Tomy mengalihkan pandangannya, untuk melihat siapa yang datang.
Terlihat pak Eko juga menyapa pria itu.
"Yes, dan selesai" ucap Eka penuh kepuasan.
Eka kemudian membereskan beberapa berkas, juga alat tulis yang ia gunakan.
Setelah semua beres dan rapi, ia tinggal men switch off komputer di depannya itu.
"Mau kemana?" Tomy bertanya bak orang bo doh.
"Kemana?, pulang lah. Ya kali aku tidur disini"
Tomy hanya diam saat Eka lewat di hadapannya, hanya hembusan angin hasil dari tubuh Eka yang sedikit berlari menuju ke arah pemotor yang baru saja datang.
Bahkan Tomy mampu mencium aroma parfum wanita itu, meski sudah malam namun masih awet.
Ia melihat Eka yang berbicara dengan tersenyum, juga di selingi tawa dengan pria tadi .
Pria muda yang lumayan tampan.
"Siapa dia" batin Tomy mengidentifikasi wajah pria itu.
"Pak saya duluan" ucap Eka kepada pak Eko yang berada di depan, tengah mengawasi beberapa anak buahnya yang sibuk melakukan packing.
Motor itu melaju dengan kecepatan pelan, setelah membunyikan bel nya dua kali, tanda menyapa semua orang disana.
Entah mengapa Tomy merasa tak senang dengan apa yang ia lihat barusan.
Cemburu? atau....
.
__ADS_1
.
.