Nada Cinta Jessika

Nada Cinta Jessika
Bab 34. Negatif thinking dapat menyebabkan penyesalan seumur hidup


__ADS_3

.


.


.


Jessika yang merasa dirinya tidak salah tentu tidak tinggal diam " Saya berani bersumpah pak, Putri menjegal kaki saya sewaktu saya berjalan tadi sehingga membuat saya terjatuh".


"Apa ada yang melihat?" tanya pak Edy.


Semua hanya saling menatap satu sama lain lalu terdiam, mereka memang tidak ada yang melihat kejadian pastinya.


Mereka hanya melihat Jessika yang tiba tiba terjatuh terjerembab ke tanah.


"Segala tuduhan tanpa bukti adalah fitnah, dan fitnah lebih kejam dar pada pembunuhan" ucap pak Edy.


Jessika yang mendengar ucapan pak Edy seketika menitikan air mata, cairan bening itu lolos begitu saja membasahi pipi gadis itu.


"Laporin aja Jessika yah, dia bisa di kenakan pidana dengan pasal penganiayaan dan kekerasan" ucap putri memprovokasi ayahnya.


Mbok yah yang mendengar kata lapor sontak terkaget, "Tolong jangan laporkan cucu saya, saya yakin ini hanya salam paham saja" ucap mbok yah panik dan berlutut di hadapan pak Edy dan pak Sis.


"Wek " teriak Jessika yang kaget karena sang nenek sampai berlutut.


"Bangun mbok, saya tidak akan melaporkan Jessika. Tapi sebagai hukuman, Jessika jangan masuk kerja beberapa hari dulu sampai dia menyadari kesalahannya itu" ucap pak Sis bijak sambil mengangkat mbok yah bangun untuk berdiri kembali.


"Leo, tolong kamu obati Putri, bawa dia kedalam" titah pak Edy pada anaknya karena pipi putri yang memsr


"Baik pa" jawab Leo.


Putri tersenyum puas, ia tak menyangka niatnya yang hanya ingin membuat Jessika malu, malah bisa membuat musuhnya itu terkena hukuman dari ayahnya, yaa meski dirinya harus rela merasakan sakit karena di tempeleng Jessika dengan keras dan membuat bibirnya robek.


Leo sebenarnya tak tega melihat Jessika yang seperti itu, ingin rasanya dia memeluk. Tapi bagiamana lagi, ini sudah masuk ranah kekerasan memang.


Bagaimanapun juga Jessika bersalah karena telah membuat mulut Putri berdarah, meskipun kenyataannya ia adalah korban.


Eka dan Arin sangat tidak tega melihat Jessika, ia yakin ini adalah akal akalan nya si Putri saja, tapi bagaimana lagi tidak ada bukti apapun yang bisa membuat nama Jessika kembali bersih.


"Saya mohon maaf apabila saya telah merusak acara malam ini, tapi saya tidak bersalah dan kebenaran suatu saat akan terungkap, saya permisi" ucap Jessika dengan suara bergetar dan air mata yang masih mengalir.


"Pak Edy, Pak Sis, Den David kami permisi juga" ucap Arin dan Eka kemudian ikut menyusul kepergian sahabat itu.


David pun bingung harus berbuat apa, hatinya begitu sakit melihat Jessika yang menangis seperti itu.


"Saya sekali lagi mohon maaf pak atas kelakuan cucu saya yang membuat nona putri terluka dan membuat acara ini menjadi kacau, saya mohon pamit pak " ucap mbok yah penuh rasa hormat dan wajah yang memelas lalu melangkahkan kakinya menyusul cucunya yang sudah lebih dulu pergi.


****


"awww sakit kak" ucap Putri yang kaget dan merasakan sakit saat kapas yang mengandung obat luka itu mengenai sudut bibirnya yang robek akibat di tempeleng Jessika tadi.


"Maaf, aku akan pelan" jawab Leo.


Putri tersenyum senang karena ia diperlakukan lembut oleh Leo, ia tak menyangka akan bisa sedekat ini dengan Leo.


Niatnya hanya ingin mempermalukan Jessika namun ia justru mendapat keuntungan lebih, meski harus mengorbankan bibir miliknya itu.


"Sudah selesai" ucap Leo sambil membereskan kotak P3K di meja depannya itu.


Terdengar suara langkah yang ramai, rupanya Pak Edy bersama orang orang yang ada ti TKP tadi saat ini tengah menuju ruang tengah, tempat dimana Leo dan Putri berada.

__ADS_1


Tentunya setelah menutup acara dan memberikan bingkisan kepada para tamu undangan tak lupa pak Edy memohon maaf atas kegaduhan yang terjadi di akhir acara tadi.


"Bagaimana keadaanmu nak?" tanya pak Edi pada putri.


"Ini om habis di obati kak Leo" jawabnya ramah dan sopan.


"Kamu kenapa bisa bertengkar begitu sih put, bikin malu aja" ucap Bu Santi pada anaknya.


"Sudah Bun jangan di bahas lagi, sebaiknya kita pulang ini sudah larut biar kita semua bisa beristirahat" ucap pak Sis.


"Benar, saya berterimakasih atas bantuan pak Sis tanpa bantuan pak Sis acaranya tidak akan berjalan lancar" ucap pak Edy.


"Ah pak Edy ini, kita semua terlibat dan semua berpartisipasi. Kalau begitu kami pamit pak" ucap pak sis sopan.


*****


Setalah Pak Sis beserta keluarganya meninggalkan rumah pak Edy, tinggallah mereka berempat yang duduk di sofa ruang tengah itu.


"Pa, apa gak berlebihan kalau cuma gara gara itu Jessika sampai ga boleh masuk kerja, kaya di kantor aja pa" tanya David memulia pembicaraan.


"Lalu harus bagaimana David, karena Jessika Putri terluka dan untung saja keluarganya tidak mempermasalahkan, pak Sis memilih hal itu karena posisinya sebagai ketua mandor disana" jawab pak Edy bimbang.


Hidup di desa memang jauh lebih kompleks permasalahannya karena selalu melibatkan banyak orang, berbeda dengan di kota yang elo elo, gue gue


Akhirnya mereka semua membubarkan diri untuk beristirahat.


Di dalam kamar David kembali teringat dengan kejadian tadi sewaktu ia berdekatan dengan Jessika, entah mengapa David tidak bisa menepis wajah Jessika dari dalam pikirannya.


"Apa yang terjadi denganku, kenapa aku malah memikirkan wanita itu terus, aaaaaaagggggghhhhhhh!!!!! David berbicara sambil menjambak rambutnya frustasi.


Sementara itu Leo yang juga menyandarkan tubuhnya di sandaran kasur king size miliknya juga memikirkan Jessika, kenapa Jessika sampai berbuat kasar seperti itu, padahal dia adalah seorang wanita.


Ia melawan karena Putri yang terlebih dahulu memulainya, padahal meski putri selalu mencoba merendahkannya lewat sindiran sindiran tadi, Jessika tak membalas karena ia juga tahu diri.


Tapi akan berbeda urusannya jika Putri sudah mencoba untuk mencelakai Jessika, meski hanya dengan cara menjegalnya.


Sementara itu Tomy dan Adrian yang juga sudah berada di kamar tamu itu juga masih membahas kejadian tadi.


"Ga nyangka juga siapa nama wanita tadi? ah iya Jessika, dia bisa berani pada anak mandornya" ucap Adrian sambil membuka ponselnya.


Tomy hanya diam, apa di desa seperti ini pak Edy sudah memasang kamera pengintai atau CCTV di semua area rumahnya, Tomy nampak berfikir.


"Hey mau kemana kau" tanya Adrian karena melihat Tomy yang mulai beranjak dan sudah memegang gagang pintu kamarnya.


"Kalau kau penasaran ikut saja" jawabnya dengan mode datarnya.


"Issssshhhhh kau ini, pergilah!" jawab Adrian.


Kemudian Tomy melangkahkan kakinya untuk melihat keberadaan CCTV, namun karena gelap dan belum familiarnya Tomy dirumah itu ia tidak bisa melihat letak CCTV itu.


****


"Apa kau serius" tanya Adrian pada Tomy saat ia baru saja menceritakan apa yang dia lihat dalam rekaman CCTV itu.


"Kau bisa meminta pak Umar untuk memutarkan nya jika tidak yakin denganku!" jawab Tomy yang sudah bersiap akan tidur.


"Astaga kenapa kau tidak memberitahuku" gerutu Adrian pada Tomy.


"Aku sudah mengajakmu, tapi kau tidak mau ya sudah aku pergi sendiri" jawab Tomy kemudian mematikan lampu kamar dan bersiap tidur.

__ADS_1


"Hey kau ini astaga!!" kesal Adrian yang masih penasaran namun Tomy malah mengajaknya untuk tidur karena jam sudah menunjukkan dini hari.


Tomy tidak menyahut ucapan Adrian, ia masih belum memejamkan matanya dengan posisi membelakangi Adrian.


"Sepertinya wanita bernama Putri itu itu cukup berbahaya" batin Tomy.


Flashback On


Karena Tomy tidak berhasil melihat letak CCTV ia kemudian berbalik, dan saat hendak masuk dalam rumah ia melihat pak Umar yang belum tidur.


"Pak kau sedang apa, mengapa masih berkeliaran malam malam begini" tanya Tomy


"Itu mas saya habis mengunci dan mengecek keamanan rumah ini"


Selain sebagai driver, pak Umar memiliki tanggung jawab untuk memastikan keamanan di areal rumah besar milik pak Edy di desa itu. Bahkan ia juga operator kamera pengawas dirumah itu.


Pak Umar adalah pekerja di rumah itu sebelum pak Edy membeli dan merehabnya.


CCTV sudah ada sedari dulu dan sepertinya pak Edy lupa akan hal itu.


"Apa semua Sudut rumah ini sudah di pasang CCTV pak?


"Ada mas, semua ruangan di rumah ini, diluar, dihalaman samping, dihalaman belakang, dekat gerbang, di samping pohon itu juga terpasang mas" ucapnya menerangkan.


"Kalau begitu, bisa pak Umar putarkan CCTV untuk hari di samping pohon itu"


kemudian mereka menuju ruang monitor yang berada di ruang paling belakang rumah itu.


"Malam ini mas?"


"Benar pak, mungkin sekitar jam 22-23 an "


Mereka berdua secara detail mengamati pergerakan video itu di hadapan monitor.


"Stop dulu pak, coba di jam 23 di menit 47"


Pak Umar mem pause video itu


"Coba di zoom pak"


"Baik mas"


Akhirnya terlihat jelas kaki Putri yang melintang disana saat semua orang tak memperhatikan.


"Dapat! tolong di screenshot pak kemudian save dan kirim ke saya" ucap Leo sambil menepuk bahu pak Umar"


"siap mas"


Flashback Off


.


.


.


.


Please like and comment ya biar author semangat 🙏

__ADS_1


__ADS_2